Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Kasihan


__ADS_3

***


"Kenapa? Bukahkah dia adikmu? Aku kasihan melihat Anna curhat tentang Hero sampai menangis-nangis seperti itu, Sayang! Bahkan anak itu bertambah kurus karena terus memikirkan hubungannya. Apa kamu tidak kasihan terhadap adikmu?"


Ucapan Vanya berhasil membut Marco mendongakan wajahnya sedikit. Lantas menghentikan aktivitas pura-pura kerjanya. Dia sempat mendesah kesal sebelum akhirnya angkat bicara.


"Mereka sudah besar Van, biarkan saja keduanya mengurusi permasalahan mereka sendiri. Lebih baik kita lakukan program anak ketiga saja daripada kamu sibuk mengurusi hubungan mereka. Dan ... sampai kapan kamu mau menempelkan alat KB itu di tubuhmu? Kau pikir aku tidak tahu bahwa koyo di punggungmu itu adalah alat KB?"


Marco sengaja mengalihkan topik pembicaraan. Hal itu kontan membuat Vanya membeliak tak percaya.


"Uhuk ... uhuk!" Wanita terbatuk oleh ludah sendiri. "Da-darimana kamu tahu itu?" tanya Vanya mulai tergugu. Ia begitu takut melihat ekspresi Marco yang mulai berubah sejak pembahasan mereka berpindah soal anak ketiga.

__ADS_1


"Aku tahu dari dokter pribadiku. Awalnya aku penasaran kenapa kamu sering memakai koyo padahal tubuhmu baik-baik saja. Dan saat aku bertanya, dokterku memberi tahu bahwa koyo aneh yang kamu pakai bisa jadi merupakan alat penunda kehamilan, sengaja kamu melakukan itu agar aku tidak curiga, kan? Hmm ... Vanya, tidak bisakah kau memberikan anak ketiga untukku? Apa trauma keguguran itu sangat berat untukmu sampai kamu tidak ingin hamil anakku lagi?"


Kata-kata Marco terdengar sedikit menekan hati Vanya. Di mana pikiran wanita itu terbuyar sempurna tanpa arah yang jelas. Bahkan Vanya tidak sadar saat Marco mendekatkan tubuhnya perlahan. Kemudian menempelan ujung jari miliknya pada bawah dagu Vanya.


"Hmmm ... maafkan aku! Aku butuh waktu soal itu."


"Aku tahu itu berat, tapi cobalah lupakan masa lalu dan mulailah hidup baru. Toh ... mamiku sudah menyesali perbuatannya satu tahun lalu. Dia juga sudah menganggapmu layaknya anak sendiri. Jadi kurang apalagi?"


Ternyata Marco malah menyambut pelukan Vanya dengan penuh kasih sayang. "Aku tidak marah sama sekali. Lepaskan alat KB itu jika kamu sudah memaafkan perbuatan mami dan kesalahanku, Van. Percayalah ... tidak ada perlakukan buruk yang akan terjadi di kemudian hari."


"Iya," ucap Vanya pelan, lagi-lagi ia dibuat menelan ludah karena tangan Marco tiba-tiba menyusup pada bagian punggunnggnya, lantas menarik paksa alat penunda kehamilan yang selama ini menempel erat di punggung wanita itu.

__ADS_1


Apakah ini sudah waktunya? Apakah yakin hatiku sudah memaafkan ibu mertuaku?


Tubuh wanita itu sedikit bergetar mengingat kejadian kelam satu tahun lalu. Saat ia datang ke keluarga Fernando dan mendapat perlakuan buruk dari sang mami mertua hingga pada akhirnya ia harus kehilangan bayi di dalam perutnya.


"Kenapa lagi? Masih belum bisa percaya padaku?"


Vanya menggeleng. "Tidak ... tapi aku hanya ingin meminta sesuatu. Jika nanti aku hamil lagi, aku ingin tinggal di rumah nenek selama mengandung."


Marco tersenyum. "Baiklah. Lagi pula aku sudah pernah bilang bahwa kamu adalah orang yang sangat aku cintai, Van. Apa pun yang kamu mau akan aku turuti. Jika kamu minta satu, maka aku akan memberikan sepuluh. Jika kamu meminta lebih banyak dari angka sepuluh, maka aku bisa memberimu sebanyak dua ratus, jadi—sekarang kamu bersedia mempercayaiku sekali lagi? Memberiku anak ketiga sebagai bentuk kepercayaan?"


Vanya mengangguk sambil menangis haru di pelukan Marco. "Akan aku lakukan. Akan aku lakukan demi masa depan keluarga kita."

__ADS_1


***


__ADS_2