
Marco kecil memiliki peluang besar untuk menyerang Hero sekali lagi. Anak itu memang memiliki skill bicara di atas rata-rata. Sejak kecil ia sudah dilatih berbicara lepas dengan gaya pria dewasa arogan mengikuti sang ayah. Itu sebabnya gaya bicara Marco terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan Hero yang lebih tua empat tahun darinya.
“Aku mengikutimu sedari tadi, jadi aku juga melihat anak kecil ini mengemis di jalanan.” Monster kecil itu mulai mengarahkan sapu tangannya ke wajah Anna. “Dan kamu, jangan menangis lagi! Mulai sekarang kamu adalah calon istri Hero, dan kamu juga termasuk dari bagian temanku.”
Mendengar itu Anna sedikit mendongak untuk mengetahui bagaimana ekspresi Hero saat ini. Dan dari sela-sela jari Marco yang masih mengusap wajahnya, Anna dapat melihat Hero sangat kesal sekali saat ini. Menandakan jelas bahwa perkataan Hero yang ingin menikahinya adalah karangan sementara. Anna paham akan hal itu dan lebih mawas diri atas keadaannya yang hanya seorang pengemis.
“Anna masih memiliki orang tua. Selama belum menikah dia akan menjadi tanggung jawab ayah dan ibunya.”
“Untuk menjadi pengemis seperti ini?” ucap Marco mendongak seraya menatap dagu Hero di atas sana. Pria kecil itu kembali menunduk setelah Hero mengedikkan bahu pertanda tak tahu harus menjawab apa.
__ADS_1
“I-ini?” Marco tiba-tiba kehilangan kata-katanya setelah melihat wajah Anna yang sudah bersih dari debu dan sedikit oli yang sengaja dioleskan ke wajah Anna oleh ibunya. Tangan anak itu gemetar hebat, membuat Hero ikut berjongkok seraya menepuk pundak Marco pelan.
“Anda tidak apa-apa, Tuan Muda?”
“Vero ... kamu Veronika!” Marco berteriak dan langsung menarik tubuh kecil Anna dalam dekapannya. Gadis yang baru berhenti menangis itu kembali dibuat menangis karena perlakuan Marco membuatnya kembali dirundungi perasaan takut.
“Apa maksud Anda, Tuan? Namanya adalah Anna, dia bukan Veronika!” Hero berusaha menjelaskan, namun keadaan Marco semakin terlihat membingungkan karena ia sudah menangis tak karuan sambil memeluk Anna lebih dalam.
Kepala Hero mendadak berdenyut ngilu. “Apa Veronika yang Anda maksud adalah adik Anda yang sudah meninggal setahun lalu itu?” tanya Hero karena tidak tahu soal Veronika. Yang ia tahu hanya tentang kabar bahwa adik Marco meninggal terkena serangan penyakit ganas. Hero tidak berani bertanya lebih lanjut tentang Veronika karena pembahasan itu cukup tabu di keluarga Fernando. Tuan Fernando melarang siapa pun membicarakan kematian Veronika karena kematian putrinya cukup membekas di hati semuanya.
__ADS_1
Marco mengangguk. “Dia pasti hidup lagi karena merasa bersalah telah meninggalkanku pergi. Iya ‘kan Her? Dia akhirnya menyesal?” Terdengar tawa bahagia diiingi suara arogan Marco yang khas di telinga.
Apa dia gila, mana mungkin orang mati hidup lagi.
Makin pusinglah kepala Hero saat ini. Pria itu melirik Anna, melihat betapa takut dan tertekannya anak itu dengan perlakuan Marco yang mungkin terkesan membingungkan gadis kecil itu.
“Mungkin hanya sekadar mirip Tuan, di dunia ini ‘ kan banyak sekali orang memiliki wajah sama.” Ucapan Hero membuat hati Marco memanas dan mendorong kasar Hero hingga terjungkal ke jalanan aspal.
“Berani sekali kau mengatan itu? Sekalinya adikku ya tetap adikku!” sentak Marco murka luar biasa.
__ADS_1
Jangan lupa Her, meski sudah dilatih dewasa sebelum cukup umur, sejatinya Marco masih tetaplah anak kecil. Wataknya yang ngeyel membuat Hero mendesahkan napasnya seraya bergumam, “Sialan! Kenapa aku harus berada dalam posisi rumit seperti ini?”
***