Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 16 (Misteri)


__ADS_3

Yuanita memeluk laki-laki yang berusia lebih tua darinya. Ada binar rindu pada rona dua insan ini. Yuanita kini berada dalam dekapan laki-laki berparas tampan dan berbadan tegap. Ada rasa kesal di hati Elvan ketika melihat Yuanita dipeluk oleh laki-laki lain di hadapannya.


Gendis memperhatikan ketiganya. Ada rasa penasaran pada hati Gendis tentang siapa sosok pria tampan yang berbadan tegap itu. Ia melihat wajah Elvan yang memerah ketika Yuanita masuk bersama pria itu ke dalam kost-nya.


Elvan pun berlalu pergi di saat hatinya tengah terbakar cemburu. Namun, egonya lebih mendominasi. Ia bisa menyembunyikan perasaannya terhadap Yuanita.


Elvan mengemudikan mobilnya dengan begitu kencang. Pikirannya terus teringat ketika Yuanita berpelukan dengan pria lain. Terlebih, kejadian itu terjadi di depan matanya.


Sedangkan Gendis masuk kamarnya ketika ia tahu, bahwa dirinya kini sendiri berada dalam halaman Kost. Semuanya telah pergi.


Pintu kost Yuanita terbuka. Gendis melihat keakraban Yuanita dengan laki-laki itu. Gendis sengaja tidak ikut bergabung dengan Yuanita. Ia tidak ingin mengganggu kehangatan yang terjadi pada kedua insan itu. Karena ia melihat kedua insan ini tengah bercerita tentang kerinduan mereka, seperti seseorang yang telah lama tidak berjumpa.


.


Elvan merebahkan tubuh jangkungnya di atas ranjang. Kedua tangannya kini memegang kepala yang terasa sakit karena selalu terlintas Yuanita yang sedang memeluk laki-laki itu.


Shit! Kenapa dengan gue? Kepala terasa pusing dan hati ini terasa sakit! Pekik dalam hati Elvan.


Elvan memilih memejamkan matanya untuk menghilangkan semua rasa di hati dan pikirannya.


.


“Elvan.”


Suara lembut yang membangunkannya ketika ia tidur.


Elvan masih tetap tertidur walau telinganya mendengar.


“Bangun, Sayang.”


Suara lembut itu memanggil untuk yang kedua kalinya.


Elvan mulai membuka sedikit matanya untuk memastikan kalau dirinya mimpi atau memang nyata adanya.


“Mama?”


Mata Elvan terbelalak melihat netra Widya yang sayu.


“Mama kenapa?”


“Papa, Nak.”


Widya tak kuasa untuk bercerita.


“Papa kenapa?”


Elvan menggenggam kedua lengan mamanya.


“Papamu kecelakaan.”


Air mata Widya meluncur membasahi pipinya.


“Apa? Sekarang papa di mana?”


Elvan membulatkan mata dan memandang tajam Widya yang sedang tertunduk.


“Di rumah sakit Husada Utama.”


Elvan bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengambil kunci mobil yang ia taruh di atas nakas.


“Nak, tunggu!”


Widya menyahut dan menyusul anaknya yang hendak menuruni anak tangga.


***


“Kak Iyan, Aku tuh kangen tau sama Kakak. Kakak jahat! Ninggalin Nita sendirian!” Yuanita merajuk pada laki-laki dewasa itu.


“Loh ... Kan, kakak bilang dari dulu. Kakak kemungkinan bekerja di Malaysia.”


Iyan mengacak sedikit rambut Yuanita.


“Aku rindu sama Kakak. Kakak adalah orang yang Nita sayang. Jarak yang jauh semakin memisahkan kita.”


Yuanita merundukkan kepalanya.


Laki-laki dewasa itu mengangkat dagu Yuanita dan mengusap lembut air mata yang meluncur pada pipi Yuanita.


“Nita. Kita 'kan masih bisa telpon atau bahkan, kalau Nita rindu ingin melihat wajah kakak yang ganteng ini juga bisa lewat video call.” Iyan sedikit menggoda Yuanita yang sedang bersedih.


“Idih! Kakak kepede’an!”


“Tapi benerkan, Nita rindu sama Kakak?”


Iyan memainkan alisnya dan terus bercanda mesra dengan Yuanita.


“Gak! Nita, gak rindu sama kakak!”


Yuanita memalingkan pandangan dan melipat dua tangannya di dada.


“Beneran?”

__ADS_1


Iyan terus menggodanya.


“Iya! Nita gak rindu sama Kakak!”


Wajahnya masih berpaling.


“Ya udah, Kakak balik, ya?”


Iyan bangkit dari kursi.


Namun, dengan cepat Yuanita meraih tangan besar itu. Lengannya yang lentik kini menahan pria itu untuk kembali meninggalkannya.


“Jangan pergi.”


Yuanita berkaca-kaca.


Iyan tersenyum.


“Tapi, Kakak tetap harus pergi, Nita.”


“Enggak mesti sekarang, kan?”


Iyan kembali tersenyum melihat tingkah manja dari gadis muda ini.


Mereka kembali bercengkerama dan berbagi cerita. Canda tawa telah menghiasi bibir mereka tatkala mereka berbincang mesra. Hingga tak terasa, malam pun telah menjelma. Cahaya rembulan kini menggantikan intensitas matahari yang telah menyinari dari pagi hingga petang tadi.


“Nita, Kakak pamit, ya?” ujar Iyan.


Netra Yuanita terbelalak mendengar laki-laki itu berpamitan padanya.


“Loh ... Katanya kakak masih ada waktu beberapa hari ke depan di sini? Kakak gak rindu sama Aku?”


Netra Yuanita kembali berkaca-kaca.


“Kata siapa Kakak gak rindu? Kakak rindu sama Nita.”


“Terus, kenapa Kakak mau balik ke Malaysia malam ini?” Bibirnya meruncing.


“Siapa bilang Kakak mau balik ke Malaysia?”


“Terus?”


“Kakak balik ke hotel, Sayang. Mana mungkin Kakak nginep di sini?”


Iyan kembali mengacak rambut Yuanita.


“Ohhh ....” Yuanita terkekeh.


***


Elvan dan mamanya meluncur mengendarai mobil sport warna merah ke salah satu rumah sakit di Kota Surabaya. Ia memacu si merah dengan kecepatan tinggi.


Berulang kali, ia hampir bertabrakan dengan kendaraan lain. Karena pikirannya kurang konsentrasi. Konsentrasi Elvan terbagi dua antara papanya dengan kendaraan yang sedang ia kendalikan.


“Van, biar mama yang bawa mobilnya. Kamu terlalu panik,” ujar Widya yang berada di sampingnya.


“Gak usah, Ma. Elvan bisa. Bentar lagi juga nyampe rumah sakit," tandas Elvan.


Si merah kembali dipacu dengan kecepatan sedang oleh Elvan. Ia mencoba lebih berkonsentrasi lagi dengan kendali setir mobil. Tak berselang lama, ia memarkirkan mobil di lobi bawah area parkiran yang luas.


Elvan dan Widya berjalan melewati koridor rumah sakit. Melewati tiap sudut ruang rumah sakit.


'Cklek!'


Elvan membuka pintu kamar, di mana terlihat papanya yang sedang terkujur tak sadarkan diri.


Mata Elvan berkaca-kaca tatkala melihat papanya yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya terbaring dengan mata yang tertutup. Elvan mendekat, ia menggenggam jari ayahnya dan meneteskan air mata di atas lengan itu.


“Pa. Ini Elvan, papa bangun.”


Elvan menggerakkan lengan papanya yang sedang ia genggam.


Tidak ada pergerakan yang berarti. Wisnu masih tak sadarkan diri. Air mata kesedihan Elvan pecah di hari ini. Ia baru merasakan sedih ketika Papanya sedang tidak sadarkan diri. Sebelumnya, ia belum pernah merasakan kesedihan yang berarti. Kehidupannya berkecukupan, ia dibesarkan dengan penuh kasih sayang baik dari Mama mau pun Papanya.


Permintaan Elvan selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Sedari kecil, Elvan terbiasa hidup enak di tengah keluarga kaya raya ini.


“Sudah, Nak. Doakan saja Papamu. Kita hanya bisa berpasrah diri pada Allah dan mempercayakan perawatan Papa kepada dokter di sini.”


Widya mengusap lembut punggung Elvan.


Hening.


Elvan masih menggenggam jari papanya yang sama sekali belum ada pergerakan yang berarti.


Widya ke luar untuk mengurus berkas data pasien di rumah sakit. Sedangkan Elvan masih duduk menunggu Papanya yang masih belum sadar. Sepi. Sunyi dalam ruangan itu. Hanya terdengar dentum jam dinding yang berdetak dan suara tetesan cairan infus yang teramat kecil. Hingga Elvan tenggelam dalam tidur di tengah keadaan sepi itu.


.


'Cklek!'


Pintu kamar rumah sakit terbuka.

__ADS_1


“Permisi Mas, Saya mau cek keadaan pasien,” ujar petugas yang memakai pakaian seragam putihnya.


Elvan tersadar mendengar wanita yang telah mengganggu tidurnya kala itu. Ia mendongak, “Silakan, Dok.”


Dokter yang bertugas itu pun telah memeriksa Wisnu, dibantu dengan asistennya yang sibuk mencatat semua keadaan Wisnu. Entah apa yang mereka catat.


“Gimana keadaan Papa saya, Dok?” Elvan bertanya ketika dokter selesai memeriksa.


“Keadaannya belum stabil. Tapi, perubahannya semakin membaik. Pasien telah melewati masa kritisnya.”


Penjelasan dokter yang memeriksa papanya.


“Makasih, Dok.”


Dokter itu tersenyum dan berlalu pergi dengan diikuti oleh asistennya. Ruangan kembali sepi. Tidak ada percakapan lagi di dalamnya.


Elvan ke luar kamar. Menghirup udara sejenak dan melepas rasa bosan berada dalam sebuah ruangan yang hampa tak ada suara.


Elvan kembali teringat dengan sosok tunangannya yang telah berani memeluk laki-laki lain di hadapannya. Cemburu itu kembali menderanya. Ia tidak sadar, kalau dirinya lebih jauh dari itu. Parahnya, bukan hanya dengan satu wanita saja. Tapi Elvan tidak bercermin akan semua itu.


Sebenarnya, siapa laki-laki itu? Tanya dalam hati Elvan.


Elvan mencoba menghubungi Yuanita. Namun, beberapa kali ia menghubunginya melalui hand phone. Ia tidak mendapatkan jawaban apa-apa, karena hand phone Yuanita malah tidak aktif setelah beberapa kali ia meneleponnya.


“Sialan! Mereka lagi ngapain, sih?” pekik Elvan.


Elvan menggenggam gawainya dengan kencang. Ia begitu kesal karena Yuanita tidak mengangkat telepon darinya. Bahkan, ia lupa dengan rencana pembatalan pernikahannya esok yang telah ia rencanakan dengan Yuanita. Perasaannya berbalik cemburu. Padahal, ia bisa saja memanfaatkan situasi ini sebagai alasan untuk memutuskan ikatan pertunangan yang sudah terjadi.


Apakah Elvan mulai jatuh cinta?


Perasaannya kini terlalu kalut untuk memikirkan tidakkan konyol tentang pembatalan rencana mereka menikah. Karena ia dihadapkan dengan situasi yang menurutnya sulit dalam hidupnya. Kenyataan dimana papanya terbaring tak berdaya di ranjang rumah sakit.


***


Elvan masih setia menunggu Wisnu yang masih terbaring tak berdaya. Ia masih lekat memantau keadaan papanya. Tiba-tiba, menjelang waktu isya, telunjuk Wisnu bergerak. Ada gerakan halus yang ia tunjukan. Elvan heran sekaligus senang dengan tanda yang diperlihatkan oleh Wisnu.


“Dok, Dokter! Cepat ke mari! Papa Saya telah menunjukkan pergerakan pada jari telunjuknya,” ucap Elvan ketika ada dokter yang sudah mengecek pasien-pasiennya.


Dokter itu pun, langsung mengecek keadaan Wisnu yang memang telah melewati masa kritisnya.


“Selamat, Mas. Pak Wisnu telah membaik. Tunggu sekitar satu jam lagi. Beliau dapat di ajak bicara lagi. Sekarang, Saya sarankan agar Mas tunggu di luar saja. Biar pasien bisa lebih tenang istirahatnya,” ucap dokter itu ramah.


“Baiklah, makasih, Dok.”


Elvan beserta dokter sama-sama keluar dari dalam kamar pasien. Memberikan waktu istirahat untuk Wisnu Adhitama.


Hati Elvan bahagia mendengar kabar baik itu. Ia mengabarkan berita bahagia itu pada Widya yang sedang mengurusi beberapa pekerjaan di kantor karena Wisnu sedang sakit.


***


“Hai, Nita ....” sapa laki-laki dewasa itu.


“Kak Iyan?”


Netra hitam itu berbinar melihat sosok Iyan yang menyapa di depan pintu kamarnya.


“Lagi apa?”


“Lagi santai aja, Kak. Masuklah.”


Kaki Iyan pun melangkah masuk dalam kamar Yuanita. Mereka nonton tivi bersama. Selang setengah jam. Yuanita mengajak jalan-jalan, ia merasa bosan berada dalam kamar kecil yang sumpek itu.


Iyan menunggu di ruang tamu ketika Yuanita berganti baju dalam kamarnya. Setelah itu, mereka melangkahkan kaki menuju pintu. Yuanita mengunci pintu kost-nya.


“Mau ke mana, Nit?”


Gendis bertanya penuh selidik.


“Main, Dis. Bosen di kamar mulu. Mau ikut gak?”


“Enggak ah, nanti malah ganggu kalian lagi.” Mata Gendis mendelik ke arah Iyan.


“Loh ... Ya enggak lah. Yang ada juga malah makin rame. Iya gak, Kak?”


Netra Yuanita memandang Iyan.


Iyan tersenyum.


Hening.


Gendis masih mematung di antara Yuanita dan Iyan.


Gendis ingin mengetahui siapa laki-laki dewasa yang mempunyai wajah tampan itu. Ia merasa mesti menyadarkan sahabatnya kalau dirinya telah bertunangan dengan Elvan.


Yakin alasannya karena itu? Atau 'kah, diam-diam Gendis malah menyukai Iyan?


Sosok Iyan masih menjadi misteri.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2