Anna Si Gadis Malang

Anna Si Gadis Malang
Kebodohan Hero


__ADS_3

***


Dihempaskannya tubuh Hero hingga ia terdorong ke belakang. Lutut pemuda itu seketika melemas saat mendapati Anna mengangguk yang artinya membenarkan ucapan ibunya barusan.


Ibu menoleh ke belakang. Tepatnya pada Anna yang bersembunyi di balik tubuhnya. "Katakan pada teman barumu itu, Anna! Bilang kalau kamu mau mengemis karena keinginanmu sendiri."


Gadis kecil itu mengangguk sekali lagi. "Anna mengemis karena Anna mau, Kak. Anna sedang cari uang agar Anna bisa sekolah seperti anak kecil lainnya," ujar anak itu polos.


Hero menelan ludahnya getun setelah mendengar penuturan Anna. Tatapannya mengarah bengis pada iblis berkedok ibu tersebut. "Bukankah sekolah adalah urusan Anda sebagai orang tua? Kenapa malah membebankan semua ini pada anak kecil sepertinya?" Sambil menunjuk Anna tanpa mengalihkan pandangan dari ibu gila tersebut.


"Tentu saja karena kami tidak punya uang."


Jawaban enteng ibu Anna membuat Hero menggemeretakkan gigi-gigi kesal. "Anda punya mobil! Jika Anda mampu membeli benda itu, seharusnya Anda mampu menyekolahkan anak Anda!"

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu! Ayo Anna ... kita pulang saja! Hari ini cukup sampai di sini." Ibu Anna menarik tangan Anna sedikit kasar. Gadis kecil itu tertatih-tatih sambil mengikuti langkah lebar kaki ibunya. "Cepat masuk!"


"Baik, Bu!" Anna memandang Hero untuk terakhir kalinya sebelum masuk sambil memeluk tas belacu berisi uang hasil mengemis.


Saat itu Hero merasakan hatinya seakan disayat-sayat belati kasat. Hingga tanpa sadar tangan pria mudai terulur mencekal pergelangan tangan ibu Anna. "Tunggu!" serunya.


Ibu Anna tersenyum miring sambil memandangi wajah Hero. "Ada apalagi anak muda?"


Sebuah ide gila muncul di kepala Hero tiba-tiba. "Saya memiliki tabungan, saya akan memberikan semua tabungan saya untuk biaya sekolah Anna asal Anda jangan menyuruh anak itu mengemis lagi."


Ibu tertawa nyaring sekali. Namun, beberapa saat kemudian matanya dibuat membelalak saat Hero menunjukkan buku tabungan dengan jumlah yang fantastis.


"Uang ini akan menjadi milik Anda asal Anda berhenti mempekerjakan anak kecil menjadi seorang pengemis."

__ADS_1


"K-kamu yakin?" Ibu Anna tergugu-gugu. Matanya mendadak lapar melihat jumlah nominal tersebut. Ia terus menatapi nominal di buku tabungan yang Hero tunjukkan kepadanya. Bagaimanapun caranya Ibu harus mendapatkan uang tabungan anak itu karena dia sendiri yang mengantarkannya.


"Itu adalah uang untuk biaya hidupku. Peninggalan dari kakek, saya akan memberikannya secara cuma-cuma untuk biaya anak kecil itu."


Hero melirik ke dalam. Melihat Anna yang terus tertunduk tanpa berani mendengarkan.


Ternyata dia anak orang kaya. Mimpi apa aku sampai mendapat uang sefantastis ini.


Detik itu juga ibu Anna langsung merangkul pundak Hero. Menepuk-nepuk punggung anak itu sambil mengucapkan terima kasih berkali-kali.


"Terima kasih ...terima kasih, saya pasti akan menggunakan uang ini untuk keperluan Anna. Mari kita ke bank sebelum tutup, uangnya harus segera dicairkan agar besok Anna dapat mendaftar ke sekolah."


Ini adalah momen pertama kalinya Hero termakan oleh rayuan maut ibu Anna. Dan di situlah kebodohan Hero dimulai. Pria muda berhati baik itu masuk ke dalam mobil untuk mencairkan semua tabungannya ke bank.

__ADS_1


Ia bahkan tidak berpikir panjang saat mengambil langkah itu.


***


__ADS_2