Aman

Aman
Episode 29


__ADS_3

Kembali ke kantornya, Gwan-Soo terlihat sedang marah-marah kepada kanselir Park (entah siapa lagi ini) melalui telpon. Kanselir Park mengatakan bahwa ia tidak berdaya untuk kasus ini dan minta agar Gwan-Soo menyelesaikannya dengan orang-orang yang ada di atasnya. Gwan-Soo menuduh kanselir Park serakah karena berani melakukan hal semacam itu di akhir masa jabatannya, namun kanselir Park memastikan bahwa ia hanya ingin agar semuanya diselesaikan secara rasional. Dengan emosi Gwan-Soo meminta agar ia tidak menyentuh para anggota parlemen yang ada di pihaknya hingga investigasi berakhir. Emosinya makin memuncak begitu mendengar laporan dari Min Chul bahwa penyidik tidak menemukan sesuatu untuk mendakwa Se-Joon. “Aku tidak bisa membiarkan semua ini,” ujar Gwan-Soo. “Aku berencana untuk menyimpan kartu trufku untuk nanti, tapi sepertinya aku harus menggunakannya sekarang.” Sementara itu, gosip mengenai ‘angel’ alias An-Na semakin beredar luas di internet. Banyak yang berusaha mencari keberadaannya. Dong-Mi menginformasikan hal tersebut pada Yoo-Jin. “Aku rasa ini waktunya Anda membuat keputusan, nyonya,” ujar Dong-Mi. An-Na sendiri sedang dalam perjalanan menuju rumah persembunyiannya bersama dengan Je-Ha. Ia teringat kembali dengan kata-kata Je-Ha saat berada di ruang rawat JSS. “Janji apa?” tanya An-Na tiba-tiba pada Je-Ha. Karena Je-Ha tidak menjawab, An-Na bangkit dari tempat duduknya dan berteriak di samping telinga Je-Ha, “Janji seperti apa yang kamu buat?” “Geez, aku ini tidak tuli, terima kasih!” balas Je-Ha. “Dan duduk dengan benar. Itu berbahaya. Ayahmu memintaku untuk melindungimu dan aku berjanji untuk melakukannya.” “Oh, ternyata bukan apa-apa,” gumam An-Na. “Eniwei, aku sudah berjanji, jadi aku akan melindungimu mulai sekarang. Aku akan pastikan tidak seorang pun dapat menyentuhmu lagi. Meskipun itu Choi Yoo Jin.” “Tidak ada yang memintamu,” ujar An-Na. “Ya, kamu benar,” respon Je-Ha, “Bahkan jika ayahmu membuat permintaan seperti itu untukku, kamu adalah orang dewasa sekarang. Jika kamu tidak menginginkannya, aku akan berhenti menjagamu. Jadi kalau kamu tidak aku menjagamu, beritahu padaku secepatnya. Paham?” “Oke,” jawab An-Na.


“Terima kasih, telah mendengarkan permintaan ayahku. Dan telah membawanya kepadaku dan membantuku mengkonfirmasi bahwa ia telah membuang kami.” ujar An-Na. “Berhenti bersikap seperti anak cengeng,” potong Je-Ha. “Ayahmu tidak membuangmu.” “Anak cengeng? Kamu tidak tahu apa-apa!” balas An-Na. “Ayahku membuang kami! Ia tidak datang saat ibuku meninggal atau saat aku dibawa pergi ke Spanyol.” “Kamu benar! Ayahmu adalah orang yang buruk! Politisi yang buruk! Tapi jika ayahmu benar-benar telah membuangmu, kamu bahkan tidak akan hidup sekarang, karena Choi Yoo Jin tidak akan menggantungkan nasibnya pada sesuatu yang tidak pasti. Itu sebabnya kamu juga harus bersikap dewasa sekarang, jika kamu ingin bertahan dari musuh seperti Choi Yoo Jin.” Seorang karyawan Subway yang usai bertugas melihat An-Na di dalam mobil yang dikemudikan Je-Ha. Ia segera membuntutinya hingga tiba di rumah persembunyian An-Na. Diam-diam ia memotret An-Na yang keluar dari mobil. Untunglah Je-Ha menyadari hal itu. Ia segera meminta An-Na untuk masuk kembali ke mobil sementara ia mengejar si pemotret. Apes bagi si pemotret, motornya tidak bisa distarter, sehingga Je-Ha bisa dengan mudah menangkapnya. “Hei, siapa kamu?” tanya Je-Ha. Dengan ketakutan si pemotret menyerahkan ponselnya dan menunjukkan berita tentang An-Na di sosmed. Begitu sadar bahwa ia bukan siapa-siapa, Je-Ha pun membiarkannya pergi.

__ADS_1


Sambil melangkah menuju ke rumah, Je-Ha mengajarkan beberapa sinyal tangan (seperti yang biasa digunakan polisi / militer), yaitu untuk berjalan, berhenti, dan duduk / jongkok. Saat An-Na duduk, dengan iseng Je-Ha membelai rambutnya dan mengatakan bahwa ia patuh sekali. An-Na jadi keki mendengarnya. Sementara itu, master Sung (Song Kyung-chul) tiba-tiba menelpon sebuah media dan memberitahu bahwa ‘Barcelona Angel’ yang sekarang sedang heboh dicari adalah An-Na, anak dari bintang film bernama Ume Hye-Rin. Sedangkan pegawai Subway yang sebelumnya membuntuti An-Na memamerkan foto jepretannya ke sosmed. Ia bahkan memberitahukan alamat tempat persembunyian An-Na kepada yang lain. Tapi semua itu ternyata adalah rencana Je-Ha. Ia yang meminta si pegawai Subway untuk melakukan hal itu dengan imbalan diperbolehkan untuk foto bareng An-Na. Dong-Mi memberitahu Yoo-Jin bahwa saat ini berita tentang An-Na sudah menyebar dan rumahnya sudah dipadati oleh awak media dan fans An-Na (dari sosmed) yang penasaran akan An-Na. Dari dalam rumah, Je-Ha memperhatikan kondisi sekitar lalu memberitahukan rencananya kepada An-Na, Mi-Ran, dan ibunya. Bersama Dong-Mi, Yoo-Jin bergegas menuju ke sana. Ia menghubungi direktur JSS yang juga sudah on the way bersama beberapa orang bodyguard JSS dari bagian excessive force, memastikan bahwa ia tahu apa yang harus ia kerjakan. “Tapi, nyonya,” ujar direktur JSS, “aku butuh ijin darimu untuk melakukan sesuatu terlebih dahulu.” “Ijin apa?” tanya Yoo-Jin. “Aku akan putuskan nanti setelah menilai situasi di TKP”, jawab direktur JSS, “tapi sekedar berjaga-jaga, jika sampai An-Na terekspos ke publik, apakah tidak lebih baik untuk mengatasi hal itu terlebih dahulu dan baru melapor kepadamu nanti setelahnya” Yoo-Jin geram mendengarnya. Ia berkata dengan lantang, “Kamu bercanda? Lebih mudah untuk membunuh dan menghilangkan mayat seseorang daripada membuat orang diam.” “Ya, aku tahu. Tapi aku pikir anggota parlemen Jang tidak akan merasakan hal yang sama.” Yoo-Jin diam-diam meminta Dong-Mi untuk menhubungi kapten excessive force yang juga ada di mobil bersama direktur JSS. Ia lalu kembali berkata pada direktur JSS, “kamu berniat untuk membuat perjanjian sekarang?” “Aku tidak berniat untuk melakukan hal itu. Aku hanya enggan untuk menyentuh seseorang yang merupakan anak presiden mendatang.”, respon direktur JSS. Ia sempat terdiam mendengar orang di sebelahnya menerima telpon dari chief Kim (Dong-Mi). “Orang yang harusnya kamu takutkan sekarang adalah aku,” ujar Yoo-Jin. Tanpa berkata-apa, orang yang ada di sebelah direktur JSS, si kapten, mengeluarkan pistol dan meletakkannya di sampingnya. Direktur JSS jadi panik melihatnya, lalu berkata, “Tentu saja! Aku akan melakukan apa saja untukmu, nyonya!”


Next Episode 30...

__ADS_1


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU

__ADS_1


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈****


__ADS_2