Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Hadiah


__ADS_3

Hero memasang ekspresi diam sambil menahan setengah dari tawanya yang nyaris memecah ke udara.


Gadis itu menjadi gugup lantaran Hero terlihat meneliti setiap mili dari permukaan kulit wajahnya.


Jika tidak mengenal Anna dari kecil, mungkin dia akan bertanya kepada seluruh pakar wanita di dunia kenapa wanita gemar sekali menciptakan masalah yang seharusnya tidak ada.


 Tapi, ya begitulah wanita diciptakan. Jika tidak mudah curigaan hidupnya bagai alat elektronik tanpa garansi resmi, pikir Hero geli.


“Baju itu adalah baju-baju yang kusiapkan untukmu sejak lama. Jangankan koleksi tujuh tahun, koleksi dua belas tahun lalu pun ada jika kau tidak percaya. Aku sengaja membelinya, tapi aku tidak memberikannya padamu.”


“Alasan tidak masuk akal macam apa itu?”


Anna yang tak percaya menjuntaikan kakinya ke lantai. Ia melangkah kembali menuju lemari untuk memastikan apa yang Hero katakan tadi benar.


Dan betapa terkejutnya ia saat meneliti isi lemarinya kembali lebih teliti.

__ADS_1


 “I-ni?” 


Belum luntur rasa terkejut Anna, ia sudah dibuat terpenjat kembali ketika mendengar kata-kata Hero berikutnya.


“Di situ tidak hanya ada baju, tapi ada beberapa koleksi perhiasan dan aneka barang wanita lainnya. Aku sengaja terlihat pelit selama ini agar aku bisa memberikanmu barang-barang mewah seperti yang dimiliki kakak ipar jika sudah menikah nanti. Berhubung aku bukan orang kaya raya seperti Marco David Fernando, aku harus mengumpulkan barang-barang itu dalam waktu yang cukup lama,” kata Hero menjelaskan.


Jangan ingin tahu seperti apa ekspresi gadis itu saat ini. 


Anna nyaris berteriak girang, tetapi suaranya habis ditelan oleh keterkejutan.


“A-apa?” Gadis itu menoleh. Setinggi inikah nilai dari semua hadiah yang Hero berikan untuknya? 


Anna langsung berlari menubruk tubuh Hero di atas kasur. Ia mengusap-usap kepala dengan manja di perut bidang pria itu. Luntur sudah niatnya berpura-pura menjadi gadis anggun malam ini.


“Maaf ya! Kamu sih tidak bilang dari awal. Aku ‘kan jadi salah paham,” ucapnya sembari cengengesan seperti tak ada dosa.

__ADS_1


“Kamu saja tidak membiarkanku menjelaskan alasannya. Bagaimana caranya aku bilang dari awal?” kesal pria itu. 


Anna terkekeh kecil. Antara merasa bersalah dicampur bahagia. Itulah yang hatinya rasakan saat ini.


“Maaf ya! Kalau bisa lain kali kamu harus lebih berani lagi. Ketika istrimu marah, kamu harus bertindak agresif untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi sampai aku tenang, itulah cara yang benar.”


Hero memiringkan kepalanya. “Meski dia melarangku menjelaskannya?” tanya pria itu heran.


“Iya, meski dilarang kamu harus berusaha menjelaskan. Karena yang wanita ucapkan tidak sama dengan isi hatinya. Bibirnya mengusir pergi, tetapi bisa jadi hatinya menyuruh tetap tinggal. Memeluknya dengan erat sampai kemarahannya surut.”


“Begini?” Hero memeluk Anna ke dalam dekapannya. Untuk teori seperti itu ia sedikit paham karena sering mengalaminya sendiri.


“Hahaha!” Anna tertawa. “Ngomong-ngomong terima kasih atas hadiah yang kamu kasih untukku. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot menyiapkan semua itu,” ujarnya.


“Itu hadiah yang kukumpulkan sejak kita pacaran sampai sekarang. Kamu berhak menerimanya.”

__ADS_1


“Hahaha, sampai hadiah pertama kali pacaran pun kau siapkan! Suamiku Sayang, kamu benar-benar beda dan penuh kejutan! Membuatku ingin menyerahkan diri sepenuhnya,” ledek Anna sambil tertawa.


__ADS_2