
Elvan Syahreza Adhitama. Nama seorang laki-laki tampan dari pengusaha kaya di Kota Surabaya, ia adalah anak tunggal dari pasangan Wisnu Adhitama dengan Widya Wardana.
Keluarga Adhitama dan Wardana sudah populer di kalangan pengusaha. Namun, antara keluarga Adhitama dengan Wardana, mempunyai prinsip yang berbeda.
Keluarga Adhitama mencerminkan kewibawaan di depan siapa pun. Berbeda dengan keluarga Wardana yang lebih memupuk kesederhanaan.
Elvan tumbuh di keluarga yang kaya raya. Dididik dengan penuh kewibawaan, sehingga terkesan memilih-milih teman yang sederajat dengannya.
Elvan kini kuliah disemester akhir di salah satu universitas jurusan bisnis dan manajemen. Ia merupakan pewaris tunggal kekayaan dari kedua orang tuanya.
Kasih sayang dari kedua orang tuanya, menjadikan Elvan seorang sosok yang manja. Apa pun yang ia inginkan haruslah ia dapatkan.
“Ma, Pa, Elvan berangkat kuliah, ya? Bye.” Elvan pamit untuk pergi ke kampus.
Elvan pergi ke kampus menggunakan mobil sport berwarna merah keluaran terbaru. Di topang dengan penampilan yang trendi dan wajah yang menawan, menjadikan dirinya orang yang populer di kampusnya.
“Bro!” Rizal dan Bobi melambaikan tangan.
Elvan mendekat dengan gaya cool-nya, membuat wanita yang melihat dirinya menjadi penasaran.
Rizal dan Bobi adalah teman Elvan. Orang tua mereka termasuk dari deretan nama pengusaha terkenal di Surabaya. Tak ayal, ke tiga pemuda ini menjadi akrab.
“Bro! Sekarang penerimaan mahasiswa baru, kan, di Kampus Kita, ya?” tanya Rizal.
“Iya, Bro! Apa di angkatan sekarang, temen Kita yang pesonanya gak abis-abis ini bisa menemukan wanita yang bisa Ia kencani?” Sindir Bobi.
“Kalian liat aja. Tunggu gadis seksi yang akan Gue dapetin!” ucap Elvan.
“Jangan gadis seksi teruslah, Van! Kita orang udah bosen lihat Lu naklukin cewek seksi di Kampus ini!” ujar Rizal.
“Terus?” tanya Elvan.
“Gimana kalau gadis udik, cupu, tapi berprestasi?” Tantang Rizal kepada Elvan.
“Gue setuju, Bro! Gadis seksi udah gak aneh lagi buat di taklukin si Elvan!” timpal Bobi.
“Oke! Gue jabanin! Apa sih yang Gue gak bisa?” Elvan mengangkat alis.
“Deal, ya?” tantang Rizal.
“Oke! Siapa takut!” pungkas Elvan menerima tantangan dari kedua temannya.
Elvan, Rizal dan Bobi itu bukan merupakan orang yang aktif dalam kegitan mahasiswa di kampus. Tapi, kepopuleran mereka mengalahkan orang-orang yang berprestasi di kampus itu.
Kini, mahasiswa dan mahasiswi baru telah datang untuk melaksanakan ospek di pagi ini.
“Biar Kita yang cariin target buat Lu ya, Van?” ucap Rizal.
“Oke!”
Elvan menunggu di kantin kampus dengan ditemani teman kencannya yang bernama Ferlita. Ferlita itu gadis yang cantik, badannya proporsional dan selalu tampil seksi di setiap acara.
“Hi ... Honey, mau makan apa?” tanya Elvan.
“Enggak, Aku lagi diet Van. Berat badan Aku naik dua kilo gram,” ucap Ferlita sambil menyenderkan kepalanya di pundak Elvan.
“Ngapain diet? Kamu tambah seksi, tau?” Goda Elvan.
“Masa sih?” Rona Ferlita terlihat berbinar. Ia senang dipuji oleh cowok ganteng plus tajir ini.
“Enggak ah, menurut Aku tidak Proporsional.” Elak Ferlita.
“Oke, Honey. Nanti malam Kita jalan, ya?” Elvan menggoda dan mengedipkan satu matanya.
“Siapa yang bisa menolak ajakan sang Pangeran, sih?” ucap Ferlita, genit.
***
Rizal dan Bobi tengah sibuk mencari target buat tantangan Elvan. Mereka mencari mahasiswi yang sesuai dengan kriteria yang telah mereka sepakati.
“Yang ini! Menurut Lu gimana, Zal?” tanya Bobi sambil menunjuk wanita yang berparas manis.
“Jangan! Ia terlalu manis buat si Elvan. Kita kan mau ngerjain Dia.” Timpal Rizal sambil tertawa pelan bersama Bobi.
Mereka melanjutkan pencarian gadis yang menurut mereka memenuhi kriteria untuk tantangan si Elvan.
Sementara anggota pengurus mahasiswa dan mahasiswi, seperti terganggu melihat dua orang laki-laki yang mondar-mandir di hadapan calon mahasiswa dan mahasiswi baru. Namun, mereka tidak dapat berbuat apa-apa. Karena, orang tua mereka merupakan salah satu donatur terbesar di kampus tersebut.
__ADS_1
“Liat, Bob! Yang di ujung sana!” Jari Rizal menunjuk ke salah satu gadis yang berbaris di pojokkan.
“Mana?” jawab Bobi.
Rizal menarik lengan Bobi berjalan menuju gadis itu yang tengah berbaris di pojokkan.
“Ini!” Telunjuk Reza mengarah ke wajah gadis itu.
“Apa, Lu?” tanya gadis yang memakai kaca mata.
“Wihh! Galak Dia, Bro! Mantap!” ujar Bobi mengacungkan jempolnya.
“Gimana? Oke, oke?” tanya Rizal pada Bobi sambil memainkan alisnya.
“Sip!” Dua jempol tangan diangkat oleh Bobi.
“Kalian tuh, kenapa sih? Gila?” tanya gadis berkaca mata.
“Woiihhh! Suka sama galaknya. Udah, nanti juga Lu tau! Lu adalah orang yang beruntung! Selamat, ya?” Bobi menyodorkan lengannya.
Namun, gadis itu malah membalas dengan tatapan tajam dan galak.
“Ya udah, kalau gak mau. Bye!” Bobi dan Rizal berlalu pergi.
***
Mobil Elvan melaju kencang. Ia menuju ke kost seorang gadis yang bernama Chika.
Chika merupakan gadis yang imut dan manja. Ia sosok periang dan ngangenin karena sifat cerianya.
Tepat di kost yang terbilang Elit di Kota Surabaya, mobil berwarna merah itu di parkirkan. Terlihat dari lantai dua, sosok gadis itu melambaikan tangannya dan tersenyum manja.
“Sayanggg ... Ke mana aja, sih? Chika kangen tau gak ketemu sama Kamu,” ucap Chika sambil memeluk erat.
“Aku juga kangen sama Kamu, Baby.” Bibir Elvan meluncur di kening Chika.
“Ayok masuk!” Chika menarik Elvan masuk ke dalam kamar.
.
Elvan semakin terjebak di dunianya. Orang tuanya yang sibuk berbisnis, tidak mengetahui kebejatan anak laki-lakinya itu.
Karena lelah sepulang dari kampus. Akhirnya Elvan ketiduran di kost Chika.
Drett ... Drett ....
Berkali-kali hand phone Elvan bergetar di atas nakas.
Dengan mata yang masih lengket, Elvan memaksa membukakan matanya dan meraih gawai yang ia simpan di atas nakas.
‘Ferlita?’ Elvan mengucap dalam hati dan matanya membulat karena kaget.
Elvan baru ingat bahwasanya sekarang ia ada janji dengan Ferlita. Dengan cepat, Elvan mengirim pesan singkat.
‘Tunggu Aku satu jam lagi, Honey! See you, muahhh!’ Elvan mengirim pesan dengan diselipkan kiss emoticon.
Elvan langsung menon-aktifkan ponselnya, lalu ia berpamitan kepada Chika.
“Mau ke mana?” Tatap Chika dengan penuh tanda tanya..
“Baby, sorry. Aku mesti pulang, ada pertemuan kolega bisnis. Kan Aku pewaris tunggal dari perusahaan Papa.” Elvan memegang kedua pipi Chika.
“Oh ... ya udah, hati-hati, ya?” ucap Chika.
“Iya. Yang penting, rasa kangen Kamu telah terpenuhi dengan kedatanganku dari tadi siang, kan?” ucap Elvan sambil mengedipkan satu mata genitnya.
Chika tersenyum.
Elvan bergegas mandi dan langsung meluncur ke kost Ferlita dalam waktu empat puluh lima menit.
.
“Hai, Honey?” Elvan membukakan pintu.
"Hay, Sayang. Masuklah." Ajak Ferlita yang berada dalam kamar.
Elvan mendekat dan memeluk Ferlita. Detak jantungnya semakin kencang ketika melihat kecantikan Ferlita pada malam ini.
__ADS_1
“Sayang, katanya mau belanja?” Ajak Ferlita manja.
"Opss ... Sorry, Aku terpesona melihat penampilanmu malam ini." Elvan melepaskan pelukannya.
Ferlita tersenyum.
***
Elvan dan Ferlita menuju salah satu pusat perbelanjaan di Kota Surabaya. Apa pun yang Ferlita tunjuk, pasti Elvan berikan. Terlebih karena Ferlita telah menjadi cewek simpanannya.
Baju-baju, tas, sepatu tak luput menjadi incaran gadis yang bertubuh seksi itu.
“Sayang, Aku nanti langsung pulang, ya? Udah larut malam. Nanti Aku pesankan taksi online,” pungkas Elvan.
“Oke!”
Simbiosis mutualisme. Mungkin kata itu cocok untuk mereka. Di mana Elvan yang hanya mengincar body-nya yang seksi dan Ferlita, merasa tercukupi tentang kehausannya kepada barang branded yang tak sanggup ia beli.
Jam telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ferlita pulang dengan taksi online sedangkan Elvan pulang dengan mobil sportnya.
.
“Baru pulang, Nak?” tanya Mamanya yang sedang khusuk memandangi layar laptopnya.
“Iya, Ma. Tadi ada tugas. Ma, Elvan langsung ke kamar, ya? Capek.” Pungkas Elvan yang sebenarnya takut ditanya-tanya oleh mamanya.
“Oke! Good night, Sayang,” jawab Mamanya yang tidak menyimpan curiga sedikit pun terhadap anak laki-lakinya.
Elvan menaiki anak tangga dan membuka handle pintu kamarnya. Ia melangkahkan kaki memasuki kamarnya. Tepat di ranjang yang besar itu, Elvan menghempaskan tubuhnya. Memandang langit-langit kamar dan segera memejamkan mata membayangkan kedua gadis yang menjadi teman kencannya.
Drett ... Drett ....
Getaran hand phone dari atas nakas yang mengagetkannya membuat ia tersadar dari angan-angan yang menghinggapi pikiran kotornya.
‘Van! Gue dan Bobi udah nemuin target tantangan buat gebetan Lu. Siap, gak?’ Isi pesan WA dari Rizal.
‘Oke! Dari awalkan Gue udah sanggupin. Pantang bagi seorang Elvan Syahreza Adhitama untuk mundur dari tantangan!’ Balas Elvan dengan pede-nya.
‘Oke! Besok Kita kasih tau ceweknya.’ Balas Rizal.
***
Ngampus again!
Rizal dan Bobi sudah stay di kampus. Terlihat si gadis kaca mata telah datang.
Tatapan gadis itu sangat tajam. Seperti tidak ada kata takut pada diri gadis ini. Padahal, seluruh mahasiswa dan mahasiswi telah mengenal tiga laki-laki ini. Ada Rizal, Bobi dan Elvan yang belum datang juga. Mereka bertiga adalah orang yang paling disegani karena peranan orang tua mereka pada kampus itu.
“Hay, galak?” sapa Rizal pada gadis berkaca mata.
Gadis itu hanya mendelik, sewot melihat kedua laki-laki yang menurutnya menyebalkan. Ia berjalan melewati kedua pria tampan yang menyebalkan itu tanpa ada kata.
Tapi, bukannya mereka marah. Mereka malah senang ada cewek unik seperti itu. Mereka tetap tertawa geli, meski pun si gadis berkaca mata itu telah berlalu.
“Apaan sih? Pagi-pagi udah happy aja kek nya?” sambar Elvan ketika melihat teman-temannya sedang tertawa.
“Itu, calon gebetan Lu. Dia udah datang.” Timpal Rizal sambil tertawa.
“Gebetan? Sejak kapan Gue punya gebetan? Yang ada juga Gue yang jadi gebetan cewek-cewek di Kampus!” ucap Elvan dengan penuh percaya diri.
“Iya. Iya. Kita percaya kok. Tapi yang ini unik, Van! Karena Kita yang nantangin, Lu!” ucap Bobi.
“Yang mana, sih orangnya?” tanya Elvan.
“Sebentar. Sepertinya, Ia masih ada di dalam ruang kelas,” ujar Rizal.
Rizal, Bobi dan Elvan tengah menunggu si gadis berkaca mata itu. Mereka duduk dengan rasa cemas yang mendera.
“Itu!” Telunjuk Rizal menunjuk si gadis berkaca mata.
“Yang mana?” Elvan menyelidik.
“Itu, yang pakek kaca mata.” ucap Bobi.
“ANJEERR! Gak ada yang bagusan gitu, bro?” tanya Elvan kaget.
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁