
"Kau keterlaluan!"
Bentakkan Marco pada Hero cukup keras. Hal itu membuat Anna menyanggah sambil menatap garang ke arah Marco.
"Menikahiku adalah cara dia melindungiku, Kak!" sanggah wanita itu.
"Toh kami berdua sudah sama-sama dewasa! Harusnya Kakak bisa memahami posisiku. Saat ini aku sedang tidak baik-baik saja," ujar Anna.
Gara-gara kedatangan Marco, wanita itu jadi teringat masalah DNA. Memikirkan semua itu membuat kepalanya pening. Jika nanti dia terbukti bukan anak kandung kedua orang tua Marco, maka Anna akan didepak paksa. Mereka pasti akan mencari anak kandung yang asli.
Itu sebabnya, menikah dengan Hero adalah solusi terbaik untuk membuat hatinya tenang.
"Jika kedatangan Kakak hanya ingin memperkeruh masalah, lebih baik Kakak pulang saja."
"Anna ...." Marco mendesah sambil menatap lemah.
"Untuk saat ini aku tidak ingin bertemu Kakak," ucap anak itu.
"Oh My God, Anna. Ayolaaah ... maafkan Kakak."
Bukannya menjawab, Anna malah pergi ke kamar. Marco spontan berteriak, tapi Hero berusaha mencegah Marco agar tidak bertindak lebih.
"Tenanglah, Tuan. Hatinya sedang sensitif. Percayakan dia pada saya. Terima atau tidak, yang jelas hanya saya satu-satunya orang yang bisa menenangkan Anna."
"Tapi kalau dia marah terus bagaimana? Aku yakin percakapan kita tadi siang pasti sangat melukai hati Anna."
__ADS_1
"Mau bagaimana? Sekali lagi sabar adalah kunci," ucap Hero.
"Kalau begitu tolong sampaikan kepada dia. Apa pun yang terjadi dengan hasil tes DNA, Anna akan menjadi anak perempuan terbaik di keluarga kami. Dari sejak awal dia diadopsi, dia sudah menjadi penyelamat keluarga ini," ucap Marco.
Hero mengangguk. "Saya akan sampaikan, Tuan."
"Terima kasih. Tolong secepatnya bujuk Anna," kata Marco. Setelah itu dia pergi meninggalkan apartemen Hero.
*
*
*
Langsung saja Hero memeluk Anna dari arah belakang.
"Jangan menangis, kamu harus ingat kalau ini adalah hari bahagia kita. Apa kamu tidak senang?" tanya Hero.
"Aku senang, tapi kedatangan Kakak mengacaukan segalanya. Moodku berubah buruk karenanya."
"Dia begitu karena terlalu sayang padamu, Anna. Bagaimanapun juga kalian berdua adalah Kakak beradik. Terlepas saudara kandung atau bukan, kamu tetap pemenangnya di hati Marco. Dia sangat menyayangimu lebih dari apa pun," ucap lelaki itu.
"Benarkah begitu?" Anna menatap ragu. Namun, terlihat titik harapan di tengah netra indahnya.
"Hmmm. Aku mengenal baik Kakakmu. Bahkan semenjak kau belum hadir di keluarganya," kata Hero yakin.
__ADS_1
Anna memalingkan wajahnya. "Semoga saja setelah bertemu dengan Veronika yang asli, dia tidak lupa denganku," ucap anak itu lirih.
Setelah Anna sedikit tenang, Hero mengajak dia makan. Hanya makanan sederhana yang dipesan dari sebuah resto terdekat, tapi cukup membuat cacing di perut bersorak riang.
Anna juga tampak semangat menyantap hidangannya. Di begitu kelaparan karena sejak siang belum makan.
"Ah, akhirnya setelah sekian lama aku bisa bertemu makan juga."
Anna menyandarkan kepalanya ke belakang setelah kenyanf. Dia sudah menghabiskan 3 potong ayam kentuckey dan perutnya sangat penuh sekali.
"Jadi apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"
Pertanyaan Hero kontan membuat Anna tersedak ludah sendiri. Pipinya merona diikuti tatapan tidak menentu.
"Em, apa saja. Tidur juga boleh."
"Hanya itu?" goda Hero. Sengaja dia berkata begitu untuk melihat sampai sejauh mana urat malu Anna bisa bertahan.
"Bagaimana jika kita beli obat perangsang seperti rencanamu?"
-
-
-
__ADS_1