
Satu Minggu berlalu, ini adalah hari penentuan hidup dan mati Anna. Pasalnya hari ini adalah hari penentuan keluarnya hasil tes DNA.
Seluruh keluarga sepakat membuka hasil itu secara bersamaan di rumah utama yang sekarang Marco tinggali.
"Bagaimana jika hasilnya tidak cocok. Apa mereka akan mencari Veronika yang asli dan mengabaikanku?" tanya Anna kepada Hero. Dia masih enggan melepas seat belt pertanda anak itu masih belum mau turun dari mobil.
"Kau masih punya aku ... Sekalipun mereka akan mencari, itu tidak akan merubah kenyataan bahwa aku adalah milikmu."
"Iya sih. Tapi aku takut dibuang oleh mereka," ujar Anna.
"Tidak mungkin. Meskipun bukan anak kandung, tapi kau sudah dibesarkan oleh keluarga Marco sejak kecil."
"Hhmm." Anna menunduk. Mau sebesar apa pun Hero menenangkan gadis itu, perasaan Anna tetap saja tidak karuan.
Kini mereka sudah ada di depan rumah utama. Anna menarik napas sambil memandangi rumah besar itu. Ia takut tidak bisa menginjakkan kaki ke rumah itu.
"Ayo kita turun." Hero membuka pintu mobil. Ia lantas menggandeng erat tangan Anna seolah menunjukkan bahwa ia sangat menyayangi perempuan itu.
Sesampainya di ruang tamu sudah ada kakak dan istrinya. Tak lupa kedua orang tua asuh Anna ikut hadir.
"Mom, Dad?" Anna bersimpuh di depan keduanya. Dia menangis dan terisak-sisak.
"Semoga hasil penentuan itu tidak membuat kalian jadi jauh," lirih perempuan itu.
"Tidak mungkin Anna! Apa pun yang terjadi kamu adalah anak kami yang sangat kami lindungi," ujar Ayahnya.
"Marco dan Mommynya juga ikut menenangkan gadis itu.
__ADS_1
Orang tua Anna kemudian menyodorkan surat di atas meja kepada Hero.
"Bukalah ... Kau orang yang paling berhak membuka ini," ujar Ayah Anna.
"Kenapa harus saya?" Hero terpaku diam setelahnya. Tentu saja ia merasa canggung karena semua mata tertuju padanya.
"Berkat kau rahasia ini terungkap. Jadi sudah sewajarnya kau yang membuka."
Tersenyum, Hero kemudian mengambil amplo itu dan membuka lipatan kertas di dalamnya secara perlahan.
Dia sempat terdiam beberapa saat. Dan itu membuat dirinya semakin menjadi pusat perhatian.
"Bagaimana hasilnya, Her? Kenapa kau diam saja?" Suara galak Marco menjadi pemecah suasana.
Hero menatap wajah mereka satu persatu. Ketegangan pun terjadi di momen itu.
Kontan semuanya menarik napas dalam-dalam. Ada rasa lega begitu mereka mendengar itu semua.
Tanpa basa-basi Anna langsung memeluk Ayah dan Ibunya.
"Mom, Dad! Kalian dengar itu, bukan? Aku adalah anakmu," ujar Anna penuh rasa syukur.
Tangis haru memenuhi ruangan itu.
_
_
__ADS_1
_
Satu Minggu berlalu kembali.
Setelah semuanya terungkap, keluarga Marco langsung melaporkan si pelaku kejahatan pada pihak yang berwajib.
Tanpa banyak rekayasa, kedua orang tua palsu Anna langsung dieksekusi karena bukti-bukti kejahatan mereka cukup kuat. Adik-adik Anna yang masih kecil juga sudah dipindah ke panti asuhan. Jadi Anna tak perlu mengkhawatirkan apa pun.
Kini ia justru khawatir kepada suaminya. Lelaki itu cemberut gara-gara Anna mengajak Hero untuk memperpanjang waktu bulan madu mereka. Padahal Hero sudah janji akan masuk kerja lagi setelah satu Minggu ke Paris.
"Ayolah ... Jarang-jarang kita menghabiskan waktu berdua seperti ini!"
"Marco pasti akan marah kepadaku Anna."
"Tidak masalah. Toh sekarang dia adalah kakakmu, bukan bossmu!"
"Hmmm. Kau ini bisa saja." Hero menjuntaikan kakinya dari kasur ke atas lantai. Dia kemudian menghampiri Ana yang tengah berdiri di depan jendela kaca.
Ia peluk tubuh mungil Anna, dan ia hirup aroma Vanilla yang menguar pekat dari tubuhnya.
"Kalau begitu Ayo kita lanjutlan lagi rencana membuat bayi," bisik lelaki itu nakal.
...TAMAT...
***
Novel ini adalah novel pendek. Aku buat ini karena beberapa pembaca banyak yang request kisah ini. Jadi aku jelasin di sini tentang kisah Ana dan Hero. Sampai rahasia terkuak dan mereka bahagia.
__ADS_1