Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Tragedi Unboxing


__ADS_3

"Kakak, please! Jangan membuat aku kesal dan hilang kesabaran."


"Oh ya?" Hero mendekat, dan itu membuat nyali Anna semakin menciut. Ia bahkan tidak berani menatap Hero saat ini.


"Cih, ternyata segini saja nyalimu."


"Apaan?" Anna kontan mendongal lalu mendelik kesal. Kata-kata Hero barusan cukup memancing emosionalnya.


"Kau! Padahal biasanya kau selalu agresif seolah hendak memperkosaku. Sekarang sudah sah malah begini. Apa maksudmu duduk menjauh dariku, memangnya aku monster?" Hero menatap penuh kalimat protes.


"Itu beda, Kak. Sekarang kita sudah menikah. Lebih tepatnya baru saja menikah. Jadi suasana canggung itu pasti selalu ada. Memangnya kau tidak canggung denganku?" balas Anna penuh penyerangan.


Hero menggeleng. "Tidak!"


"Bohong!" Anna memajukan bibirnya. Hal itu membuat Hero gemas dan langsung menerkam bibir gadis itu tiba-tiba.


Maka terjadilah sesuatu yang sudah seharusnya terjadi. Dalam hitungan menit permenit, sudah dipastikan Anna akan kehilangan keperawanannya.


_


_


_


Hari menjelang pagi saat Anna mengeluh badannya sakit semua. Di sampingnya ada suami yang tertidur pulas.

__ADS_1


Eitss ... Jangan lupakan kata puas. Pria itu bisa tertidur pulas dan puas setelah berhasil mengobrak-abrik isi jeroan Anna layaknyak seekor heyna.


"Ah, sial! Kepalaku pusing sekali. Apa melayani suami setidak enak ini?" gumam Anna. Dia berusaha keras membuka mata.


Anna masih belum mengerti apa itu bercinta. Semalam yang ia rasakan murni sepenuhnya sakit. Dan tulang-tulangnya serasa mau remuk.


"Arghhh!" Gadis yang baru kehilangan kegadisannya itu menjerit tatkala merasakan nyeri pada pangkal pahanya.


"Kak, sakit sekali." Dia berusaha membangunkan Hero dengan cara mengguncangkan tubuhnya. Tak membutuhkan waktu lama untuk lelaki itu bangun.


"Ada apa?" lirihnya kemudian.


"Iniku sakit sekali. Kau apakan semalam sampai mau jalan pun susah," keluh lelaki itu.


"Mana aku tahu, Kak. Aku juga baru pertama kali merasakannya, kan?" Gadis itu meringis.


"Coba kamu lihat di google."


"Mana sempat lihat google. Aku mau pipis."


"Mau digendong?"


Ana mencebik jutek. "Kakak pikir aku bisa jalan sendiri? Ya iyalah digendong."


"Oke ... Oke .... Santai Anna!" Hero kemudian menggendong Anna ke kamar mandi. Aktifitas mereka pagi itu cukup membuat Hero pusing karena Anna dikit-dikit mengeluh sakit, tetapi tidak mau diajak ke rumah sakit dengan alasan malu pada dokternya.

__ADS_1


Bukankah itu membingungkan?


Hero kemudian ke dapur setelah mengurus Anna. Dia membuat sarapan, lalu menggendong Anna lagi setelah sarapannya siap.


"Hari ini aku ada meeting penting. Jadi aku harus kerja. Setelah jam makan siang aku akan ke sini membawakan makanan."


"Jadi Kakak mau jadi lelaki tidak bertanggung jawab?"


"Apa si, An. Aku hanya kerja sebentar. Lagi pula kemarin aku belum sempat mengambil cuti."


"Ayolahh ... Kakakku juga pasti mau mengerti. Kita baru saja menikah, masa langsung kerja. Aku saja yang jadi bawahan masih mendapatkan izin. Malahan aku sudaj izin satu Minggu pada ketua divisi," ujar Anna.


Hero memandang iba. Bukan dia tidak mau menemani Anna. Dia sangat ingin sekali, tapi dia tidak tega pada Marco jika menghandle rapat penting sendirian. Pasalnya pembahasan rapat kali ini juga sepenuhnya dikuasai oleh Hero. Jadi memang harus Hero yang mempresentasikannya.


"Begini saja, An. Bagaimana jika aku panggilkan ibuku untuk menemanimu."


"Kamu gila ya, Kak? Mau ditaruh di mana mukaku kalau begitu caranya?"


"Memangnya kenapa?"


"Malu lah, Kak? Aku sakitnya 'kan karena abis diunboxing. Pasti nanti ibu akan tanya-tanya soal sakitku, 'kan?"


"Hmmm. Iya juga sih. Ya sudah kalau begitu aku izin!"


"Seharusnya sudah dari tadi kamu lakuin itu," sungut Anna. Dia sudah tidak bernafsu melakukan sarapan karena kelakuan sang suami baru.

__ADS_1


__ADS_2