Antara, Pernikahan & Perjanjian

Antara, Pernikahan & Perjanjian
Part 13 (Pertunangan)


__ADS_3

“Hai ....” sapa Gendis yang nyelonong masuk dalam dapur.


Mata Rani menyipit melihat gadis sepantaran anaknya masuk dalam dapur, sedangkan ia sama sekali tidak mengenali gadis itu.


“Gendis?” ucap Yuanita.


Gendis tersenyum.


“Oh iya, Ma. Ini Gendis. Dia sahabat Nita di kampus. Bahkan, Nita satu kost sama Dia. Gendis mau melihat pertunangan Nita.” Yuanita menjelaskan.


“Oh ... Hai, Nak. Kok baru kelihatan? Kalian tidak bareng?” Rani tersenyum ramah.


“Bareng, Bule (Tante). Tuh, anak, Bule (Tante) lupa bangunin aku di mobil. Aku di kunci di dalam mobilnya Mas Elvan.” Gendis menggerutu.


“Waduh! Nita?” Mata Rani mendelik.


Yuanita tersenyum.


“Sorry, sorry. Gue gak sengaja, Ndis! Gue lupa ada Lu di dalam mobil, Lu sih. Molor terus!” ucap Yuanita.


“Ealah! Kan, kamu yang nyuruh aku tidur terus di mobil!” bantah Gendis.


“Ya udah ... Kalian semua pasti lapar, kan? Tolong bawain ini ke meja makan, calon mantu Mama juga pasti udah kelaperan,” ucap Rani menggoda Yuanita.


“Idih! Apaan sih, Ma?”


Yuanita bergumam kecil dan merundukkan pandangannya.


"Ciee ... Nita malu-malu, tuh!" Gendis menggoda.


"Lu juga! apa-apaan sih?" Yuanita melirik sewot.


.


Yuanita dan Gendis sama-sama membantu menyajikan dan menata menu makanan ke atas meja makan. Banyak sekali menu makanan yang dihidangkan pagi itu. Semua sudah tertata di atas meja makan dengan rapi.


“Nita, panggil Nak Elvan, ajak makan bareng.” Perintah Rani.


“Ndis, panggilin dong. Gue males!” elak Yuanita.


“Nita, kan calon suaminya kamu. Masa temennya yang panggilin?” ucap Rani menyuruh putrinya.


“Hemmmm ....”


Yuanita berdehem, namun ia masih mau berjalan untuk mengajak Elvan.


Elvan terlihat sedang tidur dengan posisi duduk. Ia menyenderkan punggung dan kepalanya di sofa. Elvan tampak polos, terlihat manis dikala tertidur pulas. Tak ada kata yang menyebalkan seperti ketika ia terbangun membuka mata. Dengan hidung mancung dan wajahnya yang tampan membuat Yuanita memperhatikan sejenak.


Ada rasa kagum melihat paras tampan ketika tertidur lelap, walau hanya di atas sofa. Degup jantungnya kini mulai tak teratur.


Ya Allah ... masa gue jatuh cinta? ucap dalam hati Yuanita.


Dengan segera, Nita menyadarkan diri dalam lamunannya. Namun, wajah Elvan kembali membuat Yuanita terdiam dan terpaku memandang wajah tampan itu.


“Nit!”


Gendis memanggil dan menepuk pundak Yuanita.


Yuanita kaget, “Paan sih, Ndis?” tanya Yuanita.


“Mas Elvan nya dipanggil, bukan di pandangi terus.” Gendis tersenyum.


Yuanita tersipu malu, ternyata sahabatnya memperhatikan tanpa ia sadari karena terlalu fokus melihat wajah Elvan yang menurutnya menawan tatkala ia tertidur.


***


Dari siang hari, semua orang tengah sibuk untuk mempersiapkan prosesi lamaran untuk menyambut kedatangan keluarga Adhitama. Pertunangan akan diselenggarakan pada malam hari, tidak terlalu banyak tamu undangan dalam acara pertunangan mereka. Hanya mengundang dari keluarga pihak perempuan dan keluarga Adhitama yang hanya dihadiri oleh kedua orang tuanya saja.


“Nita, gaun yang akan kamu pakai yang mana, Nak?” Rani bertanya.


“Yang dulu aja, Mam.”


“Kamu gak punya gaun yang baru?”


Rani terlihat kaget dengan jawaban putrinya.


“Enggak.” Yuanita berucap polos.


“Ya ampun, Nita! Mama udah menyangka, untung mama udah memesan gaun di butik langganan Mama. Kamu ambil sana!” ujar Rani.


“Baiklah.”


Yuanita tidak membantah. Terlebih, ia mengetahui kalau seluruh anggota keluarganya tengah mempersiapkan untuk acara pertunangannya.


Yuanita mengambil kunci mobil yang tergeletak di dekat meja tivi. Elvan yang sedang asyik menonton acara televisi sambil menyenderkan punggungnya di sofa akhirnya bertanya pada wanita yang menghalangi televisi yang sedang ia tonton


“Mau ke mana, Lu?” Elvan mengeryitkan dahi.


“Ambil baju.”


Yuanita menjawab dengan nada cuek.


“Di mana?”


“Butik.”

__ADS_1


"Nak Elvan!"


Terdengar suara Rani memanggil namanya. Tak berselang lama, Rani pun keluar dari dapur, “Tolong anter ya, Nak Elvan. Yuanita sudah lama enggak pernah bawa mobil lagi. Mama jadi khawatir.” Pesan Rani.


“Oh, iya, Tante.”


Elvan beranjak dari tempat duduknya.


“Idih! Mama, apaan sih?” ujar Yuanita.


“Udah, ayok Sayang.”


Elvan bersandiwara di depan calon mertuanya.


Yuanita mendelik.


"Jangan panggil Tante, Nak Elvan. Kan, sebentar lagi saya jadi Mama mertuamu." Pinta Rani.


"Oh, iya, Mam."


Elvan tersenyum sedikit malu memanggil mama pada Rani.


Rani tersenyum, ada guratan bahagia dari rona wajah calon mertuanya. Ia merasa senang ketika Elvan berlaku romantis pada putrinya.


Yuanita melangkah tanpa ada kata dan Elvan, mengekor dari belakang. Pintu mobil merah itu terbuka, Elvan dan Yuanita masuk dalam mobil merah itu meluncur ke arah kota.


“Butiknya di mana, Markonah?”


Elvan kembali ke ucapan biasanya.


“Bentar, kayaknya di simpang depan sana, masuk ke kanan.”


Yuanita menunjukkan dan mengingat-ngingat.


“Oke!”


Elvan meneruskan sesuai dengan arahan dari Yuanita. Namun, setelah ditelusuri tidak ada nama butik yang dimaksud Rani yang tak lain, ibu dari Yuanita.


“Markonah? Bener kagak sih?”


Elvan menghentikan mobilnya.


“Kek nya iya. Gue lupa.” Yuanita terkekeh.


“Ya Tuhan!” Elvan menepuk jidatnya. “Hubungi nyokap, Lu!” Perintah Elvan.


“Tapi Gue lupa bawa hape.”


“Haduh, Markonah!”


“Maaf.”


Satu kata itu yang keluar dari bibir Yuanita dengan mata yang masih menatap sepasang netra coklat itu.


Hening.


Setelah beberapa saat, akhirnya Elvan melepaskan lengannya dari pipi Yuanita dan mengambil gawai miliknya.


“Nih, Lu hafal nomor telpon nyokap, Lu, kan?” Elvan menyerahkan ponselnya.


Yuanita mengangguk dan meraih hand phone yang berada di genggaman lengan Elvan.


(Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif) Tut! Akhirnya, Yuanita mematikan teleponnya.


“Gak aktif!”


Yuanita mengembalikan teleponnya.


Hening.


Mereka sedang berpikir bagaimana caranya agar bisa mengetahui alamat butik langganan Rani itu.


“Gendis!”


Elvan dan Yuanita mengatakan satu nama yang mereka ingat.


“Ya udah, Lu telpon, sana!” ujar Yuanita.


Elvan menggeser layar gawai miliknya dengan cepat, ia mencari nama Gendis. Elvan mulai menghubungkan panggilan teleponnya.


“He’eleh!” ucap Elvan sambil menahan tawa.


“Kenapa?” tanya Yuanita.


“Dengerin, nih!”


Elvan kembali menghubungi nomor hape Gendis, ia loud speaker hingga terdengar NSP milik gendis.


..


Abot tak trimo nganti ikhlas legowo


(Berat ku terima hinga ikhlas pasrah)


Sing tak karep kowe ra disiyo-siyo

__ADS_1


(Yang ku harap kamu tidak disia-sia)


Ben cukup mung aku korban janji manismu


(Biar cukup aku saja korban janji manismu)


Udan bledek kang dadi saksiku


(Hujan petir yang jadi saksiku)


..


Yuanita tersenyum. Tak berselang lama ada suara Gendis di dalam hand phone-nya, “Hallo ....”


“Dis, tu NSP kenapa galau begitu, si?” tanya Elvan.


“Ye ... Serah Aku lah! Ono opo nelpon karo Aku? (ada apa nelpon sama Saya?)” tanya Gendis.


“Oh ... Iya malah lupa, ada tante Rani, gak?”


“Ada, mau ngapain?” sahut Gendis.


“Si Markonah mau ngomong.”


Elvan memberikan hand phonenya pada Yuanita. Begitu pun dengan Gendis yang menyerahkannya pada Rani.


Ibu dan anak akhirnya berkomunikasi melalui hand phone tentang lokasi butik itu. Ternyata, nama butiknya sudah di ganti tanpa sepengetahuan Yuanita. Mamanya lupa memberitahu kepada Yuanita tentang pergantian nama butik langganannya.


***


Gaun indah berwarna putih akhirnya dibawa pulang oleh Yuanita.


.


Acara pertunangan akan segera dimulai. Keluarga Adhitama juga telah hadir.


Elvan tampak gagah mengenakan kemeja yang didobel dengan jas model slim fit berwarna abu tua dan sepatu pantofel yang mengkilap mempertajam kesan resmi pada penampilannya.


Yuanita masih ada dalam kamar. Ia dibantu oleh Gendis untuk bermake up. Yuanita tampak cantik dan anggun dengan gaun panjang yang berlengan pendek. Make up natural menyempurnakan penampilannya pada malam ini. Rambut panjangnya di biarkan terurai dan tersemat jepit rambut kecil bergambar hati.


“Ya Allah, Nit. Kowe ayu tenan (Kamu cantik banget),” ucap Gendis tatkala melihat Yuanita telah berdiri di hadapannya.


“Masa sih, Ndis?” tanya Yuanita.


“Iya, Mas Elvan beruntung dapatin kamu.”


“Tapi, ini bukan pertunangan impian Gue, Ndis. Gue terpaksa!”


Yuanita tertunduk dengan netra berkaca-kaca.


“Jangan ngomong gitu, Nit. Kamu yakin aja, orang tuamu memberikan yang terbaik buatmu.”


“Tapi, Lu tau kan Elvan seperti apa?”


Air mata Yuanita meluncur, membasahi kedua pipinya. Menggambarkan, ia tidak ingin bertunangan apalagi harus sampai menikah dengan cowok play boy.


Gendis terdiam. Ia tidak dapat bicara apa-apa, karena dirinya tahu sifat Elvan seperti apa. Walau, sesungguhnya Elvan itu masih mempunyai sisi baik di mata Gendis.


“Aku hanya bisa do’ain, Nit. Semoga kelak Elvan berubah seiring kalian berdua saling jatuh cinta dan semoga kalian bisa hidup bahagia."


“Gak mungkin, Ndis!” Yuanita kembali tertunduk.


***


Semua keluarga telah berkumpul dalam ruangan yang luas itu. Yuanita pun keluar dari dalam kamarnya bersama Gendis, sahabatnya.


Mereka melangkahkan kaki menuju ruangan yang telah dipenuhi banyak orang dari keluarga Yudistira dan Adhitama.


Semua mata tertuju pada Yuanita yang tampil cantik berbalut gaun putih dan riasan natural yang tidak berlebih pada wajahnya.


Pujian pun terlontar dari tiap orang yang menghadiri acara pertunangannya bersama Elvan.


Elvan tersadar kalau ada sesuatu dalam mata gadis itu. Mata yang terlihat sedikit bengkak.


Apa si Markonah habis nangis, ya? Tanya dalam hati Elvan.


Yuanita mendekat, ia duduk di samping orang tuannya. Sambutan pun telah terlontar dari perwakilan Adhitama dan Yudistira.


Setelah menetapkan tanggal pernikahan. Akhirnya, acara penyematan cincin pun dimulai.


Elvan dan Yuanita berdiri dengan disaksikan keluarga dua belah pihak. Elvan membuka kotak merah yang berisikan dua cincin.


Elvan mengambil satu cincin untuk di sematkan di jari manis Yuanita. Yuanita mengulurkan lengannya dan membiarkan jari manisnya terikat oleh cincin pertunangan Elvan. Yuanita pun menyematkan cincin pertunangan itu di jari manis Elvan.


Sorak sorai dari kedua belah pihak keluarga setelah penyematan cincin di jari manis itu.


Elvan memandang netra yang berkaca-kaca itu. Bibirnya berbisik, “Lu tenang aja, Kita cari solusi bareng-bareng tentang rencana kita kemarin!”


Yuanita mengangguk.


..


Bersambung..


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁


__ADS_2