Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 15 (Perubahan Yuanita)


__ADS_3

Drett ... Drett ....


Gawai Elvan bergetar di atas nakas. Ia bangun dari posisinya yang tengah terbaring di ranjang.


[Sayang, jemput aku di Mall, dong!] Isi pesan dari Ferlita.


[Iya. Sebentar aku on the way,] balas Elvan.


Elvan beranjak dari tempat tidurnya. Ia mengambil kunci mobil yang berada di atas nakas.


Mobil merah itu melaju ke sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota Surabaya.


.


“Sayang, Aku mau beli dress yang di dalam, tapi uangku tidak cukup.”


Ferlita bergelayut manja di lengan Elvan berharap, Elvan membelikannya.


“Yang mana?” tanya Elvan.


“Ada. Di dalam.”


Ferlita dan Elvan berjalan masuk ke dalam Mall yang sesak dengan barang-barang dan juga pembeli pada sore ini.


“Yang ini.”


Ferlita menunjukkan dress yang diinginkannya.


“Ambillah.”


Elvan berucap tanpa melihat harga dress itu.


“Beneran?” Mata Ferlita berbinar.


“Iya!”


Tapi, bukan namanya Ferlita kalau ia menginginkan hanya satu baju. Ia malah memilih dress-dress yang lainnya.


“Sayang, yang ini juga, ya?”


Ferlita mengangkat beberapa dress di lengannya.


“Iya.”


Dari dulu. Elvan begitu royal terhadap pacar-pacarnya. Sehingga, walau hanya berstatus pacar, mereka tak segan meminta sesuatu pada Elvan.


Elvan dan Ferlita telah membayar di kasir. Mereka melenggang di sebuah cafe untuk sekedar mengisi perut yang lapar karena lelah berjalan-jalan.


Tidak jauh.


Mereka hanya makan di cafe yang ada di dalam Mall itu. Makanan dan minuman pun telah dipesan. Mereka menunggu pesanan. Tiba-tiba Elvan melihat Yuanita yang sedang berbelanja di salah satu toko baju.


Markonah? ucap dalam hati Elvan.


“Sayang, Aku ke toilet sebentar, ya?” ucap Elvan.


“Oke!”


“Kalau pesanan udah ada, kamu makan duluan aja. Takutnya agak lama.” Suruh Elvan.


“Baiklah. Kamu mules ya, Sayang?”


Ferlita terkekeh, mulutnya ia tutup dengan telapak tangannya.


Elvan tersenyum.


Elvan bergegas mengikuti Yuanita dan Gendis. Ia melihat tunangannya tengah berbelanja beberapa potong baju. Memang, Yuanita mengambil baju dengan harga standar, tidak seperti Ferlita dan Stella yang selalu berburu baju-baju mahal.


Ternyata, si Markonah itu tidak seperti pacar-pacar Gue. Ia lebih bijak dalam berbelanja. Tapi, ia beli baju lumayan banyak buat siapa? Tanya dalam hati Elvan.


Drett ... Drett ....


Gawai Elvan bergetar. Ternyata Ferlita menanyakan keberadaannya. Elvan melihat jam yang melingkar di tangannya, ternyata ia sudah setengah jam mengikuti Yuanita. Elvan segera kembali ke cafe yang tadi bersama Ferlita.


“Maaf, Yang. Tadi Aku mules banget.” Elvan beralasan.


Ferlita memancungkan bibirnya karena kesal.


“Aku mau pulang aja!” ucap Ferlita.


“Oke!”


Ferlita heran dengan sikap Elvan yang terkesan semakin cuek padanya setelah ia bertunangan kemarin.


Ferlita mematung.


“Ayo! Katanya mau pulang?”


Elvan mengernyitkan dahi.


Ferlita bangkit dari kursi dan membawa banyak paper bag yang berisi dress di dalamnya. Elvan berjalan dengan langkah kaki panjangnya. Sementara Ferlita mengekor dengan tergesa mengikuti langkah panjang kaki Elvan.


***


“Ndis, Lu dapat uang dari mana? Kok bisa belanjain gue sebanyak ini?” tanya Yuanita heran.


“Dari mamamu, Nit.” Gendis terkekeh.


“Lah ... Kenapa mama bisa kirim duit sama, Lu?” Yuanita mengernyitkan dahi, heran.

__ADS_1


“Ada, deh! Hahaha ....”


Gendis menyimpan rapat rahasia bersama Mamanya Yuanita.


.


Mereka berjalan menuju angkutan umum yang berada tidak jauh dari tempat mereka berbelanja. Yuanita dan Gendis menaiki angkot.


Angkot melaju kencang setelah bangku penumpang terisi penuh Namun, perut yang lapar tidak dapat tertahan.


“Kiri, Bang!” ucap Yuanita.


Mobil angkot berhenti.


Gendis mengernyitkan dahinya, karena kost mereka masih cukup jauh. Yuanita keluar dari angkot dan Gendis mengekor dari belakang.


“Nit, kita mau ke mana sih?” tanya Gendis.


“Mau makan dulu, Gue laper, Ndis! Makan mie ayam dulu, yuk?” Ajak Yuanita.


“Asikkk!” Gendis mengekor.


Mereka berjalan di pinggir trotoar. Mendekati gerobak mie ayam berwarna biru tua yang lusuh termakan usia.


“Mie ayam sama es teh manis 2 porsi ya, Bang!”


“Siap, di tunggu ya, Mbak.”


Yuanita dan Gendis masuk dalam warung tenda dan memilih bangku untuk duduk sambil menunggu mie ayam pesanannya datang.


Langit sudah berwarna jingga, pertanda waktu magrib akan segera tiba. Yuanita dan Gendis belum sampai kost, mereka masih berada di jalan.


'SRET!'


Mobil terparkir tepat di hadapan Yuanita dan Gendis. Pintu mobil itu pun diturunkan ke bawah. Terlihat sosok pria yang tak asing lagi.


“Van?” ucap Yuanita yang mencoba untuk memanggil nama tunangannya.


“Ayok, Gue antar balik.” Ajak Elvan.


“Ciee ... Sekarang Mas Elvan manis banget.” Gendis menggoda mereka.


“Gue cuma kasian. Orang yang bertunangan sama gue masih berada di pinggir jalan.”


“Idih! Siapa lagi yang minta dikasihani?” tanya Yuanita masih dengan egonya.


“Mau gue anter, gak?” tawar Elvan.


“G ....” ucapan Yuanita terpotong, karena mulutnya dibekap oleh Gendis.


“Kita mau, Mas Elvan!” ucap Gendis.


Yuanita membulatkan matanya. Namun, Gendis tak bergeming. Ia masuk dalam mobil merah itu di kursi belakang.


Tin!


Suara klakson mobil Elvan telah mengagetkannya.


“Ikut, gak?” ucap Elvan mengagetkan lamunan.


Yuanita masuk dalam mobil dan duduk di samping Elvan.


***


Yuanita mengenakan kemeja slim fit berwarna hijau tua yang sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih, sedangkan bawahannya ia mengenakan celana jeans dan sepatu kets berwarna hitam. Tak lupa ia mengenakan kaca mata yang dulu diberikan Elvan.


Ia membawa tas gendong dan beberapa buku besar ia bawa di tangan. Rambut yang ia ikat memberikan kesan sporty pada hari ini.


“Keren! Kamu berubah, Nit! Aku suka sama penampilanmu sekarang.”


Gendis melongo melihat penampilan baru Yuanita.


Yuanita tersenyum.


Masih terlihat malu dengan pakaian yang ia kenakan. Mungkin karena belum terbiasa.


.


Rizal dan Bobi terbelalak melihat penampilan baru Yuanita. Si gadis cupu yang kini telah menjadi tunangan Elvan, sahabat mereka.


Yuanita berjalan melewati Rizal dan Bobi. Mereka hanya bisa menelan ludah ketika melihat penampilan baru Yuanita yang di sertakan wangi parfum yang fres ketika Yuanita melewati mereka.


“Woy! Lu berdua ngapain?” ucap Elvan mengagetkan kedua temannya setelah Yuanita sudah tak terlihat.


“Tunangan Lu berubah, Bro!” ucap Bobi dengan semangat.


“Si Markonah? Berubah? Memang dia power ranger apa? Hahaha ....” Elvan tertawa.


“Iya, Bro! Gue serius!” ucap Rizal.


“Masa, sih?”


Elvan memegang dagunya sendiri, tanda tidak percaya.


“Iya. Kalau dari dulu dia kek gitu, Gue juga mau jadi pacarnya,” ucap Rizal.


Hening.


Elvan teringat ketika ia melihat Yuanita dan Gendis sedang berbelanja. Memang, pada saat itu Yuanita tengah berbelanja banyak baju di sana.

__ADS_1


O ... Berarti yang kemarin gue liat dia belanja, itu untuk dirinya sendiri? Tapi untuk apa motifasinya? Ucap dalam hati Elvan.


“Woy! Malah melamun. Ayok masuk kelas! Bentar lagi dosen killer datang.”


Bobi menarik lengan Elvan.


***


Benar saja. Dalam sekejap, popularitas Yuanita di kampus menjadi naik. Banyak laki-laki yang memuji penampilan barunya. Si gadis cupu yang berubah menjadi modis hanya dalam waktu beberapa bulan saja.


“Van, ke kantin yok? Gue lapar.” Ajak Rizal.


“Oke!”


Elvan, Rizal dan Bobi berjalan menuju kantin. Mereka berjalan melewati wanita-wanita cantik yang selalu melambaikan tangan tatkala tiga lelaki ini lewat di hadapan mereka.


Itu sudah lumrah. Mereka bertiga banyak digilai para gadis kampus. Bukan dari prestasi, melainkan dari tampang dan kekayaan orang tua mereka.


Elvan melihat, Yuanita dan Gendis sudah ada di kantin. Mereka terlihat sedang makan mie ayam. Yuanita yang beberapa kali menyeka keringat di keningnya dan bibir yang menjadi merah merona tatkala kepedasan cabai yang ada dalam seporsi mie ayam yang telah mereka nikmati.


Markonah? Apa benar itu dia? Pekik dalam hati Elvan.


Rizal dan Bobi sudah masuk dalam kantin, sedangkan Elvan masih mematung di depan pintu kantin memperhatikan penampilan baru Yuanita.


Tuhan, dari dulu Aku telah suka melihat mata hitamnya. Sekarang, ia merubah tampilannya. Ia bertambah cantik menurutku. Apakah Aku telah jatuh cinta padanya? Ucap dalam hati Elvan.


“Gak! Enggak mungkin seorang Elvan Syahreza Adhitama mencintai Markonah? Mustahil!” Elvan menyanggah sendiri pertanyaan yang ada dalam hatinya.


.


Elvan, Rizal dan Bobi kembali ke kelas karena masih ada jam pelajaran di kelas mereka.


Kelas pun telah di mulai. Entah mengapa, di dalam kelas, Elvan masih membayangkan penampilan baru Yuanita.


“Van.” Dosen memanggil.


Elvan masih menikmati lamunannya.


“Elvan!”


Dosen lebih kencang memanggil namun Elvan masih tak bergeming.


“ELVANNN!!!”


Kali ke tiga, Dosen memanggil dengan berteriak.


“Iya, Markonah?” jawab Elvan yang tersadar dari lamunan.


“Apa, Kamu bilang? Saya Markonah? Berdiri Kamu di depan kelas! Sampai jam kelas Saya selesai!”


Mati! Gak ada ampun dari dosen killer.


Elvan berdiri di depan kelas untuk yang pertama kalinya ia di hukum sampai jam pelajaran habis alias sampai pulang ia mesti berdiri, mematung.


.


Akhirnya jam kampus selesai menandakan selesai pula hukuman dari dosen untuk Elvan.


Rizal dan Bobi menertawakan Elvan ketika semua orang telah bubar dalam kelas mereka.


“Ya Tuhan ... Van, Lu mulai jatuh cinta sama Yuanita, ya?”


“Gak!” Bantah Elvan.


“Van, Ayang Markonah, mane? Entar digebet orang baru tau, Lu!” ucap Bobi.


“Bodo amat!”


Elvan masih menyanggah walau dalam hati tak rela.


.


Bobi dan Rizal sudah pulang. Elvan juga bergegas untuk pulang. Ia membuka pintu mobil merahnya dan masuk dalam mobil itu. Ia tancap gas. Namun, ketika di halte dekat gerbang kampus. Elvan melihat Yuanita dan Gendis masih menunggu angkot.


“Mau bareng kagak?”


Elvan menurunkan kaca mobilnya.


“Mau, Mas!”


Seperti biasa, Gendislah yang menjawab.


Gendis menarik lengan Yuanita masuk dalam mobil merah itu. Hanya kebisuan seperti biasa yang terjadi dalam mobil hingga tak terasa mobil telah memasuki halaman kost Yuanita.


Gendis dan Yuanita Turun dari mobil, “Makasih, Mas Elvan,” ucap Gendis.


Elvan tersenyum.


Namun, Elvan melihat laki-laki dewasa berkemeja dengan wajah tampan dan perawakan yang tinggi telah tersenyum pada Yuanita.


Dia siapa? tanya dalam hati Elvan.


“Kak Iyan?” Terucap dari bibir Yuanita.


Yuanita berlari dan memeluk laki-laki itu di depan mata Elvan.


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2