
“Terus ibuku secara khusus memberikan syarat agar Kak Hero dapat menikahiku, tetapi Kak Hero tidak mau menerima syarat itu sama sekali. Padahal dia sangat mampu mengabulkan syarat yang diminta orang tuaku.”
“Hmmm. Tapi ada alasannya, ‘kan? Maksudku tuan Hero tidak mau memenuhi syarat itu pasti ada sebab dan penjelasan yang diberikan kepadamu. Iya ‘kan, An?”
Anna menggeleng. “Tidak sama sekali, dia hanya menyuruhku bersabar dan menunggu tanpa kepastian. Aku bahkan sudah mengancamnya akan mengakhiri hubungan jika Kak Hero tidak segera memutuskan untuk menikahiku. Aku memberi waktu seminggu, tetapi dia masih saja tidak peduli! Aku capek Bi, seharusnya sekarang kita sudah resmi putus karena ancamanku sudah berjalan seminggu lebih.”
“Ya Tuhan, Anna!” Rubi membeliakkan matanya.
Ia tidak menyangka bahwa hubungan Anna yang terlihat manis dan romantis di depan umum ternyata menyimpan sejuta kerumitan di dalamnya. Itulah zona kehidupan manusia pada umumnya, sering memandang hidup orang lain sangat indah tanpa tahu ada kebenaran apa di dalamnya.
“Jangan mengasihaniku Rubi. Sebaiknya kamu segera berikan saran yang kamu janjikan tadi. Aku sudah benar-benar buntu, aku tidak ingin hubunganku dan kak Hero berakhir, tapi aku tidak bisa menerima lelaki yang tidak mau menerima keadaan keluargaku. Baik buruknya orang tua kandungku, calon suamiku harus bisa menerimanya.”
Rubi yang hanya tahu sepenggal masalah mereka pun mengiyakan.
“Iya benar, An. Menikah memang bukan tentang aku dan kamu, tetapi menyatukan dua keluarga, bahkan dua adat yang berbeda.” Rubi tampak berpikir sejenak. “Jadi kamu mau saran yang seperti apa dariku?” tanyanya memastikan.
“Aku ingin Kak Hero mau menerima kedua orang tua kandungku walau hubungan mereka tidak pernah baik. Apa pun akan kulakukan asal kak Hero setuju dengan syarat yang diberikan orang tuaku, Bi.”
__ADS_1
Rubi menggaruk kepala belakangnya agak canggung.
“Semisal caranya agak ekstrem kamu mau, An?” Dia sudah memikirkan hal ini, tetapi Rubi tidak yakin Anna mau melakukannya.
“Mau, memangnya cara apa?” Di luar dugaan Anna justru sangat antusias.
“Jangan deh, An. Aku takut kamu tidak setuju. Soalnya ini hanya ide gila yang melintas di kepalaku begitu saja.”
Dilarang seperti itu, Anna malah semakin berani. “Sudah kubilang, apa pun akan kulakukan!” tegasnya untuk kedua kali.
“Hmmm. Sebenarnya ini agak gila. Bagaimana jika kamu hamil di luar nikah saja? Otomatis mau tidak mau semuanya pasti setuju dengan pernikahan kalian. Tuan Hero mau bertanggung jawab, dan orang tuamu pasti setuju karena ada bayi di dalam perut yang membutuhkan sesosok ayah.”
“Bagaimana jika beri dia obat perangsang saja? Tapi saranku hitung dulu masa suburmu sebelum melakukan.”
“Perangsang?” Wajah gadis polos itu langsung berubah antusias. “Kenapa aku tidak pernah memikirkannya, ya?”
“Eh, kamu beneran mau melakukannya, An?” Sekarang Rubi yang dibuat panik sekaligus menyesal karena telah menyarankan hal gila tersebut.
__ADS_1
“Iyalah, kenapa tidak? Saranmu sangat berguna untuk kelangsungan hubunganku dan Kak Hero tahu! Terima kasih ya. Aku mau memulai aksiku dulu. Mula-mulai aku mau ke apotik membeli obatnya.”
"Eh, jangan deh! Hamil di luar nikah terlalu buruk. Kita cari cara lain saja, ya."
"No! Aku mau ambil yang itu."
Anna bergegas mengambil tas kerja. Membuat Rubi panik karena tak lama kemudian gadis itu berlari keluar menuju pintu lift.
“Anna!”
Teriakan Rubi tak lagi di dengar sama sekali. Bukan Anna namanya kalau tidak nekat.
Sekarang gadis itu sudah berdiri di depan pintu lift untuk segera turun mencari apotik terdekat.
Saat pintu lift terbuka, tiba-tiba suara yang tak asing memanggilnya dari kejauhan.
“Anna, tunggu!”
__ADS_1
***
Jangan lupa kasih komen yang banyak ya gens