Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Dibohongi


__ADS_3

Satu Minggu Berlalu, selama satu minggu itu Hero terus mengontrol di sepanjang jalan yang biasa dipadati oleh pengemis. Selama penyelidikannya itu ia tak melihat Anna ada di lampu merah tempat terakhir mereka bertemu waktu itu.


Berarti Ibu Anna yang jahat benar-benar menepati janjinya. Tak sia-sia ia bertengkar dengan ibunya sendiri karena memindahkan warisan sebanyak dua belas milyar dari mendiang kakeknya ke rekening orang lain secara cuma-cuma.


Saat ibunya marah dan memukuli anak itu, Hero dengan entengnya menjawab akan membiayai hidupnya sendiri mulai detik ini. Ia berjanji pada ibu akan giat belajar agar Tuan Fernando segera mengesahkan jabatannya mengantikan mendiang sang ayah.


Ibu Hero hanya dapat menghela sabar dengan watak anak semata wayangnya yang dinilai terlalu baik. Hero juga tidak tahu kenapa ia bisa sampai segila itu terhadap gadis kecil yang baru dikenalnya sehari. Sudut hatinya merasa iba, dan pikirannya tergerak sendiri ingin membiayai hidup anak malang itu. Malahan Hero sempat menjawab ocehan ibunya dengan balasan penuh telak.


Anak muda itu berkata, "Bukannya ibu memberiku nama Hero agar aku dapat menjadi pahlawan untuk orang lain? Mungkin ini saatnya aku menjadi pahlawan untuk orang lain sesuai perkataan Ibu. Nanti kita cari lagi uangnya, toh semenjak kepergian ayah biaya hidup kita sudah ditanggung keluarga tuan Fernando. Jadi biarkan Hero memberikan uang itu untuk yang lebih membutuhkan."

__ADS_1


Ibu Hero terpuruk lemas tak berdaya. Ia tatap gagang sapu yang sudah berhasil membuat punggung anaknya babak belur.


"Kenapa kamu baik sekali anakku? Kamu akan dimanfaatkan oleh orang tidak bertanggung jawabab jika seperti itu."


***


Kembali lagi pada jalanan berpolusi dengan terik matahari yang meninggi. Hero berjalan menyusuri sepanjang jalan setapak sambil memikirkan seperti apa nasib Anna setelah ibunya mendapatkan semua bekal uang tabungan Hero.


Dan hari ini, ia kembali melakukan hal yang tak kalah bodohnya dengan yang waktu itu. Hero sengaja membolos sekolah hanya untuk mengunjungi beberapa sekolah dasar di sekitar taman. Ia mencari-cari anak baru yang wajahnya mirip dengan si kumel. Dan hari ini sudah tiga sekolah ia datangi. Hasilnya nihil. Hero tidak dapat menemukan Anna sama sekali. Entah ibunya menyekolahkan anak itu di mana, kesal Hero sedari tadi.

__ADS_1


Hero memutuskan untuk pulang karena sudah lelah. Ia membawa langkah kakinya ke sebuah halte, lantas menaiki bus mini menuju arah pulang.


"Sebenarnya anak itu ada di mana sih?" gumam Hero seraya menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi.


Mobil mulai melaju dengan kecepatan normal. Pria muda itu termenung menatap ke arah jendela di mana wajah Anna yang sangat kumuh melintas di bayangan kaca. Karena terlalu banyak memikirkan Hero serasa melihat anak itu ada di dekatnya saat ini.


"Sepertinya aku sudah gila! Untuk apa aku memikirkan anak kecil jelek itu?" Ia berpaling ke arah lain, dan terkejut bukan main saat menatap ke seberang jalan satunya lagi.


Deg!

__ADS_1


Jantung Hero seperti dihantam palu besar. Lelaki itu berusaha menajamkan penglihatannya.


__ADS_2