
Setelah satu jam, Elvan berdiri di luar menunggu Wisnu yang masih terbaring tak berdaya. Akhirnya, Elvan memastikan keadaan Papanya.
'Ceklek!'
Handle pintu didorong oleh Elvan.
Terlihat sepasang mata coklat itu telah terbuka. Senyum kecil terhias di bibir Wisnu. Sesekali ia meringis, menahan rasa sakit akibat kecelakaan kemarin.
Elvan mendekat ke tepi ranjang dan tersenyum menyambut kesadaran Wisnu.
“Papa udah sadar?” Elvan tersenyum.
Wisnu pun tersenyum, “Iya, Nak. Mama mana, Van?”
“Mama lagi di kantor, Pa. Sebenatar, Elvan telepon Mama.”
Elvan mengeluarkan gawai yang ada di saku celananya.
“Gak usah, Van. Biarkan ini menjadi surprise untuk Mamamu.”
Pinta Wisnu yang tak lain papa dari Elvan.
Wisnu memang romantis terhadap Widya dari dulu. Semenjak mereka menikah. Wisnu dan Widya pun menikah karena perjodohan. Awalnya, Widya sangat tidak suka terhadap Wisnu. Karena, waktu lalu Widya sudah mempunyai pacar. Namun, asmara Widya harus kandas di tengah jalan, karena dijodohkan dengan Wisnu dan tidak berselang lama, mereka pun menikah karena desakan orang tuanya.
Awalnya, Widya pun menolak. Ia sangat tidak suka terhadap Wisnu. Namun, keromantisan Wisnu lambat laun meluluhkan hati Widya, yang akhirnya Widya juga jatuh cinta terhadap sosok romantis itu.
Akhirnya. Mereka pun memberlakukannya terhadap Elvan yang tak lain putra mereka sendiri. Bedanya, baik Yuanita dan Elvan. Mereka tidak saling suka, bagaimana nanti kisah mereka? Apakah akan sama indahnya seperti perjodohan Papa dan Mamanya? Ataukah harus kandas oleh perceraian?
.
Wisnu menyuruh Elvan membelikan satu buket mawar merah kesukaan Widya. Karena, ini merupakan hari pernikahan mereka. Tepat di tanggal 08 Agustus 1998 mereka menikah. Selang beberapa bulan, Widya mengandung buah cinta mereka.
“Tapi, apa Papa yakin kalau Elvan tinggal sendirian di sini?” tanya Elvan memastikan.
“Iya. Jangan khawatir, Van. Di sini banyak perawat untuk jagain kalau Papa butuh bantuan. Cepatlah, nanti Mamamu keburu pulang.”
“Oke! Baik-baik ya, Pa! Nanti, Elvan minta perawat untuk jagain Papa sampai Elvan balik lagi ke sini.”
Elvan pun berlalu pergi, melesat dengan mobil merahnya. Ia mengarahkan mobilnya ke kios bunga yang berada di pinggir jalan.
'SRET!'
Ia memarkirkan mobil, tepat di depan kios itu.
“Markonah?” Dahi Elvan mengernyit.
Mata Elvan terbelalak ketika melihat Yuanita berada di kios bunga. Mereka sedang asyik memilih bunga. Sesekali, laki-laki itu menyelipkan setangkai bunga pada telinga Yuanita.
“Shit!”
Elvan memukul setir mobil dan tidak sengaja mengenai klakson mobil.
'Tiiidddd!'
Bunyi klakson mobil yang tak sengaja Elvan tekan.
Yuanita dan laki-laki itu menoleh pada mobil merah miliknya. Elvan bergegas pergi, tidak jadi membeli bunga di kios itu.
“Sebenarnya, siapa laki-laki itu? Tapi, kenapa Gendis juga ada bersama mereka? Pasti Gendis tahu tentang laki-laki itu.”
Elvan masih mengemudikan mobil mencari kios bunga yang lain.
Tak begitu jauh, akhirnya Elvan menemukan kios bunga. Ia memarkirkan mobilnya dan bergegas turun dari tunggangannya.
Elvan membeli satu buket bunga mawar merah yang cantik dengan sedikit tergesa-gesa karena ia berpacu dengan waktu kepulangan mamanya dari kantor.
Ia kembali melesat. Memacu si merah kembali ke rumah sakit. Dengan tergesa-gesa ia memarkirkan dan turun dari mobil merah itu.
Elvan berjalan cepat melewati tiap sudut kamar yang berjejer rapi di rumah sakit.
'Ceklek!'
Pintu kamar terbuka.
__ADS_1
“Dapat, Van?” tanya Wisnu ketika melihat anaknya telah kembali.
“Dapat dong, Pa!”
Elvan menyerahkan satu buket mawar merah pada papanya.
“Maksih, Van. Bunga yang cantik! Kamu tau selera Papa.” Wisnu tersenyum.
“Iyalah, selera kita kan sama!” Pungkas Elvan.
Mereka tertawa.
***
Yuanita, Iyan dan Gendis akhirnya keluar dari kios bunga setelah Iyan membelikan Yuanita satu buket mawar putih dan membelikan gendis satu pot kecil bunga lili.
What? Satu pot kecil? Iya. Karena Gendis ingin menanam bunga itu sebagai kenang-kenangan dari Iyan.
Rupanya, Gendis telah menyukai Iyan. Ia terpesona ketika awal melihat senyum manis yang terukir di bibir Iyan. Namun, pada saat itu, Gendis tidak mengetahui siapa sosok Iyan. Ia mengira Iyan itu pacar Yuanita karena mereka terlihat sangat mesra.
“Ndis, Lu liat mobil warna merah yang membunyikan klakson, ketika kita lagi milih bunga, gak?”
Yuanita bertanya ketika Iyan sedang membeli minuman di mini market.
“He’em. Mirip mobil Mas Ganteng, yo?”
“Nah ... Itu dia. Tapi, dia mau ngapain singgah ke toko kembang?” Yuanita heran.
“Mau beli martabak!” Ucapan nyeleneh dari Gendis.
“Gendis! Gue serius!” Yuanita mendelik.
“Yo arep tuku kembang, moso arep tuku martabak to, Nit! (Ya mau beli bunga, masa mau beli martabak, Nit!)” Gendis mencubit pelan pipi Yuanita.
“Hedeh ... Sekarang udah berani tuh cubit-cubit pipi Gue. Mentang-mentang mau jadi kakak ipar Gue.” Yuanita terkekeh.
“Idihhhh ... Gitu deh, kamu.”
“Tapi, beneran, kan. Lu Sayang sama Kakak Gue?” tanya Yuanita.
“Iyan, maksudnya?” ucap Gendis.
“Iya, lah! Siapa lagi?” jawab Yuanita.
Iyan adalah kakak angkat dari Yuanita. Iyan diadopsi oleh keluarga Yudistira karena waktu lalu Iyan dibesarkan oleh papanya saja. Ibunya sudah meninggal dunia. Papanya yang dulu kerja di kantor Doni, menitipkan Iyan ketika beliau kecelakaan kerja untuk menyelamatkan Doni dari reruntuhan pembangunan gedung yang hampir menimpanya. Hingga akhirnya, papa Iyan tidak terselamatkan. Karena ingin membalas budi, akhirnya Doni mengangkat Iyan sebagai anaknya.
Doni tidak pilih kasih antara anak angkat dengan anak kandungnya. Selisih usia mereka sekitar sepuluh tahun. Tak ayal, Iyan bisa menjadi sosok apa saja bagi Yuanita.
Iyan bisa jadi sosok Abang, sahabat, atau pun papa. Karena Iyan memang dewasa dalam pemikirannya. Bahkan, banyak juga yang menyangka kalau mereka itu sepasang kekasih.
***
'Ceklek!'
Pintu kamar rumah sakit terbuka.
Widya masuk dan melangkahkan kaki mendekati Wisnu, suaminya yang sedang terbaring. Ia menggenggam lengan kanan suaminya. Seraya berbisik mesra.
“Mas. Hari ini anniversary ku yang amat menyedihkan. Aku tidak bisa melihat senyuman dan keromantisan kamu. Aku rindu, Mas. Rindu ketika ku bermanja di dadamu, dalam dekapmu aku merasa tenang.”
Air mata Widya menetes di punggung lengan kanan Wisnu.
Wisnu membiarkan Widya menangis sesenggukan. Ia ingin mengetahui seberapa peduli dan seberapa sayang istrinya. Hingga tangan kanannya basah oleh air mata Widya yang ia nikahi dua puluh dua tahun silam.
“Happy anniversary, Sayang.”
Wisnu mengeluarkan tangan kirinya dan memberikan buket bunga mawar merah yang ia sembunyikan di balik selimutnya.
Widya mendongak, dan menatap Wisnu dengan mata sendunya, “Mas?” ucap Widya lirih.
Widya belum mengetahui kalau suaminya ternyata sudah sadar. Tidak ada yang memberi tahunya karena itu permintaan dari Wisnu yang tak lain suaminya sendiri.
Senyuman itu kembali terukir di bibir Wisnu yang telah sadar dari masa kritisnya.
__ADS_1
Dalam keadaan sakit pun, Wisnu bisa seromantis ini pada Widya. Widya beruntung bisa dipersatukan dengan Wisnu. Walau, pada awalnya ia sempat menolak dijodohkan dengan Wisnu.
“Maaf, Sayang. Anniversary kita tidak seindah biasanya. Aku tidak dapat berdansa bersamamu malam ini. Tubuhku ....” ucapan Wisnu terhenti.
Belum selesai Wisnu bercerita. Widya sudah menutup bibir Wisnu dengan jarinya.
“Ssstttt ... Mas jangan banyak bicara.”
Widya kembali memeluk suami dan menangis di dadanya.
Wisnu mengusap lembut rambut istrinya yang selama ini setia menemani hidupnya.
Tangisan kebahagiaan kini membanjiri kamar rumah sakit. Sedangkan Elvan, sengaja memberikan mereka waktu untuk berduaan. Kini, Elvan sedang berada di luar rumah sakit.
“Elvan ke mana, Mas?” tanya Widya setelah ia sadar dari tangisnya.
“Ia pamit ke luar setelah membelikan buket bunga ini.” Wisnu menjelaskan.
“Anak itu! Bukannya jagain papanya malah kabur-kaburan gitu!” Bibir Widya meruncing.
“Dia jagain Mas, kok. Orang pertama yang mengetahui Mas sadar, ya Elvan, Ma.”
“Tapi, mestinya ia ada di sini, Mas! Nungguin, Mas. Bukan malah kabur-kaburan seperti itu!” Widya masih merengut kesal dengan tingkah anak laki-lakinya.
“Maa ....” Wisnu memegang dagu Widya yang sedang berpaling dari pandangannya. Wisnu mendekatkan bibirnya seraya berbisik di telinga Widya. “Elvan itu seperti Papa. Ia memberikan kesempatan untuk Mas, biar bisa romantis walau Mas tidak bisa berdansa bersamamu sekarang.” Kecupan kecil pun meluncur di pipi istrinya.
Widya tersenyum. Ia bahagia karena suaminya telah sadar dari masa kritisnya. Bahkan, Wisnu sudah terlihat semakin membaik.
***
Elvan masih nongkrong, menikmati indahnya langit malam yang dihiasi begitu banyak bintang. Walau, tak seindah hatinya yang sedang resah memikirkan Yuanita.
Drett ... Drett ....
Gawai Elvan bergetar.
[Ada apa Lu nelpon?]
Ada rasa senang di hatinya ketika mendapatkan pesan dari Yuanita.
[Gue mau bahas cara pembatalan pernikahan kita nanti. Tapi, Hape Lu malah gak aktif. Lu dari mana, sih?]
Elvan membalas sedikit beralasan. Padahal ia cuma ingin menanyakan kalau Yuanita sudah dari mana.
[Habis main, sama Kak Iyan. Sama Gendis juga,] balas Yuanita.
[Oh ... Si Om, itu? Lu suka sama om-om ternyata? Si Gendis juga mau-maunya jadi obat nyamuk menyaksikan Lu sama om-om!] balas Elvan dengan nada sengit.
[Maksud, Lu? Lu cemburu sama gue?]
[Kagak!]
Hand phone Elvan lowbatt. Mati.
Elvan mendengus kesal ketika hand phone-nya mati. Padahal, ia belum menanyakan tentang jati diri Iyan yang ia panggil om-om itu.
“Sialan, Lu!”
Elvan kesal dengan gawainya yang mati, ia kembali masuk dalam mobil.
Ia melihat jam yang melingkar di tangannya telah menunjukkan pukul dua dini hari. Ia bergegas ke rumah sakit karena esok siang mesti ke kampus lagi.
Ia melesat dengan mobil merahnya menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi. Tak henti-hentinya ia memikirkan tentang siapa sosok yang ia anggap om-om itu. Orang yang telah memeluk tunangannya.
Kadang ia tersadar. Kalau ia hanya dijodohkan oleh kedua orang tuanya. Baik dirinya mau pun Yuanita juga tidak saling sayang. Ngapain juga harus cemburu? Namun, hati kecil tidak dapat berbohong. Walau sering kali bibir menampiknya.
..
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1