
Pukkk!
Satu tepukan dari orang yang duduk di meja sebelah mendarat lembut di bahu Anna. Ia sengaja menggoyang-goyangkan kursinya untuk mengambil perhatian Anna. Namun gadis itu masih bergeming tanpa suara.
“Kamu kenapa diam terus si, An?”
Anna menoleh dengan gestur malas.
“Tidak kenapa-napa, memangnya kenapa?” tanya Anna balik, membuat wanita bernama Rubi itu mencibir sinis, kemudian mendekatkan kursinya ke arah Anna lebih lekat lagi.
“Jangan bersikap pura-pura padaku, An. Bilang saja kalau hubunganmu dan Tuan Hero sedang tidak baik, itu sebabnya akhir-akhir ini kamu sering murung. Benar, ‘kan?”
Anna yang mendengar tebakan Rubi benar sedikit mengernyit. “Tahu dari mana, kamu?”
“Tentu saja aku tahu, bahkan orang yang tidak dekat denganmu saja bisa tahu hanya dengan melihat tingkah kalian berdua yang tidak seperti biasanya,” ujar Rubi sok tahu.
__ADS_1
Anna kembali bergeming menatap layar monitor yang baru saja dimatikan. Pikirannya kembali melayang-layang membayangkan akhir pahit dari hubungannya dengan Hero.
Sudah satu minggu, tapi Kak Hero masih belum memberi jawaban pasti, harusnya sekarang kita sudah resmi putus, ‘kan?
Gadis itu bertanya-tanya dalam hati. Membuat Rubi menjadi kesal karena diabaikan lagi dan lagi olehnya. Bahkan sekarang ia merasa kasat mata di hadapan Anna.
Rubi pun memberanikan diri berceletuk kembali. “Sebenarnya apa sih masalahmu, An? Kalau ada apa-apa lebih baik cerita saja, bercerita denganku lebih aman daripada sakit hatimu dipendam sendiri, tahu!”
Anna menggeleng. “Kak Hero tidak suka jika aku membicarakan masalah pribadi kami dengan orang lain. Baginya itu adalah privasi. Jadi biarkan kami menyelesaikan masalah kami sendiri,” ucap Anna sambil merapikan file hasil laporan akhir bulan. Menyusunnya dengan rapi agar ia segera terhindar dari interogasi sahabatnya Rubi. Dan benar saja, Rubi tampak mendesahkan napasnya kecewa. Jawaban Anna masih kurang puas untuk diterima begitu saja.
Wanita itu menyangga kepalanya di atas meja sambil cemberut dan menatap kecewa ke arah Anna. “Setiap orang memang memiliki privasi. Tetapi memendam masalah terlalu lama dapat menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesekali kita perlu bercerita, ini bukan soal membuka aib dalam sebuah hubungan, tapi lebih untuk sharing agar kita mendapat saran dan solusi!”
“Hmmm. Jadi kamu mau aku sharing denganmu?” tanya Anna mulai tertarik. Rubi mengangguk sebagai jawaban.
“Baiklah, aku akan cerita, tapi kamu harus memberikanku sebuah solusi.”
“iya ... Pasti. Ada teman yang butuh saran, mana mungkin kuabaikan,” jawab Rubi antusias, dan Anna pun mulai bercerita setelah memastikan area di sekitarnya aman dari penguping.
__ADS_1
“Sebenarnya aku dan Kak Hero bukan baru pacaran satu tahun seperti berita yang digosipkan orang-orang kantor. Aku sudah menjalani hubungan lama sekali sejak SMA. Total waktu pacaran kita sekitar 12 tahun.”
“What?” Rubi berteriak saking terkejutnya, membuat Anna refleks menutup mulutnya dengan kedua tangan.
“Jangan berisik! Aku tidak mau ada orang yang ikut bergabung dan mendengar curahan hatiku. Cukup kamu saja karena aku sudah terlanjur percaya!”
“Iya ... iya, maaf! Habisnya aku terlalu kaget mendengar pengakuanmu. Itu kamu pacaran atau apa, An? Seharusnya anakmu sudah mau lulus SMP kalau hubunganmu tidak bergerak di tempat.” Rubi malah cekikian tidak jelas. Membuat Anna merasa anak itu terkesan bahagia di atas penderitannya.
“Aku tidak jadi cerita deh! Malas,” kesal Anna geram. Dia meraih tas kerja pura-pura hendak pergi. Rubi yang panik langsung mencekal lengan Anna.
“Jangan marah si! Iya aku siap mendengarkan ceritamu. Tidak ada acara tertawa lagi seperti tadi.” Rubi membuat gerakan seperti mengunci mulut dengan satu tangannya.
“Ok. Awas saja jika kamu sampai meledekku lagi.” Anna menghela sebentar kemudian bercerita lagi. “Sebenarnya kedua orang tua kandungku tidak setuju dengan hubungan kami. Itu sebabnya kami menjalani hubungan pacaran sampai selama ini.”
"Orang tua kandungmu, maksudnya tuan Fernando dan nyonya Maria?” tanya Rubi agak bingung.
“Bukan! Aku adalah anak angkatnya. Lain kali aku akan ceritakan soal ini, tapi aku mau cerita soal hubunganku dan kak Hero dulu.” Rubi pun mengangguk sebagai jawaban setuju walau setengah hatinya terkejut dengan berita sebesar itu.
__ADS_1
“Terus?"