Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 12 (Ketemu Camer)


__ADS_3

Gendis tersenyum. Ketika mendengar, kalau mobil sudah berangkat satu jam yang lalu. Mungkin, Yuanita yang salah mencatat jam pemberangkatan waktu akhir itu.


Untuk memesan travel pun belum tentu dapat, karena Yuanita belum memesan tiket sebelum pemberangkatan. Dalam keadaan ini, Yuanita tidak bisa berbuat apa-apa, selain dari kata pasrah. Ikut bersama calon tunangannya yang ia anggap orang yang paling menyebalkan sedunia.


“Ya udah, Nit. Kita ikut mobilnya Mas Elvan aja, yo?” Ajak Gendis.


Elvan masih sok cool berdiri di samping pintu mobil yang ia buka. Berpura-pura tidak mendengarkan perdebatan dua wanita itu. Padahal, dalam hatinya tersenyum lebar karena Yuanita ketinggalan bus pada malam ini.


“Gue males, Ndis!” Yuanita berbisik.


“Lahhh ... Entar juga kamu bakal jadi istrinya.”


“Ssttt! Jangan kenceng-kenceng, napa?” Yuanita membekap mulut Gendis.


“Ya udah, terserah! Tapi lu yang bilang. Gue males!” jawab Yuanita.


“Oke!”


.


Elvan memutar arah mobilnya kembali ke rumah. Ia akan mengambil beberapa potong pakaian untuk ganti selama di Bandung. Sementara, Mama dan Papanya telah sampai di Bandung, karena mereka berangkat sedari pagi.


“Kok jalannya ke sini?” ucap Yuanita.


“Iya, ngambil dulu baju gue. Kan gue gak tau kalau lu mau ikut sama gue,” ucap Elvan yang berlagak tidak tahu.


Hemmm ....


Yuanita mendengus kesal.


Di perjalanan tidak ada percakapan. Hanya suara bising klakson motor dan mobil di malam itu. Elvan fokus pada kendali setirnya dan Yuanita masih dengan bibir runcingnya.


“Mas Elvan, iki opo to? (ini apa?)” tanya Gendis sambil memperlihatkan buket bunga mawar putih nan cantik.


Mati Gue! Pekik hati Elvan.


Elvan takut, Gendis mengetahui kalau bunga itu ia beli untuk Yuanita. Bisa berabe kalau sampai si cerewet Gendis mengetahui akan hal itu. Elvan bisa mati gaya di depan Yuanita yang ia anggap gadis cupu. Gadis yang mulai meluluhkan hati Elvan saat ini.


“Itu bunga, Ndis!” jawab Yuanita ketus.


“Aku juga tau kalau iki kembang, Nit. Maksudku, kenapa bunga secantik iki malah ditaruh di kolong kursi mobil? Kan, sayang, Nit!” Gendis berekspresi heran.


Hening.


Tidak ada yang menjawab baik itu Elvan yang mempunyai mobil maupun Yuanita.


“Mas Elvan, coba jelaskan. Aku penasaran, e!” Gendis bertanya dengan logat Jawanya.


“Jangan cerewet! Gue mau ambil baju. Kalian mau masuk atau tunggu di sini, terserah!” Elvan berlalu pergi memasuki pintu rumahnya yang menjulang tinggi.


Yuanita dan Gendis menunggu dalam mobil. Gendis masih dengan ke penasarannya. Ia terus memperhatikan bunga cantik yang berwarna putih itu.


“Sesungguhnya, Mas Elvan itu mau kasih bunga ke siapa, toh? Kok Aku jadi kepo, ya?” celetuk Gendis.


Yuanita tak bergeming. Ia terus memandangi gawainya dan sesekali ia mengecek akun medsosnya.


Tak berselang lama. Elvan pun ke luar dari dalam rumah. Ia membawa travel bag kecil dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.


Elvan membuka handle pintu mobil. Memperhatikan Yuanita yang masih cemberut dan Gendis yang masih terfokus pada buket bunga yang tadi ia beli.


Elvan duduk dan bersiap kembali menyetir mobil untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh antara Surabaya dan Bandung. Ia berekspresi seperti biasa, sok cool di depan Yuanita.


“Mas Elvan,” sapa Gendis.


“Hem.”


“Kembang iki nggo sopo, sih? (Bunga ini untuk siapa, sih?)”


Mendengar pertanyaan Gendis, Elvan hampir saja keceplosan kalau ia yang membelinya. Ia sedikit berpikir, agar Gendis tidak nanya-nanya lagi.


“Dari Papa buat Mama, tadi ketinggalan di mobil gue.” Elvan beralasan.


“Oh ... Tapi seperti ada yang aneh menurutku,” ucap Gendis lagi.


“Ndis, mending Lu tidur. Perjalanan masih jauh. Lu berisik tau!” ucap Yuanita.


Gendis tersenyum lebar.


***


Yuanita masih sok sibuk dengan gawainya. Sedangkan Gendis sudah tertidur pulas di kursi belakang dengan sesekali mendengkur kecil.

__ADS_1


Dalam mobil, hanya terdengar bunyi klakson, itu pun dari luar kendaraan. Di dalam mobil hanya terdengar napas Gendis yang kadang diselingi dengan dengkuran kecil.


Setelah tiga jam berlalu. Perut Elvan terasa lapar, ia memutuskan untuk makan di salah satu restoran yang ia lewati di pinggir jalan.


Ia memarkirkan mobilnya dan bergegas turun menuju ke restoran yang sederhana karena perut yang telah lapar, Elvan tidak bisa memilih.


“Udah sampai?”


Yuanita bertanya sambil membenahi kaca matanya.


Elvan takjub ketika melihat Yuanita yang baru terbangun dari tidurnya. Yuanita terlihat polos dengan rambut sedikit acak-acakan dan netra yang sedikit memerah di balik kaca matanya.


Elvan terus memandangi. Tak disadarinya, bahwa kini ia telah mulai sedikit memperhatikan Yuanita.


“Loohhh ... sebenarnya kita di mana, Van?” Yuanita heran.


Elvan masih memandangi wajah polos itu.


“Elvan!”


Yuanita memukul lengan Elvan.


Elvan terperanjat ketika lengannya terasa sakit karena Yuanita memukul lengannya.


“Aww! Sakit Markonah!”


Elvan mengelus lengan yang tadi di pukul Yuanita.


“Habisnya, gue tanyain Lu malah diem aja!”


“Nanya apa, toh?”


“Ini di mana? Kok kita malah parkir di sini?” tanya Yuanita yang sedari tadi belum di jawab oleh Elvan.


“Gue laper, mau makan. Ajak tuh, temen Lu yang suka ngorok!”


Elvan berlalu turun dari mobilnya.


“Dihhh ....”


Yuanita heran ditinggal pergi oleh si empunya mobil.


.


.


Kejadian itu membuat hening seketika, ada rasa malu pada diri Yuanita yang telah lalai menyuapkan nasi dalam mulutnya, hingga menjadi berlepotan.


Elvan tersenyum melihat gadis berkaca mata itu tertegun tak berdaya karena malu.


“Markonah?”


Suara itu mengagetkan Yuanita.


“Hem?” jawab Yuanita singkat.


“Lu gerogi ya, makan di hadapan gue? Gimana kalau jadi istri gue?” Elvan menatap Yuanita.


“Heleh, belum tentu juga Kita jodoh! Lagian siapa lagi yang grogi?”


Yuanita memutar bola mata.


Elvan tersenyum.


Dasar cewek! Udah ketahuan, masih aja ngeles! Pekik dalam hati Elvan.


***


Sementara di Surabaya. Stella dan Ferlita telah mendekati Rizal dan Bobi yang tak lain sahabat kekasih mereka. Stella tidak mengetahui kalau Ferlita juga pacar simpanan Elvan.


Stella mendekati Rizal yang mempunyai wajah yang cukup tampan, walau masih jauh ganteng Elvan. Namun, yang ada dalam pikirannya hannyalah uang untuk Shopping.


Stella merayu Rizal. Sebagai cowok normal, Rizal juga akhirnya masuk dalam pelukan Stella yang cantik dan seksi.


Awalnya, Rizal tidak mau mengkhianati sahabatnya. Namun, setan lebih mendominasi hatinya. Hingga Rizal berbuat lebih jauh bersama Stella. Rizal berpikir kalau Elvan juga akan meninggalkan Stella, karena Elvan akan bertunangan dengan Yuanita.


“Zal, jangan tinggalin Aku, ya? Aku sangat mencintaimu,” ungkap Stella yang sedang berada dalam pelukkannya.


“Iya, Sayang. Aku akan selalu bersamamu. Aku akan memilihmu dari pada persahabatanku dengan dia!”


Stella tersenyum mendengar Rizal bicara seperti itu.

__ADS_1


Elvan memang dikenal cowok play boy. Tapi, ia tidak sampai melakukan hubungan badan dengan pacar-pacar simpanannya. Elvan hanya menjadikan mereka sebagai taruhan bersama teman-temannya.


Elvan menyukai hal itu, terlebih. Wanita yang ia taklukan adalah wanita yang ada dalam kriterianya. Tapi wanita-wanita itu, semua tidak bisa menaklukkan hati Elvan, hanya sekedar senang-senang saja.


.


Begitu pun dengan Bobi. Ia sekarang telah dekat dengan Ferlita. Walau ia tahu Ferlita adalah pacar simpanan Elvan, tapi Ferlita bisa meyakinkan hati Bobi untuk menjadi pacarnya.


Hanya dalam satu malam. Elvan telah di khianati pacar-pacar simpanannya. Mungkinkah ini karma? Entah. Yang jelas, apa yang ia tanam itulah yang akan ia tuai.


***


Hingga waktunya, Yuanita, Elvan dan Gendis telah tiba di kota Bandung.


Yuanita membuka handle pintu mobil dan mendorongnya. Ia melangkahkan kaki dan memencet bel rumah.


Ting ... Tong ....


Tidak berselang lama, pintu pun terbuka. CKLEK ....


“Nita?”


Sosok ibu yang belum terlalu tua memeluk erat Yuanita.


“Gimana kabarnya, Nak? Katanya kamu sakit?” tanya Rani.


“Udah sehat, Ma. Mungkin kemarin hanya kelelahan.”


“Pagi, Tante ....”


Mata rani membulat ketika mendengar suara laki-laki yang menyapanya, ia melihat laki-laki berperawakan jangkung, berparas tampan sempurna menurutnya.


Rani mengernyitkan dahinya, “Ini siapa, Nak?” Ekspresi heran pada wajah Rani.


“Dia Elvan, Ma.”


“Elvan?”


“Elvan Syahreza Adhitama, Tan.”


Elvan menyodorkan lengannya untuk berjabat tangan.


“Ya Allah ... Nak Elvan. Maaf, Tante lupa, dulu terakhir ketemu. Elvan masih kecil.”


Rani terkekeh sembari berjabat tangan dengan calon menantunya.


“Mari masuk! Mang kosim, tolong angkat barang-barang mereka, ya?” ucap Rani kepada scurity di rumahnya.


“Siap, Bu!”


Elvan duduk di sofa ruang tamu. Ia kelelahan setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Punggung dan kepalanya ia rapatkan ke sofa. Terasa nyaman, bahkan sesekali matanya terpejam menikmati relaxasi yang nyaman di atas sofa berwarna cream itu. Ini kali pertama Elvan bertemu dengan calon mertuanya.


Sementara Yuanita lagi asyik bersama mamanya di dapur, membantu Tuti untuk menyiapkan hidangan untuk menyambut kedatangan Elvan.


.


Drett ... Drett ....


Hand phone yang ada dalam tas Yuanita bergetar. Elvan mengambil gawai karena ia merasa terganggu oleh bunyi suara hand phone.


Tanpa melihat nama panggilan si penelepon. Elvan langsung menggeser layar pada gawai itu.


[Halo?]


[Mas Ganteng, kalian di mana?]


Mata Elvan yang mengantuk tiba-tiba membulat.


"GENDIS?"


Elvan menepuk jidatnya, karena ia lupa tidak membangunkan Gendis yang masih tertidur dalam mobilnya. Elvan langsung berlari ke halaman rumah Yuanita dan ia membukakan pintu mobilnya.


“Mas, kita ada di mana, sih?”


“Udah sampe di rumah Markonah. Lu, sih. Molor terus!” Elvan ngeloyor pergi.


“Mas Ganteng! Tungguuu!”


..


Bersambung..

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2