
Hari pertunangan tinggal menunggu esok hari. Harusnya, Yuanita berangkat hari ini ke Bandung. Namun, karena badannya masih belum sehat, ia memutuskan berangkat besok pagi-pagi, karen acara pertunangan akan dilaksanakan malam hari.
Sementara, keluarga Adhitama sudah mempersiapkan semuanya. Dari mulai seserahan yang akan diberikan sampai baju yang akan kompak dikenakan. Wisnu dan Widya berangkat hari ini.
“Van, Mama sama Papa berangkat hari ini. Nanti, Kamu berangkat bareng Yuanita, ya?” ucap Widya.
“Males ah, Mam!” Bantah Elvan.
“Van, jangan gitu! Kemarin aja, mesra-mesraan sama Nita. Kalian lagi ribut, ya?” tanya Wisnu.
“Papa sok tau!” ucap Elvan ketus.
“Biarkan saja, Pa. Kan, dulu juga Kita begitu. Wajar, ada marahan dikit. Biar makin lengket.” Widya tersenyum sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan.
“Ya udah, Iya! Papa, Mama, puas?” ujar Elvan.
“Gitu dong! Baru anak Papa!”
Wisnu menepuk pelan punggung putra satu-satunya itu.
Apa kabar si Markonah, ya? Semalem kan badannya panas. Celetuk hati Elvan.
Drett ... Drett ....
Gawai Elvan bergetar. Ia merogoh saku celana untuk mengambil hand phone yang berada di dalamnya.
“Ferlita?”
Elvan membulatkan matanya.
[Sayang, Aku mau ketemu hari ini juga!] Isi pesan Ferllita.
Elvan langsung meluncur ke kost Ferlita. Karena ia tidak mempunyai banyak waktu hari ini.
Elvan memacu mobil merahnya dengan laju kencang. Karena malam hari ia harus buru-buru menemui Yuanita untuk mengetahui bagaimana keadaannya saat ini.
Ferlita telah menunggu Elvan di pintu kamar kost-nya. Ia seperti singa yang siap menerkam mangsanya ketika melihat Elvan . Benar saja, Elvan baru datang, Ferlita memberikan banyak pertanyaan untuk Elvan.
“Kamu mau tunangan?”
“Sama siapa?”
“Kok gak ada klarifikasi sama Aku?”
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang terlontar dari mulut gadis seksi itu.
“Sabar, Honey. Satu-satu.”
Elvan berusaha santai menghadapi sosok yang seperti singa betina ini.
“Lalu? Coba jelaskan!” ujar Ferlita, galak.
“Aku tidak mengetahui tentang perjodohan ini, Honey. Tenanglah, ia sangat cupu! Berbeda dengan Kamu, Honey. Kamu pacar yang seksi buatku. Tidak ada yang lebih seksi dari Kamu,” rayu Elvan.
“Terus, bagaimana dengan Aku?” tanya Ferlita mulai manja lagi karena termakan dengan rayuan Elvan.
“Kamu akan tetap jadi pacarku, kalau Kamu mau.”
“Tapi, bagaimana dengan Dia?”
“Kalau Kamu bersedia jadi pacar Aku, why not? Aku akan memberikan apa yang Kamu inginkan seperti biasanya.”
Elvan mengedipkan satu mata genitnya.
Hening.
Ferlita sedang menimbang tentang tawaran yang Elvan berikan padanya.
“Baiklah, Aku mau.”
Ferlita mulai memeluk manja kekasihnya itu.
Drett ... Drett ....
Gawai Elvan kembali bergetar. Ia merogoh gawai yang ada di dalamnya.
“Siapa yang WA?” tanya Ferlita sambil mendelik melihat ke layar hand phone dengan penuh selidik.
Pesan baru RIZAL.
Untung Gue udah ganti nama si Stella, aman! Celetuk hati Elvan.
“Oh, ternyata temen cowoknya Kamu. Ya udah, Aku mau ambil air minum untukmu ya, Sayang.” Ferlita masuk ke dalam kost-nya.
[Sayang, temui Aku sekarang!] Isi dalam pesan.
“Waduh! Kenapa masalah kek gini, cewek-cewek sensitif banget, ya? Pada tau semuanya!” gumam Elvan.
“Kenapa, Sayang?”
Ferlita membawa satu gelas orange jus dan menyerahkannya pada Elvan.
“Gak papa, Sayang. Cuma ada masalah sedikit dengan Rizal. Aku disuruh ke rumahnya. Gak papa Aku tinggal, ya? Masalah Kita udah kelar, kan?” tanya Elvan.
“Iya. Gak ada masalah kok, Sayang. Ya udah, hati-hati, ya?” ucap Ferlita.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Elvan langsung meluncur ke kost Stella yang telah menantinya.
***
Waktu telah menunjukkan pukul satu siang. Elvan mesti pontang-panting menemui dan menjelaskan ke pacar-pacarnya tentang perjodohan ini.
Jalanan begitu macet, Elvan masih terjebak dalam kemacetan itu. Beberapa kali gawainya terus bergetar karena Elvan belum juga datang.
Elvan melihat gawai yang ia simpan di atas dashboard mobilnya. Matanya membulat ketika ia membuka hand phone ada puluhan notifikasi panggilan tak terjawab dari Stella. Elvan memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Ia menyentuh layar gawai dan mencari nama Stella yang ia rubah menjadi nama Rizal.
[Sayang, Kamu di mana?] Stella langsung bertanya tentang keberadaan Elvan.
[Di jalan, Sayang. Masih macet.]
[Aku gak percaya, coba video call!] Pinta Stella.
Elvan mematikan hand phone-nya dan mengganti panggilan telepon menjadi video call.
Elvan melambaikan tangan ketika sudah terlihat gambar Stella dalam gawainya. Ia memperlihatkan kemacetan jalanan di siang hari ini.
[Tuh ... Aku gak bohong, kan?] ujar Elvan.
[Hihihi ....] Stella tersenyum malu, [Ya udah, hati-hati di jalan, ya?] ujar Stella lagi yang menahan rasa malu karena telah salah sangka.
Elvan kembali melajutkan perjalanan ke kost Stella. Selang satu jam. Elvan telah tiba di kost-nya Stella.
Ia disambut mesra oleh Stella yang tak lain kekasih simpanannya juga. Stella mendekat dan langsung memeluk kekasihnya itu.
“Sayang, Aku denger kabar, kalau Kamu mau tunangan?” tanya Stella menodong.
“Itu yang mau Aku jelaskan. Aku dipaksa oleh orang tuaku untuk dijodohkan dengan gadis cupu, Yank.”
“Teus, nasib hubungan Kita gimana? Aku gak mau berpisah dari kamu, Sayang!”
Stella menggelayut manja.
“Kalau kamu mau, kita masih bisa seperti ini. kamu masih bisa Shopping seperti biasanya dengan uangku.”
“Yang bener?”
Elvan menganggukkan kepala dan tersenyum pada Stella. Buka Elvan namanya kalau tidak bisa menaklukkan cewek yang lagi ngambek.
Kini, Stella telah berubah sikap seperti biasanya. Ia terlihat agresif. Mungkin, agar Elvan tidak terlepas dari genggamannya. Karena, Elvan merupakan ladang uang baginya.
“Sebentar, Sayang,” ucap Stella yang masuk dalam kost-nya.
Stella berganti baju dengan yang lebih seksi agar Elvan semakin tergoda kepadanya. Stella dandan dengan sangat cantik, berharap Elvan semakin tergila-gila padanya.
Stella ke luar dari dalam kamarnya. Ia melenggang dengan baju yang seksi dan wajah yang telah dipoles make up dengan cantik.
Elvan mendekat dan membelai lembut tubuh seksi itu.
Drett ... Drett ....
Gawainya kembali bergetar. Elvan tidak menghiraukan. Namun, berulang kali gawainya bergetar bahkan terus bergetar dalam saku celananya.
Siapa, sih? Ganggu Gue aja! Pekik dalam hati.
Elvan menghentikan belaiannya pada Stella karena gawai yang terus bergetar sangat lah mengganggunya.
“Kenapa, Sayang?” ucap Stella yang sedang berada dalam dekapan Elvan.
“Sebentar, Sayang.”
Elvan ke luar dari kamar Stella. Ia mengangkat telepon dari Chika. Karena Elvan terlalu lama mengangkat telepon, akhirnya Chika pun merajuk. Maklum, di antara ketiga pacar Elvan. Chika merupakan wanita yang paling muda, jadi ia lebih manja seperti anak SMA.
Hati Elvan memanas, karena Chika mencaci maki Elvan dalam telepon. Elvan dikatakan laki-laki yang telah merebut kesuciannya. Padahal Elvan tidak melakukan hal sampai sejauh itu. Hal itu yang menyebabkan ia menjadi emosi. Terlebih, Chika mengatakan ia sudah telat dua bulan.
Perdebatan pun terjadi dalam telepon yang berujung kekesalan pada Elvan. Elvan memutuskan hubungan dengan Chika dan menutup teleponnya.
Stella menghampiri Elvan. Wajah Elvan yang memerah, menggambarkan emosinya saat ini.
“Kenapa, Sayang?”
Stella membelai wajah Elvan lembut.
Belaian lembut dari Stella tak dapat mencairkan hati Elvan yang sedang emosi saat itu.
“Gak papa, Aku balik dulu, ya?”
Wajah Elvan memerah menahan marah.
“O ... Oke!” jawab Stella dengan sedikit terbata.
***
Dalam perjalanannya, Elvan terus menggerutu. Tak terima apabila ia dikatakan laki-laki seperti itu.
“Gue memang bajing*n! Tapi, selama ini Gue tidak pernah sampai melakukan hubungan badan dengan semua cewek-cewek Gue!”
Elvan yang tumbuh dengan terlalu dimanja, menjadikan dirinya sosok yang tidak bertanggung jawab. Dengan uang, ia merasa bisa membeli segalanya. Terlebih dengan ketiga pacarnya yang sedari awal mengusung Ajas simbiosis mutualisme.
.
Elvan merebahkan tubuhnya di atas ranjang besarnya. Napasnya kencang tak teratur karena marah.
__ADS_1
Jam telah menunjukkan pukul lima sore. Elvan baru ingat kalau ia harus menemui Yuanita. Ia langsung pergi mandi dan mengganti bajunya.
Lemari besar telah ia buka lebar. Elvan hendak mengambil baju. Tapi, ia merasa bingung untuk memilihnya.
“Kemeja? Gak, lah!”
Elvan melempar kemeja itu ke atas ranjang.
“Kaos? Warna apa yang cocok Gue pakai?”
Elvan sejenak berdiri di depan lemari, “Kenapa gue jadi ngedadak heboh, sih? Padahal, gue cuma mau ketemu si Markonah doang.”
Akhirnya, Elvan memutuskan memakai celana jeans dan kaos berwarna putih yang ia dobel dengan sweater karena hari sudah mulai petang. Ia memacu mobil merahnya melaju ke arah kost yang sederhana di depan kost mantan kekasihnya yang baru saja ia putuskan.
'SRET!'
Elvan mengerem mobilnya tepat di depan kios penjual bunga.
Elvan turun dari dalam mobil dan memilih satu buket bunga mawar yang berwarna putih.
“Yang ini, Mbak.”
Elvan menunjuk pada mawar yang telah dirangkai dengan indah.
“Cantik sekali, pasti ini hadiah untuk wanita yang cantik juga ya, Mas?” ucap si penjual bunga.
Elvan tersenyun.
Dalam hatinya berkata, ‘Sotoy!’
Elvan masuk ke dalam mobil bersama satu buket mawar putih yang telah ia beli. Starter ia nyalakan, terdengar bunyi mesin mobil yang menyala. Ia melamun sejenak ketika ia akan mengemudikan mobil.
“Kenapa gue beli bunga, sih? Dasar bodoh! Kenapa juga gue mesti romantis sama si Markonah?”
Elvan menggerutu kecil dalam mobil.
Akhirnya, bunga mawar putih yang cantik itu ia lempar ke kursi belakang. Elvan kembali memacu mobil merahnya ke kost Yuanita.
***
“Mas Ganteng?” sapa Gendis yang kebetulan baru masuk ke pintu gerbang kost-nya.
“Gendis? Dari mana, Lu?” tanya Elvan.
“Aku dari warung, Mas. Mas mau ketemu Yuanita, ya?” tanya Gendis dengan polosnya.
Elvan tersenyum, “Iya, Gue ada perlu sama dia, Dis! Udah sembuh belum si Markonah?”
“Udah sehat kok. Tuh, orangnya mau packing baju, katanya mau berangkat malam ini juga, tapi ....” ucapan Gendis terpotong.
“Tapi kenapa, Dis?” tanya Elvan mengernyitkan dahi.
“Sebenarnya ... Gendis mau ikut Mas, tapi Gendis gak punya uang untuk naik bus-nya. Yuanita mau bayarin, tapi Gendis malu. Gendis jadi galau deh.” Curhatan Gendis ketika di halaman kost dengan begitu bayanak kata tapi yang terlontar dari bibirnya.
“Ya udah, kalian ikut gue aja. Gimana?”
“Waahhh ... Tenanan iki, Mas? (Beneran ini, Mas?)” Sorot mata Gendis bahagia.
“Iya!”
Gendis tersenyum semringah, karena ia dapat menyaksikan pertunangan sahabatnya. Elvan juga tidak jadi malu, karena ia tidak usah repot membujuk Yuanita, karena Gendis yang akan beraksi membujuknya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Gendis mengetuk pintu kamar Yuanita.
“Masuk,” ucap Yuanita dari dalam kamar.
“Gendis? Ayok, katanya mau ikut. Kita hampir telat ini. Mana ini Bus yang terakhir lagi,” ucap Yuanita lagi.
“Kita berangkat bareng Mas Elvan aja, yuk?” Ajak Gendis.
“What? Sama si Kucing Garong? Moh! (ogah!)” bantah Yuanita.
“Iya, paling enggak sampai terminal deh, Aku males nenteng tas gede banget.” Gendis beralasan.
Hening.
“Ayolah, Nit. Nanti, kita telat lagi,” ujar Gendis.
“Oke! Gue ngikutin, Lu!”
Tak banyak bicara, Gendis dan Yuanita masuk ke dalam mobil berwarna merah itu. Elvan telah menyembunyikan buket bunga mawar putih itu ke bawah kursi belakang mobil.
Setelah sampai terminal, ternyata mobil sudah berangkat satu jam yang lalu. Ternyata, Yuanita salah mengecek jadwal pemberangkatan.
“Aduh! Mana ini pemberangkatan terakhir lagi!” Pekik Yuanita kesal.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1