
Sementara itu, anak buah Dong-Mi sedang dalam perjalanan di pesawat bersama dengan An-Na. An-Na, yang pura-pura tertidur, sempat teringat kembali masa lalunya, dimana ternyata Yoo-Jin yang dulu membawanya ke Spanyol. Diam-diam An-Na meneteskan air matanya mengingat itu semua. Sedangkan di markas JSS, salah seorang staf berhasil menemukan jejak Je-Ha di halte bus. Direktur Park girang mengetahui hal tersebut.
Kembali ke Je-Ha, sambil sayup-sayup terdengar suara tangisan istri orang yang ia tumpangi barusan, si suami membawakannya makanan sembari meminta maaf karena tadi bersikap kasar kepadanya. Malam harinya, ia tertidur dan memimpikan kembali kejadian di masa lalunya, dimana dalam sebuah misi yang ia pimpin ia mengambil keputusan yang salah dan mengakibatkan semua rekan-rekannya terbunuh. Ia pun terbangun karena ‘mimpi buruk’ itu dan kembali mendengar suara tangis si istri. Si suami, yang saat itu sedang mabuk-mabukan, lantas menceritakan bahwa hari ini adalah peringatan hari meninggalnya anak mereka.
Je-Ha menyusul si suami yang berjalan menuju kebun. Entah pengaruh mabuk atau bukan, si suami memintanya untuk menebang semua pohon buah yang ada di sana, meski baginya itu sudah seperti anaknya. Dengan sedikit ragu Je-Ha mengiyakan permintaannya.
Esok harinya, sang suami mendengar suara mesin pemotong sedang bekerja. Mengira Je-Ha sedang melakukan yang ia minta, ia pun bergegas datang ke kebun. Ternyata tidak, Je-Ha justru merapikan kebun tersebut dan membersihkan rumput-rumput liar yang ada. Sang suami menangis melihatnya dan lantas ikut bekerja bersamanya. Tak lama giliran sang istri yang datang dan ia pun meneteskan air mata melihat apa yang sedang mereka lakukan bersama.
Di markas JSS, setelah lembur semalaman, salah seorang staf akhirnya mengabarkan bahwa mereka sudah berhasil menemukan Je-Ha. Entah utusan direktur Park atau bukan, yang jelas, sesaat setelah Je-Ha pergi untuk membeli mata pisau pemotong yang baru, seseorang berbaju serba hitam mendatangi rumah pasangan suami istri itu. Untunglah Je-Ha kembali tepat di saat utusan dari JSS hendak membakar pasangan suami istri tersebut karena tidak mau mengaku kenal dengan Je-Ha.
__ADS_1
Pertarungan keduanya pun dimulai. Dengan berbekal mata pisau yang baru ia beli, Je-Ha mencoba mengimbangi belati panjang si pria berbaju hitam. Dan seperti sebelumnya, kali ini ia pun berhasil unggul. Setelah mengikatnya, Je-Ha berniat untuk menginterogasi si pembunuh bayaran itu, yang mengatakan bahwa perintah yang ia dapat tidak hanya untuk membunuh Je-Ha, melainkan juga orang-orang yang telah membantu Je-Ha. Setelah diancam dengan palu, akhirnya si pembunuh juga mengakui siapa yang telah memberikan perintah kepadanya: Yoo-Jin.
An-Na tiba di kediaman Yoo-Jin. Ia emosi begitu melihat Yoo-Jin dan mengatakan bahwa ia ingat semuanya, tentang ibunya yang sebenarnya tidak melakukan bunuh diri. Dengan dingin Yoo-Jin mendekatinya.
“Itu sebabnya..,” ujar Yoo-Jin, “kamu seharusnya tetap menjadi seorang biarawati.”
“Aku datang hanya untuk memberikan peringatan,” ucap Je-Ha. Ia melanjutkan, “Tinggalkan aku dan orang-orang di sekelilingku sendiri.”
Je-Ha menambahkan bahwa jika sampai ia datang lagi untuk kedua kalinya, maka Yoo-Jin akan mati.
__ADS_1
Next Episode 09...
**TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**
__ADS_1