
***
“Kamu selingkuh?”
Anna langsung menutup pintu lemari, tubuhnya sigap berbalik menatap Hero dengan alis menukik setajam silet.
“Dan kamu menyuruh aku memakai baju bekas selingkuhanmu?” pungkas gadis itu.
"Siapa yang selingkuh? Kau ini gila atau apa!" Hero menggeram.
"Tidak usah mencari pembelakaan. Kakak ini ada di posisi salah," pungkas Anna.
"Siapa juga yang mau mencari pembelaan! Aku hanya—"
"Stop!" Teriakan Anna menggema nyaring sekali.
Hero hendak mendekat, namun Anna langsung mendorong dada bidang itu dengan dua tangannya.
“Berdiri di tempat! Dan jangan mendekat!”
Ia marah, tapi tak mau melewatkan untuk tidak menyentuh dada menggiurkan itu. Entah kenapa tangan sialan itu juga reflek mengarah pada bagian sana.
“Jangan membela diri! Kamu selingkuh, ‘kan, Kak? Buktinya sudah ada di depan mata! Ternyata kamu sering membawa wanita ke apartemenmu! Bahkan dia memiliki lemari pakaian khusus di kamarmu!”
Namun, yang dituduh justru terlihat santai. Hanya timbul sedikit guratan di sekitar dahi yang menunjukkan ia agak tercengang melihat sikap istrinya.
__ADS_1
Hmmm. Istri?
Rasanya Hero masih tak percaya bahwa wanita di depannya itu sudah menyandang status istri sah. Istri sah dari Hero Bastian Hugo.
“Kenapa diam?” Sikap Hero yang santai mulai dipertanyakan oleh Anna.
Ada ya orang selingkuh ekspresinya santai begini? Tidak Heran, pria memang pandai bermain manipulasi!
“Kamu menyuruhku diam,” jawabnya santai.
“Kapan aku berkata seperti itu?” Anna menyusul langkah Hero yang bergerak sangat cepat.
Pria itu sendiri memilih pergi meninggalkan Anna lantas duduk di bibir ranjang tidur.
“Tadi kamu bilang jangan mencari alasan. Jadi aku diam!” Tubuhnya sudah resmi bersandar. Sekarang tinggal matanya yang bergerak-gerak memperhatikan setiap tingkah gadis itu.
"Keterlaluan sekali kamu, ya, Kak! Jadi kamu benar-bener tidak ingin memberikan alasan?" Anna menatap geram.
"Kan kamu dulu yang menolak alasanku. Lalu aku harus bagaimana?"
Tak mau kalah, Hero pun pada akhirnya ikut menatap jengkel. Makin ke sini Anna makin menyebalkan. Seolah apa pun yang Hero lakukan selalu dipandang salah. Bahkan ia tak diberi kesempatan untuk menjelaskan apa pun.
"Jadi siapa perempuan itu?" cecar Anna.
"Memangnya kau sungguh ingin tahu?"
__ADS_1
"Tentu saja! Kamu ini sudah ketangkap basah tapi masih bisa santai. Lelaki macam apa itu? Memangnya kamu tidak ingat, berapa banyak air mata yang kita keluarkan sampai kita bisa berada di titik ini?" sungut Anna. Ia sengaja mengingatkan jika Hero lupa.
"Aku ingat ... Dan aku tidak selihgkuh. Kau hanya salah paham."
Mendengar itu, tatapan Anna berubah meradang. "Kalau kamu tidak selingkuh kenapa baju-baju itu ada di kamarmu?"
"Memangnya aku tidak boleh menyimpan baju-baju itu di kamarku? Bukankah itu adalah hakku sebagai pemilik rumah. Mau menyimpan apa pun itu urusanku, bukan?"
"Hmmm." Anna melipat tangannya di depan dada. "Jadi itu baju siapa?" tanya Anna pada akhirnya.
Menurutnya ini adalah sebuah misteri. Aneh jika seorang Hero menyimpan baju wanita sebanyak itu, pikirnya dalam hati.
"Itu bajuku! Aku membelinya."
"Membeli untuk apa? Memangnya selama ini kamu punya kepribadian ganda?" selidik Anna penuh curiga.
Hero mendesah. "Sudahlah! Bagaimana kalau kita tidur. Besok pagi kita lanjut lagi berantemnya," ujar lelaki itu.
"Enak saja! Mana bisa."
"Tentu saja bisa. Kamu tinggal diam. Tidur dan jangan cerewet," balas Hero.
Kontan Anna mendelik.
"Apa kamu bilang?
__ADS_1
****
Jangan lupa komen dan like di bawah sana... Luv sakebon untuk semua yang masih membaca sampai bab ini. 🥳🥳🥳🥳