
Saat sedang menyusuri jalanan kota, An-Na melihat foto dirinya dan ibunya yang menjadi foto pajangan di sebuah studio foto. Pemilik studio foto bahkan mengenali dirinya. Ia bercerita bahwa pada saat itu ibu An-Na, yang seorang bintang film ternama, datang ke tempatnya untuk membuat foto paspor An-Na. Namun mendadak ia minta untuk dibuatkan potret keluarga juga. An-Na kaget begitu mendengar paspor yang dimaksud adalah paspor untuk pergi ke Amerika. Lebih kaget lagi bahwa terjadi ada satu orang lagi di foto tersebut — yang sengaja ditekuk oleh si pemilik foto studio karena wajahnya tidak cantik 😀 — seorang wanita yang punya hubungan dengan ibu An-Na.
Sementara itu, Je-Ha sudah tiba kembali di tempat An-Na disekap dan ia pun kaget begitu mengetahui ternyata An-Na sudah menghilang. Berita pun segera menyebar di kalangan JSS, namun demikian ketua Joo meminta agar direktur JSS tidak langsung memberitahukannya pada Yoo-Jin dan menunggu hingga besok sore sebelum upacara, sembari mereka semua mencari keberadaannya. Saat sedang dimarahi, lagi-lagi notifikasi penggunaan kartu kredit muncul di ponsel Mi-Ran. Ternyata An-Na sudah pergi ke tempat lain dengan menggunakan taksi. Mi-Ran berniat untuk melapor ke bank untuk pencurian kartu kredit 😀 namun segera dihardik oleh Ketua Joo yang memintanya untuk mengkonekkan ponselnya ke ruang kontrol JSS agar mereka bisa melacak keberadaan An-Na.
Tujuan An-Na kali ini adalah tempat wanita yang ada di foto tersebut berada. Menurut si pemilik studio foto, wanita yang bernama Yoo Myung Ja itu sedang dirawat di semacam panti jompo (assisted living facility). Setelah mendapat informasi kamar dari resepsionis, An-Na segera mendatangi kamarnya. Sayangnya, ternyata ia sudah tua dan menjadi pikun sehingga sulit diajak berkomunikasi. Saat An-Na menyebutkan namanya, tiba-tiba Myung-Ja menjadi panik.
“Ya, Hye-Rin. Cepat kabur! Bawa An-Na dan pergilah ke Amerika! Kamu harus cepat! Choi Yoo-Jin tahu segalanya sekarang! Lari! Ia akan membunuhmu dan juga An-Na! Kamu harus cepat! Cepat dan pergilah! Cepat pergilah! Cepat! Cepat!”
Meski sempat kaget melihat respon Myung-Ja, An-Na jadi meyakini bahwa semua yang terjadi padanya sejak dulu adalah benar karena ulah Yoo-Jin. Sayang setelah mengatakan hal-hal barusan Myung-Ja kembali menjadi pikun sehingga tidak bisa mengkonfirmasi keyakinan An-Na. Tak lama kemudian, An-Na mendengar dari earpiece yang ia gunakan bahwa orang-orang JSS sudah tiba di panti jompo. Mi-Ran yang ditugaskan untuk mengecek kamar Myung-Ja tidak lagi mendapatinya di sana. Demikian pula Je-Ha, yang mencari di bagian lain.
Tiba-tiba ketua Joo mendapat telpon dari Se-Joon, yang entah darimana sudah mendengar berita tentang hilangnya An-Na. Ia meminta ketua Joo untuk memastikan agar An-Na tidak datang ke acara di gereja Katolik. Je-Ha menjadi kesal mendengar Se-Joon yang lebih mementingkan karir politiknya ketimbang anaknya sendiri. Tanpa disadari oleh ketua Joo dan Je-Ha, An-Na yang menyamar menjadi suster melenggang di belakang mereka, sambil berkata dalam hati bahwa sikap ayahnya yang sekarang adalah karena Yoo-Jin.
Acara di gereja Katolik di Ayang-dong segera dimulai. JSS memperketat penjagaan untuk mencegah An-Na berada di sana, khususnya di bagian VIP. Tanpa disengaja, Se-Joon mendapat kampanye gratis karena mobil Gwan-Soo lewat dengan pongahnya di saat Se-Joon dan Yoo-Jin membantu seorang nenek. Orang-orang yang melihatnya langsung mengutuk perbuatan Gwan-Soo. Yoo-Jin diam-diam tersenyum puas melihatnya. Di dalam gereja, Gwan-Soo kembali membuat blunder. Saat dengan santainya ia berteriak lantang memanggil Se-Joon untuk duduk di sampingnya di baris depan, namun orang-orang biasa yang ada di belakang justru memberikan tempat duduk mereka bagi Se-Joon dan Yoo-Jin, yang kemudian lebih memilih untuk duduk di sana.
__ADS_1
Acara pun dimulai. Sekelompok biarawati masuk ke dalam dan salah satunya adalah An-Na! Se-Joon yang pertama menyadarinya langsung terhenyak. Tanpa berani melihat mata An-Na yang terus memandangnya, ia lalu memberitahukannya pada Yoo-Jin, yang segera menghubungi para bodyguard. Satu demi satu para bodyguard mendekat ke depan, namun mereka diingatkan oleh pastor agar tidak mendekat karena acara sudah dimulai. Dengan mata berkaca-kaca, An-Na ikut bernyanyi sambil tidak henti memandang ke arah ayahnya.
Setelah lagu persembahan pertama, satu demi satu biarawati turun, kecuali An-Na. Kesempatan itu hendak digunakan oleh ketua Joo untuk menangkap An-Na, namun Je-Ha meminta mereka untuk berhenti. Sesaat kemudian pastor mengatakan bahwa akan ada satu lagu persembahan lagi dan sembari meneteskan air mata, An-Na pun mulai menyanyikan lagu “Amazing Grace”. Dan tidak hanya ia saja yang menangis, semua yang ada di gereja juga ikut menangis, bahkan termasuk Yoo-Jin, walau entah ia benar-benar menangis atau hanya akting.
Je-Ha segera melangkah maju begitu An-Na selesai bernyanyi. Ia memberi tanda agar An-Na tidak lagi meneruskan apa yang hendak ia lakukan. Ternyata kali ini An-Na menurutinya. Ia turun dari ‘panggung’ dan bergabung dengan biarawati yang lain sembari melirik tajam ke arah Yoo-Jin. Yoo-Jin membalas tatapannya dengan raut muka penuh kebencian.
Je-Ha menyusul rombongan biarawati keluar dari gereja. Namun ternyata An-Na sudah tidak ada di sana. Salah satu dari mereka kemudian menyampaikan secarik kertas kepada Je-Ha, yang berisi pesan dari An-Na bagi ayahnya sebagai berikut:
“Ayah, sepertinya aku sudah kehilangan jalanku. Ku mohon datang dan jemput aku. Kamu tahu dimana aku berada, kan?”
“An-Na berada dalam kondisi yang menyedihkan. Bahkan aku juga ikut sedih…” ujar Yoo-Jin, “… memikirkan bahwa ia percaya ayah seperti ini akan datang untuk mencarinya”
Se-Joon lantas menanyakan apa yang akan dilakukan oleh Yoo-Jin. Setelah meminta ketua Joo untuk keluar dari mobil, Yoo-Jin menjawab, “Di hari itu 14 tahun yang lalu, hari terakhir dimana aku membuatkan sarapan untukmu, jika kamu menendang pintu dan pergi, aku tidak akan memandang rendah dirimu seperti ini.”
__ADS_1
Hari yang dimaksud Yoo-Jin adalah hari dimana Hye-Rin meninggal. Se-Joon yang saat itu sepertinya tahu bahwa Yoo-Jin punya andil dalam meninggalnya Hye-Rin berniat untuk pergi. Namun kata-kata Yoo-Jin membuatnya berhenti.
“Jika kamu pergi sekarang, An-Na juga akan mati.”
“Lalu apa aku seharusnya membiarkan An-Na juga mati di tanganmu?” tanya Se-Joon, “Dasar pembunuh.”
“Aku juga berpikir demikian selama ini, bahwa kamu melakukan ini sehingga kamu bisa melindungi An-Na dari amarahku. Kita sama-sama tahu kebenarannya sekarang. Kamu hanya takut An-Na akan menghalangi jalan menuju ambisimu.”, ujar Yoo-Jin.
**Next Episode 23...
TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍
DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇
__ADS_1
DAN JANGAN LUPA KASIH AKU
👉⭐⭐⭐⭐⭐👈**