
Rani mengusap lembut rambut putrinya yang terurai panjang. Ia menatap lekat netra putrinya yang berada di balik kaca mata.
“Kami melakukan yang terbaik, Nak! Karena Mama dan Papa yakin, kamu akan bahagia hidup di tengah keluarga Adhitama.” Pungkas mamanya.
Dengan berat hati, Yuanita pun berjalan ke ruang tamu. Di mana sudah ada calon mertuanya yang telah menunggunya sejak tadi.
Widya, yang tak lain calon mertuanya tersenyum, melihat gadis cantik yang berjalan dengan didampingi oleh Ibunya.
Yuanita membalas senyuman, “Malam, Tante.” Yuanita mencium tangan Widia.
“Ya Allah ... cantik banget calon menantuku.” Widya mengusap lembut pipi Yuanita sambil tersenyum sumringah.
“Makasih, Tan.”
Yuanita tersenyum dan tertunduk malu.
Dalam hati Yuanita berkecamuk. Ia harus berbuat apa dengan kejadian ini. Menerima dengan lapang dada? ataukah membangkang perintah dari orang tua?
Semuanya telah berkumpul di rumah mewah itu. Pertemuan pengusaha besar dari Kota yang berbeda, antara keluarga Adhitama dan Yudistira.
“Gimana? kita tentukan kapan tanggal pernikahannya?” ucap Wisnu, yang tak lain calon mertua Yuanita.
Mata Yuanita mendelik. Yuanita menarik lengan Papanya dan berbisik kecil, “Pa, kok langsung menentukan tanggal pernikahan? Nita belum siap!”
Doni/Papa Yuanita tersenyum, “Sebentar ya, Nu. Saya mau bicara dengan Putri saya.”
“Terus, maunya gimana?” bisik Doni kepada Yuanita.
“Tunangan dulu, kek! Kan, belum tentu juga kita cocok, nantinya,” ucap Yuanita kembali berbisik.
Hening beberapa saat.
“Nu, gimana kalau Kita melakukan prosesi pertunangan dulu buat Anak Kita?”
Doni mengajukan pendapatnya.
“Ya udah. Kapan waktunya? Kami minta waktu malam ini juga, karena besok harus kembali pulang.” Tegas Wisnu.
Akhirnya, Doni dan Rani berunding, menentukan waktu untuk pertunangan anak mereka.
“Gimana kalau bulan depan?” ucap Doni.
“Kelamaan, Don! Dua mingguan lagi aja, ya?” Wisnu mempercepat waktunya.
Hening.
Doni dan Rani sedang mempertimbangkan.
“Oke!”
Akhirnya, kesepakatan tentang waktu pertunangan pun terjadi dua minggu lagi. Yuanita bingung dengan keadaan ini. Namun, ia merupakan tipikal anak yang baik. Dalam hatinya, Ridho Illahi, adalah Ridho orang tua.
Wisnu dan Widya telah pulang. Yuanita pun, masuk ke dalam kamar dengan langkah yang gontai. Entah apa yang dirasakan Yuanita saat ini.
Yuanita menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan memeluk boneka beruang kesayangannya. Air matanya tertumpah, tatkala mengingat keputusan yang telah diambil orang tuanya untuk pertunangan dirinya bersama laki-laki yang tak ia kenal.
Isak tangis tak dapat ia tahan ketika ia memejamkan mata. Ia menangis masih pada malam itu, dengan memeluk boneka kesayangannya.
“Kenapa harus seperti ini, Tuhan? Apakah Aku tidak berhak menjalani hidupku sendiri? Kenapa orang tuaku mesti ikut campur dengan perjodohan ini?”
Yuanita terus menangis dalam waktu yang lama, hingga ia tak sadar kalau dirinya kini benar-benar tertidur di malam itu.
***
Elvan yang berada di Surabaya telah di selimuti dengan rasa rindu. Walau ia jalan dengan Stella, Ferlita, bahkan dengan Chika. Tak memberikannya kenyamanan. Ia tetap gelisah dan teringat akan Yuanita si gadis cupu berkaca mata.
Drett ... Drett ....
[Van, Kita lagi nongkrong di Cafe tempat biasa. Lu ke mari lah!]
Isi pesan dari Rizal.
Elvan tak membalas, tapi ia langsung melesat dengan mobil merahnya ke tempat di mana kawannya telah berkumpul.
“Woy!”
Elvan melambaikan tangan ketika Rizal menoleh.
“Kirain, gak jadi datang, Bro!”
Elvan menepuk lengan Elvan dan berjabat tangan layaknya seorang laki-laki.
Elvan duduk bersama Rizal dan Bobi yang sedari tadi berada di Cafe itu.
Cahaya penerangan Cafe yang tidak terlalu terang dan music selow yang diputar memberikan sensasi damai pada diri Elvan yang sedang tidak karuan.
“Van, gimana kabar si Cupu? Lu udah dapetin dia belum?” tanya Rizal.
__ADS_1
Elvan menggelengkan kepala.
“Heran Gue, kok lama dapetin si Cupu? Kalau cewek seksi aja cepet, Lu taklukin!” ucap Bobi.
“Udahlah, Van! Lu ngaku kalah, aja!” ucap Rizal.
“Gak! Sampai kapan pun, Elvan Syahreza Adhitama tidak akan pernah kalah!” Tegas Elvan.
Rizal dan Bobi tersenyum.
.
Tak terasa, sudah tiga hari Yuanita berada di Kota Bandung. Kini, ia kembali ke Surabaya untuk kembali melaksanakan kuliah.
Yuanita mengemas kembali baju-baju dan membawa sedikit buah tangan untuk Gendis, sahabtanya. Ia berangkat menggunakan travel. Sekitar jam dua dini hari, Yuanita telah sampai di kost-nya di Kota Surabaya.
Ia membuka kunci pintu kost dan kembali membenamkan tubuhnya ke ranjang kecilnya di kost-an. Yuanita tertidur.
Yuanita pergi ke kamar mandi setelah gawai miliknya telah bergetar.
“Ndis,” ucap Yuanita sambil mengetuk pintu kamar Gendis.
'CKLEK!' pintu dibuka.
“Nitaaaaa ....”
Gendis memeluk erat sahabatnya.
“Aku kangen, tau!” ucap Gendis yang masih memeluk Yuanita.
“Sama, Ndis. Gue juga kangen. Sorry, waktu lalu gue balik gak kasih kabar ke lu. Gue lupa.” Yuanita terkekeh.
“Iya, ndak papa, yang penting kamu udah baik lagi. Aku seneng, Nit!” ujar Gendis dengan mata berbinar.
“Oh, iya. Ini sedikit oleh-oleh dari Bandung.” Yuanita menyerahkan paper bag kecil untuk Gendis.
“Owalah ... Malah ngerepotin, makasih, yo?” ucap Gendis meraih lalu meraih paper bag yang dibawa oleh Yuanita.
Yuanita tersenyum.
***
“Van, dalam beberapa hari ke depan, Papa sudah merencanakan pertunangan Kamu dengan anak sahabat Papa!” tegas papanya Elvan.
“What? Elvan gak mau, Pa! Elvan masih mau kuliah,” Elvan beralibi.
“Tapi kan, Elvan sudah punya pacar, Pa!” Elvan terus beralibi.
“Siapa? Stella? Ferlita? Atau Chika? Papa enggak setuju kamu dengan mereka!” Tegas Papanya.
Waduh, kok si Papa tau nama mereka? umpat dalam hati Elvan.
“Bukan mereka! Dia wanita yang cantik. Pasti, Papa sama Mama suka sama dia,” ucap Elvan.
“Plisss, Pa! Kasih kesempatan Elvan buat ngenalin dia pada Papa dan Mama.” Pinta Elvan memohon.
Hening.
Keadaan tegang, ketika Elvan mengajukan permohonan pada orang tuanya. Sebenarnya, Elvan juga ragu dengan pendapatnya. Ia sendiri bingung harus dengan siapa ia berpura-pura menjalin kasih. Karena memang tiada wanita lain, selain dari mereka bertiga yang tadi disebutkan oleh Papanya.
“Ya udah, Pa. Kasih kesempatan buat Elvan untuk mengenalkan kekasihnya sama Kita,” ucap mamanya.
“Oke! Besok, kamu bawa pacarmu ke mari. Karena sudah tidak ada waktu lagi.”
Elvan berangkat ke kampus, dengan langkah yang gontai setelah perdebatan sengit dengan Papanya.
“Sial! Gue dapat pacar pura-pura dari mana?” Elvan menggerutu dalam mobil.
Sesampainya di kampus. Elvan langsung meminta bantuan pada Bobi dan Rizal untuk mencari perempuan yang mau dijadikan pacar pura-pura untuknya, setelah Elvan menceritakan perkara perjodohan kepada dua sahabatnya itu.
.
Sepulang kampus, ada sekitar lima belas wanita cantik yang mau mendaftar untuk menjadi pacar pura-pura Elvan.
Namun, tidak ada satu pun yang masuk dalam kriteria Elvan.
“Gue nyerah, Bro! tadi ada lima belas cewek cantik, masa gak ada di kriteria Lu, sih?” ucap Rizal.
“Iya, Van. Gue juga nyerah kalau gini caranya!” Bobi pun mengeluh.
Akhirnya, Rizal dan Bobi memilih pulang meninggalkan Elvan di kampus. Elvan tengah bingung dengan keadaan ini.
Yuanita melintas di hadapan Elvan. Mata Elvan tertuju pada Yuanita.
Kalau Gue permak si Cupu, keknya cantik juga dia! Terbesit dalam lamunan Elvan.
“Markonah!”
__ADS_1
Elvan melambaikan tangan.
Yuanita mendelik.
Elvan berlari ke arah Yuanita.
“Mau apa, Lu?” tanya Yuanita.
“Gue ada perlu sama, Lu! Gendis, Lu balik duluan, ya? Nanti Gue yang anter si Markonah,” ucap Elvan.
“Oke!” jawab Gendis singkat.
“E ... Tunggu dulu! Enak aja! Gendis ikut Gue!” ucap Yuanita.
“Aduh, Nit. Maaf, Aku keburu-buru ada perlu. Aku duluan, ya? Bye!” Gendis berlalu pergi.
“Lah ... Gue ditinggal. Ini semua gara-gara Lu, Kucing garong!” Pekik Yuanita.
“Udah, Ayok!” ucap Elvan.
Elvan menarik lengan Yuanita berlalu pergi dari kampus. Elvan membukakan pintu mobilnya dan mereka melesat ke sebuah toko baju di pusat perbelanjaan.
“Sebenarnya, Lu mau apa, sih?” tanya Yuanita tanpa memandang wajah Elvan.
'SRETT!' Mobil direm.
Mata Elvan memandang Yuanita. Hening.
Yuanita menoleh ketika beberapa menit tidak ada jawaban dari Elvan. Bahkan, mobilnya berhenti di pinggir jalan.
Yuanita melihat netra Elvan yang sedang menatap wajahnya. Dalam mobil merah ini, terjadilah adu pandang. Antara bola mata yang berwarna coklat dan hitam yang telah beradu.
“Lu mau ngapain?” ucap Yuanita.
“Gue mau, lu jadi pacar pura-pura gue,” ucap Elvan.
“What?”
Yuanita terkekeh mendengar permintaan Elvan yang ia anggap konyol.
“Gue serius!”
Elvan menangkup kedua pipi Yuanita dan memandang netranya lekat.
Hening.
Mereka masih saling pandang.
“Kenapa mesti gue?”
Yuanita menelan ludah ketika sepasang netra coklat itu telah menatap tajam matanya.
“Karena, ketiga pacar gue gak ada yang dapat restu dari orang tua Gue,” ucap Elvan masih memandang netra Yuanita.
Pikiran Yuanita pun melayang. Gimana kalau hal itu juga yang ia lakukan kepada orang tuanya? Ucap dalam hati.
“Oke! Gue mau, tapi dengan satu syarat!” Pinta Yuanita.
“Apa?”
“Lu juga harus mau bertemu dengan orang tua gue nanti. Gue juga maunya kuliah bukan kawin!”
Terlihat wajah kesal dari Yuanita.
“Hahaha ... Lu di suruh kawin?”
Elvan tertawa terpingkal-pingkal dalam mobilnya.
Yuanita mengangguk.
“Oke! Simbiosis mutualisme, ya?”
Elvan menjulurkan tangannya, mereka berjabat tangan.
***
Elvan mengajak Yuanita ke Mall untuk membeli gaun yang cantik. Tak lupa Elvan membelikan sepatu dan tas untuk menopang penampilan Yuanita yang cupu. Kaca mata pun Elvan ganti dengan bentuk yang lebih modis.
Mereka melanjutkan pergi ke salon untuk make over penampilan Yuanita. Selang dua jam, akhirnya Yuanita ke luar dari dalam salon dengan penampilan yang baru.
Yuanita tampil dengan make up natural, rambut yang dipotong lebih modis. Ia mengenakan mini dres warna salem yang menambahkan kesan feminin namun tetap elegan. Sepatu high heels dan tas kecil yang senada dengan warna dres yang ia pakai. Sedikit perubahan juga pada model kaca mata yang ia pakai saat ini.
Oh My God! Markonah? Dengan penampilan sekarang, Lu bertambah cantik walau masih mengenakan kaca mata, Lu terlihat makin cantik! umpat dalam hati Elvan.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁