Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 4 ( Debar Di Hati Elvan )


__ADS_3

Tak mau kalah, Yuanita mengerjai Elvan. Yuanita mengambil banyak sambal dan menyuapkannya pada mulut Elvan.


“*****! Pedes banget, Markonah!”


Ekspresi Elvan membuat Yuanita tertawa.


“Hahaha ... sukurin! Lu juga ngerjain Gue, kan? Satu sama!” Yuanita mendelik kesal.


Cepat-cepat Elvan mengambil air minum, masuk ke dalam dapur tanpa permisi. Dengan cepat, ia menuangkan air dalam gelas dari dispenser.


“Ih! Lu masuk tanpa ijin, Kucing!”


Yuanita menarik lengan Elvan untuk segera keluar dari dalam kost-nya.


Namun, tenaga Elvan jauh lebih kuat darinya. Ia tidak merasakan tarikan lengan gadis itu. Elvan tetap santai minum dalam gelasnya.


Yuanita tidak menyerah. Ia terus berusaha menarik lengan pria jangkung itu. Elvan menghempaskan lengannya, hampir saja Yuanita terjatuh. Namun, dengan cepat Elvan menahan tubuh Yuanita. Sehingga, Yuanita ada dalam rengkuhannya.


Netra mereka tengah beradu pandang. Elvan melihat jelas mata indah berwarna hitam pekat. Mungkin, karena Yuanita berasal dari Bandung/Suku Sunda, yang mayoritas mempunyai bola mata berwarna hitam. Berbeda dengan Elvan dari Surabaya/Suku Jawa yang mayoritas mempunyai mata berwarna coklat.


Debar di hati Elvan kian mendera. Detak jantung yang semakin kencang ketika menatap indah warna hitam pada bola mata Yuanita.


“Lepasin!” ucap Yuanita, yang membuyarkan rasa di dada Elvan yang berdeguk kencang.


Elvan segera melepaskan lengannya.


“Dasar, Kucing Garong! Nyari kesempatan aja Lu, bisanya!” ucap Yuanita.


“Siapa? Gue?” tanya Elvan sambil menunjuk jari telunjuknya ke wajahnya sendiri.


“He’em!”


Yuanita mengangguk.


“NAJISSS!” ucap Elvan sambil menggetok kepalanya pelan.


“Eh ... ojo ngono Mas Elvan, mengko dadi tresno karo Mbak Nita. (jangan gitu Mas Elvan, nanti jadi cinta sama Mbak Nita.)”


Goda Gendis yang baru masuk ke dalam kost Yuanita.


“KITA? JATUH CINTA? OGAH!” ucap Yuanita dan Elvan berbarengan.


“Tuh, kan. COCOK! Kalian berjodoh iku. (itu.)” sambung Gendis.


“AMIT-AMIT!!!” Yuanita dan Elvan menggetok pelan kepalanya masing-masing.


Gendis tertawa melihat Yuanita dan Elvan yang sedari tadi seperti kucing dan tikus.


Terlihat ekspresi wajah Elvan dan Yuanita saling bertatap sengit ketika netra mereka saling beradu pandang.


Gendis kembali ke luar kost untuk sarapan sebelum pergi ke kampus. Dengan santai, Gendis makan sambil menonton ekspresi kesal pada wajah Yuanita dan Elvan.


***


Yuanita dan Gendis pergi ke kampus diantar Elvan. Yuanita duduk di samping Elvan, sedangkan Gendis duduk di kursi belakang.


Gendis memperhatikan wajah Elvan dan Yuanita yang sama-sama tengah cemberut. Akhirnya, Elvan dan Yuanita tersadar ada orang yang memperhatikan mereka ketika melihat dari kaca spion yang ada dalam mobil.


“APA LO, SENYUM-SENYUM? GUE LIAT LU, GENDIS!” Lagi-lagi, ucapan Elvan dan Yuanita berbarengan.


Gendis hanya tersenyum melihat tingkah konyol mereka.


Setelah hening di perjalanan. Tiba juga di depan gerbang kampus. Yuanita dan Gendis turun dari mobil mewah itu. Sedangkan Elvan, memilih tidak masuk kampus karena ia belum mandi dan tidak membawa baju ganti.


“Makasih ya, Mas ganteng!” ucap Gendis.


“Yups!” ucap Elvan yang masih berada dalam mobil.


“Lu, gak ngucapin kek temen Lu yang tau terima kasih, gitu?” Elvan memainkan alisnya.


Gendis menyenggol lengan Yuanita, “Ayok bilang makasih, Nit!” ucap Gendis.


“Makasih!” ucap Yuanita kesal sambil mendelik.


“Gitu dong, jadi anak yang tau terima kasih. Bye, Markonah!”


Elvan tancap gas dan berlalu pergi.


“Iiiihhh! Tu orang ngeselin banget, sih! Mau Gue pites tuh Orang!” ucap Yuanita sambil mengepalkan kedua lengannya.

__ADS_1


“Haha ... Udah, ayok masuk kelas!” Ajak Gendis.


Gendis dan Yuanita berjalan melewati koridor kampus. Di sana telah terlihat kakak kelas rese mereka yang bernama Rizal dan Bobi. Mereka telah berdiri di samping pintu kelas.


"Hai, Cupu!" Ledek Bobi.


"Apa, Lu?" Yuanita mendelik.


"Wihhhh! Galaknya, Dia! hahaha ...."


Tawa Bobi pecah di depan mata Rizal.


Rizal tersenyum.


.


Dalam mobil. Elvan mengendarai sambil senyum-senyum, karena ia tidak menyangka bakal lama bertatap mata dengan Yuanita.


Sebenarnya si Markonah itu cantik, badannya juga bagus. Tapi, penampilannya itu yang norak banget! Tapi, kenapa Gue terus ke pikiran Dia mulu, sih? Apa Gue jatuh cinta sama Dia? Atau Gue hanya ingin menang dari pertaruhan Rizal dan Bobi doang? Gumam dalam hati Elvan.


Mobil terus melaju ke arah rumah mewah Elvan. Ia memasukkan mobil dalam halaman rumah megahnya dan masuk ke dalam rumah mewah itu.


Ia berjalan gontai melangkahkan kaki menaiki anak tangga. Di rumah sepi, karena papa dan mamanya masih ada urusan di luar kota.


Elvan membuak handle pintu kamar dan melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Ia berendam air hangat yang berada dalam betap. Merasakan relaksasi dalam rendaman air hangat dan semburan air ketika ia menyalakan shower.


Elvan membersihkan diri setelah beberapa menit berendam dalam air hangat dan langsung memakai handuk kimono. Ia melangkahkan kaki dan membuka lemari pakaiannya untuk mengambil baju dan celana.


Elvan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang yang besar. Ia menghela napas panjang dan mengeluarkannya pelan. Elvan menutup matanya. Namun, lagi-lagi mata hitam Yuanita terus menghantuinya.


“Ya Tuhan! Gue kenapa, sih?” ucap Elvan yang masih berbaring.


Drett ... Drett ....


Hand phone Elvan bergetar di atas nakas. Ia mengambil dan menggeser layar dari benda kecil berbentuk persegi panjang itu.


Rizal calling ....


Tulisan yang terdapat dari layar hp-nya.


[Iya, Hallo! Ada apa, Bro?] jawab Elvan dalam telepon.


[Kenapa Lu gak masuk kampus? Lu sakit, Van?] tanya Rizal yang mengkhawatirkan.


[Kirain, Lu sakit. Oke deh! Kita masuk kelas dulu, bye.] Pungkas Rizal.


Tut!


Hand phone dimatikan. Berakhir sudah perbincangan melalui hand phone.


***


Lagi-lagi, Elvan tersenyum ketika mengingat Yuanita. Gadis cupu berkaca mata yang dapat menggetarkan hatinya.


Drett ... Drett ....


Lamunan Elvan buyar ketika gawai yang tersimpan di atas nakas telah bergetar.


“Stella?”


Elvan membuka layar gawai miliknya dan membaca pesan dari Stella.


Dalam pesannya. Stella mengajak Elvan untuk menemaninya ke pesta ulang tahun sahabatnya.


Tanpa pikir panjang, Elvan langsung meng-IYA kan ajakan dari Stella.


.


“Ndis, Gue males ah! ikut ke pesta ulang tahun,” ucap Yuanita.


“Loh ... kenapa, Nit? Aku malu kalau ke sana sendirian. Aku takut diculik!” ucap Gendis.


“Siapa yang mau nyulik Lu, Ndis? Mereka gak bakal minat nyulik Lu! Secara, Lu makannya banyak haha ....” Yuanita tertawa.


“Ish! tego Kowe, Nit! (tega Kamu, Nit!)” ucap Gendis dengan bibir yang meruncing.


Mata Yuanita mendelik melihat bibir temannya yang tambah mancung beberapa centi.


Yuanita tersenyum, “Ya udah, Gue mau ikut, jangan monyong lagi tuh bibir. Nanti Gue setrika, mau?” ucap Yuanita.

__ADS_1


“Ra popo lah! (gak papa lah!) Sing (yang) penting di setrikanya pakek lipstik jangan pakai setrikaan baju haha ....” Gendis terlihat bahagia.


.


Acara di lakukan pada malam hari.


Sehabis azan magrib, Gendis telah bersiap dengan perlatan tempurnya (make up). Ia memoles pipinya menjadi merah merona. Bibirnya dipoles dengan lipstik warna nude dan telah siap dengan gaun yang cantik.


Tok ... Tok ... Tok ....


Gendis mengetuk pintu kamar Yuanita.


“Masuk!”


Terdengar suara Yuanita dalam kamarnya.


Gendis membuka handle pintu dan mendorongnya ke dalam. Di sana terlihat, Yuanita yang sedang tiduran tengkurap sambil membaca buku.


“Ya Allah, Nit! Kamu belum siap-siap sama sekali?” Mata Gendis membulat.


“Kata siapa? Ayok berangkat!” ucap Yuanita.


Dahi Gendis mengernyit ketika melihat penampilan Yuanita, memakai kemeja warna putih dengan ukuran yang besar dan memakai celana kain yang agak besar. Sungguh! Penampilan Yuanita malam ini tampak norak abis!


Gendis menarik lengan Yuanita masuk ke dalam kamarnya. Tak banyak bicara, Gendis langsung mengeluarkan peralatan tempurnya yang berupa banyak macam make up.


“Kamu duduk, Nit!”


Gendis menyuruh Yuanita duduk di kursi meja rias milik Gendis.


Yuanita pun duduk manis.


“Lu mau ngapain, Ndis?” ucap Yuanita dengan mata mendelik.


“Udah, Kamu diam aja, Nit! Aku mau sulap Kamu makin cantik dari saat ini," ucap Gendis.


Gendis memang piawai memoles wajah. Karena, ia pernah ikut kursus merias di kampungnya dulu.


Gendis mulai memoles wajah Yuanita. Dengan cekatan, Gendis memoles pipi, bibir, dan hidung agar terlihat semakin cantik.


.


Yuanita di hias dengan posisi membelakangi kaca. Wajah Yuanita kini tampil sangat cantik. Kaca matanya di ambil Gendis. Gendis menggantikan dengan soft lens miliknya, kebetulan minus mata mereka satu ukuran.


“Nih, pakek!”


Gendis menyodorkan soft lens untuk Yuanita.


“Gue gak bisa makeknya!” bantah Yuanita.


Akhirnya, Gendis mengajari Yuanita cara memakai soft lens yang berwarna hitam, sama dengan warna mata Yuanita.


“Gimana? Udah jelas?” tanya Gendis.


Yuanita membuka mata, “ Iya, udah. Enak juga ya, Ndis! Gak ribet, seperti pakek kaca mata,” ucap Yuanita sambil mengedip-ngedipkan matanya.


Gendis kembali menata rambut panjang Yuanita. Kini, rambut Yuanita di gerai dengan sedikit sentuhan curly pada ujung rambutnya. Semakin manis ketika menyematkan jepit kecil berbentuk kupu-kupu.


Gendis juga meminjamkan gaunnya untuk Yuanita. Gendis memberikan gaun pendek berwarna pink baby yang menambah kesan girly.


“Tarraaa ... Sambutlah Dia, Princess Yuanita!” Gendis menghadapkan tubuh Yuanita ke depan cermin.


Yuanita tidak mengira. Penampilannya kini menjadi cantik bahkan teramat cantik. Kecantikan ini baru ia lihat saat ini.


“Cantikkan?” ucap Gendis.


Yuanita tersenyum, “Maksih, ya, Ndis!” Yuanita memeluk Gendis.


“Sama-sama, Cantik! Ayok, Kita berangkat! Nanti Kita telat sampai di pestanya.”


Kaki mereka melangkah ke depan pintu gerbang. Di sana telah ada mobil taksi online yang telah menunggu mereka.


.


Tibalah mereka di sebuah pesta yang bertema garden party. Terlihat banyak bangku dan meja dari kayu yang mengangkat tema alam. Banyak pohon pinus yang menjulang tinggi dan banyak lampu-lampu yang menerangi malam pada tempat itu.


Banyak orang di sana. Banyak perempuan cantik mengenakan dres/gaun pesta dan laki-laki yang terlihat tampan ketika mengenakan stelan jas atau yang hanya mengenakan kemeja slim fit/pas badan.


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2