Anak Singkong

Anak Singkong
Bab 7 ~ Cerita masa lalu ~


__ADS_3

Theo duduk di hadapan Naomi,dia mengalihkan pandangannya ke arah lain karena dia tidak ingin menatap mata Naomi lebih dalam,karena dia takut tidak bisa menguasai hatinya.


Pria macam apa yang tidak tergoda dengan pesona Naomi,bahkan pria tua sekali pun pasti mengalihkan tatapannya kepada Naomi saat dia melewati kerumunan orang-orang Naomi memang sehebat dan seberuntung itu.


"Siapa nama kamu?" Tanya Naomi, dia tidak menatap Theo yang selalu membuang wajahnya.


"Kenapa kamu selalu membuang wajah,apa aku seburuk itu dimata mu,kamu pertama pria yang mengabaikan pesona ku,biasanya para pria akan tergila-gila denganku." Ucap Naomi dengan nada angkuh dia seakan membanggakan dirinya di hadapan Theo,bukannya mendapat pujian dia malah mendengar sindiran dari mulut Theo.


"Cih.....Jangan samakan semua pria nona,kamu bisa menyombongkan diri saat banyak pria yang tergoda dengan pesona mu tapi bukan dengan aku.Saya rasa waktuku sudah selesai menemanimu,aku ingin bekerja,aku tidak enak dengan yang lain,dan aku tidak ingin di buang dari cafe ini,aku sangat membutuhkan pekerjaan ini." Ucap Theo,lalu dia segera meninggalkan Naomi yang masih terpaku mendengar jawaban Theo.


Setelah meninggalkan Naomi,Theo kembali melayani para pengunjung cafe yang sudah mulai ramai,dia pura-pura tidak melihat saat Naomi terus melihatnya melayani tamu.


"Pria yang sangat imut,bagaimana bisa jaman sekarang masih ada pria yang tulus seperti itu." Suara hati Naomi,dia mengelus dadanya yang terus berdebar saat Theo duduk berhadapan dengannya.


Naomi ingin sekali kembali ke kantornya, tapi saat dia tau kalau Robert masih menunggunya disana, dia mengurungkan niatnya kembali dia memilih menunggu Theo sampai dia pulang dari pekerjaannya.


Setelah pukul lima sore,Theo menganti pakainya hari ini dia bergegas pulang karena dia harus segera mengirim uang utuk biaya pengobatan adiknya di kampung.


Naomi mempercepat langkah kakinya mengejar Theo yang sudah meninggakan Naomi,Theo tidak tau kalau Naomi duduk disana hannya ingin menunggunya.


"Hei...Apa kamu langsung pulang?"

__ADS_1


"Iya,ada apa nona?" Tanya Theo,sesekali dia menatap jam tangannya dia tidak ingin ibunya di kampung terlalu lama menunggu kiriman uang darinya.


"Apa kamu sibuk,bisakah kamu menemaniku hari ini,aku sangat bosan dengan rutinitas ku,jadi aku ingin sesekali menghirup udara malam,tapi aku tidak punya teman." Ucap Naomi dengan wajah memelas dia tau kalau Theo bukan pria sembarangan yang tergoda dengan mudah kepada wanita jadi dengan terpaksa dia memasang wajah memelas.


"Aku tidak sibuk nona,tapi aku ingin ke ATM sebentar aku ingin mengirim uang kepada ibuku di kampung,adikku sedang sakit dan mereka butuh uang." Jawab Theo jujur.Sikap Theo yang jujur dan terbuka membuat hati Naomi sedikit hangat,biasanya pria akan mencari cara untuk dekat dengannya tapi lain dengan Theo yang terbuka dengan keluarganya.


"Oohh,itu gampang,sini nomor rekeningnya,kamu tidak perlu ke bank aku akan kirim untukmu." Ucap Naomi.Theo membuka ponsel bututnya,lagi-lagi Naomi kaget melihat ponsel jadul milik Theo,dia tidak menyangka di balik wajah tampan Theo dan senyumannya yang sangat manis tersimpan banyak Rahasia yang mungkin di tutupinya.


"Beres,aku sudah mengirimnya." Ucap Naomi sambil menunjukkan bukti pengiriman kepada Theo.Theo segera menghungi ibunya di kampung dan mengabarinya kalau dia sudah mengirim uangnya.Setelah itu Theo mengambil uang dari sakunya lalu mengembalikan uang lima ratus ribu yang dikirim oleh Naomi kepada ibunya.


"Kamu simpan saja,aku banyak uang." Ucap Naomi tulus,tampa pikir panjang Theo langsung memasukan uangnya ke dalam tas milik Naomi.


Theo menyetir mobil milik Naomi dengan kecepatan sangat rendah,sebenarnya ini pertama kalinya dia menyetir mobil mewah,dari kampung memang dia sudah mahir membawa mobil karena dulu dia sempat bekerja paruh waktu di sebuah bengkel untuk mengurangi beban orang tuanya.


"Kamu belum memberitahu namamu kepadaku." Ucap Naomi.Theo tersenyum kecil memamerkan senyumannya yang sangat manis membuat jantung Naomi semakin berdebar.


"Ada apa dengan hatiku,kenapa setiap melihat senyumannya jantungku terus berdebar." Ucap ya dalam hati.


"Namaku Theo,aku baru saja sebulan ini tinggal di kota ini,aku datang kesini untuk mengadu nasib,siapa tau aku bisa sukses dan membawa keluarga ku ke kota ini." Ucap Theo.


Naomi tersenyum kecil mendengar cerita singkat Theo.Dia yang hidup serba berkecukupan dari kecil tidak akan pernah tau bagaimana sakitnya hidup menjadi seorang anak petani,yang serba kekurangan.

__ADS_1


"Kamu tersenyum ada apa? Apa ada yang lucu dengan cerita hidupku." Tanya Theo,Naomi menggeleng kepalanya dia tidak mau Theo salah mengartikan senyumannya.


"Pengen sekali aku pergi ke desa mu,jika kamu ada waktu bawa aku kesana." Ucap Naomi mengalihkan mengalihkan pertanyaan Theo.Theo yang mendengar ucapan Naomi langsung menoleh ke sampingnya dan mencuri pandang ke arah Naomi dengan ekor matanya.


"Hahaha....Aku tidak bisa membayangkan wanita hebat sepertimu harus berjalan melewati persawahan untuk sampai ke gubuk orang tuaku,aku sangat yakin setelah kamu kesana kamu akan jera kembali kesana lagi.


Theo menepikan mobilnya di pinggir jalan,matahari yang sudah tenggelam menandakan malam akan tiba.Naomi turun dari dalam mobil dan mengikuti langkah Theo menuju gerobak gado-gado yang ada di depan mereka.


Theo membuka jaket dia kenakan lalu memberikannya kepada Naomi,dia merasa tidak nyaman saat mata para pria memandang Naomi para pria itu menelan ludah saat melihat betis mulus milik Naomi.


"Pakai ini menutupi tubuhmu,aku tidak ingin para pria ini menatap mu seperti itu." Ucap Theo.Naomi sangat terharu dengan sikap perhatian Theo.


"Bagaimana bisa ada pria sebaik itu di jaman sekarang,aku sangat kagum dengannya." Ujarnya dalam hati.


Theo memesan dua piring gado-gado,dia sangat kelaparan karena belum makan dari tadi siang.


"Aku tidak mau makan itu." Ucap Naomi,dia selalu berpikir kalau warung pinggir jalan tidak higenis dan kotor.


"Kenapa!! apa kamu harus makan di restoran baru makan namanya,biasakan lah makan di pinggir jalan,dengan begitu kamu sudah membantu orang-orang kelas bawah." Ucap Theo,Naomi menunduk malu mendengar nasihat Theo selama ini dia selalu menganggap makanan pinggir jalan itu makanan kotor.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—bersambung πŸ’—πŸ’—πŸ’—

__ADS_1


__ADS_2