
Yang dilakukan oleh Je-Ha di penghujung episode lalu ternyata hanya ada dalam pikirannya saja. Saat tersadar, ia sempat berniat untuk benar-benar melakukannya. Namun penyakit PTSD-nya tiba-tiba kambuh dan dadanya terasa sakit. Bodyguardnya segera membawanya keluar begitu pintu lift terbuka di lantai 1, sementara Park Gwan-Soo dan pengawalnya lanjut turun ke lantai dasar. Dari si bodyguard, Je-Ha akhirnya tahu nama orang yang selama ini ia cari-cari karena telah membunuh kekasihnya: Gwan-Soo.
Beberapa waktu kemudian, Je-Ha terlihat sedang menyiapkan sebuah bom yang bisa aktif secara otomatis apabila remotenya berada dalam jarak tertentu.
Gwan-Soo sedang merapikan penampilannya di tukang cukur langganannya. Karena sudah berumur, si tukang cukur menyarankan Gwan-Soo untuk berpindah ke tukang cukur lain. Namun Gwan-Soo menolak. Ia bahkan mengundang si tukang cukur untuk mulai tahun depan datang setiap hari ke Blue House untuk mengunjunginya. Si tukang yakin mengiyakan dan memastikan akan datang.
Di samping mereka ternyata ada Je-Ha, yang menguping dengan berpura-pura bercukur. Saat pulang, ia menyelipkan remote bom ke dalam jas milik Gwan-Soo. Bom tersebut ternyata ia letakkan di atas pintu gerbang kantor. Tanpa disangka, seorang anak kecil berlari mendahului Gwan-Soo dan terperangkap di pintu kantor (model berputar) itu. Je-Ha hendak menghampiri anak kecil tersebut, tapi karena Gwan-Soo ada di dekatnya, bodyguard Gwan-Soo menghalanginya. Untung saja, sebelum Gwan-Soo semakin mendekat, pengawalnya yang lain menyarankan untuk menggunakan pintu di sebelahnya, sehingga anak itu luput dari maut.
__ADS_1
Apes bagi Je-Ha, bodyguard yang mencegahnya barusan ternyata adalah salah satu dari pasukan bertopeng biru yang menyerbu kantor Jang Se-Joon. Setelah saling menyadari, Je-Ha segera menyerangnya untuk mencari celah meloloskan diri. Si bodyguard lantas memberitahu yang lain bahwa ada penyusup. Je-Ha berlari menuju atap gedung, dimana ia sudah menyiapkan tali untuk turun ke bawah. Tanpa diduga, ada sebuah mobil menunggunya serta seseorang yang memberi kode kepadanya untuk cepat turun. Meski sempat ragu, mau tidak mau Je-Ha turun dan menuju mobil tersebut.
Ternyata yang menolongnya adalah ketua Joo dan Yoo-Jin. Dengan fair Je-Ha berterima kasih pada Yoo-Jin. Yoo-Jin membalasnya dengan menyajikan sebuah perumpaan, antara pistol, peluru, dengan orang yang menarik pelatuk pistol. Sebagai orang yang terkena PTSD, Yoo-Jin menganggap Je-Ha sudah tidak bisa lagi menarik pelatuk, sehingga ia menawarkan diri sebagai orang yang melakukannya. Ia tidak peduli masalah apa yang dimiliki Je-Ha dengan Gwan-Soo, yang pasti, bagi Yoo-Jin mereka berdua memiliki musuh yang sama. Dan apabila Je-Ha bergabung dengan JSS, maka JSS-lah yang akan menjadi pistol sekaligus peluru baginya.
“Sepertinya kita bertemu pada waktu yang tepat, dalam situasi yang sempurna… teman,” ujar Yoo-Jin sembari tersenyum.
Wanita yang membawa Ko An-Na kembali dari Spanyol ternyata adalah anak dari pembantu di rumah tempat An-Na disekap, Jang Mi-Ran. Ia kesal karena sudah bela-belain dua tahun mengawasi An-Na di Spanyol tapi saat kembali ke Korea ia tidak juga direkomendasikan menjadi pengawal Yoo-Jin. Apalagi dengan An-Na yang trauma dengan cahaya terang, mereka semua harus berada di rumah yang selalu gelap dan tertutup tirainya.
__ADS_1
Tak lama kemudian seorang bodyguard dan memanggil Je-Ha untuk menemui ketua Joo.
Next Episode 14...
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
__ADS_1
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈