Aman

Aman
Episode 25


__ADS_3

Pertemuan berakhir tak lama kemudian. Yoo-Jin masuk ke dalam mobilnya dimana ada Kim Dong-Mi (Shin Dong-Mi) yang sedari tadi setia menunggunya.


“Semua berjalan dengan baik, bukan?” tanya Dong-Mi.


“Apakah kelihatannya seperti itu?” tanya Yoo-Jin balik sembari tersenyum.


“Selamat, nyonya,” ujar Dong-Mi.


“Thank you,” jawab Yoo-Jin.


Sembari membuka jendela mobil dan mengulurkan tangannya, Yoo-Jin berkata, “Malam yang indah”.


Dong-Mi kaget melihatnya. Namun melihat raut muka Yoo-Jin yang bahagia dan terus tersenyum, ia pun jadi ikut tertawa. Begitu pula dengan dua orang bodyguard yang ada di kursi depan.


Kabar bahwa Yoo-Jin (dan suaminya tentunya) akan masuk ke partai yang dipimpin anggota kongres Kim sampai ke telinga Gwan-Soo. Ia tidak menyangka bahwa hal tersebut akan terjadi. Sekretarisnya lantas menyarankan untuk mengadakan vote di kalangan internal partai mereka.


“Dapatkah kamu melakukan itu?” tanya Gwan-Soo. “Orang yang membongkar dan membuang sesuatu yang kotor dan busuk akan menjadi pahlawan.”


Sementara itu, Se-Joon tampak sedang bersiap untuk acara kampanye di suatu tempat. Ia sedang dirias di ruang ganti saat asistenya mengabarkan bahwa pertemuan Yoo-Jin sudah selesai dan hasilnya sesuai yang diharapkan. Se-Joon lalu menyarankan untuk mengubah materi pidatonya nanti agar tidak menyerang pihak yang berkuasa di Blue House saat ini. Asistennya mengiyakan, lalu pergi untuk mempersiapkan materi pidato yang baru. Sepeninggal asistenya, Se-Joon mengedipkan mata untuk menggoda wanita yang sedang merias wajahnya sembari mengelus pahanya. Wanita itu hanya diam sambil tersenyum dan tersipu malu.

__ADS_1


Yoo-Jin dan Dong-Mi tiba di markas JSS dan disambut oleh direktur JSS. Ia meminta Dong-Mi untuk terlebih dahulu menuju Cloud Nine sementara ia mampir menemui An-Na di ruang perawatan. Setibanya di kamar An-Na, Yoo-Jin meminta yang lain untuk keluar. Di luar, direktur JSS meminta dokter, Mi-Ran, dan ibunya (si penjaga rumah) untuk mengikutinya karena ada yang ingin dibicarakan. Je-Ha berdiri tepat di depan pintu agar bisa mendengar pembicaraan Yoo-Jin dan An-Na. Seorang bodyguard sempat meminta Je-Ha untuk minggir, namun begitu ditoleh oleh Je-Ha dengan tatapan tajam akhirnya ia sendiri yang melipir 😀


“Seragam biarawati itu cocok untukmu,” ujar Yoo-Jin sembari melangkah mendekati An-Na, “dan suara nyanyianmu juga cukup menyentuh. Apakah kamu mempelajarinya di biara?”


An-Na tidak menjawab, hanya menoleh wajahnya ke arah Yoo-Jin dengan tatapan dingin dan penuh kebencian.


“Tapi kamu tahu, memangnya apa yang kamu harapkan dengan muncul di sana?” lanjut Yoo-Jin. “Apakah kamu pikir aku menghalangimu sehingga ayahmu tidak bisa melihatmu? Kamu melihatnya di gereja juga, kan?”


An-Na memalingkan wajahnya. Terbayang di benaknya saat ia melihat ayahnya di gereja tadi.


“Ayahmu tidak ingin bertemu denganmu. Ayahmu tidak akan datang ke sini. Sama seperti saat ia tidak datang ketika ibumu meninggal atau ketika kamu pergi ke Spanyol. Aku yakin itu menyakitkan. Dan aku yakin kamu ingin membantah ini karena itu. Tapi inilah kenyataan. Semua ayah seperti itu. Aku tahu ini karena aku adalah putri seseorang juga. Meski semua putri punya perasaaan spesial terhadap ayahnya, tapi semua ayah seperti itu. Mereka tidak tahu apa yang kita rasakan. Aku yakin kamu berpikir bahwa kamu adalah satu-satunya yang ayahmu miliki, tapi kamu tidak berarti sebesar itu untuknya. Kamu adalah pecahan kecil dari beban masa lalunya.”


“Bagaimana?” tanya Yoo-Jin. “Kamu ingin agar aku menariknya ke sini di luar keinginannya? Bahkan sepasang kekasih harus menjaga sikap mereka terhadap yang lain. Ayahmu tidak ingin menemuimu, lalu apa yang kamu ingin aku lakukan?”


Mata An-Na mulai berkaca-kaca. Dengan terbata ia menjawab, “Ayah… tidak mencintaimu.”


Raut muka Yoo-Jin sekilas berubah. Namun ia menahan emosinya dan berkata, “Apakah itu yang dikatakan oleh ibumu? Tentu, aku mengerti bagaimana perasaannya sebenarnya. Ia pasti cukup membenciku. Tapi An-Na, ada sesuatu yang tidak kamu ketahui tentang ibumu karena kamu masih kecil saat itu. Sulit bagi orang seperti kita untuk mengerti. Tapi kamu tahu apa tujuan hidup bagi semua anggota parlemen? Itu adalah agar mereka dipilih kembali dalam putaran pemilihan yang berikutnya. Begitu pula ayahmu. Namun begitu, kamu tahu apa yang dikatakan oleh ibumu kepadanya pada saat itu? Ibumu menggunakanmu untuk memeras ayahmu. Bahkan pada saat waktu pemilihan sudah dekat. Ia mungkin adalah ibu yang baik untukmu, tapi.. pikirkan sendiri. Aku yakin saat itu juga sulit bagimu karena ibumu adalah pecandu alkohol. Bagaimana lagi kamu bisa memberikan obat itu dengan tanganmu sendiri?”


“Itu tidak benar,” bantah An-Na sambil menahan tangisnya. “Ibuku tidak mati karena obat tidur yang aku bawakan. Ada orang lain di rumah pada saat itu. Dan dia mencoba membunuhku juga.”

__ADS_1


“Lalu? Apakah itu aku? An-Na, memorimu membohongimu. Terkadang kebenaran sulit untuk dipercaya. Tapi inilah kebenaran itu. Ibumu mati karena pil yang kamu berikan kepadanya.”


“Bohong! Aku sudah dengar semuanya dari penjaga rumah yang lama.” ujar An-Na.


“Penjaga rumah yang lama? Oh, wanita yang kamu temui sebelumnya di fasilitas penunjang hidup (semacam panti jompo)? Jika aku memang benar membunuh ibumu dan wanita itu tahu tentangnya, apakah kamu pikir aku akan membiarkan wanita itu hidup?” respon Yoo-Jin.


Je-Ha yang mendengar percakapan mereka mendadak masuk dan meminta Yoo-Jin untuk berhenti dengan alasan An-Na masih sakit. Tak disangka Yoo-Jin menurutinya. Ia pun pergi setelah sebelumnya berbasa-basi meminta agar An-Na lekas sembuh dan menjaga kesehatannya. Saat berpapasan dengan Je-Ha, Yoo-Jin memintanya untuk menemuinya di Cloud Nine.


“Jangan menangis dan tunggulah. Aku akan membawakan ayahmu ke sini.” janji Je-Ha sebelum ia pergi menyusul Yoo-Jin.


**Next Episode 26...


TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**

__ADS_1


__ADS_2