Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Kakak Serius?


__ADS_3

***


“Geli sekali aku mendengarnya!” jawab Hero seraya memalingkan wajahnya.


“Kakak!” Gadis itu mencebik manja. 


“Pakai bajumu sana! Memangnya tidak lapar?” Pria itu mendorong tubuh Anna yang terus menempel kepadanya. 


“Lapar sih, tapi aku lebih ingin memakanmu.” 


“Kau ini ya!” Hero mendesahkan napasnya ke udara.


 Jika Anna sudah bersikap agresif begini, Hero hanya mampu menahan sesuatu yang memberontak di bawah sana dengan dada lapang selebar lapangan.


Gadis ini benar-benar tidak tahu diri! Andai tidak kasihan karena Anna belum makan, mungkin Hero sudah mengacak-acaknya sedari tadi. 


“Kamu mau makan apa? Biar aku pesan di aplikasi online saja, Kak.” Beberapa saat kemudian Anna sudah turun dari ranjang. Kakinya melangkah pelan menuju meja tempat ponselnya diletakkan. 


“Pesan apa saja yang kamu suka, jangan lupa porsinya untuk empat orang.”


“Empat?” Anna menoleh dengan tiga kernyitan lurus memenuhi seisi dahi. “Untuk siapa saja?” tanya mengulang pertanyaan.


Hero memijit pelipisnya sedikit sebelum bicara. “Kakakmu dan istrinya, mereka sedang dalam perjalanan ke sini.”

__ADS_1


“A-apa?” Ponsel yang Anna pegang nyaris saja terjatuh. “Bagaimana mereka tahu aku ada di sini?” 


“Aku yang memberitahunya,” jawab Hero lirih. Ia terpaksa melakukan ini karena tidak ingin menyembunyikan kebohongan apa pun dari Marco. 


“Tadi aku sudah mengabari kakakmu kalau kita sudah menikah tadi siang. Melalui pesan singkat.”


“Ya Tuhan, Kak! Kenapa harus sekarang? Bagaimana kalau kita digantung oleh Kak Marco? Kita bahkan belum sempat melakukan anu-anu!” ucap Anna sembari mengentakkan dua kakinya gemas. 


Hero ini bodoh atau apa sih?


"Tenang saja! Kakak ipar tidak akan membuat suaminya mengamuk. Lagi pula ini sudah terjadi, memangnya dia bisa apa—"


"Tapi—"


Tiba-tiba Hero mengecup bibir Anna, dan itu membuat ia langsung membola sambil memegangi pipinya yang merah.


"Kakak! Siapa yang memperbolehkanmu melakukan itu? Sejak kapan kau belajar mesum begitu!" sungut Anna kesal.


"Semenjak kita menikah tadi. Aku memutuskan untuk menjadi pria mesum?!" balas Hero tak tahu diri.


"Hei, mana bisa begitu?" Anna memekik semakin kesal. Dan itu membuat Hero semakin gemas.


Dia menarik anak ke atas ranjang. Merebahkannya dengan hati-hati lantas mengecup dahi Anna satu kali. Tatapannya yang begitu tajam membuat Anna tertegun sambil menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


"Sebenarnya ada hal lain yang tak kalah penting dengan masalah Kakakmu. Ini menyangkut hubungan kita!"


Antensi Anna langsung beralih. Dari yang semula berpikir mesum berubah menjadi serius.


"Masalah apa?" tanya anak itu.


"Sebenarnya aku!" Hero menghentikan bicaranya. Ia agak sedikit ragu mengatakan rahasia besar yang selama ini dijaga rapat-rapat.


"Tapi janji dulu, kamu jangan menertawakanku! Soalnya ini adalah bagian dari kekuranganku yang belum kamu ketahui," ucap Hero mewanti-waniti.


Anna mengangguk. Ia agak sedikit penasaran. Bertahun-tahun mereka pacaran, ternyata banyak sekali hal yang tidak diketahui oleh gadis itu.


"Sebenarnya aku—" Dia berhenti bicara. Pipinya merona karena malu.


"Sebenarnya apa? Jangan bertele-tele!" Anna mulai tidak sabaran.


"Sebenarnya aku masih suka ngompol!"


"Buaahahahaha! Apa kamu bilang? Kamu sedang tidak bercanda, bukan?" Sontak Anna langsung menjerit terpingkal-pingkal. Hal itu membuat Hero kesal dan bergerak agak jauh dari wanita itu.


"Sudah kuduga, kau pasti akan mengejekku!" Lelaki itu kemudian mendesah. Membuat Anna yang mengira Hero sedang bercanda kembali menajamkan atensinya.


"Jadi Kakak serius masih suka ngompol?"

__ADS_1


***


__ADS_2