
Yuanita panik, ia beranjak dari ranjang kecilnya. Membukakan pintu yang mengarah ke balkon kamar.
Matanya menatap ke jalanan yang masih sepi karena masih terlalu pagi, sang surya pun belum menampakkan warna jingganya di langit yang masih gelap.
Yuanita bingung pada saat itu. Ia tidak ingin nikah muda, apalagi kuliahnya masih awal-awal masuk, belum ada setahun ia menuntut ilmu. Yuanita memang gadis yang mandiri. Ia pergi ke Surabaya untuk menuntut ilmu dengan beasiswa yang ia raih waktu lalu.
Sengaja, Yuanita tidak membalas pesan dari mamanya. Karena dia bingung harus ngomong apa. Tiba-tiba, gawai yang ada di tangannya bergetar. Dengan hati yang gugup, akhirnya Yuanita berani mengangkat telepon dari mamanya.
[Hallo, Ma?]
Yuanita menyahut panggilan masuk dari mamanya.
[Nita, Kamu mesti pulang sekarang juga. Mama sudah memesankan tiket Travel untuk Kamu, satu jam lagi travel-nya menuju ke kost Kamu!] jawab Rani yang tak lain mamanya Yuanita.
[Tapi, Ma! Nita gak mau nikah muda. Apalagi dengan orang yang tidak Nita kenal!] jawab Yuanita.
[Mama enggak mau tahu! Sebenarnya, perjodohan kalian telah disepakati oleh papamu sejak kamu masih kecil.] Rani menerangkan.
[Tapi, Ma ....]
Tut ....
Telepon terputus.
Drett ... Drett ....
Rani mengirim pesan pada Yuanita.
[Sengaja Mama matikan telponnya, karena Mama tahu watakmu keras seperti Papa. Ingat! Dalam satu jam, travel yang Mama pesan akan menjemput ke alamat Kamu, Nita!] Pesan dari Rani.
“Ya Allah ... Gue harus gimana?” pekik Yuanita.
Yuanita pun merapikan beberapa pakaian ke dalam koper kecilnya. Ia pun bergegas mandi dan segera berganti baju karena takut travel-nya segera datang.
Benar saja. Tidak berselang lama, travel-nya datang dengan bunyi klakson mobil sebagai tandanya.
Yuanita menenteng koper kecil. Si gadis berkaca mata itu akhirnya melangkahkan kakinya setelah mengunci kamar kost-nya.
Yuanita menaiki mobil travel yang dipesan oleh mamanya. Di sepanjang jalan, Yuanita terpikirkan bagaimana sosok pemuda yang akan menjadi suaminya kelak.
***
“Assalamualaikum,” ucap Yuanita ketika membuka pintu rumahnya.
Ada rasa kangen ketika ia telah berada dalam rumah besarnya. Yuanita merupakan anak tunggal dari pasangan Doni Yudistira dan Rani Puspita.
Rumah tampak sepi. Namun, tak berselang lama, bi Tuti yang merupakan asisten rumah tangga di rumah, menghampiri Yuanita.
“Wa’alaikum salam. Euleuh ... Euleuh ... Aya neng Nita.” Bi Tuti menghampiri.
“Iya, Bi. Mama ada?” tanya Yuanita.
“Ibu lagi pergi ke butik katanya,” jawab Tuti.
“Oh,” ucap Yuanita datar.
Tuti langsung membawakan koper kecil dan membawa koper itu ke dalam kamar Yuanita. Sedangkan Yuanita menghempaskan tubuh capeknya di atas sofa.
“Nita? Sudah datang kamu, Nak?” ucap Doni yang tak lain papanya Yuanita.
“Iya, Pa! Papa gak ke Kantor?” tanya Yuanita.
“Ya enggak, lah! Kan mau menyambut kedatangan anak Papa,” ujar Doni.
“Menyambut Nita atau calon besan Papa?” Mata Yuanita mendelik.
“Dua-duanya.” Doni terkekeh.
Terlihat, bi Tuti membawakan minuman dan makanan kecil untuk Yuanita dan papanya. Bi Tuti menghidangkannya di atas meja dan berlalu pergi, kembali ke dapur.
“Pa?”
Yuanita memanggil papanya.
“Hem,” jawab Doni yang lagi menyeruput kopi hitamnya.
“Kenapa sih, Nita harus dijodohin? Kan, Nita masih mau kuliah, Pa!” rengek Yuanita membujuk papanya.
“Ini sudah kesepakatan dari dulu, orang tua calon suamimu sudah pusing dengan beberapa wanita yang selalu mendatangi rumah mereka yang mengaku pacar dari anaknya. Makanya, mereka ingin kalian cepat dinikahkan. Setelah kalian menikah, kamu kan bisa tetap melanjutkan kuliah," jelas Doni.
“Lah ... Kenapa mesti sekarang si, Pa? Nita belum kenal calon suami Nita seperti apa?” Yuanita merundukkan kepala.
“Dia ganteng, Nita.” Doni terkekeh.
“Idih! Kalau gak cinta? Tetep aja gak bahagia, Pa!”
Mata Yuanita mendelik.
“Masalah cinta, nanti juga seiring waktu berjalan, kalian akan jatuh cinta setelah menikah,” ujar Doni sambil kembali menyeruput kopi hitamnya.
Yuanita tidak bisa membantah lagi. Ia akhirnya pergi ke dalam kamar tanpa ada satu patah kata pun yang terucap dari bibirnya.
Pintu berwarna putih bersih, kini terlihat dari pandangannya. Ia membuka handle pintu dan mendorongnya. Masih terlihat sama seperti sebelum ia berangkat ke Surabaya. Kamar seorang gadis yang didominasi dengan warna cat merah muda seperti wanita pada umumnya.
__ADS_1
Yuanita menghempaskan badannya di atas ranjang yang tidak terlalu besar, namun banyak dengan boneka beruang. Hampir semua benda yang ada di dalam kamarnya berwarna pink.
Ia menghela napas panjang dan membuangnya perlahan sambil memejamkan matanya, terasa relax. Terlebih, ia begitu merindukan kamarnya ketika di Surabaya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Pintu di ketuk.
“Masuk!” ucap Yuanita yang masih rebahan di ranjangnya.
“Sayaaannnggggg ....” ucap Rani yang tak lain Mamanya.
Rani menghampiri dengan membawa beberapa Paper bag yang ada di tangannya dan memeluk erat putri yang ia rindukan. Walau Yuanita baru kuliah beberapa bulan. Namun, kerinduannya terlalu mendalam kepada putri satu-satunya itu.
Kecupan sayang dari seorang ibu pun meluncur di seluruh wajah Yuanita. Ibunya begitu merindukan Yuanita. Putrinya yang sedang kuliah di luar kota Bandung.
“Gimana kabarnya, Sayang?”
Rani memandang dan memegang pipi putrinya.
“Baik, Ma. Mama bawa apa?”
Yuanita melirik ke paper bag yang dibawa ibunya.
“Ini, beberapa gaun untukmu, Nak. Coba lah.” Ibunya membuka paper bag yang terdapat beberapa potong gaun di dalamnya.
“Buat apa sebanyak ini?” tanya Yuanita.
“Kamu pilih yang paling kamu suka, Nak. Nanti buat ketemu calon mertuamu,” ucap Rani.
Seketika, wajah Yuanita kembali murung mendengar kata-kata calon mertua. Ia teringat akan sesuatu yang mestinya membahagiakan, tetapi karena perjodohan malah menjadi seram baginya mendengar kata-kata pernikahan.
“Nanti malam, mereka datang. Kamu dandan yang cantik ya, Nak?” ujar Rani dan berlalu pergi.
***
Sementara di Surabaya, ada Gendis yang tengah khawatir karena pintu kamar kost sahabatnya telah terkunci. Yuanita memang lupa, tidak memberi tahu tentang kepulangannya kepada sahabatnya.
Gendis mengambil gawai yang ia taruh di atas meja belajar, untuk menelepon Yuanita.
Akhirnya, Gendis lega setelah mendengar sahabatnya berada di rumahnya yang ada di Kota Bandung. Seperti biasa, Gendis masuk kampus. Namun, ada yang berbeda pada hari ini, Gendis ke kampus tampak sendirian, karena Yuanita sedang berada di Bandung.
.
“Gendis!” teriak Elvan memanggil.
Gendis menoleh, “Eh ... Mas Ganteng, ono opo, Mas? (ada apa, Mas?)”
“Cie ... Cie ... Mas Elvan mulai kepincut sama Nita ....”
Telunjuk Gendis mengarah pada wajah Elvan.
“Sembarangan! Gue heran aja, biasanya Lu pan lengket kek prangko sama Markonah.” Elvan beralibi.
“Hemm ... Bilang aja 'to, kalau rindu?”
Bola mata gendis memutar.
“Serah, Lu! Udah lah, Gue mau masuk kelas.” Pungkas Elvan.
Elvan berlalu dan Gendis melangkahkan kaki dalam koridor kampus.
Pelajaran pun di mulai dengan lancar hingga tak terasa akhirnya jam kuliah telah usai. Gendis berjalan kaki dan duduk di halte bus yang tidak jauh dari samping gerbang kampus.
Tin ... Tin ....
Mobil sport berwarna merah membunyikan klakson dan membuka kaca pintu mobilnya.
“Lu mau pulang?” tanya Elvan.
“ho’oh,” jawab Gendis yang sedang nyengir kepanasan menunggu mobil angkot datang.
“Ayok, bareng Gue! Gue ada perlu deket kost, Lu.” Ajak Elvan.
“Ndak salah, Mas ngajakin Aku?”
Dahi Gendis mengernyit.
“Mau, gak? Kalau enggak mau, ya udah!” jawab Elvan ketus.
“E ... Mau, mau!”
Gendis membuka handle pintu mobil.
Dalam mobil, tak ada pembicaraan sama sekali. Gendis terdiam dan Elvan fokus pada kendali setir mobilnya.
Elvan mengajak Gendis, sebenarnya ingin menanyakan perihal Yuanita. Tapi Gendis malah diam seribu bahasa.
Gak si Markonah, gak temennya. Sama aja, gak pernah ngomong! Pekik dalam hati Elvan.
Hingga tak terasa, sampailah si mobil merah itu tepat di depan gerbang kost yang sederhana.
Gendis membuka pintu mobil, “Maksih, Mas Ganteng!” ucap Gendis.
__ADS_1
“Oke!” Elvan berlalu pergi.
“Jaaahhh ... Katanya mau ada perlu dekat kost-ku, malah kabur 'to?”
Gendis menggaruk kepalanya, heran.
***
Ada rindu dalam hati Elvan ketika tidak melihat wajah cantik gadis berkaca mata itu. Wajah lugu yang selalu ia tampakkan. Namun, tak selugu wajahnya. Karena Yuanita merupakan wanita yang judes dan galak di depan Elvan.
Elvan membenamkan tubuhnya di atas ranjang.
“Kenapa dengan hati Gue, Tuhan?” Kedua tangan Elvan menggenggam kepala.
Rasa rindu yang menyelimutinya, kini tak dapat terbendung. Ada rasa ingin mendekati, namun ia takut akan jatuh cinta pada gadis cupu itu.
“Gak mungkin juga Gue jatuh cinta sama si Cupu!” Elvan menampik perasaannya.
Drett ... Drett ....
[Sayang, Aku kangen. Temui Aku di Mall, ya?] Isi pesan dari Ferlita.
[Oke!] Balas Elvan.
“Dari pada Gue ke pikiran terus si Markonah, lebih baik Gue cabut!” gerutu Elvan.
Elvan bergegas mandi dan memakai kaos dan celana jeans tak lupa ia memakai sepatu kets dan melingkarkan jam pada lengannya.
.
“Hai, Sayang.” Ferlita memeluk Elvan.
Elvan tersenyum.
Kenapa sekarang Gue jadi males membalas pelukan dari cewek Gue sendiri? tanya dalam hati Elvan.
“Honey, makan, yuk? Aku lapar!” Ajak Elvan.
“Oke! Tapi nanti belanja, ya? Aku udah ngincer salah satu tas yang Aku mau,” ucap Ferlita dengan nada genit.
“Iya.” Pungkas Elvan.
Bagi Elvan, uang bukanlah masalah. Ia tidak perhitungan dengan pengeluaran uang untuk pacar-pacar simpanannya. Mungkin, karena ia belum pernah bekerja, jadi belum pernah merasakan capeknya cucuran keringat yang keluar untuk uang yang dihasilkan.
***
Ting ... Tong ....
Suara bel yang dipencet
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Yuanita pun telah berdandan, ia lebih suka memakai make up natural. Gaun pendek di bawah lutut yang berwarna biru muda telah ia pakai.
“Rani ....”
Widya memeluk sahabatnya yang telah lama tidak berjumpa.
Sementara, para bapak-bapak lebih memilih mengobrol dan bersantai di teras luar sambil menikmati secangkir kopi dan mengembuskan asap rokok.
Rani pun membalas pelukan erat sahabatnya, “Udah lama ya, Wid. Kita tidak berjumpa? Gimana kabarnya?” tanya Rani.
“Baik. Mana calon mantuku?” Widya to the point.
“Oh ... Iya, nanti Aku panggilkan putri tunggalku. Silakan duduk dulu.” Rani berlalu pergi.
Widya tersenyum.
Rani menuju kamar putrinya. Yuanita tengah duduk di atas ranjang dengan perasaan yang campur aduk. Atara ingin mengejar impiannya dan mengabulkan permintaan dari orang tuanya tentang perjodohan.
“Nita ....” Suara mamanya memanggil namanya.
“Masuk, Ma,” jawab Yuanita yang terdengar dari dalam kamar.
'CKLEK!'
Rani membuka pintu kamar putrinya. “Loh ... Kok malah duduk di sini, Sayang?” tanya mamanya.
“Kenapa?” tanya Rani lagi.
“Nita bingung, Ma.” Yuanita tertunduk.
“Bingung kenapa?” tanya Rani.
“Bingung dengan perjodohan ini,” ucap Nita.
“Apa dengan perjodohan ini, Mama dan Papa bahagia?” timpal Yuanita lagi.
Yuanita memandang wajah Rani dengan perasaan yang entah.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1