
Beberapa saat setelahnya, suasana hati Anna sedikit lebih tenang.
Pelukan mereka berdua terlepas di mana Hero langsung tersenyum kepada gadis itu.
Bukan senyum bahagia, melainkan senyum sederhana untuk menguatkan hati Anna.
“Aku yakin kau jauh lebih kuat dari yang aku bayangkan, An,” kata Hero seraya mengusap puncak kepala gadis itu.
“Entahlah ... jika tidak ada kamu mungkin aku tidak akan mampu melewati semua cobaan ini. Sebenarnya karenamu aku menjadi kuat, Kak. Dan aku juga tidak mau mengecewakan orang yang sudah berjuang mati-matian untukku.”
Anna menoleh sambil tersenyum juga. “Terima kasih sudah berperan sebagai SUPERHERO di hidup Anna yang malang.” Dia menggenggam tangan Hero sebentar sebelum mengelap cairan bening di sudut matanya.
“Sstt, jangan berkata seperti itu. Mulai hari ini Anna yang malang sudah tidak ada lagi karena sebentar lagi aku akan menjadi SUPERHERO-mu selama-lamanya.” Hero bicara dengan yakin. Semangatnya begitu tinggi hingga membuat Anna sedikit terkekeh.
“Ngomong apa, sih? Kamu berlebihan,” ejek Anna masih agak terkekeh sambil terus menyusut air matanya.
Bisa dikatakan ia sedih, tetapi ia juga bahagia karena ada Hero yang selalu menemani di sisinya.
Pria itu kemudian menyalakan mesin mobilnya. Kendaraan roda empat itu mulai bergerak keluar meninggalkan area kantor.
__ADS_1
Membuat Anna sedikit melempar ekspresi penuh tanda tanya yang tidak ia jabarkan menggunakan kata-kata.
“Aku sudah minta izin pada kakakmu,” ucap Hero sebelum Anna bertanya. “Kau tidak perlu khawatir. Biarkan pekerjaan kantor menjadi urusannya hari ini.”
Bibir Anna langsung mencebik begitu nama kakaknya disebut. “Huh, kamu membahas dia lagi. Aku sungguh tidak ingin membahas kak Marco, tahu! Dia menyebalkan,” kesal Anna yang kemudian menyanggah pipinya dengan satu tangan.
“Tapi kamu menyebut namanya, tuh!” cibir Hero tak mau kalah.
“Keceplosan,” jawab Anna geram.
Hero tersenyum dengan mata tetap fokus memandang jalan raya. “Sengaja juga tidak masalah si! Bagaimana pun juga kakakmu adalah orang yang pertama kalinya memberimu kehangatan dari sebuah keluarga. Apa pun yang terjadi di masa depan kau harus mensyukuri itu.”
Anna takut bila mana tes DNA itu keluar dan ternyata ia bukanlah anak kandung dari tuan Fernando.
Itu artinya keluarga Fernando akan mencari keberadaan anaknya yang masih hidup sekali pun ke ujung dunia. Dan keberadaan Anna jelas akan tersingkir meski Marco bilang itu tidaklah mungkin.
“Oh ya, Kak, mengenai hasil tes DNA itu kapan keluarnya?”
Hero menoleh. “Seminggu lagi. Tapi kamu jangan terlalu khawatir. Berdasarkan penyelidikanku, kalian pasti memiliki kecocokan, An!”
__ADS_1
“Kamu serius? Bagaimana jika tidak?” tanya gadis itu disertai wajah cemas.
“Jika tidak menurutku ini mustahil, An. Soalnya segala bukti kejahatan orang tua gadungan itu lebih mengarah pada kalian sebagai korban. Kau dan keluarga Fernando,” kata Hero dengan air muka yang terpancar serus.
Seperti yang diketahui, Hero memang sudah lama sekali menyelidiki kasus ini. Motifnya tidak lain tidak bukan adalah kondisi keuangan mereka yang saat itu sangat sulit.
Orang tua kandung dari Veronika jelas tidak mampu membayar biaya pengobatan sang anak ke depannya. Sehingga mereka memutuskan menukar Veronika dan Anna demi nasib kesehatan anaknya bisa terjamin terjamin.
Sangat ironi, bukan?
Namun, apa yang mereka perbuat tetap tidak bisa dibenarkan. Nyatanya Veronika tetap menemui ajalnya meski kesehatan gadis kecil itu sudah terjamin sedemikian rupa.
“Aku takut, Kak. Aku takut jika hasil tes DNA kami tidak sama. Aku harus bagaimana selanjutnya? Pasti hubungan kami akan sangat canggung karena keluarga Fernando jelas akan mencari keberadaan anaknya yang asli.”
“Hmmm. Kita lihat saja nanti, An.” Hero mulai memelankan laju mobilnya agar mereka dapat leluasa mengobrol.
Pria itu berusaha sekuat mungkin mencairkan hati Anna. Banyak mengobrolkan hal-hal lain agar gadis itu lupa akan masalahnya.
***
__ADS_1