
Marco terkesiap begitu melihat Anna muncul dengan tiba-tiba.
Dalam beberapa detik telinganya berdengung pilu oleh riuh tangis dan teriakan Anna yang menggema nyata di pendengaran pria itu.
“Sebaiknya kita keluar dulu, An. Waktunya tidak tepat untuk berdebat.” Hero berusaha mencegah.
Namun, Anna terus memberontak dengan cara menyingkirkan tangan Hero agar jaraknya dengan Marco lebih dekat.
“Tidak Kak! Aku hanya ingin mendengar pengakuan Kakakku yang katanya sangat menyayangiku selama ini. Apakah dia masih peduli padaku jika aku bukanlah Veronika?” tegas gadis itu pada sang Kakak.
Saat Anna menyebut nama Veronika untuk kedua kalinya, Marco langsung beranjak menubruk Hero lalu merebut gadis itu dari pelukannya.
“An .....”
Marco mendekap Anna erat sekali seakan-akan ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah sekian lama dipisahkan.
“Tolong jangan berkata seperti itu! Ada dan tidak Veronika, kau masih tetap Anna-ku. Adikku yang sangat kusayangi selama ini!”
__ADS_1
Sejenak Anna membatu mendengar ucapan Marco yang jauh berbeda sekali dengan yang tadi saat berdebat tanpa dirinya.
Apakah Marco serius? Atau hanya asal berkata agar Anna tidak sakit hati?
Anna benar-benar marah kali ini. Sudah saatnya ia berhenti diperdaya. Anna ingin tegas dan memberontak demi hidupnya.
“Lepaskan aku Kak.” Anna berusaha menyingkirkan pelukan Marco di tubuhnya.
“Sekarang aku sudah tahu seberapa tidak berharganya aku di keluargamu. Jadi jangan berpura-pura lagi. Cari saja Veronika sampai ketemu dan lupakan aku!”
“An, Please! Aku tidak sengaja mengucapkan itu. Aku hanya terlalu syok karena mendengar kabar Veronika masih hidup. Dan aku pasti akan sangat bersyukur andai Veronika itu kamu,” kata Marco berusaha lembut.
“Ayo Kak! Semuanya sudah cukup, aku ingin pergi!” Anna kembali menggandeng Hero sambil menyeka air matanya yang tak mau berhenti.
Demi apa pun hatinya sudah tak tahan lagi.
Sejak Anna datang ke rumah, ia memang tidak pernah diperkenalkan lebih dalam tentang sosok Veronika. Ia hanya tahu Veronika telah pergi karena penyakit bawaannya. Itu saja yang Anna tahu.
__ADS_1
Selebihnya Anna tidak pernah tahu se-berharga apa Veronika di keluarga Fernando karena gadis itu memang tidak pernah disebut di depannya.
Itu sebabnya Anna merasa tersingkirkan begitu mengetahui fakta yang sesungguhnya.
Sekarang Anna jadi merasa kehadirannya hanya sebagai sosok pengganti yang suatu hari akan tersingkir jika si adik asli sudah kembali.
Bahkan sekarang Anna mulai teringat betapa dipaksanya ia menjadi karakter lain yang bukan dirinya selama ini.
Anna yang dulunya sedikit tomboi, begitu masuk ke keluarga Marco langsung dipaksa menjadi karakter anggun dan kalem yang mungkin saja itu merupakan karakter dari sosok Veronika.
Tak dipungkiri meski Anna disayang dan diperlakukan sangat spesial, tetapi selama ini ia tidak bebas menjadi diri sendiri.
Kembali lagi pada adegan. Marco berusaha menahan pergelangan tangan Anna agar jangan pergi terlebih dahulu.
“Maaf ... tolong maafkan aku, An! Tadi aku benar-benar terlalu syok sampai lupa memikirkan perasaanmu.” Ditariknya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya kembali.
Marco mencoba mendekap Anna lebih dalam dari tadi, namun tiba-tiba Hero menarik lengan pria itu cukup kasar.
__ADS_1
“Cukup Tuan! Biarkan Anna menenangkan dirinya terlebih dahulu! Dia sedang rapuh sekarang.”