
***
Kembali lagi pada jalanan berpolusi dengan terik matahari yang meninggi. Hero berjalan menyusuri sepanjang jalan setapak sambil memikirkan seperti apa nasib Anna setelah ibunya mendapatkan semua bekal uang tabungan Hero.
Bodohnya ... ia lupa bertanya di mana alamat rumah anak itu. Seberkas rasa dan harapan pun muncul di kepala Hero. Ia berharap bisa bertemu dengan gadis kecil itu sekali lagi untuk memastikan ibunya menepati janjinya untuk tidak menelantarkan Anna lagi.
Dan hari ini, ia kembali melakukan hal yang tak kalah bodohnya dengan yang waktu itu. Hero sengaja membolos sekolah hanya untuk mengunjungi beberapa sekolah dasar di sekitar taman. Ia mencari-cari anak baru yang wajahnya mirip dengan si kumel. Dan hari ini sudah tiga sekolah ia datangi. Hasilnya nihil. Hero tidak dapat menemukan Anna sama sekali. Entah ibunya menyekolahkan anak itu di mana, kesal Hero sedari tadi.
Hero memutuskan untuk pulang karena sudah lelah. Ia membawa langkah kakinya ke sebuah halte, lantas menaiki bus mini menuju arah pulang.
"Sebenarnya anak itu ada di mana sih?" gumam Hero seraya menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi.
Mobil mulai melaju dengan kecepatan normal. Pria muda itu termenung menatap ke arah jendela di mana wajah Anna yang sangat kumuh melintas di bayangan kaca. Karena terlalu banyak memikirkan Hero serasa melihat anak itu ada di dekatnya saat ini.
__ADS_1
"Sepertinya aku sudah gila! Untuk apa aku memikirkan anak kecil jelek itu?" Ia berpaling ke arah lain, dan terkejut bukan main saat menatap ke seberang jalan satunya lagi.
Deg!
***
Jantungnya berdentam kuat saat melihat sosok pengemis kecil mengenakan baju yang sama kumuhnya dengan baju yang dikenakan Anna waktu itu. Hero memang tidak mengetahui persis wajahnya, tapi ia hafal sekali dengan baju merah lusuh yang dikenakan Anna minggu lalu. Sama persis dengan apa yang ia lihat sekarang.
"Bukankah itu si kumel?"
Dalam setiap langkah, anak itu selalu berdoa bahwa yang dilihatnya salah. Ia berharap gadis kecil pengemis itu bukanlah Anna. Dan saat Hero telah sampai di seberang jalan, ia langsung meradang begitu melihat Anna kembali mengemis dengan kondisi makin tragis.
Ternyata ibu Anna berbohong seperti firasat buruk yang Hero rasakan. Anna masih mengemis seperti biasa. Hanya saja lokasinya berpindah agar Hero tidak mencurigai kelakuan terkutuk ibu biadab tersebut.
__ADS_1
Hero termenung sejenak. Ia memandangi Anna yang sepertinya terlihat sedih berada di tempat baru. Pasti gadis kecil itu sangat takut berada lingkungan baru seorang diri.
Setelah menata hati dan mengontrol emosinya supaya stabil, Hero memberanikan diri menghampiri Anna.
"Kamu kok masih ngemis di sini? Bukannya aku sudah bilang anak kecil tidak boleh mengemis di jalanan?"
Sontak Anna terkejut. Matanya dibuat membola saat melihat Hero kembali datang seperti pahlawan.
"Kakak tau dari mana aku ada di sini?" Gemetar-gemetar takut Anna bertanya.
"Tentu saja tahu. Katakan padaku kenapa kamu masih mengemis lagi?" Ternyata Hero tak bisa membendung kemarahannya. Ia menatap gadis kecil itu sedikit kesal. Demi apa pun Hero tidak rela menghabiskan uang di tabungannya untuk membiayai hidup gadis itu sementara gadis itu masih disuruh-suruh mengemis oleh ibunya.
"Maaf, Kak." Anak kecil itu memandang Hero sedikit tidak enak karena telah ingkar janji. "Ibu yang menyuruhku mengemis lagi, Kalau aku tidak mau menjadi pengemis, aku tidak boleh tidur di rumah. Aku takut tidur di luar. Gelap dan katanya ada serigala." Si kecil kumel nampak begitu serius dan takut saat bercerita.
__ADS_1
Ada sepotong buah semangka yang diberikan oleh pejalan kaki di tangan kanannya. Gadis kumel itu memakannya dengan lahap sampai kulitnya tidak lagi berwarna merah.
***