Aman

Aman
Episode 21


__ADS_3

Kembali lagi ke tempat An-Na disekap, ingat bahwa Mi-Ran jarang berjaga di ruang pengawas, An-Na diam-diam keluar kamar dan memperhatikan keadaan sekitar. Ternyata benar, Mi-Ran sedang asyik nonton TV sambil makan sandwich Subway. Perlahan An-Na masuk ke kamar Mi-Ran dan mengambil barang-barangnya. Mulai dari kartu identitas, dompet, hingga kacamata. Saat melihat suntikan bius yang ada di laci, An-Na tidak lupa untuk mengambilnya.


Je-Ha akhirnya menceritakan tentang apa yang terjadi di Iraq. Termasuk tentang Raniya (subtitle episode-episode sebelumnya menyebut namanya Naniya), seorang pengungsi Kumar, yang hendak ia bawa keluar dari sana. Usai menjadi penerjemah untuk urusan transaksi Gwan-Soo dengan seseorang di Iraq, Gwan-Soo memerintahkan anak buahnya untuk membunuh Raniya agar pertemuan di antara mereka tidak bocor. Je-Ha yang mengetahuinya datang terlambat dan Raniya sudah terlanjur menghembuskan nafas terakhirnya. Seseorang tiba-tiba memukul Je-Ha hingga ia tak sadarkan diri, dan saat terbangun, pistol yang digunakan untuk membunuh Raniya sudah berada di tangannya. Tak lama kemudian, saat sedang meratapi kematian Raniya, beberapa orang tentara datang dan menangkap Je-Ha.


Setelah ditahan dengan tuduhan pembunuhan, Je-Ha berhasil meloloskan diri seminggu kemudian. Sayangnya, saat itu Gwan-Soo sudah kembali ke Korea dan Blackstone tempat Je-Ha bernaung sudah tidak mau lagi menerimanya. Je-Ha pun terpaksa harus terus-menerus lari dan bersembunyi dengan berpindah-pindah negara, hingga sampai ke Eropa.


“Itu semuanya,” ujar Je-Ha, “Ini adalah alasanku kenapa aku harus membunuh Park Gwan-Soo”.


“Sepertinya kamu memang punya alasan yang bagus”, respon Yoo-Jin.


Yoo-Jin lalu menepati janjinya. Ia meminta Mirror untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Je-Ha. Yang pertama kali Je-Ha tanyakan adalah apa yang dilakukan oleh Gwan-Soo pada tanggal 15 September 2010, hari dimana Raniya dibunuh. Mirror menampilkan jadwal Gwan-Soo di layar monitor. Karena cukup padat, Je-Ha lalu memberikan data yang lebih spesifik, yaitu tentang jam dan juga lokasinya. Sayangnya, Mirror ternyata tidak memiliki data tentang hal itu.


Yoo-Jin lantas memerintahkan Mirror untuk menggunakan sumber daya yang lebih untuk melakukan pemrosesan. Kali ini Mirror memberikan jawaban untuk pertanyaan Je-Ha sebelumnya, bahwa ia sedang bertemu dengan seseorang untuk melakukan pembicaraan rahasia. Setelah Je-Ha memberikan lokasi yang lebih detil lagi, muncullah pihak-pihak lain yang terkait dalam pembicaraan tersebut: Raniya, Abdul Omar (pimpinan Kumar), serta seorang bodyguard dari Blackstone yang tidak diketahui identitasnya. Mirror juga memberitahu alasan Gwan-Soo membunuh Raniya, yaitu karena ia telah mendengar percakapan rahasia di antara mereka.

__ADS_1


Je-Ha menjadi emosi begitu mendengarnya karena ia juga sudah menduga demikian. Sayangnya, Mirror tidak punya data mengenai pembicaraan mereka, selain bahwa 2 minggu setelah pertemuan tersebut, Abdul Omar membebaskan diri dari kontrol CIA dan membangun pasukannya sendiri. Yoo-Jin kaget mendengarnya, curiga bahwa Gwan-Soo melakukan transaksi perdagangan senjata dengan Abdul Omar.


Sementara itu, An-Na diam-diam memasukkan obat bius ke minuman Mi-Ran saat ia pergi ke kamar mandi. Ia kemudian keluar dari rumah dengan menyamar sebagai Mi-Ran. Usahanya berhasil. Setelah mencegat taksi, ia pun meminta untuk diantarkan ke Yeonhui-dong. Dengan suka cita, An-Na menikmati perjalanannya itu, sambil merasakan hembusan angin dan cahaya sinar matahari, sesuatu yang selama ini tidak ia dapatkan saat disekap.


“Tentang wanita pengungsi bernama Raniya.. kamu mencintainya?” tanya Yoo-Jin.


“Aku tidak tahu. Itu adalah saat yang menyedihkan dalam hidupku. Aku tidak tahu apakah aku menganggap ia sebagai cintaku atau hanya sumber simpati tak berguna.”


“Tak berguna?” tanya Yoo-Jin heran.


Je-Ha kemudian berdiri dan berniat untuk kembali ke tempatnya. Yoo-Jin memintanya untuk tinggal di JSS Residence karena Je-Ha kini sudah masuk sebagai “close line”, yang akan dilindungi keselamatannya oleh Yoo-Jin dan JSS dari apapun.


“Bagiku, itu terdengar seperti ‘kamu adalah budakku mulai dari sekarang’,” respon Je-Ha.

__ADS_1


“Aku tidak pernah mengkhianati orang yang tidak pernah mengkhianatiku sebelumnya.” balas Yoo-Jin.


“Tidak ada istilah tuan yang tidak mengkhianati budaknya.”, ujar Je-Ha sambil melangkah pergi. Di depan pintu ia berhenti dan berkata, “Namun demikian, ada orang yang tidak mengkhinati temannya. Bukankah itu benar?”


Yoo-Jin tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya. Sementara itu, An-Ana akhirnya tiba di Yeonhui-dong. Transaksi taksi yang ia lakukan barusan dengan menggunakan kartu kredit Mi-Ran sebenarnya muncul notifikasi di ponsel Mi-Ran. Untung saja Mi-Ran saat itu sedang tertidur nyenyak sambil ngorok, sehingga ia tidak mengetahuinya. Tujuan dari An-Na ternyata adalah rumah tempat dulu ia tinggal bersama ibunya, Ume Hye Rin. Ia teringat kembali masa-masa bahagia bersamanya saat sedang berdiri di depan rumah tersebut.


Next Episode 22...


TERIMA KASIH TELAH MAMPIR LAGI UNTUK MEMBACA NOVEL SAYA. JANGAN LUPA UNTUK LIKEE👍👍👍


DAN KOMENTAR DI BAWAH 👇👇👇


DAN JANGAN LUPA KASIH AKU

__ADS_1


👉⭐⭐⭐⭐⭐👈****


__ADS_2