Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hero keluar dari kamar membawa wajah merahnya. Sebenarnya dia tidak setiap hari ngompol, tapi terkadang, di saat dia kelelahan, cairan sialan itu suka tiba-tiba keluar begitu saja.


Itu terjadi kurang lebih 1 atau dua bulan sekali.


"Hei, Kakak! Mau kemana?" Anna menyusul Hero keluar.


"Kakak tidak mau melakukan malam pertama denganku?" Dengan tidak tahu dirinya Anna mencebik. Membuat Hero mengempaskan tubuhnya ke sofa sambil buang muka.


"Aku tidak tertarik melakukan itu. Kamu menyebalkan!" gerutu Hero malas. Ia kemudian melipat tangannya di depan dada.


"Hmmm. Kakak, jangan seperti itu. Jika kamu masih suka ngompol aku tidak masalah. Nanti kita bisa beli seprai anti bocor atau pempers dewasa."


Sontak Hero membulatkan matanya lebar-lebar. Ia sungguh tidak senang dengan komentar Anna yang satu itu. Tak ada yang aneh si, tapi entah kenapa ucapan Anna terdengar seperti hinaan di telinga Hero.


Lelaki itu kesal terhadap Anna.


"Ayolah, Kak! Jangan marah begitu. Aku sayang padamu!" Anna lalu duduk tepat di samping Hero. "Jadi meskipun kamu masih suka ngompol, cintaku padamu tidak akan luntur begitu saja. Aku menerima kamu dan semua kekuranganmu apa pun itu."


"Hmmm. Memangnya tidak bisa kalau tidak menyebut kata itu?"

__ADS_1


"Kata apa?" Anna memandang bingung.


"Sudahlah! Tidak usah dibahas!" Hero kembali ngambek dan memalingkan wajahnya ke mana pun. Asal tidak melihat muka Anna yang menyebalkan.


"Maksudnya ngompol? Kamu tidak suka kalau aku menyebut kata ngompol?"


Sontak Hero langsung bangun dan berpindah tempat lagi.


"Hei, ya Tuhan. Malah tambah ngambek! Oke, aku tidak akan menyebut kata ngompol lagi di depanmu. Bahkan bila kamu ngompol aku akan pura-pura tidak tahu!" Anna berseru dengan tidak tahu dirinya. Itu membuat telinga Hero sangat panas. Rasanya benar-benar ingin menguliti tubuh wanita itu sampai ke tulang-tulangnya.


"Kakak. Jangan marah please!" Anna merengek dari belakang. Kini Hero sedang membuat segelas susu untuk dirinya sendiri. Ia sengaja tidak membuat dua karena masih kesal dengan Anna.


Hero terus saja diam. Memang karakter lelaki itu tidak terlalu banyak bicara ketika marah.


Ting ... Tong ... Ting ... Tong.


Tiba-tiba suara bell berbunyi.


"Ah, itu pasti makanan yang aku pesan. Tunggu di sini, biar aku ambil dulu." Anna berlari kedepan dengan wajah riang. Namun, senyumnya tiba-tiba luruh saat mengetahui siapa yang membuka pintu.

__ADS_1


"Anna!" Suara Marco yang lirih membuat Anna spontan menutup pintu.


"Aku tidak mau ketemu Kakak!" ucap anak itu. Dia masih agak marah soal kejadian di kantor tadi.


"Anna! Jangan seperti itu. Kedatanganku ke sini karena ada yang ingin aku bicarakan dengan Hero!" Marco menyela. Ia mendorong pintu hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam.


"Pokoknya aku tidak mau bertemu Kakak. Jika kedatangan Kakak hanya ingin merusak malam pertama kami, sebaiknya Kakak perg!"


"Justru itu yang mau Kakak bicarakan denganmu, Anna. Sebagai orang yang sangat dekat dengan kalian, seharusnya kalian membicarakan ini sebelumnya, bukan malah nikah diam-diam."


"Memangnya kalau saya bicara terlebih dahulu, Anda mengizinkan?" Hero datang dari arah dapur. Masih dengan raut wajah kesal, dia menatap Marco si tamu tak diundang.


"Tentu saja tidak!"


"Maka dari itu saya memilih diam," ucap Hero.


"Tapi tindakanmu tetap saja salah! Bagaimanapun juga kami adalah keluarganya," balas Marco tanpa berpikir.


"Aku tidak ingin membuat Anna makin banyak pikiran, Itu sebabnya aku lebih baik menikahi dia secara diam-diam. Toh aku langsung memberitahumu setelah sah, bukan? Itu sama saja!" Hero menjawab dengan entengnya.

__ADS_1


__ADS_2