
Keesokan harinya.
Elvan, Yuanita dan Gendis kembali ke Surabaya untuk kembali beraktivitas. Namun, kedua orang tua Elvan masih berada di Bandung karena masih ada urusan bisnis yang belum terselesaikan.
Cincin yang tersematkan berlian putih, telah melingkar di jari manis Yuanita sebagai pengikat hubungan mereka, yang nantinya akan beranjak pada ikatan janji suci, pernikahan.
Yuanita tampak ragu dengan pertunangan ini. Pertunangan yang sama sekali bukan karena keinginan mereka. Pertunangan yang terjadi karena perjodohan semata. Apakah bisa berakhir dengan bahagia?
Liku-liku hidup Elvan dengan banyak wanita, membuat Yuanita ilfeel akan sosok Elvan, apa bisa menjadi imam yang baik dalam rumah tangganya kelak?
.
Mereka telah sampai di Surabaya. Elvan mengantarkan Yuanita dan Gendis ke kost-nya. Mereka turun dari mobil merah itu dan melenggangkan kaki masuk dalam kost. Elvan menunggu hingga mereka kini tak terlihat lagi oleh matanya.
“Sayang, Aku gak mau putus dari kamu!” Chika tiba-tiba ada di samping pintu mobilnya.
“Chika?”
Mata Elvan membulat.
“Aku hamil, Sayang!”
Chika memegang perutnya.
“Mungkin, tapi Aku yakin. Itu bukan anakku! karena Aku belum pernah melakukan hal itu bersamamu!” bantah Elvan.
“Tapi, Aku pacarmu, Sayang.”
“Pacar? Kamu mantanku. Mantan yang mencoba membohongiku dengan kepalsuan kehamilanmu, kan?”
Elvan membulatkan matanya.
Chika terdiam. Karena memang ia tidak pernah melakukannya bersama Elvan. Ia hanya berpura-pura agar Elvan tidak meninggalkannya.
“Aku sangat mencintaimu, Sayang. Aku gak mau pisah darimu!” Chika memandang tajam.
“Cinta aku atau uangku?”
“Cinta kamu!”
“Sorry, Aku masih bingung dengan hatiku masalah cinta. Terlebih, kamu mengetahui tentang pertunanganku, kan? Aku butuh waktu untuk sendiri.”
“Tapi, Sayang. Tolong kasih kesempatan untukku. Aku berjanji tidak akan membohongimu lagi. Aku hanya takut kehilanganmu!”
Elvan tak bergeming. Ia langsung menstater mobilnya dan melesat pergi dari kost Yuanita.
Chika masih terpaku di depan kost sederhana itu. Ia memikirkan strategi agar Elvan tidak lepas dari dirinya. Karena, Elvan merupakan ladang uang baginya.
“Sial! Aku kurang bisa bersandiwara! Kenapa Aku bisa ngomong pura-pura hamil? Padahal, Aku juga tahu Elvan tidak pernah melakukan itu bersamaku. Dasar bodohhh!” Chika menggerutu kesal.
Chika tidak mengetahui, bahwa sebenarnya ada orang yang mendengarkan ucapan kekesalannya. Ternyata, Gendis tidak sengaja mendengarkan ucapannya barusan. Gendis yang hendak pergi ke warung malah mengetahui kebusukan Chika yang merupakan salah satu kekasih Elvan.
Chika kembali ke kost-nya dengan berjalan cepat karena kesal rencananya telah gagal.
“Owalah ... jadi, ngono to? (jadi, gitu to?)” Gendis mengetahui kebusukan Chika.
“Berarti, Mas Elvan itu tidak seburuk yang Aku bayangkan?” Gendis menyimpulkan.
***
Elvan menjatuhkan tubuh lelahnya di atas ranjang besar yang nyaman. Menghempaskan napas kencang, karena ia benar-benar penat dengan keadaan ini. Terlebih, pertemuannya dengan Chika, orang yang kemarin telah diputuskan Elvan karena telah membohonginya dengan berpura-pura hamil.
Ting ... Tong ....
Suara bel berbunyi.
“Elvannya ada, Bi?”
“Ada, silakan masuk, Den. Biar bibi panggilkan.”
“Gak usah, Bi. Biar Saya yang langsung naik ke kamarnya. Bibi lanjut ke dapur aja, gak papa.”
“Oh, ya udah. Mari, Den!”
Minah alias asisten rumah tangga di rumah Elvan akhirnya kembali ke dapur, sedangkan Rizal menaiki anak tangga untuk sampai ke kamarnya Elvan. Rizal memang sudah terbiasa masuk ke kamar Elvan. Ia sudah dianggap keluarganya sendiri oleh keluarga Elvan.
“Van!”
Rizal memanggil sambil mengetuk pintu.
Hening.
“Van!”
Rizal memanggil lebih kencang.
Cklek.
Pintu dibuka.
“Paan?”
Elvan ke luar kamar dengan mata yang memerah.
“Lu lagi tidur?”
“Iya. Ada apa?” tanya Elvan.
__ADS_1
“Tadinya mau ngajakin nongkrong. Ya udah Deh, Lu lanjut tidur lagi aja. Gue balik, ya?”
“Oke! hati-hati, lu!”
Rizal pun keluar dari rumah Elvan. Ia melesat menggunakan mobilnya. Karena kuliah sedang libur, Rizal pun berinisiatif untuk mendatangi kost Stella. Ia tengah merindu gadis cantik dan seksi yang sekarang menjadi pacarnya. Rizal tidak mengetahui bahwa dirinya hanya dijadikan ladang untuk mendapatkan uang bagi Stella.
Mobil dipacu dengan kecepatan tinggi. Tidak berselang lama. Akhirnya Rizal telah sampai di kost Stella, yang tak lain sudah menjadi pacar barunya.
Tok ... Tok ... Tok ....
Rizal mengetuk pintu kost Stella.
Cklek.
Suara pintu terbuka.
Terlihat Stella dari balik pintu. Ia sedang mengenakan celana jeans pendek dan atasan kaos yang ketat, terlihat seksi apabila kaum adam yang melihat.
“Rizal?”
Mata Stella melebar melihat kedatangan Rizal di kost-nya.
“Jalan, yuk? Aku bete di rumah.” Ajak Rizal.
“Oh, ya udah Aku ganti baju dulu, ya?” Stella tidak semanis kemarin sebelum Elvan datang.
Kenapa Stella jadi gak manis lagi sama Gue? Tanya hati Rizal.
Tidak berselang lama. Stella pun keluar dari dalam kost-nya. Mereka melesat ke sebuah pusat perbelanjaan.
Stella menunjuk berbagai macam barang yang ia suka. Mulai dari sepatu, baju, tas, dan jam tangan tak luput dari permintaannya.
Sialan! Gue cuma dimanfaatin doang sama Stella. Rizal menerka dari hatinya.
Senyuman pun mengembang dari bibir Stella yang telah mendapatkan hasrat belanjanya setelah beberapa hari tidak berbelanja.
“Makasih, ya.”
“Sama-sama.”
***
Rizal menceritakan hal itu pada Bobi. Ia merasa telah dimanfaatkan oleh Stella dan ternyata, Bobi juga merasakan hal yang sama. Ia juga diperlakukan seperti itu oleh Ferlita. Akhirnya, kedua sahabatnya Elvan memilih diam dan menutup rapat perselingkuhan itu karena mereka sadar hanya dimanfaatkan saja.
.
Hari-hari kembali seperti dulu. Dimana Elvan masih memegang kendali dua pacar simpanannya itu.
Rizal dan Bobi sudah menyerah bermain api dengan pacar-pacar simpanan Elvan. Karena Rizal dan Bobi berbeda tujuan dengan Elvan.
Berbeda dengan Rizal dan Bobi yang awalnya mempunyai rasa yang tulus untuk Stella dan Ferlita. Makanya mereka memilih mundur tanpa membocorkan rahasia itu pada Elvan agar semuanya baik-baik saja.
.
Ngampus again!
“Markonah!”
Elvan memanggil Yuanita.
“Paan?”
“Menurut Lu, kita harus gimana?”
“Gue juga bingung. Kenapa sih Gue mesti dijodohin? Sama Lu, lagi!”
Yuanita memandang kesal pada Elvan.
“Yaelah! Lu kira Gue mau gitu?”
Elvan pun tak kalah sengit memandang mata hitam itu.
“Gue benci dengan pertunangan ini!” pekik Yuanita.
“Sama! Emangnya Lu doang?”
Hening.
“Sayang!”
Suara perempuan memanggil.
Yuanita dan Elvan menoleh ke arah suara.
“Chika?”
Netra Elvan melebar melihat Chika mendekatinya.
Ada rasa kesal pada Yuanita ketika Chika mendekati dan bermanja pada tuangannya. Elvan pun memanfaatkan keadaan ini.
“Apa, Sayang?” ujar Elvan pada Chika.
“Ke kantin, yuk?”
Ajak Chika yang masih bergelendotan di lengan Elvan.
Yuanita mendengus kesal melihat mereka bermesraan, “Apa yang terjadi sama Gue sih? Kenapa Gue kesal?” ucap Yuanita setelah jauh dari Elvan dan Chika.
__ADS_1
***
Yuanita buru-buru mengajak Gendis untuk pulang. Tanpa ada bantahan, Gendis pun mengikuti sahabatnya yang terlihat sedang kesal.
Sesampainya di kost. Yuanita langsung masuk dalam kamar. Ia membuka pintu yang mengarah ke balkon kamarnya. Ia membenamkan tubuhnya di kursi yang berada di balkon kamar.
Yuanita berusaha memejamkan matanya. Namun, lagi-lagi bayangan Elvan dan Chika hinggap diangannya.
“Ya Allah! Aku kesal dengan semua ini! Aku muak! Aku gak ingin tunangan sama dia, tapi kenapa Aku merasakan sakit ketika dia bermesraan dengan wanita lain?”
Terjadi konflik batin antara benci dan mulai mencintai pada diri Yuanita.
.
Sedangkan Gendis, begitu heran melihat Yuanita yang tiba-tiba diam seribu bahasa disertai dengan bibir meruncing khas orang yang sedang cemburu.
Drett ... Drett ....
[Dis! Si Markonah udah balik? Kok Gue gak liat, dia pulang naik angkot?] Isi pesan dari Elvan.
[Udah, tapi kenapa bibirnya meruncing? Kalian ada masalah?] balas Gendis.
[Enggak!] balas Elvan singkat.
Hening.
Gendis sedikit berpikir dengan keadaan Yuanita. Apakah Yuanita ngambek sama Aku, ya? Pekik dalam hati Gendis.
Drett ... Dertt ....
Gawai yang ada dalam genggaman tangannya kembali bergetar. Gendis kembali mengusap layar gawainya dan membaca pesan dari Elvan.
..
[Seingat Gue, terakhir si Markonah melihat Gue lagi bermesraan sama Chika.]
..
“Hemmm ... Berarti Yuanita cemburu sama Mas Elvan?” celetuk Gendis sambil tersenyum setelah membaca pesan dari Elvan.
Gendis berusaha menghibur Yuanita. Ia masuk dalam kamarnya yang memang tidak dikunci.
Gendis mencari sahabatnya di tiap sudut kost. Dari mulai ruang tamu yang kecil, dapur, kamar mandi, dan pintu kamar yang tertutup. Gendis melihat pintu kamar yang mengarah ke balkon telah terbuka. Ia melangkahkan kakinya mendekati balkon itu dan ternyata Yuanita sedang tertidur di atas kursi yang berada di balkon kamar.
.
Betapa kagetnya Yuanita ketika lemari pakaiannya telah kosong, hanya ditinggalkan beberapa baju saja. Ia berlari ke kamar Gendis.
“Ndis, Lu liat yang masuk kamar Gue, gak?” Yuanita bertanya dengan ekspresi panik.
“Memang ada apa, Nit?” ucap Gendis santai.
“Ada yang maling baju-baju Gue!”
“Oh ....”
Gendis menjawab datar.
“Lu tau orangnya? Di mana? Siapa?” tanya Yuanita tanpa titik dan koma.
“Aku.”
Gendis tersenyum geli menjawab pertanyaan Yuanita. Karena, pelakunya adalah dirinya sendiri.
“Ndis, jangan bercanda. Gue serius!”
Yuanita membulatkan mata.
“Aku gak bercanda. Saatnya kamu ganti stile, Nit.” Mata Gendis tajam melihat Yuanita.
“Maksudnya?”
Yuanita heran dengan ucapan sahabatnya.
“Kamu cemburu, kan, sama mas Elvan?” tanya Gendis menodong.
“Gue? Cemburu sama Elvan? Jiji, ih!”
Yuanita berkelah, walau hatinya berat membantah semua itu.
“Aku bisa melihat orang yang lagi cemburu loh, Nit. Aku pernah merasakan hal itu.” Gendis tertunduk.
“Jangan biarkan ego menguasai dirimu, Nit. Aku pernah merasakan kehilangan orang yang ku sayang karena egoku.” Sambung Gendis.
Hening.
Yuanita tidak bisa berkata apa-apa ketika mendengar dan melihat ekspresi Gendis yang terlihat begitu sedih.
Apakah saatnya Gue merubah penampilan, ya? Pekik dalam hati Yuanita.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1