
Elvan dan Yuanita makan bersama dalam satu meja. Di tengah malam yang sepi hanya mereka berdua yang menikmati semangkuk mie instan panas. Elvan sudah menghabiskan mie instan dengan cepat. Ia memandangi wajah Yuanita yang sedang sibuk menghabiskan mie dalam mangkuknya. Yuanita tidak menyadari kalau Elvan menatapnya sedari tadi. Hingga kini, mie yang ada di dalam mangkuk Yuanita pun telah raip tak tersisa.
“Udah kenyang?” tanya Elvan sambil menyanggah pipinya dengan tangan.
“Udah.”
Yuanita mengelap bibirnya dengan tisu.
Elvan semakin gemas dengan bibir merah merona milik Yuanita yang terlihat menggoda ketika selesai makan mie instan yang pedas.
“Ngapain lu liatin gue?”
“Dih ... Ge’er. Gue liatin bibir Lu.”
Elvan terkekeh.
“Dih! Awas loh kalau omes sama gue!”
Elvan mendekat tangannya mulai merangkul lengan Yuanita.
“Stop! Lu mau ngapain gue? Kalau berani macem-macem, gue teriak!” ancam Yuanita.
“Teriak aja, paling kita dikawinin lebih cepet.” Elvan tertawa geli melihat ekspresi Yuanita yang terpaku, tak dapat berbuat apa-apa.
Hening.
Elvan kembali duduk di lantai, “Ayo! Gue gendong lu kembali ke dalam kamar. Gue bercanda kalik, takut amat!” ucap Elvan kelewat santai.
Yuanita kembali menempelkan tubuhnya ke punggung Elvan hingga akhirnya ia sampai dalam kamar digendong oleh Elvan.
Elvan membenarkan bantal dan membaringkan Yuanita di atas ranjang berukuran besar. Tak lupa, Elvan menarik selimut untuk menutupi tubuh Yuanita.
Yuanita sedikit kaget dengan perlakuan Elvan padanya. Ternyata Elvan tak seburuk yang ia bayangkan selama ini.
Elvan bangkit dari tepi ranjang setelah memastikan Yuanita nyaman dalam posisi tidurnya. Ia meninggalkan Yuanita dan mengarah ke pintu kamar.
“Van!” panggil Yuanita.
Elvan menoleh.
“Thank’s ya, udah buatin mie buat gue.” Ucapan Yuanita terkesan ragu, mungkin ia takut pada Elvan.
Elvan tidak membalas hanya tersenyum dan keluar dari dalam kamar Yuanita.
***
Drrrttttt ....
Gawai Yuanita bergetar di sampingnya. Ia sengaja meletakan gawainya agak dekat dengan badannya sehingga dapat dimatikan dengan cepat.
“Sudah jam lima pagi, ternyata.”
Yuanita menutup mulutnya ketika ia menguap di pagi hari itu.
“Pagi, Non. Udah bangun?”
Sapa Minah yang akan membawa pakaian kotor dari kamar Yuanita.
“Udah, Bi. Kan, Nita sekarang mau berangkat kuliah,” ucapnya dengan penuh semangat.
“Loh ... 'Kan kaki Non belum sembuh,” ujar Minah.
“Iya. Tapi kata dokter, kalau aktivitas Nita masih di atas kursi roda tidak apa-apa katanya,” jelas Yuanita.
“Oh, gitu. Hati-hati ya, Non.”
“Iya. Bi, bisa antar Nita ke kamar mandi?” pinta Yunita.
Minah merangkul Yuanita dan membimbingnya ke atas kursi roda. Dengan susah payah, akhirnya usaha mereka berdua bisa dilalui. Yuanita dibawa ke kamar mandi oleh minah.
Minah menunggu di luar menunggu Yuanita membersihkan diri. Tak berselang lama, Yuanita memanggil namanya.
“Bi, aku udah beres,” ucap Yuanita dari dalam kamar mandi.
Minah membantu Yuanita keluar dari kamar mandi menuju ke meja rias.
“Tolong ambilkan baju Nita dalam lemari ya, bi?” pinta Yuanita.
“Yang mana, Non?” tanya Minah.
“Terserah Bibi aja, Nita nurut.”
Minah mengambil kemeja berlengan pendek dan celana jeans, lalu diserahkan pada Yuanita. Minah pun membantu memakaikan celana jeans karena kakinya belum dapat di gerakan.
“Makasih ya, Bi. Bibi udah baik sama Nita.” Yuanita memeluk Minah.
“Sama-sama, Non. Ada yang perlu Bibi bantu lagi, Non?” tanya Minah.
“Enggak ada, makasih Bi.” Yuanita tersenyum.
Minah keluar dari dalam kamar setelah mengambil baju kotor yang ada dalam kamar Yuanita.
Yuanita bergegas memasukkan buku ke dalam tas ranselnya. Ia sangat bersemangat hari ini. Ia menggerakkan kursi roda dengan kedua tangannya.
“Pagi semua,” sapa Yuanita pada orang tua Elvan di meja makan.
__ADS_1
“Pagi ... Kok udah rapi? Bawa ransel lagi, mau ke mana sayang?” tanya Widya dengan tatapan heran.
“Nita mau ke kampus, Ma.”
“Loh ... Kan kamu masih sakit, Sayang.”
“Kata dokter gak papa kok, Ma. Selama Nita menjalankan aktivitas di atas kursi roda.”
“Elvan udah tau?” tanya Widya.
Yuanita mengangguk.
“Apa hayo? Pagi-pagi anaknya udah digosipin?” tanya Elvan sambil mengambil dua lembar roti tawar yang diolesi selai coklat.
“Mama khawatir, katanya Nita mau masuk kampus. Kamu jagain hati-hati ya, Van!”
“Iya, Mam. Tenang aja. Elvan akan jaga Nita. Iya kan, Sayang?”
Elvan mendelik ke arah Yuanita.
Uhuk!
Yuanita terbatuk. Ia kaget mendengar kata itu dari bibir Elvan.
“Minum, Sayang.”
Elvan menyodorkan segelas air putih.
“Makasih.”
Yuanita menerima gelas yang dikasih Elvan. Sedangkan satu tangannya masih memegang tenggorokan yang terasa perih.
Elvan tersenyum puas telah mengerjai Yuanita di pagi hari.
***
Di perjalanan menuju kampus. Yuanita terdiam. Ia memikirkan, jangan-jangan Elvan telah merencanakan sesuatu yang menyebalkan lagi untuknya ketika di kampus nanti.
“Lu kenapa?” tanya Elvan.
“Lu tuh, kalau mau bersandiwara bilang sayang ya ngomong dululah, bisa kan? Jangan bikin gue kaget!” keluh Yuanita.
Sret!
Elvan memarkir mobilnya di pinggir jalan.
“Kalau gue serius?”
Tatap mata Elvan tajam.
Yuanita tersenyum masam.
“Gak mungkin juga seorang play boy bisa serius sama satu orang wanita, mustahil!”
Elvan kembali memacu mobilnya tanpa menjawab ucapan Yuanita.
Hening.
Elvan dan Yuanita berkecamuk dengan angan masing-masing. Entah, apa yang sedang mereka bayangkan saat ini.
.
Elvan memarkirkan mobil merahnya di area parkiran kampus. Elvan turun lebih dulu untuk mengambil kursi roda yang ia taruh di bagasi mobil. Setelah siap, ia membuka heandle pintu mobil untuk menggendong Yuanita ke atas kursi rodanya.
Elvan mendorong kursi roda itu menuju kelas Yuanita.
“Woy! Sejak kapan play boy merangkap jadi baby siter?”
“Kok bisa sih, play boy jatuh cinta sama gadis cacat yang ada di atas kursi roda? Kagak bisa jalan lagi!” Ejek salah satu mahasiswa.
Elvan tidak mempermasalahkan dirinya disebut merangkap jadi baby siter. Tapi dia marah ketika ada yang menyebutkan Yuanita cacat.
“Maksud lu apa?”
Elvan memegang kerah kemeja mahasiswa itu.
“Santai, Bro!”
Mahasiswa itu mengangkat kedua tangannya.
“Lu boleh hina gua sesuka hati lu. Tapi, lu jangan pernah hina cewek ini.”
Elvan menunjuk ke arah Yuanita.
“Emang dia siapa lu, Van? Kok segitunya lu belain dia?”
“Dia calon istri gua. Kenapa?”
Mahasiswa itu tertegun, kaget mendengar ungkapan Elvan. Akhirnya, mahasiswa itu meminta maaf pada Yuanita. Karena dirinya tidak mau terlibat urusan dengan keluarga Elvan yang sudah sangat terkenal sebagai donatur terbesar pada kampus itu.
Banyak mahasiswa dan mahasiswi yang berkumpul melihat apa yang sedang terjadi. Karena mendengar suara lantang Elvan Adhitama, sosok yang sudah sangat populer di kalangan kampus.
“Sayang!” panggil Ferlita.
Elvan melihat ke arah Ferlita.
__ADS_1
“Memang benar, kok kamu mau sih sama mantan gadis cupu dan cacat kayak dia?” ujar Ferlita dengan mata yang mendelik ke arah Yuanita.
“Fe, sorry. Mulai hari ini, kita putus! Gue udah mau nikah sama Nita.”
“Gendis, bawa Nita masuk ke dalam kelas!” Suruh Elvan.
Elvan mencium ujung kepala Yuanita dan membiarkan ia masuk ke dalam kelas bersama Gendis, sahabatnya.
Semua orang yang menyaksikan aksi Elvan terdiam. Karena tak biasanya Elvan membela seorang wanita sampai seperti itu dan tidak biasa ia terlihat begitu mesra mencium ujung kepala seorang gadis.
Yuanita pun kaget dengan perlakuan Elvan padanya. Namun, ia tidak bisa menolak karena memang Elvan telah menolongnya. Entah murni karena Elvan membela. Atau ada faktor lain? Penuh tanya dalam hati Yuanita.
“Nit, sekarang mas Elvan jadi sweet banget karo kowe, yo?” Gendis menyenggol lengan Yuanita.
“Idih, apaan sih? Biasa aja, Ndis!” elak Yuanita.
“Oh ... Berarti memang kalian sudah sering seperti itu, yo?”
Sekakmat!
“Bukan seperti itu!”
“Lalu?”
Rona Gendis semakin kepo.
“Udah ah! Bahas topik lain aja.”
***
Sementara di kelas lain. Ada Elvan yang sedang emosi. Entah apa yang terjadi dengannya. Tiba-tiba saja, ia menjadi sosok yang perhatian untuk Yuanita.
“Kenapa sih lu, Van?” tanya Bobi.
Elvan hanya mendengus kesal.
“Sayang!”
Ferlita masuk ke dalam kelas Elvan dan meminta klarifikasi tentang keputusannya.
“Aku gak mau putus!” sambung Ferlita.
“Udahlah, Fe. Aku udah pusing dengan keadaanku saat ini. Aku udah mau nikah, Fe!” Elvan meyakinkan Ferlita.
Tapi, bukan Ferlita namanya kalau ia cepat menyerah. Ferlita terus saja menggoda dan meyakinkan Elvan kalau hubungan mereka akan baik-baik saja. Bahkan, Ferlita berani menjamin kalau dirinya akan selalu ada buat Elvan kapan pun ia butuh kan.
Elvan terpaksa menerima kembali cinta Ferlita karena berulang kali ia diusir dari kelasnya, Ferlita tak bergeming. Tetap saja menunggu keputusan Elvan.
Ferlita mencium pipi Elvan dan bergegas pergi meninggalkan kelas yang hampir saja, akan segera dimulai.
.
Elvan berjalan menuju kelas Yuanita. Di sana tinggal Yuanita dan Gendis yang masih mengobrol.
Elvan masuk dalam kelas, “Saatnya minum obat, Nit.”
Elvan mulai membiasakan memanggil nama Yuanita bukan Markonah lagi.
Yuanita mendongak, menatap tajam sepasang mata coklat itu.
“Oke!”
“Ayo, Dis. Lu juga ikut bareng mobil gue, entar nganterin lu dulu ke kost," ujar Elvan.
“Gak ngerepotin, Mas?”
“Enggak.”
Elvan berjalan mendahului Gendis yang sedang mendorong kursi roda Yuanita. Mereka bertiga, melesat menuju kost sederhana.
.
“Van, gue pengen masuk,” ucap Yuanita ketika melihat Gendis turun dari mobil.
“Buat apa?”
“Gue kangen kost gue yang sederhana, Van. Pliss ... Ijinin gue masuk ke kamar gue.” Yuanita merapatkan kedua tangannya.
“Oke! Tapi dengan syarat, ya?”
“Apa syaratnya?”
“Lu, gue gendong dan mesti makan di kamar lo. Nanti gue pesen grab food.” Pinta Elvan.
“Oke!”
Yuanita sudah mulai terbiasa apabila di gendong atau dicium pucuk kepalanya oleh Elvan walau desir darah mengalir deras, masih selalu saja memburunya.
Elvan menggendong Yuanita dan memesan grab food untuk makan siang Yuanita sebelum minum obat.
Yuanita tampak senang ketika berada dalam kostnya walaupun tempatnya sangatlah sempit bagi Elvan yang dibesarkan dari keluarga Adhitama yang kaya raya.
..
Bersambung..
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁