
AAAAAA ....
Teriak gadis yang hampir tertabrak mobil Elvan ketika berlari menyebrang jalan.
“Chika?”
Mata Elvan terbelalak ketika ia melihat gadis yang hampir tertabrak itu ternyata orang yang pernah dekat dengannya.
Chika menatap Elvan yang ada di dalam mobil. Dengan cepat, Chika minta masuk ke dalam mobil. Padahal, di dalam sudah ada Yuanita yang duduk di samping Elvan.
“Geser, lo!” ucap Chika yang lebih tua satu tahun di atas Yuanita.
Tanpa ada bantahan. Yuanita bergeser duduk ke belakang. Dia malas berdebat dengan orang lain. Terlebih wanita itu adalah kekasih Elvan sendiri.
“Ngapain kamu?” tanya Elvan mendelik heran.
“Jalan dulu, Sayang.” Pinta Chika.
“Ya, kenapa? Ada apa sih sebenarnya?” Elvan semakin heran.
“Plisss ... Jalan dulu, Sayang.” Lagi-lahi Chika menyuruh Elvan memacu mobilnya yang disertai dengan tangisan di pipi.
“Van, udah jalan dulu. Kasihan tuh mbaknya sampe nangis.” Pinta Yuanita.
“Oke, oke!” Elvan memacu kendaraannya.
Elvan tidak menyangka kalau Yuanita ternyata lebih halus. Ia tidak seperti kekasihnya yang terkesan gampang emosian. Yuanita mengalah pindah tempat duduk. Padahal, jelas-jelas ia bisa membantahnya karena itu adalah mobil milik calon suaminya.
Elvan kembali terkesan pada sosok gadis yang telah dijodohkan dengannya. Mungkin papa mama benar sudah menjodohkan gue sama Yuanita. Ternyata Yuanita sosok gadis yang lembut. Ucap dalam hati Elvan.
Sret!
Mobil diparkirkan di salah satu tempat makan.
“Coba kamu ceritakan apa yang terjadi?” tanya Elvan yang masih berada dalam mobil.
“Aku mau dijodohkan dengan orang tuaku, Van,” ucap Chika yang berharap Elvan bisa melindunginya.
“Terus?” Tatapan Elvan datar.
“Aku gak mau dijodohin, Van! Aku mau menikah sama kamu. Hidup dan menghabiskan sisa umurku denganmu.” Chika menatap tajam mata Elvan.
Elvan tersenyum.
“Kok malah senyum, Sayang?” Dahi Chika mengernyit.
“Chik, kamu lupa kalau waktu lalu kita sudah putus?” Elvan menatap tajam wajah Chika.
“Tapi, Sayang. Aku ....” ucap Chika terhenti.
“Aku gak mau dengar apa katamu. Aku mau makan, aku lapar. Kalau kamu mau makan, aku masih berbaik hati mengizinkanmu untuk makan bersama,” ucap Elvan ketus.
Sedari tadi. Yuanita hanya diam menyaksikan sesi tanya jawab antara Elvan dengan Chika. Yuanita tidak mengambil pusing dengan keadaan ini. Karena, memang dirinya belum sepenuhnya mencintai Elvan, apalagi Elvan yang lekat dengan stempel play boy.
Elvan turun dari dalam mobil itu. Yuanita dan Chika juga mengekor dari belakang. Tanpa di sadari. Ketika ada mobil yang melintas kencang, Yuanita didorong oleh Chika hingga dirinya tertabrak mobil.
Bruk! Yuanita tertabrak mobil.
“NITAAA!” Teriak Elvan.
Kali pertama Elvan menyebut nama Nita semenjak awal perkenalan mereka. Mata Elvan terbelalak ketika melihat Yuanita terpental beberapa meter dari tempat ia berdiri. Yuanita tak sadarkan diri.
“Markonah, bangun. Bangun Markonah, jangan bikin gue khawatir!” Elvan menepuk pipi Yuanita pelan.
Tanpa berpikir panjang. Elvan menggendong Yuanita masuk ke dalam mobil. Sedangkan Chika masih berdiri mematung di tempat yang tadi. Entah, apa yang merasuki pikiran Chika sampai dirinya tega mendorong Yuanita hingga tertabrak mobil dan terpelanting cukup jauh.
Elvan terburu-buru mengendarai mobilnya. Ia berusaha tetap tenang untuk berkonsentrasi ketika ia menyetir mobil.
Sesekali, Elvan melirik ke arah Yuanita di kursi belakang yang tidak sadarkan diri.
“Markonah, bertahan ya!”
Di sepanjang perjalanan hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Elvan. Dirinya panik. Apakah diam-diam Elvan mulai jatuh cinta?
.
Hingga akhirnya. Elvan memarkirkan mobilnya di salah satu rumah sakit di pusat Kota Surabaya.
Dengan sigap. Petugas di sana langsung mengevakuasi Yuanita ke ruang IGD. Elvan mengikutinya. Namun, ketika akan memasuki ruang IGD Elvan tidak diperbolehkan masuk. Ia disuruh untuk mengurus administrasi pasien.
***
__ADS_1
Elvan berdiri di luar ruangan IGD menunggu petugas yang menangani Yuanita keluar. Ia bolak-balik melangkahkan kaki ke ruang IGD. Sesekali dirinya mengintip karena terlalu cemas.
Sudah dua puluh menit. Baik dokter atau pun perawat belum ada yang keluar dari ruang IGD. Elvan semakin risau. Perut lapar pun tidak dirasakannya.
Drett ... Dertt ... Gawai bergetar.
“Mama?” Elvan langsung menggeser layar gawainya.
(Ma, tolong Elvan.) ucap Elvan dalam telepon.
(Kamu kenapa Sayang?) ucap mamanya.
(Nita, Ma ....) ucapannya terhenti karena rasa cemas yang mendera.
(Nita kenapa, Nak.)
(Kecelakaan. Mama cepat kemari nanti Elvan share loc alamatnya, ya?) Pinta Elvan.
Tut! Telepon pun mati.
Elvan masih menunggu Yuanita yang masih dalam penanganan dokter.
Chika. Iya, Chika yang melakukan semua ini sama Yuanita. Kenapa Chika lakukan itu pada Nita? Tanya hati Elvan.
Elvan tak menyangka. Gadis manja dan lembut bisa melakukan itu terhadap orang lain. Chika gadis yang lembut sekaligus manja di depan mata Elvan. Sehingga, Elvan tidak mempercayainya ketika Chika berani melakukan hal sekejam itu.
Sedangkan Yuanita yang ia anggap sebagai gadis yang jutek di depan matanya, malah berbalik dengan kenyataan yang terjadi.
Mungkin, Iyan itu benar. Bahwa adiknya merupakan orang yang lembut. Terbukti, ketika Chika menyuruhnya pindah tempat duduk ketika dalam mobil. Dirinya mau mengalah.
Yuanita akhirnya dibawa ke ruang ICU karena belum juga sadarkan diri. Dengan alat-alat medis yang banyak tertempel pada tubuhnya.
“Gimana keadaannya, Dok?” tanya Elvan menghampiri.
“Pasien belum sadarkan diri, pak. Pasien mau dipindah ke ruang ICU.” Dokter menerangkan.
Bruk!
Tubuh Elvan ambruk terduduk di kursi stenlis.
Pandangannya mulai kabur. Pikirannya semrawut dengan keadaan Yuanita yang tak sadarkan diri di saat hari pernikahan mereka tinggal menghitung hari.
***
“Nita belum sadar, Ma.” Elvan merundukkan dan memegang kepala dengan kedua tangannya.
Cklek.
Pintu IGD terbuka.
Terlihat Yuanita masih tak sadarkan diri dibawa ke ruang ICU oleh dokter dan para perawatnya.
Elvan dan kedua orang tuanya mengikuti dari belakang. Namun, ketika di depan pintu ruang ICU mereka belum dapat diperbolehkan masuk.
Terlihat selang infus dan alat medis yang dipasang pada tubuhnya.
Keluarga Elvan lebih memilih untuk menutupi keadaan Yuanita sekarang karena Widya tahu betul kalau ibu Yuanita tidak bisa mendapatkan kabar yang kurang baik. Apalagi, ini menyangkut dengan anaknya.
.
Kedua orang tua Elvan pulang ketika sudah melihat keadaan Yuanita meski belum sadar. Sedangkan Elvan, menunggunya di rumah sakit.
“Markonah, Lu jangan bikin Gue khawatir!” bisik Elvan pada telinga Yuanita.
Wajah pucat Yuanita membuat Elvan begitu takut. Ia menjadi sangat benci terhadap Chika. Sudah dua kali dirinya membuat Elvan kesal.
Sunyi.
Di dalam kamar yang cukup besar. Elvan merasa sendiri walau Yuanita ada bersamanya. Yuanita yang terbaring lemah tak berdaya membuat suasana di dalam kamar menjadi sangat sunyi. Hanya dentum jam dinding yang menemaninya malam ini.
Elvan tertidur di samping ranjang Yuanita. Jam telah menunjukkan pukul tiga dini hari.
Elvan terasa mimpi. Mendengar erangan lirih di saat pagi buta.
“Arrgghhh ....” Erang Yuanita.
Dengan mata yang masih lengket. Elvan berusaha membukakan matanya walau pun terasa perih.
“Markonah? Lu udah bangun?” Mata Elvan membulat.
“Iya. Tapi badan gue sakit dan kaki gue gak bisa digerakin, Van.” Keluh Yuanita.
__ADS_1
“Tunggu bentar, ya? Gue panggilin dokter.”
Elvan berlari mencari dokter. Tak berselang lama. Elvan kembali dengan membawa dokter lalu memeriksa keadaan Yuanita.
“Pasien sudah melewati masa kritisnya. Tapi ....” ucapan dokter terputus.
“Tapi kenapa, Dok?” tanya Elvan.
“Pasien mengalami kelumpuhan sementara.” Pungkas dokter.
Yuanita tertunduk lesu mendengar fonis dari dokter. Dokter keluar ruangan sedangkan Elvan menghampiri Yuanita yang sedang tertunduk.
“Markonah?” ucap Elvan ragu.
Yuanita tak bergeming, walau telinganya mendengar.
Hening. Elvan mencoba kembali memanggil namanya, ia belum menyerah.
“Markonah, hey ....”
Elvan sangat dekat menatap wajah Yuanita namun Yuanita masih tertunduk lesu.
“Gue lumpuh, Van.” Air matanya meluncur di kedua pipi Yuanita.
“Jangan pesimis. Lu kan cewek terkuat yang pernah gue temui.” Hibur Elvan.
“Dulu. Sekarang gue udah gak bisa apa-apa, Van.” Masih tertunduk.
Hening.
“Kuliah gue gimana coba?” Yuanita kembali menitikkan air mata.
“Ada gue!” Elvan memegang kedua pundak Yuanita sebagai pengganti kata, kalau dirinya pasti kuat.
Yuanita tersenyum masam.
“Van, gue minta. Lu atau pun keluarga Lu gak usah kasih tau keluarga gue, ya? Gue mohon.” Yuanita menatap dengan penuh harap.
“Tenang aja, gue akan rahasiain dari keluarga lu. Selain dari itu, gue juga janji akan jagain, lu.” Tatap Elvan dengan sorot mata tajam.
***
Prak!
Foto Yuanita yang ada di kamarnya terjatuh.
Rani kaget mendengar benda jatuh itu. Ia menghampiri, dan ternyata foto Yuanita lah yang jatuh. Kaca dari bingkai itu berserakan ke mana-mana. Rani tercengang ketika ia sedang duduk di atas ranjang putrinya itu. Ia merindukan putrinya yang sedang menuntut ilmu di luar kota.
Cklek!
Pintu kamar terbuka.
“Ada apa, Nya? Kok tadi saya dengar suara benda jatuh?” tanya Tuti, asisten rumah tangga.
“Itu, bi. Tiba-tiba foto Yuanita terjatuh. Hati saya jadi gak enak.” Rani mengelus dada.
“Jangan mikir yang enggak-enggak, Nya. Yakin aja, non Nita baik-baik di sana,” ucap Tuti.
Tuti membereskan serpihan kaca yang berserakan. Sedangkan Rani memilih untuk menelepon putrinya.
Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.
“Duh ... Nita ke mana, sih?” Rani semakin takut.
Berulang kali Rani terus menghubungi nomor Yuanita, namun tetap saja tidak aktif. Sampai akhirnya hand phonenya ia banting ke atas sofa dan menangis.
“Kamu kenapa, Ma?” tanya Doni.
“Mama mau nelpon Nita tapi gak aktif-aktif. Hati mama enggak enak, pa! Mama mau nelpon Nita!” Rani histeris.
Doni mengambil gawai yang dilempar oleh istrinya ke atas sofa. Ternyata memang hand phone Yuanita tidak aktif.
Doni lalu mengeluarkan hand phonenya dan kembali menghubungi nomor putrinya melalui hapenya. Namun, lagi-lagi tidak aktif.
Rani sudah menangis dari tadi ketika Doni ketahuan tidak berhasil menghubungi putrinya itu.
Namun, Doni tidak seperti Rani yang terkesan cepat panik. Ia lalu mencari nama Elvan. Dengan satu kali klik, telepon sudah terhubung dengan Elvan.
..
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁