
Sesampainya di kontrakan. Yuanita masuk ke dalam kamar. Ia mengecas hand phone-nya yang lowbat sedari tadi. Tubuhnya di hempaskan ke atas ranjang kecilnya.
Relax.
Sementara Gendis dan Iyan menanam bunga bersama. Memindahkan bunga ke dalam pot yang lebih besar.
Iyan bisa memasuki hati Gendis yang hampa dengan mudah. Gendis seorang gadis yang pernah patah hati ditinggal sang kekasih, kini mulai bangkit semenjak kedatangan Iyan di hidupnya.
“Kak, kapan kakak pulang ke Malay?” tanya Gendis ketika ia memindahkan pohon bunga lili.
“Mungkin beberapa hari lagi.”
“Aku boleh minta nomor hand phone-nya kak Iyan?”
Gendis memberanikan diri meskipun hatinya ragu karena malu.
“Boleh.”
Iyan pun memberikan nomor hand phone-nya pada Gendis.
“Makasih ya, kak.” Gendis tersenyum.
Mereka saling pandang. Ada getar dalam dada mereka tapi, Iyan terlalu takut untuk mengutarakan. Karena ia merasa masih terlalu dini mengenal Gendis. Iyan ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
Iyan dan Gendis melangkahkan kaki menuju kamar Yuanita dengan tujuan berpamitan mau kembali ke hotel dimana Iyan menginap. Tapi, Yuanita telah tertidur lelap, sehingga Iyan tak tega membangunkannya.
“Ndis, tolong sampaikan sama Nita, Aku balik gak pamit karena tidak ingin mengganggu istirahatnya.”
“Baik, kak!” Gendis tersipu.
“Aku pulang ya, Ndis. See you.”
Iyan sedikit melambaikan tangannya.
Gendis hanya bisa tersenyum, tersipu malu tatkala Iyan tersenyum padanya.
Gendis melangkahkan kaki menuju kamar mini malisnya. Ia merebahkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih. Bibirnya tersenyum tatkala mengingat senyuman Iyan. Dia sosok yang sangat dewasa baginya.
***
Di sisi lain ada Elvan yang telah kembali dari tongkrongannya. Ia melihat papa dan mamanya yang sedang bercengkerama dan berbahagia atas kesadaran Wisnu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka.
“Loh ... Kok belum pada tidur? Ini udah malam, loh!”
Elvan melihat pada jam yang melingkar di tangan kirinya telah menunjukkan pukul sebelas malam.
Wisnu dan Widya tersenyum pada Elvan.
Elvan sedikit menyimpulkan dari guratan yang tersemat pada bibir kedua orang tuanya sebagai tanda rindu.
Selama dalam membangun rumah tangga, mereka selalu bersama ke mana pun. Bahkan ketika ada urusan di luar kota pun mereka selalu bersama-sama.
Terkadang, Elvan sebagai anaknya merasa iri dengan kemesraan orang tuanya yang semakin mesra walau usia tak lagi muda.
***
Yuanita terbangun ketika matahari telah bersinar. Cahaya sang surya mulai menyelinap ke dalam jendela kamarnya memberikan efek silau ke mata yang masih terpejam.
Tangannya mulai menutup mata dan ia mulai merubah posisi tidurnya. Namun, keringat yang mengucur telah mengganggu tidurnya. Yuanita pun bangun dari ranjang kecilnya. Ia duduk dan sedikit terdiam mengingat semalam dirinya masih bersama kakak dan sahabatnya.
“Kak Iyan di mana?”
Yuanita turun dari ranjangnya dan melangkahkan kaki ke pintu kamarnya.
Ceklek!
Yuanita membuka pintu.
Tak ada seorang pun dalam kost-nya, “Mungkin kak Iyan udah balik ke hotel.”
Tok ... Tok ....
Pintu di ketuk.
Yuanita membuka pintu. Ia melihat sahabatnya berdiri di luar.
“Gendis?”
Gendis tersenyum.
“Nit, semalam kak Iyan mau pamit pulang, tapi melihat kamu udah tidur, ia gak tega bangunin kamu, takut ganggu istirahatmu katanya.”
Gendis menyampaikan pesan dari Iyan.
“Oh ... Ya udah, gak papa. Makasih, Ndis.” Yuanita tersenyum.
Gendis dan Yuanita kembali masuk kamar kost masing-masing untuk mempersiapkan segala keperluan di kampus.
Mereka berjalan kaki menuju pangkalan angkot. Tiba-tiba mobil merah itu berhenti tepat di depan mereka. Kaca mobil pun diturunkan.
__ADS_1
“Elvan?”
Mata Yuanita terbelalak. Melihat sosok yang sudah mulai tak asing baginya. Sosok menyebalkan yang akan menjadi suaminya dikemudian hari.
“Ayok, bareng Gue!”
Elvan mengajak dengan nada dingin. Tak ada kehangatan dari sikapnya.
Yuanita dan Gendis pun ikut masuk dalam mobil merah itu. Mobil melesat dengan kecepatan sedang.
Hening.
Seperti biasanya. Tak ada kata yang terlontar dari bibir mereka. Elvan fokus ke setir mobil dan Yuanita lebih fokus melihat jalan yang ada di depannya.
Gendis yang memperhatikan keduanya, sesekali tersenyum melihat orang yang telah dijodohkan ini. Ia membayangkan ketika mereka telah menikah, kejadiannya bakal seperti apa? Gendis pun tersenyum larut dalam bayangan itu.
***
Drett ... Drett ....
Gawai Gendis bergetar. Ia mengambil gawai yang di simpan dalam tas. Ia menyentuh layar gawai yang terdapat pesan dari Iyan.
..
[Ndis, aku tinggal dua hari berada di Surabaya. Kamu mau menemaniku jalan gak? Sekalian, aku mau menanyakan sesuatu.] Isi pesan dari Iyan.
[Boleh. Kapan kita bertemu?] Balas Gendis.
[Jam empat sore di Cafe SS.] Iyan kembali membalas pesan.
[Oke!] Gendis mengakhiri pesan.
..
Gendis sengaja diam dari Yuanita. Ia tidak memberitahu temannya karena Iyan tidak menyuruh mengajak Yuanita.
“Aduh, Ndis. Gue banyak tugas hari ini. Bisa ****** kalau gak ngerjain hari ini juga. Masih banyak yang harus direvisi.” Keluh Yuanita.
Bagus! kesempatan bagus untukku. Gak perlu nyari banyak alasan untuk pergi nanti sore. Ucap Gendis dalam hatinya.
“Owalah, mata pelajaran pak killer?”
“He’em. Lu udah beres semua?” tanya Yuanita melirik Gendis.
“Alhamdulillah, udah beres.”
Mereka berjalan dalam koridor kampus. Masih banyak mahasiswa di dalamnya. Termasuk Elvan and friend yang menyebalkan.
Mereka tinggal beberapa bulan lagi akan menyabet gelar sarjana. Berarti, itu sama artinya Yuanita juga akan menyabet gelar sebagai istri dari seorang play boy.
“Markonah!” Elvan memanggil.
Yuanita menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang, “Apa?”
“Sorry. Gue gak bisa antar, masih ada tugas.” Elvan menyahut.
“Ciee ... Yang udah mau nikah,” ucap Rizal dan Bobi meledek.
“Paan, sih?”
“Sekarang udah mulai belajar tanggung jawab anter-anter calon istri.”
Rizal dan Bobi kembali meledek.
“Dih ... Gue gak mau disalahin aja sama bokap, nyokap gue.” Elvan beralibi.
Rizal dan Boby hanya tersenyum mendengar alasan dari sahabatnya.
“Iya gak papa,” pungkas Yuanita dan berlalu pergi.
***
Elvan dan Yuanita memang mempunyai perjanjian untuk bersandiwara di depan orang tua dan kedua sahabat Elvan yang sedikit rese.
Tanpa Elvan sadari. Kini hatinya mulai terikat dengan Yuanita. Si gadis berkaca mata cupu, yang kini telah berubah.
.
“Nit, Aku pergi bentar, ya?” ucap Gendis di depan pintu kamar Yuanita.
“Mau ke mana?” tanya Yuanita yang sedang sibuk mengerjakan revisi mata kulaihnya.
“Ada perlu bentar. Mau titip apa?”
“Titip gorengan.”
“Oke!”
Gendis berjalan menuju Cafe SS tempat janjian bersama Iyan menggunakan angkot. Alat transportasi yang ia andalkan.
Ternyata, Iyan sudah menunggu di sana. Ia tampak semakin berkarisma. Perawakan yang tinggi dan wajah yang tampan membuat Gendis semakin terpesona.
Iyan mengenakan kemeja slim fit berwarna navy yang sangat kontras dengan kulit putih yang sedikit kekuningan. Wajahnya yang bersih, terlihat terawat walau ia seorang pria.
__ADS_1
Gendis mendekati meja Iyan dan tersenyum. Ada degup yang semakin kencang dalam dadanya. Wajahnya memerah karena malu memandang sosok pria dewasa yang kini mulai mengisi hatinya.
“Duduk, Ndis.” Iyan tersenyum.
Gendis duduk dan menyimpan tas kecilnya di atas meja. Iyan menyodorkan menu makan dan minum untuk dipesan.
“Jus mangga aja, kak," ucap Gendis.
“Makannya?” tanya Iyan.
“Enggak, makasih.”
“Nanti kamu laper loh.”
“Enggak, kak.”
Gendis tersenyum. Sebenarnya ia lapar. Tapi, rasa malu untuk menyuapkan makanan di depan Iyan lebih mendominasi. Sehingga ia lebih memilih menahan rasa lapar.
“Gendis.” Iyan memanggil lembut namanya.
“Iya.” Gendis mendongak.
“Sebenarnya, aku ingin bertanya sama kamu.”
“Tentang apa, Kak?”
“Hubungan Yuanita dan calon suaminya.”
Gendis mengernyitkan dahi, “Maksudnya?”
“Apa benar, calon suaminya itu seorang play boy?”
Deg!
Gendis kaget mendengar pertanyaan dari laki-laki ini. Kak Iyan tau dari mana? Tanya dalam hati Gendis.
“Emmm ... Kalau masalah itu, aku ....” ucapannya terpotong karena Gendis bingung harus menjawab apa.
“Kalau itu, Gendis ....” Kembali terhenti. Lidahnya terasa kelu untuk mengungkapkan hal yang sebenarnya.
“Yuanita yang lebih tau, kak.” Timpal Gendis mengakhiri.
Iyan tersenyum. Tak harus bertanya pada Yuanita pun. Dirinya sudah dapat mengetahui kondisi yang sebenarnya.
Iyan semakin kagum dengan sosok Gendis yang merahasiakan hal buruk karena menurutnya bukanlah hak ia untuk membuka aib/keburukan orang lain.
Iyan dan Gendis mengobrol hingga tak terasa, warna jingga telah terukir di langit yang indah petang ini. Canda tawa semakin menjalin keakraban dua insan ini walau mereka berbeda generasi.
Akhirnya, mereka memutuskan pulang. Mereka melangkahkan kaki di pinggir jalan untuk mencari penjual gorengan.
Krukk!
Bunyi suara perut Gendis.
Wajah Gendis seketika memerah tatkala terdengar bunyi suara perut yang nyaring. ‘Haduh ... malu-maluin aja!’ ucap Gendis dalam hati dengan pandangan merunduk ke bawah.
Iyan menatap wajah lugu gadis itu yang sedang tertunduk. Lengannya yang besar mengacak sedikit rambut gadis yang sedang tertunduk malu.
“Tadi suruh makan gak mau. Sekarang perutnya keroncongan minta diisi.”
Iyan tersenyum meledek gadis lugu itu.
“Tadi ... Tadi Gendis belum lapar kok, kak.” Gendis berkilah.
Iyan menggelengkan kepala sembari tersenyum mendengar alasan gadis yang berjarak lumayan jauh dengannya.
“Ayok makan!”
Iyan menggandeng tangan gendis.
Gendis berjalan mengimbangi langkah laki-laki bertubuh jangkung itu. Hatinya berkecamuk antara senang dan malu yang telah bercampur menjadi satu.
Iyan sengaja mengajak Gendis untuk makan di lesehan. Ia ingin tahu reaksi dari gadis ini. Apakah Gendis akan menerima ataukah akan menolak untuk makan di tempat sederhana seperti itu?
Iyan memasuki warung yang hanya terbuat dari terpal. Ia memperhatikan ekspresi wajah Gendis. Namun, semuanya baik-baik saja. Tidak ada bantahan dari bibir mungil itu.
“Kamu pesan apa?” ucap Iyan.
“Ayam bakar aja, Kak.”
Gendis masih tertunduk malu.
“Mas! Nasi + ayam bakar dua porsi sama teh manis anget dua!” Iyan memesan.
Iyan menatap Gendis yang sedari tadi tertunduk karena malu. Entah mengapa, hatinya kini merasa berat untuk kembali ke Malaysia sejak bertemu dengan sosok gadis manis itu.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1