Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Lembaran Terakhir


__ADS_3

Lembaran Terakhir Dibuka.


Di situ tertulis sebuah kasus tentang  penggelapan dana klinik yang dilakukan oleh salah seorang dokter dan suster secara sengaja.


 Dokter dan suster itu juga ditahan karena merahasiakan kasus serius di mana ada salah satu pasien yang dengan sengaja menukar bayi mereka yang penyakitan dengan milik orang lain.


Meskipun mereka tidak ikut campur dalam penukaran tersebut, tetapi mengetahui dan tetap merahasiakan demi nama baik klinik tetaplah sebuah kesalahan. Dan kini Marco perlahan tahu apa yang dipikirkan oleh Hero selama ini.


“Jadi maksudmu, ada kemungkinan orang tua Anna adalah pelaku penukaran bayi itu? Pasien yang sengaja menukar bayinya yang sakit-sakitan adalah mereka? Dan orang tuaku bisa jadi adalah korban yang telah merawat bayi mereka. Itu ‘kan maksudmu, Her?”


Pertanyaan itu ia lemparkan dengan perasaan linglung. Marco seperti tak menjejak bumi saat ini.


Hero mengangguk mantap sekali lagi.


 “Benar Tuan! Tapi semua itu baru dugaan ... semuanya akan terbukti satu minggu lagi setelah hasil DNA Anna dan tuan Fernando keluar. Jika hasilnya 99% memenuhi kecocokan, itu artinya Anna adalah adik kandung Anda. Tetapi jika hasilnya tidak cocok, itu artinya—”


“Cukup!” Marco berteriak sangat histeris. Ia memeluk Vanya dengan erat. Giginya mengetat dengan dua tangan mengepal hebat.


“Apa kau dengar itu Van? Adikku masih hidup ... Dia masih hidup!”


Hati Vanya serasa disayat-sayat mendengar tangisan Marco yang begitu pecah. Padahal itu masih dugaan. Mereka butuh bukti satu lagi agar semuanya menjadi jelas.


“Saya menyelidiki kasus ini cukup lama, Tuan. Butuh satu tahun lebih untuk mengusut fakta demi fakta,” ujar Hero menjabarkan.


Marco masih menangis di pelukan Vanya. Ia bagai anak kecil tak berdaya saat ini. 


“Jadi saya mohon ... Tolong rahasiakan hal ini dari Nyonya Maria dan Tuan Fernando sampai semuanya terungkap. Saya tidak ingin membebani perasaan mereka. Begitu pun juga Anda, awalnya saya merahasiakan ini karena tidak ingin menghancurkan harapan Anda. Sebelum semuanya terbukti benar saya masih ingin menyimpannya terlebih dahulu. Sekali lagi maafkan saya.”


Hero menunduk setelahnya. 

__ADS_1


Sambil mengelus-elus kepala belakang Marco, Vanya mulai ikut berbicara menggantikan sang suami yang mungkin sudah kehabisan kata-katanya.


“Semua ini benar-benar takdir Tuhan yang membingungkan. Jika hasil DNA mereka cocok, itu artinya Mami dan Papi telah mengadopsi anak kandungnya sendiri selama ini.”


“Kemungkinan besarnya seperti itu, Nona.”


“Semoga saja hasil DNA-nya cocok,” ucap Vanya seraya mengangguk.


"Tapi bagaimana dengan orang tua Anna? Mereka tidak tahu penyelidikan itu bukan?"


“Tidak Nona. Selama ini orang suruhanku sangat hati-hati. Sebelum semuanya jelas saya tidak akan memberi tuntutan apa pun kepada mereka.”


“Baguslah, semoga saja Anna memang benar adik kandung Marco yang sebenarnya.”


“Cukup!” Tiba-tiba Marco berteriak kembali.


Membuat Hero dan Vanya terenyak dari asumsinya masing-masing.


“Bisakah kalian hentikan pembicaraan ini? Bagaimana jika hasil DNA mereka tidak cocok. Itu artinya Veronika masih hidup dan aku tidak tahu dia ada di mana!”


Semuanya langsung terdiam. Hero dan Vanya tahu apa yang Marco khawatirkan sekarang ini. 


“Sebaiknya kamu keluar dulu, Her. Sepertinya Marco masih syok dan belum bisa diajak bicara sehat.” 


Vanya mengusir Hero dengan gerakkan tangan, pria itu mengangguk kemudian beranjak. 


Tetapi, baru saja Hero berbalik, ia sudah di kagetkan oleh hal yang lebih mengejutkan.


“Anna ....?”

__ADS_1


Gadis itu ternyata tak memenuhi janjinya pada Hero. Anna menguping dan mendengarkan semua pembicaraan mereka dari awal hingga akhir.


Marco langsung terkesiap begitu mendengar nama Anna disebut.


Gadis itu tak hanya mengintip, tetapi ia memberanikan diri membuka pintu lantas masuk ke dalam. 


Dengan tatapan begitu tegas, Anna berkata pada Marco.


“Jika aku bukan Veronika, apa Kakak akan membuangku begitu saja?” 


Marco terdiam. Bibirnya terasa kelu dan kaku.


Hero langsung memeluk Anna dan mengajaknya keluar, tetapi gadis itu menahan untuk tetap tinggal.


“Jawab aku, Kak? Jika aku bukan Veronika, apa Kakak akan membuangku begitu saja?” tanya gadis itu untuk kedua kali.


Entah kenapa Anna sangat cemburu mendengar Marco menyebut Veronika berkali-kali. 


Ini adalah kali pertamanya ia mendengar pembahasan tentang Veronika. Dan ia melihat sang Kakak yang selama ini menyayanginya tampak hanya memperdulikan Veronika.


Bahkan dari awal sampai akhir Marco hanya membahas Veronika lagi dan lagi. Tanpa sedikit pun ia bersimpati kepada nasib Anna yang tidak jelas siapa orang tua kandungnya.


Hero terus memeluk sembari memaksa Anna pergi dari ruangan itu. “Sebaiknya kita keluar dulu, An. Waktunya tidak tepat untuk berdebat.”


“Tidak Kak! Aku hanya ingin mendengar pengakuan dari Kakakku yang katanya sangat menyayangiku selama ini. Apakah dia masih peduli padaku jika aku bukanlah Veronika?” tegas gadis itu pada sang Kakak.


Marco benar-benar tak bisa menjawab seolah hidupnya berada di tengah persimpangan jalan.


Veronika ataukah Anna?

__ADS_1


***


__ADS_2