
“Wahhh ... Banyak banget yang datang, Ndis? Gue malu,” ucap Yuanita.
“Jangan malu, kan ada Aku. Tenang, Kamu udah perfek seperti Princess.” Gendis mengedipkan satu matanya.
“Idih! Lu, ketularan si Kucing Garong!” ucap Yuanita.
“Kucing Garong? Siapa tu Kucing Garong?” Ekspresi Gendis heran.
“Elvan si Play Boy!” ucap Yuanita.
“Owalah, Mas Ganteng, toh?” tanya Gendis.
“Ganteng? dari mananya, Ndis?”
Yuanita memutar bola matanya.
Gendis tersenyum.
Malam yang pekat menyisakan awan hitam dan guratan kecil cahaya petir. Namun, pesta masih berlanjut dengan serangkaian acara di pesta itu.
Banyak sekali makanan kecil dan minuman, yang beraneka warna telah tersaji di meja panjang, yang ditutup dengan kain putih, terlihat bersih dan rapi menutupi meja.
Gendis sedang berbincang dengan temannya. Sedangkan Yuanita bermaksud mengambil minum di meja panjang itu. Langkah kakinya terayun ke arah meja.
BRUKKK!
Seseorang, menabrak Yuanita.
“Sorry, Gue gak sengaja,” ucap seorang wanita yang menabrak dan menumpahkan air pada gaun Yuanita.
“Maaf, ya? Sini, Aku bersih'in,” ucap wanita yang menabrak Yuanita.
“Oh ... Gak usah, gak papa kok. Biar Saya yang membersihkannya, no problem!” ucap Yuanita yang berlalu pergi.
“Sekali lagi maaf, ya?”
Terdengar suara wanita itu berteriak meminta maaf.
Yuanita menuju ke toilet, yang berada agak jauh dari pesta ulang tahun yang digelar.
.
Dengan keadaan malam yang dingin. Elvan yang mengenakan kemeja yang didobel dengan Jas slim fit pun tidak memberikan cukup kehangatan pada tubuhnya.
“Honey, Aku ke belakang bentar, ya?” ucap Elvan.
“Mau ke mana?” tanya Stella.
“Ke toilet.”
Elvan mengedipkan satu matanya.
“Idih, genit! Ya udah, hati-hati Sayang. Cepat kembali, ya?” ucap Stella.
Elvan berlalu pergi dengan agak tergesa, karena menahan rasa ingin buang air kecil yang sedari tadi ia tahan.
Ia masuk ke dalam toilet dengan tergesa-gesa dan mengunci pintu.
“Ahh ... Lega!”
Elvan menaikkan resletingnya setelah buang air kecil.
Elvan mendengar ada keributan di luar. Ia bergegas ke luar dari toilet.
Terlihat seorang laki-laki yang sedang memegang lengan seorang gadis dengan paksa. Gadis itu seperti ingin menghempaskan genggaman lelaki itu. Namun karena laki-laki itu mempunyai perawakan yang besar. Perempuan itu tak berdaya untuk melepaskan diri.
“Bro! Jangan kasar sama Cewek!” ucap Elvan yang mencoba melerai.
“Ini bukan urusan, Lo!” ucap laki-laki itu.
Terlihat perempuan itu dengan sekuat tenaga ingin melepaskan cengkeraman dari lengan laki-laki itu dan akhirnya terlepas.
BRUKK!
Perempuan itu jatuh dalam dekapan lengan Elvan. Elvan tidak mengetahui kalau gadis yang ada dalam dekapannya adalah Yuanita. Wajah yang cantik dengan make up natural telah menyulapnya menjadi bidadari malam ini. Mini dres yang ia kenakan menenggelamkan sosok wanita cupu yang melekat pada Yuanita.
Matanya! Sorot mata ini yang Gue kenal, bahkan tak asing bagi Gue. Tapi Dia siapa? umpat dalam hati Elvan.
“Tolong Gue, Kucing Garong!” Suara lirih Yuanita yang ketakutan.
“Markonah?” tanya Elvan yang masih mendekap Yuanita.
__ADS_1
“Iya! Lu kira, Gue bidadari?” celetuk Yuanita.
“Oy! Balikin Dia! Dia cewek Gue!” ucap laki-laki yang mulutnya bau alkohol.
“Cing, tolong Gue! Sumpah, Gue gak kenal orang itu!”
Yuanita memohon merapatkan kedua tangannya dan mata indah itu kini berkaca-kaca.
Elvan menjadi bak super hero pada malam ini. Tingkahnya kini tidak mengesalkan Yuanita.
BUK!
Akhirnya perkelahian pun terjadi di depan mata Yuanita. Laki-laki itu tidak terlihat seperti tamu undangan dalam acara ulang tahun. Karena ia hanya memakai kaos dan celana pendek di bawah lutut yang robek. Mungkin, dia warga sini yang sedang mabuk.
Bogem mentah pun melayang di pipi laki-laki itu. Terlihat, laki-laki itu tidak berdaya ketika menerima pukulan yang bertubi-tubi dari Elvan. Hingga akhirnya, laki-laki itu menyerah dan menghilang entah ke mana.
Yuanita masih terlihat syok dengan kejadian tadi. Dia duduk di kursi, di sudut bangunan kosong dekat toilet, yang entah di fungsikan untuk apa.
Elvan mendekat. Terlihat wajah Yuanita yang pucat penuh keringat, namun tidak menghalangi kecantikannya pada malam ini.
BYURRRR
Hujan pun turun dengan sangat deras. Elvan dan Yuanita terjebak dalam bangunan kosong itu. Kilatan yang menyambar begitu menggelegar.
***
Sementara di pesta itu. Stella mengkhawatirkan kekasihnya yang tak kunjung kembali. Pesta pun berantakan karena hujan. Semua orang berhamburan berlari meninggalkan pesta. Ada yang langsung pulang, ada juga yang berteduh.
Stella terlihat panik. Begitu pun dengan Gendis yang menyadari bahwa temannya yang bernama Yuanita tidak ada bersamanya.
“Aduh! Kepiye, iki? (Gimana, ini?)” Gendis terlihat panik dan menyentuh layar gawai yang ia keluarkan dalam tas kecilnya.
“Sial! Ora ono sinyal meneh, Kepiye iki, Gusti? (Tidak ada sinyak lagi, gimana ini, Tuhan?)” Gendis semakin panik.
Begitu pun Stella yang sedari tadi mencoba menghubungi Elvan. Namun, tidak ada jaringan pada waktu itu. Mungkin karena hujan yang deras yang mengakibatkan jaringan terganggu.
.
Elvan menghampiri dan duduk di samping Yuanita. Melihat gadis itu yang berwajah pucat di tambah dengan deras air hujan dan angin yang lumayan kencang, membuat Yuanita kedinginan.
Elvan membuka Jas yang ia pakai dan menutupi tubuh belakang Yuanita dengan Jasnya. Yuanita mendongak, lalu melihat Elvan yang berada di sampingnya.
“Iya! ini Gue, Markonah. Lu kira Gue pangeran?” Mata Elvan membulat.
Yuanita membuka Jas yang menutupi badannya walau ia merasakan kedinginan.
“Nih! Gue gak butuh jas, Lu!”
Yuanita kembali menyodorkan jas itu pada Elvan.
Sebenarnya, dalam diri Elvan dan Yuanita telah ada debar yang mereka rasa. Tapi, karena ego mereka. Jadi seperti saling tidak membutuhkan bahkan terkesan saling benci. Perasaan gengsi yang terjadi pada mereka saat ini.
“Yaudah!”
Elvan meraih jas yang diserahkan dari Yuanita.
Dasar! Cowok gak peka! ucap dalam hati Yuanita.
Heleh! Entar juga Dia kedinginan! Hayoo, Lu! Kuat sampai kapan? Hehe, terucap dalam hati Elvan.
JEDERRRR!
Kilatan petir yang sangat dahsyat telah mengagetkan lamunan mereka. Entah disengaja atau tidak. Kini mereka berpelukan. Rasa hangat dan aman berada dalam dekapan Elvan, membuat Yuanita larut pada malam yang diguyur hujan.
Yuanita tersadar kalau ia masih berada dalam pelukan Elvan, ketika hujan deras telah berhenti hanya meninggalkan rintik-rintik kecil. Ia segera melepaskan pelukannya.
Elvan memandang wajah Yuanita, “Lu gak perlu jas Gue, karena yang Lu butuhin itu pelukan Gue!” Elvan mengedipkan satu mata genitnya dan berlalu pergi meninggalkan Yuanita.
Yuanita terlihat kesal dengan Elvan. Ia mengepalkan kedua lengannya, “Dasar, Kucing garonggggg!” teriak Yuanita kesal.
***
Tinggallah Yuanita di luar bangunan kosong yang sepi tak berpenghuni. Yuanita melirik kiri dan kanan, Ia baru menyadari kalau Elvan sudah jauh bahkan tak terlihat dari pandangannya.
Yuanita berlari meninggalkan bangunan kosong tempat di mana tadi, ia terjebak bersama Elvan.
Yuanita melihat Elvan dipeluk oleh Stella. Entah mengapa, ada rasa jengkel ketika Elvan dipeluk oleh wanita itu.
Kenapa rasanya sakit, ketika Dia dipeluk wanita lain? Apa yang terjadi dengan Gue? Ucap dalam hati Yuanita yang sedikit melamun.
“Kamu ke mana aja, Nit? Kamu baik-baikkan?” Ucapan Gendis menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
Yuanita terperanjat, kaget. Elvan menoleh ke arah Yuanita.
Mata Yuanita dan Elvan saling berpandangan walau jarak yang cukup jauh, tak menghalangi debar mereka yang terjadi saat ini.
Hening.
“Nit?” Gendis menepuk lengan Yuanita. “Kamu gak papa, kan?” sambung Gendis.
“Eh ... Iya, Gue baik-baik aja. Pulang yuk, Ndis? Gue mau cuci gaun Lu tadi ketumpahan minuman. Maaf ya, Ndis.” Yuanita merapatkan kedua telapak tangannya.
“Iya gak papa, santai aja.”
Gendis dan Yuanita berlalu pergi meninggalkan pesta ulang tahun itu. Udara semakin dingin mencekam.
Gendis memesan taksi Online. Sedangkan Yuanita masih ter bayangkan dan larut dalam lamunannya ketika ia berada dalam pelukan Elvan.
Tak berselang lama. Taksi pun datang. Yuanita masih membayangkan, hangat dan nyamannya didekap Elvan.
“Ayok, Nit!” Ajak Gendis.
Ya Tuhan! Gue ngelamun apaan, sih? Gak penting banget deh! Gerutu dalam hati Yuanita.
Yuanita pun naik ke dalam taksi yang telah dipesan oleh Gendis.
.
Tak berselang lama, Elvan dan Stella pun meninggalkan pesta. Mobil sport berwarna merah itu meluncur mengantarkan ke kost kekasihnya.
“Makasih, Sayang.”
Stella memeluk Elvan dalam mobil.
“Oke!” ucap Elvan dengan lengan terpaku pada kursi mobil, tanpa membalas pelukan Stella.
Stella melepaskan pelukannya dengan sedikit rasa curiga, ‘Kenapa Elvan gak membalas pelukan Gue?’ tanya dalam hatinya.
Namun, Stella menepis hal itu karena ia menyadari, kalau dirinya hannyalah kekasih simpanan Elvan. Di awal mereka menjalin kasih seperti simbiosis mutualisme. Di mana Stella mendapatkan apa saja yang ia mau dengan uang dari Elvan.
“Ya udah, hati-hati, Sayang.”
Stella keluar dari dalam mobil dan melangkahkan kakinya, masuk dalam kost. Kini, Stella sudah tak terlihat lagi dalam pandangan Elvan.
Elvan masih berada di depan kost Stella. Matanya kini melirik ke seberang jalan, di situ ada kost Yuanita.
Elvan menunggu sesaat dan berharap, Yuanita terlihat ke luar kamar dan duduk di kursi yang ada di balkon kamarnya. Namun nihil, sampai setengah jam ia menunggu. Yuanita tidak menampakkan batang hidungnya.
***
Elvan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan masih menggunakan sepatu. Ia memejamkan mata sejenak.
Ia masih teringat ketika Yuanita berada dalam pelukannya. Dengan wajah yang cantik dan gaun yang menyempurnakan penampilannya pada malam itu.
Masih terasa hangat ketika memeluk Yuanita yang tengah ketakutan akibat sambaran petir di malam itu.
Mata hitam yang indah itu, kini membius hati Elvan si Play Boy.
.
Drett ... Drett ....
Gawai Yuanita bergetar di atas meja belajarnya.
Dengan mata yang masih terpejam, Yuanita meraba, mencari hand phone yang ia simpan di atas meja belajarnya.
“Ya Tuhan, siapa sih yang kirim pesan jam segini?” ucap Yuanita sambil menguap “Howaaammmm.”
Dengan mata yang masih sangat lengket, akhirnya Yuanita menyentuh layar gawainya dan membaca pesan yang ada di dalamnya.
“Mama?” ucap Yuanita dengan mata terbelalak.
Yuanita membaca pesan dari ibunya. Dalam pesannya, menyuruh Yuanita untuk pulang. Ia akan di jodohkan dan dikenalkan dengan calon mertuanya.
“What? Mertua?”
Mata Yuanita terbelalak ketika membaca pesan dari ibunya.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
__ADS_1