
Yuanita pulang ke rumah Elvan. Kedatangannya disambut oleh keluarga Adhitama dan para asisten rumah tangga yang siap untuk membantunya. Sebenarnya, dari pihak keluarga Elvan meminta suster untuk menjaga Yuanita di rumah. Tapi, Yuanita yang menolak dengan alasan mau belajar sendiri.
“Lu mau belajar sendiri atau sebenernya lu mau belajar berjalan sama gue?” bisik Elvan.
Yuanita mendelik, “Apaan sih? Di rumah juga ada asisten rumah tangga 'kan? Gue bisa minta bantuan sama mereka!” sahutnya bernada kecil.
Elvan mendorong kursi roda Yuanita menuju kamar yang berada di lantai dasar, agar mempermudah aksesnya apabila ia ingin ke luar kamar dengan menggunakan kursi roda.
“Ayok!” Ajak Elvan.
“Ngapain?” Dahi Yuanita mengernyit.
“Lingkarin lengan lu ke tengkuk gue!” Pinta Elvan.
“What?” Mata Yuanita membulat.
“Jangan banyak tanya, gue cuma mau bantu pindahin lu ke atas ranjang,” ucap Elvan.
Dengan sedikit ragu, Yuanita melingkarkan tangannya pada tengkuk Elvan. Entah disengaja atau tidak. Kaki Elvan terkilir hingga dirinya terjatuh ke ranjang bersama Yuanita.
Deg!
Detak jantung Yuanita berdegup kencang setelah melihat Elvan ada di atas tubuh Yuanita walau tidak menempel. Hanya saja, sorot mata coklat itu membuat dada Yuanita berdegup semakin kencang.
“Are you oke?” tanya Elvan.
Yuanita mengangguk samar. Matanya hanyut oleh pandangan Elvan.
Elvan bangkit dari ranjang setelah memastikan Yuanita baik-baik saja dan keluar dari dalam kamar yang menyisakan degup jantung yang masih dirasakan oleh Yuanita saat ini.
Ceklek!
Pintu kamar kembali terbuka.
Ada apa lagi sih, Van? Jantung gue masih berdegup kencang karena sorot mata lu! Pekik dalam hati Yuanita.
Ternyata yang masuk kamar bukanlah Elvan, melainkan bi Minah. Asisten rumah tangga di sana.
“Huffff ....”
Yuanita membuang napas, lega.
“Ada yang bisa Bibi bantu, Non?” tanya Minah.
“Enggak, Bi. Makasih,” jawab Yuanita halus.
“Kalau ada perlu jangan sungkan panggil Bibi ya, Non. Bibi selalu siap buat bantu non Nita.” Kerutan di pipi Minah semakin terlihat ketika tersenyum.
“Iya, Bi. Makasih.” Yuanita tersenyum.
Minah mendekat pada Yuanita. Sorot matanya seperti sedang bersedih, matanya berkaca-kaca.
“Bibi kenapa?” tanya Yuanita sambil mengernyitkan keningnya.
“Bibi inget sama almarhumah anak Bibi yang meninggal sewaktu kecil. Kalau saja dia masih hidup. Mungkin seumuran dengan non Nita saat ini.”
Air mata Minah terjun bebas membasahi pipi yang mulai mengendur karena usia.
“Maaf ya, Bi. Kalau dengan adanya Nita di sini malah bikin Bibi sedih,” ucap Yuanita merasa tidak enak.
“Gak papa, Non. Ini bukan salah Non Nita juga. Bibi hanya teringat masa lalu saja. Non, boleh Bibi minta sesuatu sama Non Nita?” ucap Minah walau sedikit ragu.
“Apa, bi?” jawab Yuanita.
“Bibi ingin memeluk non Nita,” ucapnya walau terdengar ragu.
Yuanita membuka lebar kedua tangannya. Minah pun mendekat dan memeluk erat Yuanita. Seketika, rindu yang dari dulu Minah rasakan terasa terobati dengan memeluk Yuanita.
“Makasih, non.”
Minah melepaskan pelukannya.
Yuanita tersenyum, “sama-sama, Bi.”
***
Hari ini merupakan jadwal kontrol kaki Yuanita. Untuk mengikuti terapi seperti yang sudah disampaikan oleh dokter.
Yuanita memakai baju yang dibantu oleh Minah. Ia sudah tidak canggung lagi terhadap asisten rumah tangga Elvan itu. Terlebih, Minah juga telah menganggap Yuanita itu seperti anaknya sendiri.
“Maksih ya, Bi.”
“Sama-sama, Non. Ada lagi yang bisa Bibi bantu, Non?”
“Gak ada, Bi. Makasih.”
“Dengan senang hati, Non. Bibi permisi.”
Minah berlalu pergi meninggalkan Yuanita yang duduk di tepi ranjang dengan gaun simpel selutut dan riasan tipis natural.
__ADS_1
“Lu udah siap, Markonah?”
Elvan bertanya tanpa melihat ke arah Yuanita karena dirinya sedang sibuk melingkarkan jam pada tangannya. Tiba-tiba aroma parfum cherry blossom telah membuatnya teringat pada penampilan cantik Yuanita waktu lalu. Elvan memandang gadis yang sedang duduk di tepi ranjang dengan sangat cantik.
Beautiful! Umpat Elvan dalam hati.
“Gue udah siap. Tapi gak bisa naik ke atas kursi roda,” keluh Yuanita.
Tanpa ada omongan. Elvan melingkarkan tangan Yuanita pada lehernya dan mengangkatnya dari atas tempat tidur ke atas kursi roda yang ada di depannya.
Widya menyaksikan peristiwa yang menurutnya sangat indah. Semoga, Elvan dan Yuanita bisa sama indahnya seperti perjodohanku dengan Mas Wisnu, umpat dalam hati Widya.
Widya memilih mundur dengan hati-hati, takut kedua insan itu menjadi malu karena Widya melihat mereka sedang bertatap mesra.
Elvan mendorong kursi roda ke luar dari dalam kamar menuju luar rumah untuk segera berangkat ke rumah sakit.
Elvan menaikkan Yuanita masuk dalam mobil dan melipat kursi rodanya untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil.
***
Kebetulan jadwal terapi Yuanita hari minggu, sehingga Elvan bisa antar dan bisa membantunya ketika terapi. Dengan sabar, Elvan terus membimbing Yuanita terapi setelah dokter mengajarkan cara berjalan pada Yuanita.
Elvan menangkap Yuanita yang beberapa kali hampir terjatuh.
“Gue bodoh!” pekik Yuanita mulai emosi, karena ia selalu jatuh ketika latihan berjalan.
“Lu enggak bodoh, Markonah. Lu cuma butuh waktu untuk melatih kaki, lu saat ini.”
“Sampai kapan? Gue rindu kuliah, Van! Terlalu banyak pelajaran yang tertinggal,” keluh Yuanita.
Hening.
Elvan sama sekali tidak bicara apa-apa takut Yuanita salah menanggapi karena dirinya kini sedang emosi.
Setelah selesai latihan. Mereka pergi ke ruangan dokter. Seperti biasa Elvan yang mendorong kursi roda Yuanita. Elvan betul-betul memenuhi janjinya pada Yuanita. Ia rela jadi kaki untuk Yuanita.
Tok ... Tok ... Tok ....
Elvan mengetuk pintu ruangan dokter.
“Masuk!”
Suara yang terdengar dari dalam sana.
Elvan dan Yuanita konsultasi tentang kaki yang belum dapat digerakkan oleh Yuanita.
“Sabar, Mbak. Prosesnya agak lama, wajar kalau kali ini belum ada perubahan. Dua hari ke depan, Mbak datang lagi ke mari untuk terapi, ya?” pinta dokter.
Elvan mengernyitkan dahi, “serius, lu?”
Yuanita mengangguk.
“Kalau masih beraktivitas di atas kursi roda, saya kira tidak mengapa. Asal tetap jaga pola makan, minum obat dan istirahat, ya?” jawab dokter memberikan keterangan.
“Beneran, dok? Boleh?” Mata Yuanita berbinar.
“Iya. Enggak masalah.” Dokter itu tersenyum. “Tapi, jangan sampai terlewat terapinya, ya? Biar cepat sehat.” Timpal dokter itu lagi.
Yuanita mengangguk. Ia merasa senang karena ia dapat bertemu dengan sahabatnya dan kembali menimba ilmu di kampus itu.
***
Netra Yuanita susah untuk terpejam, mungkin karena hati yang teramat bahagia bisa kembali ke kampus.
Lagi-lagi, matanya tetap terjaga, kali ini karena perut yang mulai merasa lapar. Ia akhirnya memutuskan untuk menyalakan lampu tidurnya malam itu. Jam telah menunjukkan pukul dua dini hari, matanya masih belum dapat terpejam.
.
Elvan bangun dari tempat tidurnya karena perut yang keroncongan. Ia turun ke lantai dasar untuk mencari makanan. Namun, sebelum ke dapur. Ia melihat kamar Yuanita masih menyalakan lampu tidurnya.
Walau ragu, Elvan memberanikan untuk mengetuk kamar Yuanita.
Tok ... Tok ... Tok ....
“Siapa?” jawab Yuanita dari dalam kamar.
“Gue, Elvan. Boleh gue masuk?”
Hening beberapa saat. Yuanita yang sedikit ragu pada Elvan yang terkadang jiwa omesnya muncul. Tapi, perut yang lapar telah mendera. Hingga akhirnya Yuanita membiarkan Elvan masuk dalam kamarnya.
“Masuklah.”
Ceklek!
Elvan membukakan pintu kamarnya. Ia mengenakan celana pendek dan kaos oblong.
“Lama banget jawabnya?” tanya Elvan ketus.
“Gue mikir dulu, pan Elu biasanya omes!”
__ADS_1
“Kalau gue omes sama lu, ngapain gue mengetuk pintu dulu, Markonah?”
Hening.
“Kenapa lu belum tidur? Tempatnya gak nyaman?” tanya Elvan.
“Tempatnya nyaman kok.”
“Terus?” Elvan mengeryitkan dahi.
“Lah ... Lu juga ngapain jam segini ketok pintu kamar gue?”
“Ye! Ge’er! Gue laper mau bikin mie instan ke dapur.”
“Wahhh ... Gue mau dong!”
“Lu lapar juga?”
Yuanita tersenyum. Tanpa ia meminta keterangan, Elvan sudah paham kalau tunangannya itu sedang kelaparan.
“Ya udah ikut gue!” Ajak Elvan yang bangkit dari tepi ranjang.
“Gue kan gak bisa jalan,” ucap Yuanita yang duduk di atas ranjang.
Elvan duduk di lantai membelakangi Yuanita.
“Mau ngapain, lu?” tanya Yuanita heran.
“Ayo, gue gendong lu!”
“Males banget. Kenapa gak pakek kursi roda aja, sih?”
“Nanti berisik, ganggu orang-orang yang lagi tidur.”
Yuanita mendelik ke wajah Elvan yang biasanya penuh dengan tipu muslihat.
“Heleh! Lu mau ngambil kesempatan, ya?” tuduh Yuanita.
“Mau enggak? Kalau enggak, gue masak mie sendiri.”
Elvan bangun dari lantai dan berjalan menuju pintu.
Tiga, dua, satu! Umpat Elvan menghitung mundur dalam hatinya.
“Fine! Gue mau digendong!”
Hehe berhasil juga kan, celetuk dalam hati Elvan.
Elvan duduk di lantai dan lengan Yuanita mulai melingkar di leher laki-laki itu. Tubuh Yuanita kini menempel dengan punggung Elvan. Elvan bangkit dan membawa Yuanita ke ruang makan.
“Udah, lu duduk sini. Biar gue masakin buat lu juga,” ujar Elvan ketika sudah mendudukkan Yuanita di kursi makan.
Napas Elvan agak tersengal, napasnya mulai tidak teratur.
“Kenapa lu?” tanya Yuanita.
“Capek. Ternyata lu berat juga, ya?”
“Suruh siapa gendong gue?”
Elvan hanya tersenyum.
Yuanita memperhatikan Elvan yang sedang membuat mie instan. Ternyata, ia lihai juga untuk sekedar memasak mie instan. Yuanita baru mengetahui kalau ternyata, Elvan mempunyai jiwa care pada pembantu rumah tangganya. Ia bangun sendiri untuk membuat makanan tengah malam tanpa mengganggu istirahat pembantunya. Point plus untuk Elvan di hadapan Yuanita.
“Nih, makan biar lu bisa tidur.”
Elvan memberikan semangkok mie instan komplit dengan telur dan sayur yang menjadi topingnya.
“Makasih,” ucap Yuanita. “Tapi, kenapa lu gak pakai telur?” sambungnya lagi.
“Telurnya abis, Bibi kayaknya lupa beli.”
Yuanita mengambil telur dan memberikannya pada Elvan.
“Kenapa lu kasih gua?”
Elvan mengernyitkan dahi.
“Gue gak suka telur."
“Oh, kalau sayur?”
“Suka.” Yuanita tersenyum.
Elvan menggantinya dengan memberikan sayur pada mangkuk Yuanita. Dari situlah keakraban di antara mereka mulai terjalin.
..
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁