
***
"Uang yang dari aku ke mana? Itu 'kan bisa buat sekolah kamu."
Dengan polosnya Anna menjawab, "Uang dari kamu diminta ibu semua. Katanya masih belum cukup untuk sekolah. Makannya ibu suruh Anna ngemis lagi biar uangnya nambah. Ibu bilang tahun depan Anna bisa sekolah kalau rajin mengemis lagi."
Saat itu juga Hero mengepalkan dua tangannya geram. Sepertinya ia harus ke kantor polisi untuk mengadukan kejahatan ibu Anna. Tetapi, Hero harus bisa merayu gadis kecil itu dulu agar mau berpihak kepadanya.
Tatapan Hero dibuat teduh kembali agar ia bisa merebut hati Anna. Menyadarkan kalau ibunya adalah orang jahat dan tak layak di sebut ibu.
"Jangan makan semangka itu lagi. Kalau sudah putih tidak bisa dimakan! Itu kulit namanya."
"Ini masih enak, Anna suka!"
"Bandel kamu!" Hero merebut kulit semangka itu. Membuangnya jauh-jauh dan mendapati mata gadis itu merambang saat makanan yang jarang sekali ia makan dibuang sia-sia.
"Hikss!" Bibirnya terlipat dalam. Terdengar rengekan penuh ratapan dari tenggorokan si kecil kumel yang membuat dada Hero seperti disayat-sayat.
"Kenapa malah nangis? Itu ember kamu banyak uangnya, bisa untuk beli makanan yang lebih enak. Sini aku belikan kamu roti di toko depan."
"Jangan!" Gadis itu menjerit saat Hero hendak mengambil ember berisi uang di depannya. "Nanti ibuku marah," lirihnya seraya memegangi perut yang mulai merasakan lapar. Sejak Anna pindah ke tempat ini, Anna tidak bisa lagi mencari makanan sisa layak makan seperti biasanya.
"Ibu jahat dipelihara!" sungut Hero.
__ADS_1
"Tapi Anna cuma punya satu ibu! Biarpun galak ibu telah merawatku sampai sebesar ini," kata Anna mengikuti ucapan ibunya setiap kali mengungkit soal jasa.
Hero yang melihatnya merasa iba. "Ya udah aku belikan pakai uangku kalau takut ibumu marah, tapi jangan menangis lagi. Mau tidak?"
"Beneran?" Matanya berbinar penuh harap. Hero terpaksa melakukan itu walau sebenarnya tidak rela.
"Iya!"
Gadis itu berguncang merasakan getar kesenangan.
"Terima kasih Kakak! Setiap orang yang kasih aku uang dan makanan selalu minta didoakan. Jadi aku mau doain Kakak supaya ayah Kakak yang meninggal itu bisa hidup lagi," kata si kecil kumel begitu yakin doanya akan dikabulkan.
Ia mengingat minggu lalu Hero pernah bercerita bahwa dirinya sudah tidak memiliki ayah. Sementara Hero hanya tersenyum menanggapi kepolosan gadis kecil itu. Gadis yang harusnya sekolah dan belajar banyak hal, tetapi dipaksa untuk bekerja sampai pengetahuannya soal kehidupan minim sekali.
"Gadis bodoh! Orang yang sudah mati tidak akan bangun lagi. Dia akan abadi," gumam Hero pelan.
"Tidak. Ayo kita ke toko roti. Uangmu yang di ember mau dikemanakan ini?" Hero berjongkok mengambil ember berisi uang tersebut. Embernya nyaris penuh karena banyak orang iba kepada Anna. Sayang anak itu terlalu takut sampai ingin mengambil uang penghasilannya untuk makan saja tidak berani.
Setelah mengemasi semua barang-barang perlengkapan mengemis Anna, melipat tikar, dan memasukkan uangnya ke dalam tas belacu, Hero menuntun gadis itu menuju sebuah toko roti terdekat. Mereka berjalan bergandengan tangan. Anna sangat senang sampai lupa bahwa ibunya pernah mewanti-wanti agar anak itu kabur jika suatu hari tak sengaja bertemu Hero lagi.
Anna sendiri pun dibuat bingung. Kenapa ia harus menjauhi orang baik yang merupakan teman pertamanya selain adik-adiknya di rumah.
"Berhenti!"
__ADS_1
Sebuah teriakan menggelegar dari belakang punggung mereka berdua. Sontak keduanya sama-sama menghentikan langkah.
"Berhenti atau kubunuh lalat pengganggu itu, Hero!"
Deg.
Hero sangat hafal siapa gerangan yang memanggilnya barusan.
Apa manusia itu mengikutiku sampai ke sini, batin Hero kesal.
Seseorang di belakang punggung Hero mendekat. Ia dapat merasakan hawa di sekelilingnya mendadak panas. Anna sampai gemetar ketakuta. Ia mendongak, menatap Hero penuh tanda tanya banyak di kepalanya.
"Hei gadis kecil! Singkirkan tangan kotormu dari Heroku atau kupotong sekarang juga!" Kontan Anna melepas genggamannya saat itu juga.
"Jadi ini alasanmu tidak pernah berkunjung ke rumahku selama seminggu? Ternyata kau sudah memiliki teman baru. Apa kau mau mati, Hero! Katakan siapa gadis bau tengik yang telah merebutmu dariku!"
"Aihsk!" Hero mendesahkan napasnya setengah kasar. Ia masih berdiam diri, belum berbalik ataupun menjawab pertanyaannya.
"Kau sudah janji tidak akan memiliki teman selain aku ya sialan! Beraninya kau ingkar janji kepadaku. Apa kau sudah tidak sayang nyawamu lagi?"
Karena tak kunjung dijawab, suara kemarahannya semakin menggelegar sampai telinga Hero berdengung ngilu. Pelan, Hero berbalik seraya menyembunyikan Anna yang ketakutan di balik tubuhnya.
"Aku tidak ingkar janji. Kau masih temanku satu-satunya. Dia bukan teman, tapi calon istriku."
__ADS_1
"Istri?"
***