Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 23 ( Nilai Tertinggi )


__ADS_3

Elvan menyuapi Yuanita dengan telaten. Dibalik pribadinya yang seorang play boy, ternyata Elvan mempunyai jiwa peduli. Yuanita baru mengetahui hal itu.


“Nih, minum obatnya.”


Elvan menyodorkan obat untuk Yuanita.


Dengan cepat. Yuanita pun langsung menelan obat pemberian Elvan. Mungkin dia terlalu takut diancam oleh Elvan.


“Udah. Sekarang lo tidur, gue jagain!” Suruh Elvan.


Tak banyak bicara, Yuanita membaringkan tubuhnya dengan bantuan Elvan karena kaki Yuanita belum bisa digerakkan.


Yuanita mencoba memejamkan mata. Namun, ia belum merasakan kantuk. Sebenarnya, ia ingin ada Gendis di sampingnya untuk sekedar bercerita. Ia merasa bosan berada dalam kamar terus. Dirinya gelisah, Elvan bisa melihat semua itu.


“Kenapa, lu?” tanya Elvan sambil memegang ball point.


“Gak papa,” sahut Yuanita.


“Jangan bohong? Lu bosan berada dalam kamar terus?” ucap Elvan.


“Dari mana lu tau?”


Yuanita mengernyitkan dahi.


“Gue juga pernah terbaring sakit. Jadi tau lah rasanya bosan dalam kamar. Lu mau jalan-jalan ke luar?”


Yuanita tersenyum. Wajahnya memerah karena ketahuan Elvan kalau dirinya telah mengalami rasa bosan berada dalam kamar.


“Nanti gue ajak lu keluar kamar. Tapi, tunggu tugas gue selesai, ya?” ucap Elvan.


Yuanita kembali tersenyum.


.


Sudah lebih dari satu jam. Elvan masih bergulat dengan tugas kampusnya. Yuanita sudah merasa bosan dan gelisah. Beberapa kali, mata Yuanita melirik buku tulis Elvan yang masih kosong beberapa halaman yang belum terisi.


“Belum selesai juga?”


Akhirnya kata itu tercetus dari bibir Yuanita.


Elvan melirik pada Yuanita yang memang seperti sudah sangat bosan berada dalam


kamar rumah sakit. Elvan menutup bukunya


dengan kasar. Mungkin ia merasa terganggu dengan rengekan Yuanita yang mulai bertanya.


“Yaudah, bentar gue pinjem kursi roda dulu,” ucap Elvan dan berlalu pergi.


Yuanita mencoba meraih buku tugas Elvan yang digeletakkan di sampingnya. Ia mencoba membuka buku yang berisikan tugas kampusnya.


“Dasar bodoh! Gini doang kagak bisa?” celetuk Yuanita.


Yuanita memang pandai. Tak ayal ia mendapatkan beasiswa pintar untuk melanjutkan kuliahnya. Sedangkan Elvan terkesan cuek pada pelajarannya. Mungkin, yang ada di otaknya yang penting kuliah lulus. Masalah nilai ia tidak peduli. Toh, mau nilainya baik atau buruk tetap saja ia merupakan pewaris tunggal keluarga Adhitama yang hidupnya bakal terjamin.


Yuanita meraih pensil yang berada di ujung ranjang, “Sedikit lagi!” Yuanita meraih pensil itu.


Bruk!


Tubuh Yuanita terjatuh dari atas ranjang bersama pensil yang telah ia genggam.


“Aww!” Keluhnya lirih.


Ia berusaha bangkit dari lantai menuju tempat tidur. Tapi kakinya terlalu lemah untuk berdiri malah tidak ada rasa sama sekali. Mati rasa.


Ceklek!


Suara pintu terdorong masuk.


“Markonah?”


Elvan langsung berlari ke arahnya dan meninggalkan kursi roda yang ia bawa.


“Lu ngapain, sih?”


Elvan melihat pada tangan yang sedang menggenggam pensil itu.


“Ini untuk apa?” tanya Elvan melirik pada pensil yang ia genggam.


“Udah nanya, nya?” tanya Yuanita yang masih berada di bawah lantai.


“Tadinya gue mau bantuin lu kerjain tugas pakai pensil nanti lu tinggal salin pakai ball point. Tapi, ketika gue meraih pensil malah terjatuh,” terang Yuanita.


“Apa? Dasar bodoh! Kaki lu 'kan lagi sakit.” Keluh Elvan.


Tanpa menunggu persetujuan Yuanita. Elvan mengangkat tubuh Yuanita ke atas ranjang dan mendudukkannya.


“Udah enak duduknya?” tanya Elvan.


Yuanita mengangguk.


“Yaudah, gue mau liat lu ngerjain tugas kuliah tingkat akhir. Apa lu bisa?” tantang Elvan.


“Kalau gue bisa?”

__ADS_1


Yuanita kembali menantang Elvan.


“Apa yang lu mau, gue kasih!”


“Oke! Deal?” ucap Yuanita.


“Deal!” Mereka berjabat tangan.


***


Elvan tersenyum sinis ketika memandang wajah Yuanita yang sedang mengerjakan tugasnya.


Sampe mana sih, kalau dia merasa pintar? Ucap Elvan dalam hati.


Yuanita tampak khusuk mengerjakan tugas-tugas Elvan yang masih kosong. Sekitar dua puluh menit mengerjakan. Akhirnya selesai juga. Yuanita menyerahkan buku itu pada Elvan.


“Nih, sekarang antar gue ke taman.”


Pinta Yuanita setelah memberikan buku itu pada Elvan.


“Eitzz ... Gue periksa dulu. Belum tentu juga yang lu kerjain bener,” elak Elvan.


Dari poin ke poin, Elvan mengevaluasi materi kuliah yang dikerjakan Yuanita.


Wow! Ternyata ni bocah pinter juga. Tak sia-sia dia mendapatkan beasiswa. Umpat Elvan dalam hati.


“Tunggu bentar.”


Elvan bangkit dari tempat duduknya.


“Mau ke mana, lu?” tanya Yuanita.


Tanpa menjawab. Elvan berjalan ke arah pintu kamar rumah sakit. Dimana ia tadi menelantarkan kursi roda yang ia pinjam untuk Yuanita.


“Mau ngapain, lu?” tanya Yuanita ketika lengan Elvan ingin meraih tubuhnya.


“Cium lu! Ya gendong lu, lah. Katanya mau ke luar? Bosen berada dalam kamar!"


Elvan segera menggendong Yuanita dan mendudukkannya di atas kursi roda itu.


“Nih, lu pegan ya? Gue sambil ngerjain tugas nanti,” ucap Elvan yang menyuruh Yuanita memegang buku serta ball pointnya.


Dengan hati-hati, Elvan mendorong kursi roda itu ke taman kecil yang ada di rumah sakit.


“Stop! Gue mau di sini. Sepertinya udara di sini enak,” ucap Yuanita.


Elvan pun memarkirkan kursi roda itu di samping bangku putih yang terbuat dari kayu.


“Gue ngerjain tugas, ya? Kalau lu ada perlu bilang aja,” ucap Elvan yang duduk di bangku.


Yuanita mengangguk.


“Ngapain lu liatin gue?” tanya Elvan yang masih terfokus pada bukunya.


“Dih ... siapa yang liatin, lu? Pede banget!” elak Yunita.


“Hem ... udah ketauan masih bisa ngeles, lu!”


Yuanita terdiam.


Hening.


“Gue cuma merasa gak ada teman,” tercetus dari bibir Yuanita.


Entah mengapa. Setelah terjadinya kecelakaan, Elvan menjadi lebih care terhadap Yuanita.


Ia turun dari bangku taman dan berlutut agar Elvan bisa melihat wajah Yuanita yang sedang tertunduk.


“Hei ... Gue ada di sini sama lu. Lu gak sendirian Markonah.”


Elvan mencoba meyakinkan.


“Udah. Gak perlu khawatir, lu itu cewek terkuat yang pernah gue temui. Lu pasti cepet sehat.” Yakin Elvan.


“Kalau kelumpuhan gue lama?”


Yuanita menatap wajah Elvan lekat seakan dia pesimis dengan keadaannya sekarang.


Hening.


Elvan masih melihat wajah Yuanita yang matanya mulai berkaca-kaca.


“Ada gue. Gue yang akan menjadi kaki lu. Ke mana pun kaki lu hendak melangkah. Ke toilet juga mau gue.” Elvan tersenyum genit.


“Elvan!”


Pekik Yuanita kesal yang disertai dengan mata yang membulat.


***


“Mas Elvan!”


Gendis berteriak memanggil namanya.

__ADS_1


“Apaan?”


“Maaf, mas Elvan tau di mana Yuanita sekarang? Aku telponin tapi gak aktif-aktif. Aku kawatir,” ucap Gendis dengan wajah yang memancarkan kepanikan.


“Kenapa lu tanya gue?”


“Kali aja mas Elvan tau. Kan mas Elvan calon suaminya Nita.”


Gendis tersenyum dan mengangkat kedua jarinya pertanda damai.


“Dia di rumah sakit,” celetuk Elvan.


“Apa? Dia sakit apa Mas? Apa keluarganya tau? Aku mau ke sana mas!” ucap Gendis tanpa jeda.


“Dasar cewek. Pasti kalau panik seperti ini. Nanti sepulang kampus gue ajak lu ke rumah sakit," ujar Elvan.


“Emang Nita sakit apa, Mas?” tanya Gendis lagi.


“Entar juga lu tau.”


“Oh ... Oke! Ya udah, aku masuk kelas, Mas.” Gendis sedikit berlari menuju kelasnya karena jam kuliah akan segera dimulai.


Elvan telah menyelesaikan tugasnya yang dibantu Yuanita. Elvan mulai mengagumi sosok wanita yang satu ini. Wanita kuat, pintar dan enggak banyak ngatur seperti cewek-ceweknya.


“Elvan!”


Panggil pak dosen.


“Mati! Pasti lu salah ngerjain tugasnya, Van,” ujar Bobi.


“Entah.”


Elvan mengangkat bahunya.


Elvan maju ke meja pak dosen. Elvan malah diberi ucapan selamat. Karena dari awal masuk kuliah, Elvan mendapatkan nilai pas-pasan bahkan cenderung kurang.


“Selamat! Kamu mendapatkan nilai yang terbaik di mata kuliah bapak. Bapak bangga sama kamu, bapak kira kamu tidak peduli dengan nilai mata kuliah. Karena selama ini kamu terlihat cuek bahkan terkesan acuh terhadap nilai. Sekali lagi, selamat, ya?” Dosen mengulurkan tangannya setelah panjang lebar memuji hasil tugas Elvan.


“Makasih, pak!”


Hanya kata itu yang ke luar dari bibir Elvan. Kemudian ia menjabat uluran tangan pak dosen dan bersalaman.


Elvan kembali duduk dan mengamati tugas-tugas itu. Ia semakin kagum karena semua tugas yang diisi oleh Yuanita, semuanya benar dan mendapatkan nilai tinggi dari dosen.


“Lu kesambet apaan, Van? Gak ada angin gak ada ujan kok nilai lu bisa bagus?” ujar Rizal yang sangat mengetahui sosok sahabatnya itu.


Elvan hanya tersenyum.


***


Jam kampus telah selesai. Seluruh mahasiswa dan mahasiswi di fakultas, semuanya berduyun-duyun teratur menuju arah pintu. Sedangkan Elvan and friend selalu ke luar ruangan belakangan menunggu kelas kosong.


“Gendis? Lo ngapain?” tanya Bobi yang terkejut melihat Gendis yang berada di depan kelas mereka.


“Mau ketemu mas Elvan.”


Gendis tersenyum.


Wajah Rizal dan Bobi agak heran melihat pemandangan ini dan berbisik, “Perasaan, kita dulu menjodohkan Elvan sama Yuanita. Kenapa sahabatnya juga sekarang ngintilin Elvan?” bisik Rizal pada Bobi.


“Entah,” bisik Bobi yang terlihat heran juga.


“Ada enggak?” tanya Gendis.


“Eh ... iya. Ada di dalam. Kita duluan ya Gendis?”


“Iya Mas. Hati-hati!” ucap Gendis.


Gendis masuk ke dalam kelas setelah kedua sahabat Elvan telah berlalu pergi. Elvan terlihat sedang membaca buku di bangkunya dan sedikit tersenyum. Dirinya tak sadar kalau ternyata ada orang lain di dekatnya. Setahu Elvan, kedua sahabatnya itu sudah pamit untuk pulang lebih awal.


“Mas Elvan!” sapa Gendis.


Buku yang ia pegang hampir saja terlepas karena kaget mendengar suara yang tiba-tiba terdengar di sampingnya.


“Gendis?”


Mata Elvan menyipit.


“Mas Elvan edan, yo?”


“Maksud lo?”


“Buku kok diajak senyum. Ngopo to?” tanya Gendis heran.


“Kepo, lu! Ayok. Katanya mau jengukin temen lo si cupu?” Ledek Elvan.


“Eleh! Cupu juga sayang toh? Mulai cinta toh karo koncoku?”


Elvan menatap Gendis dengan ekspresi datar. Padahal jauh dari lubuk hatinya, Elvan telah mengiyakan.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2