
“Apa kamu bilang? Apa begini caramu menghadapi wanita yang sedang marah?”
Bibir Anna mengerucut sebal. Bisa-bisanya Hero bersikap santai tanpa berniat mengklarifikasi apa pun.
Dasar pria tidak tahu diri! Di mana otakmu, hah? Rasanya Anna ingin memukul kepala Hero tetapi dia tahan lantaran tak tega.
“Lalu aku harus bagaimana?” Kedua bahu Hero terangkat pelan. Alisnya tertaut, dan tatapannya menunjukkan ekspresi bingung
Ia masih bersikap santai karena merasa tidak melakukan kesalahan apa pun.
“Tanya lagi?” Anna menggeleng tak percaya. Ah, kepalanya bisa pecah kalau begini caranya.
Masih dengan handuk kimono yang membalut tubuhnya, dia naik ke atas ranjang lalu duduk kasar di pangkuan Hero.
Membuat pria itu terkesiap seraya menelan salivanya gugup.
“Mau apa kamu?” Bibirnya bergetar saat menanyakan itu.
Adegan inilah yang Hero tunggu-tunggu, tapi jangan sekarang karena mereka belum makan.
“Mau apa itu terserahku ya! Sekarang kau adalah tersangka!”
Namun, yang ada di pikiran Hero tak selaras dengan apa yang Anna pikirkan. Gadis itu mencengkeram kerah baju Hero dengan emosi membuncah hebat.
__ADS_1
Sorot matanya yang memerah jelas menggambarkan bahwa ia sedang tidak main-main saat ini.
“Jelaskan padaku apa maksud dari baju-baju itu!”
Di luar dugaan Hero tersenyum. Ujung tangannya menyentuh bibir mengerucut itu seakan kepalanya tengah dipengaruhi alkohol dalam kadar tinggi.
“Jangan sentuh aku!”
Teriakkan Anna membuat pria itu tersadar. Ia tarik kembali tangannya yang sudah bergerak agresif mendahului intruksi si pemilik.
“Kamu mau aku menjelaskan apa?” Akhirnya Hero mulai meladeni pokok masalah yang Anna bahas meski di matanya itu tidak penting sama sekali.
Dibanding membahas isi lemari besar tersebut, sejujur Hero jauh lebih ingin membawa tubuh mungil gadis itu ke dalam pelukannya.
Namun lagi-lagi bola mata Hero terpaksa harus terbuka lebar sembari menunggu gadis itu mengintrogasinya.
“Apa maksudnya koleksi baju-baju itu?” tanya Anna langsung pada intinya.
Jika mereka terlalu lama berdebat dalam posisi seperti ini, Anna takut bukan masalah yang selesai, tapi hidupnya yang selesai duluan karena dimakan habis oleh pria di depannya.
“Baju itu adalah baju wanita!”
“Iya tahu, siapa yang bilang itu baju kudanil?” Gadis itu makin meradang saja. “Maksudnya baju siapa itu?”
__ADS_1
Anna refleks memukul dada Hero pelan.
Eh, kenapa aku jadi kurang galak gini, ya?
Gadis itu bergerak memundurkan tubuhnya. Kini ia menduduki kaki Hero guna menjaga jarak aman agar jantungnya terselamatkan sampai masalah terpecahkan.
Pokoknya, ia tidak boleh goyah hanya karena pesona pria itu.
Apa pun yang terjadi Hero tidak bisa dimaafkan sebelum menjelaskan apa maksud dari baju-baju tersebut.
“Hmmm. Itu baju wanita yang kubeli untukmu.” Akhirnya menjawab, tapi tidak membuat Anna puas sama sekali.
Kalimat Hero malah terdengar seperti lelucon baginya.
“Hahaha!” Anna tertawa dengan nada mengejek. “Kau pikir aku percaya? Jika kau sengaja membeli baju-baju itu untukku, mana mungkin ada baju lama keluaran terbatas edisi tujuh tahun lalu?”
“Ya memang kenyataannya seperti itu,” jawab Hero masih dengan ekspresi santai sekali. Seolah tidak ada sesuatu yang terjadi di antara mereka
Gadis itu menatap Hero semakin intens.
“Pria memang pandai bermanipulasi!” tegasnya pungkas.
Matanya berapi-api seakan hendak memakan Hero bulat-bulat.
__ADS_1