Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Pertahanan Melemah


__ADS_3

***


Dan, pertahanan Anna pun kian melemah, ia tidak memberontak dan membiarkan Hero mendominasinya pikirannya saat ini. Pria itu menuntun Anna hingga ke depan mobilnya.


“Selangkah lagi, An! Selangkah lagi aku pasti bisa mengurai kasus ini sampai tuntas!” Hero menarik gadis itu ke dalam pelukan. Punggung pria itu bersandar di pintu mobil miliknya yang sengaja belum dibuka.


“Aku tak tahan, Kak!” Kelopak mata gadis itu bergetar hebat, air matanya kembali tumpah ruah di pelukan dada besar sang kekasih. Demi apa pun rasa sakit pada hatinya terlalu lebar sampai ia merasa hidupnya teramat malang.


“Aku tahu ... tapi setidaknya jangan bertindak gegabah demi kebaikanmu sendiri! Ada kalanya kita membiarkan musuh tenang sambil menjemput kemenangan. Kamu mengerti ‘kan dengan apa yang kumaksud?”


“Oke, baiklah!” Gadis itu memejamkan matanya sejenak. Ah, ia baru teringat bahwa ada sesuatu yang harus ia luruskan dengan Hero.


“Jadi ini ya alasan kenapa kamu tidak pernah mau berdamai dengan mereka?” tanya Anna dengan perasaan ironi. Mereka yang ia maksud adalah orang tua gadungan yang selama ini telah memperdaya Anna sejak ia masih kecil.


Hero memilih diam membiarkan Anna meluapkan segala emosinya.


“Sejak kapan, Kak? Sejak kapan kamu mengetahui semua ini?”

__ADS_1


Suara gadis itu terdengar makin serak. Anna menahan sesak sekaligus tangisan agar ia dapat berbicara.


Ia lepas pelukan Hero. Ia tatap dalam-dalam si pria yang kini terdiam tanpa mau mengucapkan sepatah kata-pun.


“Kenapa tidak pernah cerita dengan kecurigaan itu? Kenapa kamu malah membiarkanku hidup dalam lingkaran kebodohan bertahun-tahun lamanya?” 


Akhirnya tangis yang sejenak ia tahan pecah kembali. Suaranya tumpah ruah bersama teriakannya yang cukup keras.


 Untung mobil Hero terletak di basement privasi sehingga tidak ada yang mendengar perdebatannya kecuali satpam depan dan cctv.


“Kamu kejam Kak! Kamu kejam!” 


Hero yang sarat akan perasaan Anna tak tinggal diam, ia membawa gadis itu masuk ke dalam mobil agar Anna dapat leluasa menguraikan rasa hancurnya. Beribu panah besi seakan menikam jantung saat melihat gadis kecilnya menangis penuh penderitaan. Hero tak kuasa, ia ingin mengamuk pada dunia yang begitu tidak adil kepada Anna.


Namun, yang bisa ia lakukan saat ini hanya memeluk Anna semakin erat. Ia tahu hanya dirinyalah satu-satunya manusia yang dapat mengerti perasaan Anna saat ini. Maka Hero harus kuat agar ia bisa menguatkan kebangkitan Anna dari jurang kehancuran.


“Aku merahasiakan ini karena aku belum memiliki bukti yang kuat, An! Aku tidak ingin menambah beban hidupmu, itu sebabnya aku bertindak secara diam-diam.”

__ADS_1


Anna bergeming sejenak dalam pelukan.


“Sejak kapan kamu mulai menaruh curiga pada mereka?” kata Anna bertanya lagi.


“Sudah sangat lama! Sejak pertama kali aku bertemu ibumu dan aku melihat dia memperlakukanmu berbeda dengan adik-adikmu. Meskipun kamu adalah anak pertama, tapi bagiku tidak masuk akal menjadikan seorang anak sebagai pengemis. Sementara dia hidup enak dengan uang penghasilanmu.”


“Jadi kamu sudah curiga sejak aku menjadi pengemis?” Anna benar-benar kehilangan kata-katanya sehingga hanya pertanyaan itu yang mampu ia lontarkan.


“Sudah sejak lama, tetapi aku dulu tidak memiliki kekuasaan untuk menyelidiki kasus sebesar ini.” 


“Ya Tuhan! Betapa bodohnya aku selama ini.” Anna meraung cukup keras. Hilang sudah kekuatan tegar yang selama ini dimiliki oleh gadis itu.


“Menangislah untuk hari ini. Tapi besok jangan pernah berikan air matamu pada orang-orang yang telah menjahatimu. Aku Hero, mulai hari berjanji akan membuat air mata sedihmu menjadi mahal sehingga tidak orang yang mampu membelinya—sekalipun itu ditukar menggunakan nyawa.” Suara Hero terdengar tegas dan hangat.


Anna tak mampu menjawab selain menyeruakkan tubuhnya semakin dalam. 


AKU MENCINTAIMU, KAK.

__ADS_1


AKU MENCINTAIMU DENGAN SEGENAP HATI TERDALAM.


***


__ADS_2