
Perasaan berdebar-debar tak karuan menyelimuti hati Anna saat ini.
Begitu mereka sampai di apartemen, perasaan itu makin tak karuan sampai keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari area punggung gadis itu.
Duh, aku malu! Nanti aku harus agresif seperti biasanya atau pura-pura kalem? Eh, tapi kalau malam pertama, harusnya dia dong yang mengambil inisiatif dulu? Hihihi.
Jemari gadis itu mulai saling meremas di bawah sana. Bahkan seragam kerja Anna sudah lecek lantaran sering dijadikan pelampiasan atas dirinya yang terlalu gugup.
Klik!
Pintu apartemen Hero terbuka. Sebuah gaya ruangan modis dan serba mini malis tersaji di depan mata gadis itu kini.
“Ayo masuk.” Hero menarik lengan Anna sedikit paksa karena gadis itu hanya mematung di depan pintu sejak tadi.
Anna mulai melangkah pelan. Ekor matanya mengedar ke segala penjuru ruangan.
Ruangan yang selama ini jarang sekali Anna masuki karena Hero selalu melarangnya datang dengan berbagai alasan.
Akhirnya, pikir Anna.
__ADS_1
Akhirnya ia bisa datang ke tempat ini secara bebas tanpa mendapat omelan dari Hero. Tetapi meski begitu, rasa aneh masih saja bersarang di pikiran Anna.
Pikiran kotor itu mulai datang tidak terkontrol.
Ada banyak bayang-bayangan tidak jelas bermunculan di kepala sampai Anna ingin meledakkannya saja.
Dari mulai dada Hero yang bidang. Otot-otot kuatnya yang terpampang. Bahkan gambaran Hero saat tidak mengenakan pakaian terpatri jelas di otak gadis itu.
Wah, kenapa hanya Anna seorang yang berpikiran kotor seperti ini?
Dirasa curang sekali karena Hero malah terlihat santai seperti tak ada apa-apa yang terjadi di antara mereka.
Tak terkecualikan, Anna juga memasang wajah canggung sambil menatap ke arah mana pun, asal tidak menatap wajah Hero karena ia benar-benar tak sanggup melakukannya.
“Sini!” Tangan Hero melambai disertai senyum tipis. Menghadirkan sebuah debaran tak kasat mata yang membuat jantung Anna menggila semakin hebat.
“Mau ngapain?” tanya gadis itu malu-malu.
Hero mengernyit. “Duduklah! Memangnya kamu tidak ingin duduk? Tidak lelah berdiri terus di situ?”
__ADS_1
Anna menyeringai jenaka. “Duduk saja, ‘kan ya? Tidak melakukan apa-apa?”
Gadis itu bergerak pelan. Ia mendudukkan dirinya di pojok sofa dengan jarak cukup jauh dari posisi Hero duduk sekarang.
“Iya duduk saja! Memangnya mau apa?” Pria itu melirik jam di dinding. Masih jam enam sore, yang artinya masih terlalu sore untuk melakukan kegiatan itu-itu.
Anna ini kenapa sih, batinnya dalam hati.
“O-oke. Terima kasih,” ucap Anna tergugu-gugu.
Ia sudah memasang jarak aman, namun tak diduga Hero justru mendekatinya semakin intim.
“Kamu sakit?” tangan pria itu menyentuh kening Anna sambil menekannya beberapa kali. “Badanmu panas,” lanjutnya dengan wajah sok datar.
Anna sontak menggeleng. Menjelaskan bahwa ia tidak sakit apa lagi demam.
“T-tidak kok, aku baik-baik saja! Cuma agak canggung berduaan di apartemenmu seperti ini. Biasanya aku ‘kan tidak boleh datang ke apartemenmu,” ucap gadis itu sedikit tak nyaman karena Hero terus memandangnya dengan intens.
Tidak tahukah bahwa ia kesulitan bernapas gara-gara hal ini? Dasar pria menyebalkan! Batin Anna dalam hati.
__ADS_1