
“Udah, jangan nagis lagi.”
Iyan mengusap lembut air bening yang ada di pipi Yuanita.
“Kapan kakak bisa ke sini lagi?”
Tatapan mata Yuanita penuh harap.
“Mmm ... Belum tau, Nit. Kalau kerajaannya pindah ke mari mungkin.” Iyan tersenyum.
“Nanti aku minta sama Papa biar dipindah ke sini aja!”
“Gak boleh gitu. Jalanin aja selagi ada kesempatan.”
Iyan menarik hidung Yuanita pelan.
Iyan melangkahkan kakinya menuju Elvan yang sedang berdiri mematung di sisi Gendis.
“Kakak percaya, orang tua kakak tidak akan salah menjadikan kamu sebagai jodoh Yuanita. Kakak yakin, kamu orang yang baik. Sayangi dia, ya? Setelah kalian menikah nanti, tanggung jawab kami pada Yuanita telah tuntas.” Iyan menepuk pelan pundak Elvan.
Elvan tersenyum dan mereka berpelukan. Hati ingin mengiyakan, namun mulut terlalu gengsi untuk mengucapkan.
Sorot mata Iyan mengarah kepada Gendis, gadis yang sedari tadi memandang wajahnya dan menampakkan rona wajah sedih namun tetap berusaha tegar. Ia melangkahkan kakinya dan berdiri tepat di hadapannya.
“Ndis!” suara lembut Iyan memanggil namanya.
Tak banyak bicara dan mengesampingkan malunya. Gendis pun memeluk erat Iyan. Seakan dirinya tak mengizinkan Iyan untuk pergi jauh darinya.
Yuanita dan Elvan tidak kalah kaget melihat ekspresi Gendis yang sedari tadi merupakan orang yang terlihat paling santai. Tiba-tiba saja menjadi sosok yang cengeng di hadapan Iyan.
“Ndis ....”
Lagi-lagi Iyan menyebutkan namanya.
Gendis semakin erat melingkarkan tangan mungil itu pada tubuh kekar yang telah berdiri di hadapannya.
Hening. Sampai terdengar suara panggilan bahwa pesawat akan diberangkatkan. Gendis melepaskan pelukannya.
“Hati-hati ya, kak. Gendis janji akan penuhi janji Gendis buat jagain Yuanita. Satu hal lagi ....” katanya terpotong.
“Apa?”
“Gendis akan merindukan kakak.”
Air mata itu kembali meluncur, terjun bebas di pipi Gendis yang putih.
Iyan tersenyum dan kembali memeluk tubuh mungil itu dengan erat. Hatinya sama dengan Gendis, ia berat untuk jauh dari gadis yang baru ia kenal ini.
“Mungkin, lain kali kita akan bertemu lagi, Ndis,” bisik Iyan pada telinga Gendis.
“Aku akan menunggu saat itu.”
Semakin erat Gendis memeluk Iyan. Hingga akhirnya pesawat Iyan terbang dan tak terlihat lagi.
***
Sementara di seberang sana. Ada Wisnu dan Widya yang tengah mempersiapkan untuk pernikahan putra mereka.
Hotel mewah pun telah dibooking untuk acara pesta pernikahan anak mereka. WO (Wedding Organizer) dan catering pun tak luput telah mereka persiapan. Semuanya telah dipersiapkan agar pernikahan putra mereka berjalan lancar dan hikmat.
.
“Van, kamu tinggal pilih desain undangannya mau yang mana?”
Widya mengangkat beberapa contoh kertas undangan.
“Terserah mama aja lah.”
“Loh ... Kan, yang mau menikah kamu bukan Mama, Van! Ini, kamu bawa sampel undangan ke kost Yuanita. Kalian pilih bareng-bareng. Mama dan Papa sudah mempersiapkan untuk hotel, WO dan catering. Kalian tinggal menentukan contoh buat undangan. Oh, iya. Satu lagi, setelah itu kalian pergi ke butik langganan kita untuk memilih baju untuk pernikahan kalian!” Widya berbicara panjang lebar.
“Hem ....”
Elvan menjawab hanya dengan berdehem.
“Elvan!”
Mata Widya melotot melihat anaknya yang masih duduk di sofa.
“Iya, iya. Ni, Elvan berangkat, Mam!”
Elvan bangkit dari sofa, menuju ke kamarnya.
“Mau ke mana kamu?”
Tanya Widya sambil menanam kedua tangannya di pinggang.
“Ganti baju dulu, Mam.”
Elvan memutar bola matanya.
.
Elvan melangkahkan kaki, menapaki anak tangga dan membuka pintu kamarnya. Ia membuka lemari pakaian dan memilih kemeja slim fit polos berwarna navy dan celana jeans berwarna hitam. Tak lupa, ia melingkarkan jam di tangannya.
Elvan duduk di atas ranjang. Masih tercium wangi parfum yang Yuanita pakai pada waktu menyambut kedatangan papanya. Elvan memejamkan mata ia membayangkan Yuanita ada di samping dan duduk di atas ranjang bersamanya.
“Aduh! Ngehalu apa sih, gue?”
Elvan menggaruk kepalanya.
Ia bangkit dari atas ranjang setelah memakai sepatu. Meraih kunci mobil dan gawai yang tergeletak di atas nakas.
Elvan menuruni anak tangga, berjalan menuju garasi dan segera mengeluarkan mobil merahnya. Tak lupa, contoh undangan ia simpan dalam mobil.
Grek!
Pintu gerbang terbuka. Elvan meluncur bersama mobil merahnya.
__ADS_1
Drett ... Drett ....
Gawai Elvan bergetar. Ia melihat di layar gawai tertulis nama, Ferlita calling ..
Elvan menepikan mobilnya dan mengangkat telepon dari Ferlita.
[Iya, Fe. Ada apa?] Elvan mengangkat teleponnya.
[Dih ... Kok sekarang panggilnya gitu, sayang? Gak romantis, ah!]
Ferlita menjawab telpon dengan nada merajuk.
[Hehe ... Iya, iya. Ada apa Honey?]
[Aku mau ketemu kamu,] jawab Ferlita bernada manja.
[Tapi, aku ....]
[Gak mau tau alasnmu! Yang penting sekarang juga kamu harus ke kostku!] jawab Ferlita tegas sebelum Elvan menjawab permintaannya.
[Ya udah, iya. Aku ke kostmu sekarang.]
.
Elvan memutar balik arah mobilnya. Dengan cepat ia segera menemui kekasih yang telah menunggunya.
Tut!
Ia mengunci mobil merah itu di halaman kost Ferlita.
Elvan melangkahkan kakinya menuju kamar kost Ferlita. Di dalam kamar, Ferlita sudah menyambutnya dengan pakaian seksi untuk menggoda Elvan.
“Hay, Sayang ....”
Ferlita duduk di atas sofa seraya melambaikan tangannya.
“Hay ... Ada apa, Honey?” tanya Elvan tanpa ada kata pujian seperti biasanya.
Wajah Ferlita sedikit masam mendapat perlakuan itu dari Elvan. Ia merasa, akan ditinggalkan oleh Elvan karena sikapnya yang semakin cuek padanya. Bahkan, mereka pun jarang bertemu setelah perjodohan Elvan dengan wanita lain.
“Kenapa, sih. Sekarang kamu berubah?” ucap Ferlita yang mendorong Elvan sampai mentok dinding kamar. Ferlita mencoba merayunya.
“Aku ada perlu sayang,” terang Elvan.
“Perlu apa?”
“Mengurus pernikahanku.”
“Katanya enggak mau nikah, tapi kok kamu yang urusin?”
“Iya, dari pada dicoret dari akta pewaris harta tunggal? Kamu mau gak bisa berbelanja lagi?” Elvan beralibi.
“Emm ....”
“Mau?” tanya Elvan lagi.
“Ya udah deh. Aku hanya takut, kamu ninggalin aku, Sayang,” bisik Ferlita pada telinga Elvan.
***
Setelah melepas rindu. Akhirnya Elvan menuju kost Yuanita. Ia memacu mobilnya setelah bermanja dengan kekasihnya.
Sret!
Elvan memarkir mobil itu di halaman kost sederhana yang tidak terlalu besar. Ia berjalan menuju kamar Yuanita.
Tok ... Tok ... Tok ....
Elvan mengetuk pintu kamar Yuanita.
Cklek!
Pintu kamar terbuka.
Ada sosok gadis berkaca mata yang berdiri di balik pintu dengan menggunakan celana pendek dan kaos yang longgar karena Yuanita sedang bersantai dalam kamarnya.
“Elvan? Ngapain Lo kemari?” tanya Yuanita dengan mata yang terbelalak, heran.
“Bisa kita ngobrol?” tanya Elvan.
“Bentar. Gue mau ganti celana. Lu tunggu dulu di sini!”
Yuanita kembali menutup pintu kostnya.
Jeduk!
Kepala Elvan kejedot pintu yang ditutup oleh Yuanita.
“Aww! Dasar Markonah!”
Elvan mengusap dahi yang terbentur pintu.
Elvan duduk di kursi yang ada di depan kost Yuanita. Ia terkenang ketika waktu lalu ia mabuk dan tertidur di kursi ini. Tak terasa, bibir Elvan tersenyum ketika mengingat masa-masa itu. Dimana akhirnya ia disuapi nasi dan telur dadar yang di tambah sambal mentah dari tangan Yuanita. Elvan tersenyum, larut dalam kenangannya.
“Ngapain, lu senyum-senyum sendiri?” tanya Yuanita. “Mau ngobrolin apa?” timpalnya lagi.
Elvan terperanjat dalam lamunannya.
“Ayok, ikut gue!” Elvan menarik lengan Yuanita.
“Eeehhhh ... Mau kemana?”
“Udah, jangan banyak tanya!”
Kebiasaan! Pekik hati Yuanita.
Elvan menggandeng tangan Yuanita menuju ke mobil merahnya. Ia membuka kunci mobil dan masuk ke dalamnya. Elvan menyerahkan beberapa contoh design undangan pada Yuanita ketika mereka telah duduk di kursi mobil.
__ADS_1
“Apaan, nih?” Yuanita mendelik.
“Lu suruh milih design undangan yang lu suka.”
“Lah ... Kenapa harus gue?”
“Lu pilih aja! Gue udah jawab kek gitu. Nyokap gue gak ngegubris. Tetep aja suruh minta pendapat dari lu.”
Yuanita meraih beberapa contoh undangan. Matanya tengah serius menentukan mana yang akan ia pilih.
“Yang ini.”
Yuanita memberikan satu contoh undangan yang berdesign simpel namun elegan.
“Simpel banget?”
“Emang gue suka yang simpel, bukan yang ribet!”
“Maksud, lu?” Elvan mendelik.
“Udah, ah! Gue mau masuk kost lagi. Cuma bahas ginian doang sampe di dalam mobil!” Yuanita hendak menarik handle pintu mobil.
“Tunggu!” ucap Elvan.
“Apa lagi?”
Yuanita memutar bola matanya.
“Kita ke butik!” Ajak Elvan.
“Buat apa, Van?”
Yuanita tersenyum masam.
“Milih design baju buat pernikahan. Sekaligus ukur badan buat bajunya entar.”
“What? Lu mau disuruh gitu?”
“Mau gimana lagi? Dari pada entar kegedean atau kekecilan bajunya? Gue juga yang malu makenya!”
“Haduh!”
Yuanita menepuk jidatnya.
.
Tanpa menunggu persetujuan dari Yuanita. Elvan memacu si merah menuju ke butik yang dimaksud mamanya.
Cklek!
Elvan mendorong pintu masuk.
“Selamat sore, mas Elvan. Mau fitting baju pengantin, ya?”
Sambut salah satu desainer dari butik tersebut.
“Kok tau?”
“Tau lah. Ibu Widya barusan telepon. Mari Mas, Mbak. Ikut saya.”
Yuanita dan Elvan mengekor desainer itu dari belakang ke salah satu ruangan. Mungkin itu ruang kerjanya.
“Oh, iya. Sebelum fitting baju, silakan dipilih dulu model baju pengantin yang seperti apa?”
Yuanita dan Elvan saling berpandangan. “Lu aja deh yang nentuin baju, Van. Tadi gue kan udah nentuin desain undangannya,” ucap Yuanita.
“Loh ... Gak bisa gitu, lah! Lu kan cewek. Lu aja yang tentuin modelnya!” kilah Elvan.
“Lu aja!”
Yuanita menyuruh Elvan.
“Lu aja!”
Elvan membalikan.
“Ya udah, kita bagi-bagi.”
“Maksudnya?”
Yuanita mengernyitkan dahi.
“Tadi, Mama nyuruh pesan berapa baju?” Tanya Yuanita lagi.
“Empat.”
“Ya udah, lu dua gue dua, gimana?” Saran Yuanita.
“Yaudah deh!” Elvan pasrah.
Mereka sama-sama mengambil satu buku yang berupa desain baju untuk memilih dua desain baju pengantin.
“Gue yang ini!” ucap Elvan dan Yuanita bersamaan.
“Kok sama?” tanya Elvan.
“Lu aja yang nurutin!” jawab Yuanita.
Begitu pun seterusnya. Hingga baju ke empat, mereka satu selera.
Yuanita dan Elvan mencoba sampel baju yang sudah ada di tempat yang berbeda. Yuanita terlihat anggun dan cantik dengan dres pengantin yang panjang menjulang berwarna putih. Sedangkan Elvan tampak gagah dan tampan ketika telah memakai setelan jas senada dengan baju dres yang dipakai Yuanita.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁