Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Seniat Itu?


__ADS_3

***


“Ya Tuhan! Seniat itu sampai kamu ingin hamil di luar nikah?” tanya Hero cukup tercengang mendengar rencana kotor gadis itu.


Anna mengangguk jengah. “Maaf Kak, jujur aku sudah tidak tahan dengan status pacaran ini, tapi aku tidak bisa memutuskan hubungan kita begitu saja. Meski beberapa kali aku mengatakan ingin putus, tapi semua yang kukatakan bukan dari hati terdalam. Hanya gertakan agar kamu memiliki niat untuk menjadikanku sebagai istri. Sekali lagi maaf ya, toh aku tidak jadi melakukan itu karena kita sudah menikah.”


Anna berusaha menatap Hero. Mencari-cari getar amarah yang tidak ia temukan sama sekali di wajah pria itu.


“Kamu tidak marah, ‘kan?” tanyanya lirih.


 Di luar dugaan, pria itu tampak lebih santai. Detik kemudian wajahnya berubah aneh dengan seringai tipis yang tersungging dari bibirnya.


“Kalau begitu beli saja, An. Aku siap memakainya sampai hamil,” kata Hero meledek.


“Kak!” Anna memalingkan wajahnya malu.


“Beli saja sana! Beli sebanyak yang kau mau biar aku bisa memakainya nanti malam!” Pria itu makin gencar meledek.


“Herooo!” 


Tiba-tiba suara teriakan menggema dari arah samping. Sontak Anna menoleh bersamaan dengan Hero yang langsung mengerjap dan terksesiap.


“Ibu??” ucap mereka kompak.

__ADS_1


“Apa yang kalian lakukan di tempat umum seperti ini?” Ibu Hero langsung menjauhkan putranya dari Anna. Posisi mereka tadi memang cukup dekat dan terlihat intim sekali.


“Memangnya kenapa, Bu? Kita ‘kan sudah menikah.”


“Hah?” Ibu Hero terlonjak. Detik kemudian ia menepuk jidatnya sendiri dengan gemas. “Ya ampun! Kenapa aku bisa lupa?”


Anna dan Hero hanya tersenyum kuda melihat tingkah ibu.


“Mungkin ibu terlalu sering mengekang hubungan kalian. Jadi sudah terbiasa begini,” ucap Ibu membela diri sendiri.


“Banyak-banyaklah minum air putih, Bu! Bahkan ibu sendiri baru saja keluar dari ruangan itu!”


Hero menunjuk sebuah tempat pengucapan janji suci yang baru saja selesai dipakai oleh dirinya dan Anna.


Tapi sudah tidak heran lagi!


Sikap ibu pada anaknya selama ini memang sangat ketat. Bahkan Ibu  tidak akan segan memukul Hero ketika mendapati pria itu menyentuh Anna meski hanya sekadar pegang tangannya.


Belum hilang lamunan ibu, tiba-tiba Hero berseru. 


“Bu, coba lihat ini!” 


Hero mencium pipi Anna tiba-tiba.

__ADS_1


“Kau ya!” Ibu melotot hingga nyaris memukul kepala Hero saat itu juga. Anna hanya diam menyaksikan ibu dan anak itu bercengkerama di hadapannya.


“Ingat Bu, kita sudah menikah!” Hero terkekeh. Ibu mendengkus kemudian mencubit lengan putranya yang sangat jail.


Meski pernikahan itu sangat kilat, tetapi euforia yang terpancar di wajah ibu dan kedua pasangan itu sangat nyata terpampang.


Poin pentingnya, mereka semua bahagia.


-


-


-


“Her, ibu pulang dulu ya. Kalau sudah ada waktu jangan lupa bawa istri barumu ke rumah.” Ibu mulai berpamitan pada putranya. Hari sudah sore, dan waktunya bagi wanita paruh bayah tersebut masuk ke dalam kandang kembali.


Mobil yang menjemputnya Ibu pun sudah parkir di depan lobi gedung.


“Ibu hati-hati ya, nanti kita main jika sudah memiliki waktu luang,” ucap Anna menimpali sambil memeluk ibu.


"Kamu juga harus hati-hati, terutama jangan suka makan pedas-pedas! Jangan lupa jaga kesehatan juga. Ingat! Kalian sudah menikah, jadi kalian harus bisa saling menjaga satu sama lain."


"Baik, Bu!" Hero dan Anna menjawab kompak.

__ADS_1


__ADS_2