Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 3 ( Ngerjain )


__ADS_3

Elvan mengemudikan mobilnya menuju rumah. Di perjalanan, Elvan sempat terbayangkan wajah Yuanita ketika memakai celana jeans pendek dan kaos, terlihat simpel namun menarik di depan mata Elvan.


“Ish! Kenapa Gue kepikiran terus si Markonah, sih? Sial!” gerutu Elvan dalam mobil.


Elvan kembali fokus pada kemudi setir mobil, walau sesekali terlintas wajah Yuanita yang ia sebut sebagai Markonah. Tak terasa, mobil pun telah ia masukkan ke dalam garasi.


Malam ini. Papa dan mama-nya sedang mengurus pekerjaannya di luar kota. Hanya Elvan dan beberapa orang asisten dalam rumah itu.


Elvan melangkahkan kaki, naik ke atas tangga dan membuka handle pintu kamarnya. Elvan melangkahkan kaki menuju ranjang besarnya dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang.


.


“Mana, hape seharga enam belas juta yang Gue minta?” Rizal menagih.


“Apaan? Gue aja belum nyerah!” ucap Elvan tegas.


“Lu udah kalah, Van!” ucap Bobi.


“Why?” tanya Elvan.


“Lu udah jatuh cinta sama Yuanita! Kita itu hanya taruhan, Bro! Lu malah suka beneran sama Dia, berarti Lu kalah dari Kita!” ucap Rizal.


“Yo’i, Bro! Lu udah kalah Van! karena, Lu malah jatuh cinta sama si Gadis berkaca mata itu,” timpal Bobi.


“TIDAKKKKKK!” Elvan berteriak.


Namun, suara ledekan kalau kini Elvan telah mencintai gadis berkaca mata telah mendominasi pikirannya.


Telinganya kini telah berdengung dengan ledekan itu. Tubuh Elvan terasa panas dengan keringat yang mengalir di sekujur badannya.


.


“SIAL! Hanya mimpi!” ucapnya yang terbangun dari mimpinya.


Elvan menghela napas panjang.


“Tapi, bukannya untung, ya? Kan itu cuma mimpi?” ucap Elvan lagi.


“Dih ... Amit-amit kalau sampai Gue suka sama Markonah,” Elvan menggetok kepalanya pelan.


Elvan bergegas pergi ke kamar mandi untuk meluruhkan keringat, akibat mimpi buruknya. Ia menyalakan shower dan menyiramkan air yang tersemprot dari shower itu.


Ia merasakan muntahan air yang mengalir pada tubuhnya. Terasa sejuk menenangkan pikiran. Namun hanya sementara, Elvan telah terhipnotis oleh gadis berkaca mata itu.


“SIAL! Kenapa wajahnya ada lagi sih di otak Gue?” Elvan masih menggusah rambutnya yang basah dengan handuk.


Elvan masih mengenakan handuk dan keluar dari dalam kamar mandi. Ia melempar handuk basah bekas menggusah rambutnya ke atas ranjang.


Drett ... Drett ....


Hand phone Elvan bergetar di atas nakas. Elvan mengambil hand phone-nya lalu menggeser layar hand phone itu.


Tertulis pesan singkat dari Rizal. Mereka mengajak jalan ke Club untuk berpesta.


“Boleh juga ajakannya! Dari pada Gue stres, gara-gara ke pikiran terus si Markonah.”


Akhirnya Elvan membalas dengan kata singkat ‘OKE!’


Elvan membuka lemari pakaiannya dan memilih kemeja slim fit dan celana jeans yang senada. Membuat penampilannya menjadi elegan dengan memakai sepatu kets dan melingkarkan jam tangan branded-nya.


Tak lupa ia menyemprotkan parfum andalannya yang tercium aroma maskulin yang melekat pada tubuhnya. Ia menyambar kunci mobil yang berada di atas nakas dan membawa dompet yang ia masukan ke dalam saku celananya.


Ia membuka handle pintu dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga lalu mengeluarkan mobil di garasi dan tancap gas ke sebuah Club di Kota Surabaya.


***


Banyak mobil yang terparkir di sana. Elvan melangkahkan kaki ke dalam Club yang minim pencahayaan. Di dalam, sudah banyak sekali pengunjung Club Malam.


Elvan melangkahkan kaki dan menyusuri sebuah meja yang sudah terkumpul beberapa temannya.


“Weitsss, Bro! Akhirnya Lu datang juga!” ucap Rizal.


“Ya iya lah! Masa Gue gak datang ke acara seru kek gini, Bro!” ucap Elvan.


Kurang lebih ada lima belas orang yang tengah asyik berkumpul malam ini. Ada cowok dan cewek yang bergabung di situ.


Mereka minum dan joget-joget di bawah cahaya lampu remang-remang.


“Ayok, Van! Kita happy-happy malam ini!” Bobi menarik lengan Elvan mengajak berjoget.


“Enggak, Bro! Gue di sini aja,” pungkas Elvan.


Elvan kembali minum. Beberapa kali, ia menuangkan minuman yang ada dalam botol ke dalam gelas kecilnya.


“Markonah?” ucap Elvan sambil mengucek matanya.


Elvan sudah mulai mabuk, sehingga ia salah mengenali orang.


Kenapa si Markonah bisa ada di sini? Lagi joget-joget lagi, sama si Rizal! Wahhh ... gak bisa dibiarin ini! Pekik dalam hati Elvan.


Elvan mulai berdiri dari tempat duduknya. Ia menghampiri wanita seksi yang sedang menari bersama Rizal.


“Lu ngapain di sini?”


Elvan menarik lengan wanita yang tengah asyik menari dengan Rizal.


“Mana pakek baju kek gini lagi! Ayok pulang, Gue anter Lu ke Kost-an!”


Elvan semakin erat menggenggam lengan gadis itu.


“Lepasin!”


Wanita itu menghempaskan genggaman tangan Elvan.


“Sakit, tau!” ucap gadis itu lagi.


Elvan tersadar mendengar suara gadis itu yang ternyata bukan Markonah/Yuanita. Elvan mengucek matanya lagi dan memperhatikan wajah itu.


“Ya Tuhan, Sorry! Gue salah orang!”


Elvan merapatkan kedua tangannya pertanda meminta maaf terhadap wanita itu.


“Lu udah mabuk ya, Van? Memang Lu kira cewek ini siapa?” ucap Rizal dengan suara agak lemot karena sudah terpengaruhi oleh alkohol.

__ADS_1


“Iya kek nya. Gue kira Ferlita, ternyata Gue salah orang. Sekali lagi, sorry, ya?”


Elvan kembali meminta maaf dan berlalu ke tempat duduknya.


Sengaja Elvan berbohong pada Rizal. Elvan menyangka cewek itu adalah Markonah alias Yuanita, namun ia sangga dengan menyangka cewek itu adalah Ferlita. Kekasih simpanannya.


“Sial! Tetep aja di sini Gue masih kepikiran si Markonah!” gerutu Elvan.


Akhirnya Elvan memilih pulang.


“Bro! Gue balik, ya?” ucap Elvan pada Bobi.


“Baru jam sebelas, Bro! Santai aja kalik!” ucap Bobi yang masih menari.


“Gue gak enak badan,” sangga Elvan.


“Dasar! Kek Emak-Emak aja, Lu! Kurang enak badah hehe.” Bobi terkekeh.


“Ya udah deh! Hati-hati di jalan! Masih bisa nyetir, kan?” tanya Bobi lagi.


“Iya! Santai aja, hafun, ya Bro!” Elvan menepuk pundak Bobi.


Elvan berjalan gontai karena ia sudah setengah tak sadarkan diri, pengaruh minuman ber'alkohol.


Ia memacu mobil sport warna merah dengan kecepatan tinggi di jalan raya. Entah apa yang ada dalam pikirannya, tiba-tiba Elvan membawa laju mobilnya ke arah kost Yuanita. Tepat di pinggir gerbang Yuanita, mobil Elvan terparkir. Kepalanya semakin berat sehingga ia memutuskan untuk berhenti di situ dan memejamkan mata.


Tak terasa, jam telah menunjukkan pukul empat pagi. Di mana biasanya, Gendis pergi ke pasar tradisional untuk membeli sayuran. Karena, Gendis dan Yuanita biasanya memasak sebelum berangkat kuliah.


“Se ... Se! (Tunggu ... Tunggu!) iki koyo mobile Mas Ganteng. (ini kayak mobilnya Mas Ganteng.)”


Gendis coba mengingat dan mengintip dari kaca mobil mewah itu.


“Ish! Tenanan iki! (Beneran ini!)”


Gendis kembali masuk dalam kost dan memanggil Yuanita.


Tok ... Tok ... Tok ....


Gendis terburu-buru mengetuk pintu kamar Yuanita.


“Nit! Urgen!” Gendis memanggil.


'CKLEK!'


Pintu dibuka.


“Apa yang urgen, Ndis?” tanya Yuanita dari balik pintu.


“Iku, (Itu,) mobilnya Mas Ganteng ada di depan!” ucap Gendis dengan terburu-buru.


“Maksudnya?” tanya Yuanita bingung.


“Mobil Mas Elvan, Kakak tingkat di Kampus Kita ada di depan!” ucap Gendis.


“Lah ... terus? Apa hubungannya sama Gue?” tanya Yuanita.


“Ke depan, yok! Tolongin! Takut kenapa-napa itu Mas Gantengnya.”


Gendis menarik lengan Yuanita.


Yuanita masuk dalam kamar dan mengambil kaca mata di atas meja belajarnya.


***


Gendis dan Yuanita melihat dari luar kaca mobil. Terlihat Elvan yang tengah tertidur sambil duduk di depan kemudi.


Tok ... Tok ... Tok ....


Yuanita mengetuk kaca mobil Elvan. Dengan mata yang masih mengantuk, Elvan membuka pintu mobilnya. Elvan mengernyitkan dahi ketika melihat Yuanita berada di depannya.


Elvan membukakan pintu mobilnya, ”Ngapain, Lu?”


“Lu yang ngapain di depan kost Gue?” tanya Yuanita.


Ketika Elvan hendak turun dari mobilnya tiba-tiba ia merasakan sakit kepala yang luar biasa.


“ADUH!”


Elvan memegang kepala dengan kedua tangannya.


“Modus pasti, kan?”


Yuanita mendelik sambil melipat kedua tangannya di dada.


“Serius gue, Markonah!” ucap Elvan yang nampak kesakitan.


“Lu habis mabuk, ya?” tanya Yuanita.


“Sok tau, Lu!” ucap Elvan yang masih memegang kepalanya.


“Mulut Lu bau alkohol, Kucing!”


Elvan tak menjawab, ia terus memegangi kepalanya yang tengah sakit.


Yuanita mendelik dan memperhatikan tingkah Elvan yang seperti semakin kesakitan.


“Ya udah, Lu masuk dulu ke kost gue!” ucap Yuanita.


Yuanita dan Gendis merangkul Elvan yang mempunyai badan jangkung.


Elvan di dudukan di kursi panjang yang ada di depan kamar Yuanita. Yuanita masuk dalam kamar, membawa bantal dan selimut.


“Nih! Lu tiduran dulu. Gue mau masak. Lu belum makan, kan?” tanya Yuanita sambil memberikan bantal dan selimut pada Elvan.


Tak banyak bicara. Elvan meraih bantal dan selimut pemberian dari Yuanita dan bergegas tidur. Sementara, Yuanita dan Gendis, masuk ke dalam kost.


“Aku kesiangan, Nit. Gimana mau ke pasar?” tanya Gendis.


“Lu beli telur aja di warung, Ndis. Kita makan telur dadar goreng aja, ya? Gue mau masak nasinya,” ucap Yuanita.


“Oke!”


Gendis berlalu pergi ke warung.

__ADS_1


Yuanita mencuci beras dan memasukkan ke dalam magicom. Sambil menunggu matang, Yuanita pergi mandi dan bersiap untuk ke kampus.


“Nit, iki Ndok’e (ini telurnya)” ucap Gendis.


“Oke! Lu mandi aja, Ndis! Biar Gue yang masak telurnya!” suara Yuanita dari dapur.


“Yo! (Iya!)”


Gendis berlalu pergi ke kamar mandi. Sedangkan Yuanita sedang memecahkan telur untuk membuat telur dadar goreng.


Tiga telur telah di kocok untuk di jadikan dua porsi makan Gendis dan Yuanita. Sedangkan dua telur ia kocok untuk Elvan yang tengah tidur.


Tercium wangi telur dadar goreng, membuat perut Elvan keroncongan karena sedari malam ia tidak makan.


Elvan membuka mata dan turun dari kursi panjang tempat ia tidur barusan. Ia melangkahkan kaki dan masuk ke dalam kost Yuanita.


Elvan memandang tempat tinggal Yuanita yang teramat kecil dan sumpek menurutnya.


Kasian juga si Markonah, tinggal di kost yang sempit seperti ini, celetuk dalam hati Elvan.


“AAAAA! Ngapain Lu masuk? Keluar sana!” Yuanita menjerit ketika melihat tubuh jangkung telah ada dalam kost-nya.


“Tenang, tenang! Gue hanya laper, Markonah,” ucap Elvan.


“Iya! Lu tunggu di luar. Nanti makan di depan aja, gak enak sama teman-teman kost di sini!” ucap Yuanita dari dapur kecilnya.


“Oke ... Oke!”


Elvan langsung mundur dan kembali ke kursi panjangnya. Kepalanya sudah mulai kembali sehat, tinggal sedikit rasa pusing pada kepalanya.


Yuanita membawa nasi dalam panci magicom, piring, sendok, dan telur dadar.


“Ndis! Ayok makan!” teriak Yuanita.


“Duluan! Aku lagi nanggung make up,” ucap Gendis dalam kamarnya.


“Tuh! Lu makan. Laper kan, Lu?” ucap Yuanita pada Elvan.


“Telur doang?” ujar Elvan.


“Mau Lu apa? ke pasar aja enggak, gara-gara, Lu!” ujar Yuanita.


“Gak tambah yang lain gitu?” tanya Elvan lagi.


Ngeselin banget ni orang! Padahal gratisan, mintanya lebih! Dasar anak manja! Pekik dalam hati Yuanita.


“Ada! Tunggu bentar, ya?” Yuanita beranjak pergi ke dapur.


“Gitu, dong!”


Wajah Elvan terlihat berbinar.


Yuanita memetik beberapa cabai rawit dan menguleknya dengan di tambahkan bumbu penyedap rasa dalam cobek.


“Nih!”


Yuanita menyodorkan ulekan cabai mentah yang ada dalam cobek untuk Elvan.


“Apaan, ini?”


Elvan mengernyitkan dahi.


“Sambalnya anak Kost!” ucap Yuanita.


“Makanlah!” ujar Yuanita lagi.


Elvan menuangkan nasi panas dalam piringnya dan telur dadar goreng. Ia menyuapkan nasi sama telur dadar menggunakan sendok ke dalam mulutnya.


“Eitsss! Jangan kayak gitu!”


Yuanita menarik sendok yang hampir masuk dalam mulut Elvan.


“Terus?” tanya Elvan heran.


“Pakek ini!”


Yuanita mengangkat jari tangannya.


“Ogah! Gue gak biasa makan cuma pakek tangan doang!” bantah Elvan.


“Sini Gue ajarin.”


Yuanita mengambil nasi hangat dan telur dadar, lalu mencoleknya dengan sambal cabai rawit mentah.


“Buka mulut, Lu!” ujar Yuanita.


Elvan membuka mulutnya. Nasi pun meluncur pada mulut Elvan dari lengan Yuanita.


Ya Tuhan ... Kenapa terasa enak? Padahal cuma telur dadar goreng pakek ulekan cabai doang, ucap dalam hati Elvan.


“Enakkan?” ucap Yuanita.


“Enggak!”


“Masa sih?” ucap Yuanita.


“He’em, gak ada rasa! Lu coba aja sendiri,” jawab Elvan sambil terkekeh.


Yuanita mencobanya, ia mengambil telur dadar miliknya dan mencolekkan sambal lalu memakannya.


“Ada, ah! Enak Kok?” ucap Yuanita.


“Masa, sih? Mana, Gue mau coba rasa lagi?” ucap Elvan mengerjai.


Yuanita kembali menyuapi Elvan.


“Lagi! Belum kerasa,” ucap Elvan lagi.


Yuanita mengernyitkan dahinya. Sialan! Kek nya Gue di kerjain sama si Kucing Garong! Pekik dalam hati Yuanita.


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2