
***
“Terima kasih untuk waktunya, Bu. Terima kasih sudah berkenan hadir menjadi saksi kami.” Hero menatap ibunya sedikit canggung. Di titik ini ia jadi teringat pesan singkat yang ibunya kirim tadi siang.
Saat Hero sedang mengabari acara menikah mendadak itu, ternyata ibu sedang ada di sebuah acara arisan.
Wanita paruh baya itu langsung buru-buru pamit ketika Hero mengirim sebuah foto yang menunjukkan tempat di mana ia hendak mengucapkan janji sucinya.
Ibu melotot geram pada sang anak. “Hmm! Cukup sekali ini saja kamu mengejutkan dan merepotkan ibu dengan kabar nikah dadakan kalian, Her. Awas saja kalau kamu mengabari berita penting dengan cara mendadak begini. Ibu mudah panikan tahu!”
“Iya, Bu, maaf.” Hero mengangguk dengan bibir terlipat ke dalam.
“Ya sudah ibu masuk dulu.”
Wanita itu masuk ke dalam mobil. Dalam sekejap mobil yang ditumpangi ibu berjalan kian menjauh dari lokasi mereka berdiri sekarang.
Sekarang tinggal tersisa Anna dan Hero yang sedang berdiri canggung sambil memikirkan status baru mereka.
“Sekarang kita mau ke mana, Kak?” Anna mulai bertanya malu-malu. Pipinya merona, dan itu membuat Hero semakin gemas melihatnya.
Ia hendak menggenggam tangan Hero di bawah sana, tetapi rasanya berat dan malu ketika mengingat status baru mereka.
Menikah?
__ADS_1
Ya ampun! Tak pernah terlintas sedikit pun di otak Anna kalau hari ini ia akan menikah.
“Ke apartemenku,” jawab Hero santai.
“Mau ngapain?” Suara Anna terdengar sangat lirih, namun masih dapat ditangkap jelas oleh telinga Hero.
“Mau apa saja terserahku! Toh kita sudah menikah, An. Pertanyaanku sangat aneh!” seru Hero di akhir kalimat.
Gadis itu menggaruk kepala belakangnya. “Oh begitu, ya? Tapi nanti kita jangan aneh-aneh dulu ya. Lebih baik kita cerita-cerita dulu saja ! Jujur aku sangat penasaran bagaimana caranya kamu melakukan rencana nikah dadakan ini.”
“Hmmm. Boleh, tapi kalau sempat ya! Aku takut terlalu sibuk melakukan hal lain sampai tidak ada waktu mengobrol lagi,” balas Hero disertai seringai.
Anna langsung paham dengan apa yang dibicarakan oleh Hero barusan.
Aaaaah! Aku malu ....
Aku belum siap untuk itu.
"Kenapa?" Suara datar Hero membangunkan Anna dari lamunan. "Aku cuma lagi mikir kira-kira rasanya sakit tidak?" celetuk gadis itu.
"Sakit tidaknya aku tidak tahu! Tapi untuk antisipasi aku sudah menyiapkan kursi roda! Barangkali benda itu dibutuhkan olehmu."
"Aaaaaa, Kakak." Anna menjerit malu.
__ADS_1
"Ya sudah ayo masuk!" Hero membuka pintu mobil. Meski sambil manyun-manyun, akhirnya Anna masuk ke mobil.
"Cubit aku deh! Kayaknya aku mimpi!" celetuk Anna lagi.
Hero yang sudah benar-benar tak tahan reflek mencubit gemas bagian sensitif milik Anna.
"Begini?" ucap Hero kemudian memasangkan seatbelt untuk Anna.
Gadis itu terdiam sesaat. Jantungnya berdegub kencang saat mata mereka saling bertemu.
"Ya Tuhan! Ternyata ini nyata!" seru gadis itu.
"Memangnya siapa yang bilang mimpi?" Satu kecupan Hero melayang sekali lagi di pipi Anna.
"Persiapkan saja dirimu untuk nanti malam. Takutnya nanti malam kamu tidak punya waktu untuk bermimpi."
"Ah, Kakak! Tolong jangan membuatku malu. Kenapa sejak tadi pembahasannya itu-itu mulu."
Hero terkekeh geli. Perlahan, mobil pria itu melaju, meninggalkan dinas pencatatan sipil tempat mereka menikah tadi.
"Karena ini adalah momen yang paling kutunggu entah sejak kapan. Jadi wajar saja jika aku terus membahasnya."
***
__ADS_1
Jangan lupa komen dan pencet jempolnya di bawah sana. Terima kasih mentemen.