Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 10 (Pertaruhan)


__ADS_3

“Van, pertaruhan Kita gimana? Dilanjut gak, sih?” tanya Rizal.


“Kalian berdua sudah kalah dari Gue!” jawab Elvan.


“Memang, kalian udah jadian?” Bobi memandang.


Yuanita melintas di antara cowok tengil yang sedang sibuk membicarakan pertaruhannya. Elvan menarik lengan Yuanita tatkala Yuanita berjalan di depan matanya.


BRUK.


Yuanita jatuh dalam rengkuhan Elvan. Terjadi lagi, mata hitam Elvan menatap Yuanita. Ada desir yang berbeda. Degup yang mengencang ketika berpandangan.


“Kita udah jadian kan, Sayang?” ucap Elvan pada Yuanita yang berada dalam rengkuhannya.


Mata Yuanita mendelik. Bibirnya terasa terkunci. Telinganya terasa berdengung mendengar ucapan dari bibir Elvan.


Kapan kita jadian? Tanya dalam hati Yuanita.


“Jawab iya, Markonah! Susah amat, sih?” Elvan berbisik.


Yuanita tersenyum.


“I ... Iya, Sayang. Lepasin, ya? Aku malu, diliatin temen-temen Kamu,” ucap Yuanita mengikuti permainan Elvan.


“Oke!”


Elvan melepaskan lengannya dan Yuanita kembali berdiri tegap di hadapannya.


“Sayang, ayok ikut Aku ke kantin!” ucap Yuanita lembut sambil menarik paksa lengan Elvan.


Elvan mengikuti Yuanita.


“Gila! Sekarang, Elvan yang nurut sama si Cupu?” Rizal dan Bobi heran.


Bobi dan Rizal memilih masuk dalam kelas karena mereka sedari tadi sudah membeli makanan dan nongkrong di kantin kampus. Sementara, Elvan ditarik paksa oleh Yuanita untuk ikut ke kantin bersamanya.


“Sekarang, jelas in sama Gue!” Yuanita mendelik kesal.


“Apa yang harus Gue jelasin, Markonah?” jawab Elvan.


“Barusan, Lu bilang kalau Kita udah jadian! Atau Lu mau Gue kasih tau mereka kalau kita hanya pura-pura jadian?” Ancam Yuanita.


“Terserah! Toh Kita juga akan bertunangan. Tinggal nunggu hari esok, lusa kita juga tunangan. Gue tetep menang dalam pertaruhan ini,” ucap Elvan keceplosan.


“Pertaruhan?” Yuanita membulatkan matanya.


Elvan menggaruk kepala.


Hening.


Netra Yuanita mulai berkaca-kaca di balik kaca mata yang ia kenakan. Ia semakin ilfeel dengan tingkah Elvan. Ia tidak menyangka kalau dirinya bakal dijadikan bahan pertaruhan mereka.


“Markonah! Biasa aja, dong! Gak usah sedih gitu. Ntar hadiahnya Kita bagi dua deh.” Elvan mengucapkannya dengan santai.


Yuanita bangkit dari kursi dan berlari ke luar kantin tanpa ada kata. Sementara Elvan, bingung melihat tingkah Yuanita.


***


Selang beberapa saat, akhirnya Elvan berinisiatif untuk mencari tahu kenapa Yuanita bersikap seperti itu terhadapnya.


BRUK.


Elvan menabrak Gendis.


“Gendis? Lu liat Markonah, gak?” tanya Elvan.


“Markonah? Maksudnya Yuanita?” Gendis memastikan.


“Iya!”


“Enggak. Tadi, Aku nanggung lagi ngerjain tugas. Ono opo to, Mas? (Ada apa sih, Mas?)” ucap Gendis sambil mengernyitkan dahi.


Elvan mengajak Gendis mengobrol santai di dalam kantin sambil memesan minuman ringan.


Elvan menceritakan semuanya tentang pertaruhannya dengan kedua kawannya. Elvan terlanjur menerima tantangan dari kedua sahabatnya. Elvan tidak menyangka kalau gadis yang ia jadikan taruhan itu ternyata gadis yang akan dijodohkan dengannya.


Gendis menyimak semua cerita yang di ucapkan dari bibir Elvan. Gendis juga tidak menyangka, kalau Yuanita telah dijodohkan. Yuanita memang tertutup tentang masalah pribadinya.


“Oh ... Ngono to, Mas? (begitu, Mas?) Aku juga bingung. Nanti Aku coba deketin dulu Yuanita, ya? Aku belum ketemu sama Yuanita,” ujar Gendis.


“Oke! Gue minta nomor ponsel-nya Yuanita, Dis! Kalik aja Gue butuh.” Elvan mengeluarkan gawainya.

__ADS_1


Gendis pun memberikan nomor hand phone Yuanita. Karena menurutnya, kelak mereka juga akan menjadi pasangan hidup. Jadi, tak masalah kalau memberikan nomor ponsel sahabatnya itu.


“Oh, iya. Lu mau pesan makan juga, enggak?” tanya Elvan.


“Gak usah, Mas. Uangku nanti gak cukup buat entar naik angkot!” Gendis terkekeh.


“He’eleh! Gue yang bayarin. Lu mau pesan apa lagi?” tanya Elvan.


Ekspresi senang terlihat dari rona wajah Gendis, “Beneran iki, (ini,) Mas?”


“Iya!”


Akhirnya, Gendis menyebutkan beberapa menu makan yang ada di daftar menu kantin kampus.


Elvan tersenyum, melihat tingkah Gendis, “Ya udah, Gue balik ke kelas. Udah save nomor Gue, kan?” tanya Elvan.


“Udah, Mas!”


“Oke!” Elvan berlalu pergi.


***


Jam kampus telah usai. Yuanita dan Gendis masuk dalam angkot menuju kost. Dalam perjalanan, Yuanita tampak cemberut. Wajahnya tak seceria hari biasanya. Gendis pun tak berani bertanya kepada Yuanita. Hanya membisu di tengah padatnya penumpang dalam angkot.


“Kiri, Bang!” ucap Yuanita memberhentikan angkot.


Yuanita dan Gendis turun dari angkot dan masuk ke dalam kost. Yuanita berjalan lebih kencang, Gendis mengekor dari belakang. Gendis semakin kehilangan waktu untuk bertanya pada Yuanita. Melihat ekspresi Yuanita cemberut saja, Gendis sudah ilfeel untuk bertanya.


Yuanita masuk dalam kamarnya dan segera mengunci pintu. Yuanita menghempaskan tubuhnya di atas kasur.


Begitu pun dengan Gendis. Ia masuk dalam kamar dan meletakan gawainya di atas meja belajar.


Drett ... Drett ... Gawai Gendis bergetar.


Baru saja ia menempelkan punggungnya di atas ranjang kecil, namun ada panggilan masuk dari gawainya. Ia meraih gawainya dan melihat siapa yang meneleponnya.


MAS GANTENG calling.


Gendis menggeser layar gawainya. Dengan sekali sentuhan, percakapan itu pun terjadi.


[Halo ....]


[Belum, Mas. Dia masih cemberut, Aku ndak berani tanya-tanya. Sabar, yo? Kalau ada kabar baik. Nanti Aku telpon Mas Ganteng,] ucap Gendis.


[Ya udah. Thank’s, ya?]


[Oke, Mas! Maaf, yo!]


TUT ....


Telepon terputus.


.


Sementara di seberang sana, ada Elvan yang merasa bersalah karena menjadikan Yuanita sebagai objek pertaruhan bersama teman-temannya. Elvan akhirnya menghubungi kedua temannya untuk bertemu, membahas hal ini.


[Bro, kita ketemuan di Cafe biasa, ya? Jam tujuh malam, ajak Bobi juga, penting!] Elvan mengirim pesan pada Rizal.


Selepas azan magrib. Elvan tengah bersiap untuk menemui kedua sahabatnya itu. Ia memacu si merah dengan kencang ke salah satu Cafe tempat mereka nongkrong di pusat Kota Surabaya.


Terlihat, dua sahabatnya telah menunggu di sebuah meja. Mereka melambaikan tangan dan Elvan pun menghampiri mereka.


Elvan menarik napas panjang melihat ekspresi wajah kedua sahabatnya yang telah menanti hal penting darinya.


Elvan menghempaskan napasnya perlahan.


“Guys, sebenarnya ada hal yang mau Gue omongin sama Kalian,” ucap Elvan ragu.


“Apaan?” Dahi Rizal mengernyit.


Keadaan berubah menjadi tegang, tatkala Elvan membuka pembicaraannya.


“Sebenarnya. Gue dan Yuanita telah dijodohkan oleh orang tua kami. Gue baru tahu ketika Gue minta bantuan sama Kalian untuk mencari wanita yang bersedia menjadi pacar pura-pura Gue. Gue ngajak si Markonah dan make over-in dia agar terlihat cantik. Namun, ketika pertemuan mereka terjadi, yang ada tatapan nyokap Gue malah seneng. Kami dipaksa menikah secepatnya. Gue ngaku kalah, dari pada Gue harus menyakiti si Markonah.” Elvan tertunduk.


Tawa pun pecah tatkala Elvan merundukkan pandangannya, “HAHAHA ....”


“Lucu Lu, Van! kek di film-film. Gimana menurut Lu, Bob?” Rizal mendelik.


“Iya. Terus, bagaimana jadinya tentang pertaruhan kita?” jawab Bobi.


“Yaa ... Gimana lagi? Ujung-ujungnya malah dijodohin? Batal aja kalik ya, Van?” Rizal mendelik.

__ADS_1


“Serah!” ucap Elvan pasrah.


Rizal dan Bobi tertawa ketika Elvan telah mengaku kekalahannya. Semuanya telah usai, pertaruhan pun tidak terjadi karena Elvan telah dijodohkan dengan orang yang menjadi taruhannya.


“Terus, gimana nasib si seksi Ferlita? Si imut Chika sama si Cantik Stella?” tanya Rizal.


“Wehh ... Kalau mereka mau lanjut, why not?” Elvan memainkan alisnya.


“Jiahahaha ... Gue kira, Lu udah tobat jadi Play Boy, Van!” Bobi menepuk pundak Elvan.


"Malah tambah parah!" sambung Rizal.


Mereka bertiga kembali tertawa. Mereka melanjutkan ngobrol dengan ditemani minuman ringan bersoda di atas meja.


Elvan masih dengan sikapnya, menjadi seorang play boy dan anak manja dari seorang yang kaya raya.


***


“Nit, badanmu panas. Kamu sakit apa?” tanya Gendis ketika berada dalam kamar Yuanita.


“Entah, Gue pusing, Ndis.”


“Kenapa? Ceritalah sama Aku.”


Yuanita menceritakan tentang acara pertunangannya bersama Elvan melalui perjodohan dari orang tua mereka. Yuanita tidak menyangka bahwa Elvan menjadikan dirinya sebagai alat pertaruhan bersama teman-temannya, dengan hadiah hand phone seharga enam belas juta sebagai hadiahnya. Yuanita sakit hati mendengar pengakuan dari calon tunangannya yang menyebalkan itu.


Drett ... Drett ....


Tiba-tiba gawai Gendis bergetar, ia membuka layar gawai dan membaca sebuah pesan dari Elvan yang menerangkan tentang batalnya pertaruhan karena Elvan sudah berterus terang kepada dua sahabatnya.


“Nit, Aku udah tau kok. Mas Elvan udah ngomong karo (sama) Aku tentang perjodohan dan pertaruhan dengan teman-temannya. Elvan sebenarnya tidak mengetahui kalau dirinya dijodohkan dengamu, Nit. Memang, mereka bertiga tiap tahun memainkan pertaruhan itu. Nah, ini kali terakhir Elvan kuliah. Kebetulan, angkatan kita yang terakhir untuk mereka liat. Makanya, mereka mengadakan pertaruhan terakhir. Elvan gak bermaksud nyakitin Kamu, Nita.” Gendis menerangkan panjang lebar.


Yuanita mendongak, “Apa iya?” tanya Yuanita.


Gendis menganggukkan kepalanya.


Perasaan Yuanita sedikit lega mendengar keterangan dari sahabatnya. Ia memeluk Gendis yang tak lain sahabatnya di universitas.


Setelah Yuanita membaik. Gendis bergegas ke luar menuju apotek yang tidak jauh dari kost-nya. Ia berjalan kaki, bermaksud membelikan obat pereda sakit kepala untuk sahabatnya.


Tin ... Tin ....


Bunyi klakson mobil mengagetkan Gendis yang sedang berjalan di trotoar. Gendis melihat ke pinggir jalan yang ternyata ada mobil merah berhenti di sampingnya. Kaca mobil pun di turunkan.


“Mas Ganteng?” Gendis membulatkan mata, ia merasa kaget.


“Lu mau ke mana, Dis?” tanya Elvan.


“Aku mau ke apotek, Mas.”


“Ayok, Gue antar.”


“Gak usah, Mas. Makasih. Itu, apotek-nya udah kelihatan.” Gendis menunjuk.


“Ya gak papa, cukup jauh juga kalau nanti Lu jalan kaki pulangnya, kan?” Elvan membuka pintu mobilnya.


Gendis tersenyum, “Makasih, Mas.” Gendis naik ke dalam mobil.


.


Tak berselang lama, mereka sampai di kost. Elvan mengikuti Gendis, karena tadi Gendis bilang kalau Yuanita sedang sakit.


Gendis membuka pintu kamar Yuanita yang tidak terkunci. Mereka melihat Yuanita yang sedang tertidur lemah di atas ranjang kecilnya.


“Dia udah tidur, Mas. Mau Aku bangunkan atau gimana?” tanya Gendis masih dengan logat Jawanya.


“Gak usah, biarkan dia istirahat. Ya udah Gue balik, ya? Oh ... Iya. Gue boleh minta sesuatu, gak?” tanya Elvan.


“Opo iku, Mas? (Apa itu, Mas?)” tanya Gendis.


“Lu jagain dia, ya?” ucap Elvan sambil menepuk pundak kecil Gendis.


“Iya, Mas. Siap! Cieee ... Udah care sama Nita, yo?” Mata Gendis mendelik dan tersenyum geli mendengar Elvan bisa semanis itu kepada sahabatnya yang tengah sakit.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁

__ADS_1


__ADS_2